
Voren memasuki kamar tidurnya, entah mengapa ia bersedia berbagi kamar dengan wanita yang kini telah berstatus sebagai istrinya. Di unit apartemennya hanya tersedia dua kamar tidur, yaitu kamar tidur utama yang menjadi kamar tidurnya dan satu kamar lagi ia fungsikan sebagai ruang kerja pribadinya.
Ia tentu tak mungkin membiarkan istrinya tidur di ruang binatu. Bisa-bisa ia dicap melakukan tindak penelataran istri. Nanti bisa-bisa ia dituding menjadi pria jahat yang tak berperikemanusiaan. Bisa-bisa ia dilaporkan ke komnas perlindungan perempuan dan anak lalu digiring bak terpidana mati yang tayang di televisi nasional.
Kalau begitu ceritanya bisa rusak citra sempurna seorang Voren Lazaro.
Velan sudah duduk di tepi kasur dan nampak menunduk dalam diam mengawasi Voren yang nampak leluasa membuka pakaiannya tanpa rasa sungkan di hadapan Velan. Tubuh indah nan atletis itupun hanya bisa terlihat seperti lukisan yang dipajang di pagelaran seni.
Voren nampak menghilang di balik pintu kamar mandi meninggalkan Velan yang lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu menarik selimut dan membenamkan dirinya di dalam sana.
Jangan berharap adegan ikeh ikeh kimochi kepada pria yang tak tertarik pada wanita! Velan membesarkan hatinya.
__ADS_1
Bagaimana ini? Apa serius Velan akan menghabiskan sisa hidupnya bersama seorang pria yang tak tertarik pada wanita?
Velan kembali merana dan meratapi nasibnya. Ia teringat kembali saat ibu mertuanya datang dan melamarnya. Kenapa saat itu Velan tidak langsung bertanya pada ibu mertuanya?
Apakah anak ibu tertarik pada wanita?
Kalau begitu, percuma saja Velan mengikuti pendidikan kilat memuaskan pria yang didapatnya saat melakukan perawatan tubuh pra menikah. Percuma saja mempelajari teknik jepitan buaya yang diklaim mampu menakhlukan buaya darat. Semua ilmu dan teori yang didapatkannya untu memuaskan pria di malam pertama itu harus ambyar karena ternyata lawan tandingnya lebih menyukai bertanding anggar daripada bertanding bilyard.
Sungguh Velan harus memastikannya sendiri. Apa suaminya itu benar-benar tak tertarik pada wanita?
Terdengar pintu kamar mandi berbahan kaca itu terbuka. Rupanya suami Velan sudah selesai mandi, terlihat pria itu hanya mengenakan handuk kimono berwarna putih. Velan mengintip dari celah selimut, matanya mengawasi Voren yang nampak membuka salah satu lemari yang membuat Velan begitu takjub. Satu lemari itu terisi penuh rangkaian produk perawatan kulit. Velan terperangah saat menyaksikan suaminya mulai memakai semua rangkaian produk perawatan kulit itu di depan cermin. Mulai dari toner, essense, serum, krim, hingga entahlah itu apa, Velan tidak bisa melihanya dengan jelas. Yang pasti Voren nampak sibuk menepuk-nepuk lembut
__ADS_1
Jadi tahu kan rahasia makhluk Tuhan tanpa pori-pori berkulit cerah, indah, dan sebening kristal!
Usai melakukan ritual perawatan kulitnya, Voren segera naik ke atas kasur. Ia menengok ke arah istrinya yang nampak teronggok di dalam selimut.
Voren segera menyandarkan punggungnya di tumpukan bantal.
Habis mandi dan langsung pergi tidur itu memang yang terbaik.
Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Velan mengumpulkan segenap keberaniannya. Ia sungguh harus membuang harga dirinya. Terserah ia mau dikatai wanita murahan atau wanita binal. Ia sungguh tak peduli. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah memastikan sendiri apakah suaminya itu memang seorang pria yang tak tertarik pada wanita.
__ADS_1
Velan keluar dari selimut dan langsung menerjang suaminya.