Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E55


__ADS_3

Suasana di ruang makan masih tetap dipenuhi dengan ketegangan. Saat ini semuanya sedang terdiam sambil menyantap hidangan penutup yang disajikan dan diletakkan oleh para pelayan ke hadapan setiap orang.


Velan menyantap hidangan penutup dengan perasaan was-was karena wajah Voren terlihat begitu tegang akibat menyimpan kemarahan.


"Baiklah, aku rasa masalah ini hanya berupa kesalahpahaman, sehingga lebih bijaksana jika kita tidak perlu membesar-besarkannya! Masalah internal di keluarga kita jelas tidak perlu diumbar ke publik karena tentu akan merugikan kita semua," kata Alren.


"Tapi Alren, dampak dari kesalahpahaman ini sungguh merugikan Daren! Reputasi Daren menjadi rusak di mata para pemegang saham! Calon tunangan Daren bahkan membatalkan pertunangan dengan Daren!" tandas Darla.


"Darla, aku mengerti dan paham apa yang kau cemaskan! Namun menurutku pandanganku, Daren adalah pria yang memiliki kemauan dan kemampuan! Sehingga ia tahu apa yang harus ia lakukan," tukas Alren. "Bagaimana, Daren?" tanya Alren ke arah Daren.


"Terima kasih atas kepercayaan Paman," jawab Daren.


Darla memutar bola matanya, ia tentu tidak bisa merasa tenang di saat harus kehilangan kepercayaan dari para pemegang saham yang tadinya memberi dukungan untuk Daren.


"Baiklah, Voren, kita harus bicara," kata Alren sambil mengakhiri sesi makan malamnya.


...~...


Voren memasuki ruang kerja sang ayah. Ruang kerja ini bagi Voren merupakan tempat yang biasa ia datangi ketika harus menerima amukan dari Alren saat menerima hasil evaluasi dari sekolah. Ketika hasil penilaian tersebut di bawah ekspektasi ayahnya, Voren jelas harus menerima konsekuensi bersama kakak-kakaknya. Satu orang berbuat masalah, semua akan terkena dampaknya. Begitulah cara Alren mendidik anak-anaknya, terlebih Voren. Pria paruh baya itu tentu memiliki ekspektasi yang sangat tinggi kepada satu-satunya anak laki-laki yang ia miliki sebagai penerus.


Alren duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan dada, mengamati Voren yang masih berdiri mematung di depan pintu.


"'Voren, apa kau tahu, saat seorang anak laki-laki terlahir ke dunia, dia lahir dengan membawa beban besar di pundaknya? Karena ia akan tumbuh menjadi seorang laki-laki yang menjadikan bebannya sebagai tanggung jawab selama hidupnya. Bahkan kelak di akhirat nanti, Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban atas segala yang telah kau perbuat selama hidup di dunia," Alren mulai bicara.


"Seorang pria akan menjadi seorang suami ketika ia sudah menikah dan akan menjadi seorang ayah saat ia memiliki anak. Pria itu pun akhirnya memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya!" lanjut Alren.


"Posisimu saat ini adalah seorang pria yang sudah menikah, kau memiliki tanggung jawab terhadap istrimu! Sungguh, aku tidak akan ikut campur terhadap masalah rumah tanggamu karena kau sudah dewasa dan bisa memutuskan mana yang terbaik!" Alren menatap ke arah Voren.


"Hanya saja menurutku, mengurus masalah rumah tangga saja kau terlihat kurang mampu, bagaimana dengan mengurus perusahaan?" tanya Alren.


"Ya, aku tahu, kau punya orang-orang yang kompeten yang berada di sisimu! Orang-orang yang bisa kau percaya dan kau andalkan hingga akhirnya kau tidak bisa mengandalkan dirimu sendiri!"


Voren merasa lebih baik ayahnya memarahinya, mencecarnya, atau melemparnya dengan buku rapornya seperti dulu daripada melontarkan kata-kata yang jelas menjatuhkan mental dan harga diri Voren yang begitu tinggi.


"Bagaimana kau bisa menjadi seorang pemimpin dalam hal besar, jika memimpin keluarga saja kau belum becus! Kenapa aku menyebutmu belum becus? Karena kau belum bisa menyelesaikan masalah dengan mengandalkan dirimu sendiri!"


...~...

__ADS_1


Sementara itu di saat yang sama kedua kakak ipar Velan segera mulai melakukan sesi wawancara pada Velan. Perceraian Voren dan Velan tentu langsung menjadi berita yang sangat mengejutkan.


"Velan, kau dan Voren serius akan bercerai?" tanya Renata.


"Itu benar, Kak," jawab Velan.


"Apa serius Voren menceraikanmu demi wanita lain?" tanya Renava.


"Benar, Kak," jawab Velan.


Terlihat raut wajah Vega berubah muram. Ia jelas bisa melihat ekspresi Darla yang nampak mencemooh Vega.


Dalam benak Darla saat ini, ia tentu merasa lega karena ternyata Daren dan istri Voren tidak melakukan perselingkuhan seperti yang ditudingkan oleh Vega. Darla tentu saja tidak serta merta percaya bahwa Daren berselingkuh dengan istri Voren. Terlebih setelah mendengar pengakuan bahwa istri Voren hanya sebatas rekan bisnis, Darla jelas merasa lebih tenang.


"Vega, jujur saja aku merasa tersinggung saat kau menuding Daren sudah melakukan perselingkuhan dengan istri Voren. Perlu kau garis bawahi bahwa  wanita yang dapat menjadikan Daren sebagai presiden direktur adalah wanita yang pantas untuk Daren!" Darla mengulas senyum dingin ke arah Vega.


"Darla, apa kau pikir hanya kau saja yang tersinggung? Kau bahkan menuding bahwa anak dan menantuku menjebak Daren untuk menjatuhkannya!" Vega membalas Darla.


Daren menghela napas berat melihat ibunya dan Tante Vega masih tetap saling berseteru.


Daren segera keluar dari ruang makan. Ia tentu tidak perlu terlibat perseteruan antara ibunya dengan Tante Vega.


"Selamat malam, Tuan Daren," sapa Doni begitu melihat Tuan Daren.


Doni menunggu di depan ruang makan bersama beberapa pelayan.


"Selamat malam, Doni," balas Daren.


"Anda mau ke mana, Tuan?" tanya Doni.


"Saya mau mencari udara segar dulu," jawab Daren.


Doni mengangguk mengiringi kepergian pria itu.


...~...


"Velan, bisa kita bicara sebentar?"

__ADS_1


Velan mengangguk saat Vega menghampirinya.


"Kakak, saya permisi dulu," Velan berpamitan kepada kedua kakak iparnya.


Vega membawa Velan menuju ke sebuah balkon yang berada tak jauh dari ruang makan.


"Velan," Vega mengambil tangan Velan dan menggenggam erat tangan menantunya itu.


"Apa kau serius ingin bercerai dari Voren?" tanya Vega menatap Velan dalam-dalam.


"Ibu, saya sudah ikhlas menerima perceraian ini. Perceraian yang sangat diinginkan oleh Voren," jawab Velan. "Bukankah Ibu sangat mendukung keputusan Voren demi kebahagiaan Voren?" tanya Velan.


"Velan, Ibu tahu, tapi, tidak bisakah kau memikirkan kembali kesepakatan perceraianmu dan Voren? Perceraianmu dengan Voren jelas akan mempertegas bahwa kau dan Daren memang memiliki hubungan!" ucap Vega.


"Ibu, hubungan saya dan Daren hanya sebatas rekan bisnis. Jelas berbeda dengan hubungan yang dibina Voren dan Soraya! Lagipula untuk apa saya tetap mempertahankan pernikahan kami sedangkan Voren akan menikahi Soraya!" kata Velan dengan tegas.


Vega nampak tidak bisa berkata apa-apa. Mata wanita paruh baya itu nampak berbinar-binar.


"Ibu, saya sudah menerima dengan ikhlas saat Voren menginginkan perceraian demi kebahagiaannya! Sehingga saya pun punya hak untuk berbahagia! Dan tolong, jangan sangkut pautkan masalah perceraian ini dengan Daren!" kata Velan.


"Baik Velan, Ibu mengerti," kata Vega sambil menyeka air mata yang muncul di sudut matanya. "Maafkan Ibu, Ibu hanya merasa sedikit kecewa dengan keputusan perceraian kalian, sungguh Ibu berharap bahwa kalian mungkin bisa memperbaiki hubungan kalian," lanjut Vega dengan perasaan yang getir.


"Ibu, untuk apa saya dan Voren harus repot-repot memperbaiki hubungan kami? Apa Voren sungguh ingin memadu saya? Lebih baik saya dicerai daripada harus dimadu, Bu," sahut Velan.


"Velan, maafkan Ibu," kata Vega merasa sangat bersalah. "Harusnya Ibu tidak serta merta mendukung keputusan Voren untuk menceraikanmu, Ibu...," kata Vega tertahan.


"Ibu, sudah tidak apa-apa, saya sudah ikhlas. Tak perlu menyesali apa pun yang sudah terjadi," Velan menyela ucapan Vega.


Vega memeluk erat Velan sebelum akhirnya meninggalkan Velan dengan air mata yang berderai.


Velan menghela napas berat, tiba-tiba saja ia tersadar bahwa ada seseorang yang rupanya mendengarkan pembicaraannya dengan Vega.


"Tu-Tuan Daren," Velan terperangah.


Daren mengulas senyumnya ke arah Velan. Begitu pun Velan yang langsung menyambut senyuman pria itu.


...~...

__ADS_1


__ADS_2