Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E62


__ADS_3

"Cih, hentikan omong kosongmu itu, Voren Lazaro! Bisa-bisanya kau bicara seperti itu seolah aku adalah orang yang sedang merekrutmu untuk ikut aliran sesat!" Velan berdecih.


"Ahaha," Voren tertawa. "Istriku, kau benar-benar lucu sekali! Kenapa kita tidak dipertemukan dari dulu ya?" tanya Voren.


"Kenapa kita tidak bertemu lima belas tahun yang lalu?" tanya Voren lagi. "Kenapa aku tidak mengenalmu lebih dulu?"


"Aku justru berharap, aku tidak pernah mengenalmu," sahut Velan. "Seandainya saja saat itu aku tidak datang ke perjodohan instan, seandainya saja aku menolak lamaran dari ibumu, seandainya saja, aku tidak menikah denganmu, hidupku pasti jauh lebih bahagia!"


"Seandainya saja aku datang ke biro jodoh, melihat dan memilih sendiri pria yang akan menjadi suamiku! Bukannya beli kucing dalam karung seperti ini! Dapat suami tampan, kaya raya, tapi pendusta, licik, dan penuh tipu muslihat! Bukannya bahagia malah sengsara! Sepertinya ini memang sudah menjadi azabku karena mencari jalan pintas untuk dapat jodoh!" beber Velan.


"Aduh Istriku, jika saja hatiku ini buatan Tiongkok, pasti sudah hancur berkeping-keping! Untunglah hatiku ini ciptaan Tuhan! Perkataanmu itu sungguh amat sangat menyakiti hatiku! Bisa-bisanya kau mengatakan semua hal menyakitkan itu di hadapanku!" keluh Voren.


"Bagus kan, aku mengatakannya langsung di hadapanmu, jadi aku tidak berghibah di belakangmu!" sahut Velan. "'Berghibah itu kan katanya sama saja seperti memakan bangkai saudaranya sendiri!"


"Haha," Voren tertawa lagi.


Voren sungguh tak menyangka bahwa berbincang-bincang santai dengan istrinya tanpa mengerahkan emosi berlebih seperti ini sungguh menyenangkan.


...~...


Usai makan siang bersama mereka kembali melanjutkan acara kencan mereka. Agenda selanjutnya yakni pergi mengunjungi area rumah hantu. Situasi yang begitu gelap, kental dengan suasana angker. Dekorasi berupa replika nisan yang terbuat dari sterofoam, aroma kemenyan berlatar musik horor, sungguh menghidupkan suasana. Belum lagi di tambah penampakan-penampakan yang tiba-tiba muncul berupa kawanan setan lokal seperti kuntilanak, pocong, hingga sundal bolong secara bergilir menakuti pengunjung yang masuk.


"Istriku, kau sungguh tidak takut dengan suasana horor begini?" tanya Voren.


"Tidak, semua ini kan hanya settingan!" sahut Velan.


"Haha," Voren tertawa.


"Jujur saja, kau takut kan?" tanya Velan.


"Tidak, kan ini cuma settingan!" sahut Voren. "Yang aku takutkan justru ketika kau tidak ada di sisiku lagi!"


"Sebelum kau datang ke rumahku, tempat itu selalu kosong. Penghuninya hanya aku dan tujuh ekor anak-anak mungilku. Kau adalah wanita pertama yang kubawa ke rumahku. Kau adalah wanita pertama yang kupersilakan untuk tidur di tempat tidurku. Kau adalah wanita pertama yang memasak di dapurku, menjemur pakaian di balkonku, bahkan mengubah susunan semua pakaian di lemariku, kau juga yang mengurus anak-anakku dengan baik," kata Voren.


"Setiap pagi kau mengantarku ke depan pintu dan ketika aku kembali, kau menyambutku datang. Aku sungguh baru menyadari bahwa rumah itu akhirnya tidak kuhuni sendiri lagi," lanjut Voren.


"Istriku, aku sungguh baru menyadari bahwa kau memang bukanlah cinta pertamaku, namun kau menjadi wanita pertama yang berbagi kehidupan denganku," kata Voren.


"Itulah arti dirimu untukku, Istriku," Voren mengambil tangan Velan dan menggenggamnya.


Velan menahan dirinya untuk tidak meneteskan air mata. Mengapa pria ini malah mengingatkannya pada hal-hal yang ingin dilupakannya? Di saat Velan berpikir bahwa Voren sama sekali tidak pernah peduli padanya, ternyata pria itu memperhatikan hal-hal sepele itu.


"Woww, so sweet!"


Seruan dari para kawanan hantu lokal tiba-tiba muncul di hadapan Velan dan Voren, mereka bertepuk tangan heboh. Mereka sungguh terkejut karena ada pasangan yang mengungkapkan cinta di rumah hantu.


"Waaww, pengakuan yang begitu romantis!"


Voren mendelik gusar, kenapa para hantu konyol ini muncul di saat yang tidak tepat?!


"Terima! Terima!" seru para kawanan hantu jadi-jadian itu.


"Permisi! Permisi!" Voren segera membawa Velan keluar dari rumah hantu itu.


...~...


Sinar matahari berwarna jingga keemasan berkilau begitu indah. Sore sudah menjelang saat Velan dan Voren memasuki bianglala yang membawa mereka bergerak perlahan-lahan ke angkasa. Cukup lama mereka terdiam dalam keheningan pasca meninggalkan area rumah hantu.


Voren segera bertumpu pada lututnya di hadapan Velan yang duduk termenung.


"Istriku, apakah kita sungguh tidak bisa kembali mencoba untuk memperbaiki pernikahan kita? Kumohon, Istriku, aku sungguh tidak ingin pernikahan kita berakhir. Aku sungguh menyesali keputusan bodohku saat itu. Sungguh saat itu, aku hanya terbawa emosi sesaat," Voren memohon kepada Velan.


"Kenapa kau ingin memperbaiki pernikahan kita? Bukankah kau bahkan tidak pernah menganggap pernikahan kita?" tanya Velan.


"Apa karena Soraya tidak ada lantas kau ingin menjadikanku sebagai pelampiasan?"


"Kalau kau hanya ingin mencari tempat untuk memenuhi kebutuhan biologismu, dengan uangmu kau bisa membeli wanita yang kau inginkan!"

__ADS_1


Voren terdiam menatap mata Velan yang kembali digenangi air mata.


"Istriku! Ketika kita sudah bercerai, siapa yang akan merawatku saat aku sedang sakit, di saat aku terbaring sendiri?! Siapa yang akan bertengkar denganku?! Siapa yang akan menyakitiku dengan perkataan-perkataan tajam yang menghujam jantungku?! Siapa yang akan membuat hidupku jungkir balik seperti sekarang kalau bukan kau, Istriku!" kata Voren.


"Ada Doni! Kalian bertengkar saja setiap hari!" sahut Velan.


"Tidak! Doni tidak berani mencecar seperti kau mencecarku!" Voren menggeleng.


"Cari saja orang yang bisa kau ajak berkelahi! Preman pasar! Atau tabrak saja angkot, kau pasti akan berkelahi dengan sopir angkotnya! Atau pegawaimu! Ajak saja mereka ribut! Pegawai itu kan digaji untuk dimaki!" sahut Velan.


"Tidak, Istriku! Kumohon!" Voren menangis mendekap lutut Velan.


"Tidak! Aku tidak mau! Untuk apa kita bersama sedangkan kau tidak mencintaiku!" Velan memukuli punggung Voren.


Voren mendongakkan kepalanya, menatap Velan yang menangis tersedu-sedu.


"Apakah jika aku mencintaimu, kau akan tetap berada di sisiku?" tanya Voren.


Velan tidak bisa menjawab pertanyaan Voren karena pria itu sudah mengunci bibirnya dengan sebuah ciuman.


...~...


Menjelang malam, Voren dan Velan sudah tiba di apartemen mewah milik Voren. Velan segera masuk ke ruang penatu dan mengemasi barang-barangnya.


Voren merebahkan dirinya di sofa. Ia mencoba memejamkan mata. Ia benar-benar merasa sangat lelah.


Velan keluar dari ruang penatu dan membawa kopernya. Malam ini juga ia harus pergi dari apartemen Voren.


Voren hanya bisa menatap punggung Velan yang menghilang dari balik pintu. Tanpa sepatah kata pun wanita itu pergi dari hidupnya.


"Istriku," Voren kembali meneteskan air matanya.


Pintu apartemen Voren terbuka, Velan muncul di ambang pintu.


"Maaf, ada sesuatu yang masih tertinggal," kata Velan segera menuju ke dapur.


Voren segera menjatuhkan tubuh Velan ke atas tempat tidurnya, menindih lalu memberinya ciuman yang begitu memaksa. Pria itu juga mulai merobek pakaian Velan dan segera melucutinya.


"Hmmph... " Velan meronta.


"Istriku, kumohon!" Voren menyasar leher Velan.


"Voren! Tidak! Jangan!" seru Velan.


"Kumohon Istriku, maafkan aku!" Voren kembali menciumi Velan.


"Voren! Tidak! Ah!" Velan mendesah karena Voren mulai menyerangnya.


"Istriku! Maafkan aku! Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu pergi! Aku menginginkanmu!"


"Tidak! Voren! Lepaskan aku! Lepaskan!" Velan meronta dan menjerit dalam pelukan Voren.


Voren menghentikan ciumannya, ia menatap Velan yang menangis ketakutan lantaran Voren menyerangnya secara paksa.


"Kenapa Istriku?! Kenapa kau tidak mau bersamaku?! Apakah karena Daren?!" tanya Voren.


"Voren! Bagaimana aku bisa bersama dengan orang yang bahkan tidak bisa kupercaya dan tidak memercayaiku?!" tukas Velan.


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Voren.


"Ya, aku tidak percaya padamu dan tidak akan pernah bisa percaya lagi padamu!" jawab Velan.


"Meski aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, kau tetap tidak akan percaya padaku?" tanya Voren.


"Ya, aku tidak percaya, karena wanita yang kau cintai adalah Soraya!" jawab Velan.


Voren menyeka air mata Velan dan memberinya ciuman yang lembut.

__ADS_1


"Maafkan aku, Istriku, maafkan aku," Voren memeluk erat Velan.


...~...


"Istriku, apa yang akan kau lakukan setelah kita bercerai?" tanya Voren sambil membelai lembut rambut Velan.


Velan masih terdiam, mendengarkan debar jantung Voren yang terdengar jauh lebih stabil. Pria itu akhirnya memberinya pertanyaan lagi setelah mereka saling berdiam diri cukup lama hingga jam digital di atas nakas telah menunjukkan pergantian tanggal.


"Aku akan melanjutkan hidupku," jawab Velan singkat.


"Ya, maksudku, apa rencanamu ke depannya?" Voren menanggapi.


"Tidak ada. Aku hanya perlu menjalani hari-hariku seperti sedia kala. Aku akan tetap berjualan kue sambil menunggu panggilan kerja," sahut Velan.


"Hmm, aku pikir kau akan segera mencari sosok pria idaman lain," Voren terkekeh.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya! Aku tidak mau disangka janda gatal yang haus belaian laki-laki," cibir Velan.


"Istriku, aku sungguh minta maaf padamu, aku bukanlah pria yang baik untukmu. Semoga suatu hari nanti, kau benar-benar bahagia dengan pria yang kau pilih sendiri, pria yang mencintaimu dan percaya padamu," kata Voren.


Velan mendongak menatap Voren yang menatapnya dengan tatapan lembut. Senyum pria itu menampilkan dua lesung pipinya yang dalam.


"Semoga pria itu adalah pria yang terbaik, pria yang memperlakukanmu dengan sebaik-baiknya," lanjut Voren.


"Doa terbaikku mengiringi setiap langkahmu, Istriku. Hiduplah dengan baik, meski tidak bersamaku. Jangan rindukan aku, meskipun nanti kau pasti akan merindukanku," Voren terkekeh dengan air matanya yang mengalir turun membasahi pipinya.


Velan menyeka air mata Voren.


"Ya, aku tidak akan merindukanmu! Toh kau juga tak akan mungkin merindukanku!" sahut Velan.


"Ya, meski aku mengatakan aku rindu padamu, kau pasti tidak akan percaya," Voren menimpali.


"Ya, karena semua yang kau ucapkan itu dusta," sahut Velan.


"Saat aku mengatakan aku tidak mungkin rindu padamu, itu artinya apa?" tanya Voren.


"Bohong," sahut Velan.


"Hmm, saat aku mengatakan bahwa aku tidak mungkin teringat padamu, itu artinya apa?" tanya Voren lagi.


"Kau berbohong," jawab Velan.


"Saat aku mengatakan bahwa aku tidak mungkin mencintaimu, itu artinya apa?" tanya Voren.


Velan tertegun menatap Voren yang kembali meneteskan air matanya.


"Istriku, aku tidak mungkin mencintaimu, menurutmu, aku jujur atau berbohong padamu?" tanya Voren lagi.


"Bohong," jawab Velan.


"Jika aku mengatakan aku tidak menginginkanmu, itu artinya apa?" tanya Voren lagi.


"Kau berbohong padaku," jawab Velan.


"Ya, aku berbohong padamu. Aku berbohong hingga membohongi diriku sendiri," sahut Voren.


"Jangan maafkan aku, Istriku! Jangan pernah memaafkanku atas semua kebohongan yang pernah kulakukan padamu!" tukas Voren.


Velan kembali meneteskan air matanya, begitu juga dengan Voren.


"Pembohong! Pendusta!" Velan menangis sesenggukan.


"Ya, aku adalah pria pendusta! Pria yang telah berdusta karena mengatakan tidak mungkin mencintaimu! Tidak mungkin aku menginginkanmu!"


Voren memeluk erat Velan yang menangis dalam dekapannya.


...~...

__ADS_1


__ADS_2