
"Panggilan kepada Voren Lazaro, ditunggu di ruang piket," terdengar pengumuman ke seluruh penjuru sekolah begitu mendekati jam istirahat siang.
Semua murid yang berada di kelas Voren langsung mengarahkan pandangan mereka, tak terkecuali Doni. Voren nampak ogah-ogahan dan enggan untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Voren, dicari mamamu, tuh," kata Beni seraya terkekeh.
"Menu makan siang apa lagi yang disiapkan oleh mamamu?" tanya Budi.
Voren hanya mengulas senyumnya, namun dalam hati ia merutuk kesal. Setiap jam istirahat siang ibunya pasti datang dan membawakannya bekal makan siang.
Voren akhirnya beranjak dari bangkunya, meminta izin kepada guru mata pelajaran untuk pergi ke ruang piket.
"Asli ya, anak sultan memang tidak bisa dibandingkan dengan kita-kita ini," Beni terkekeh.
"Anak orang kaya memang sangat dimanjakan, pantas saja dia begitu gendut," Budi menyahut.
"Teman-teman, tidak baik membicarakan orang dari belakang," Doni menimpali.
"Bah, Doni, apa kau sekarang sudah jadi kaki tangan Voren?" tanya Beni.
"Apa yang sudah Voren berikan padamu sampai kau begitu membela dia?" tanya Budi.
"Yang di belakang, ada apa ribut-ribut begitu?" guru mata pelajaran menegur Doni, Budi, dan Beni.
Ketiga pemuda itu pun akhirnya terdiam dengan memendam kekesalan masing-masing.
...*****...
"Voren," Ibu Voren langsung menyambut kedatangan Voren dengan senang.
Vega langsung memeluk dan mengusap lembut pipi Voren dengan gemas.
"Mama, kenapa mama datang lagi? Bukankah aku sudah bilang Mama tidak perlu datang dan mengantarkan bekal untukku?" keluh Voren.
"Voren, di sekolahmu ini kan tidak ada kafetaria yang menyiapkan menu makanan berstandar ahli gizi terbaik, Mama tentu tidak bisa membiarkanmu jajan sembarangan! Bagaimana jika nanti kamu sakit perut, sembelit, bahkan parahnya terkena penyakit-penyakit kronis?" tanya Vega.
"Kesehatanmu sangat penting, Voren, kalau sudah sakit, yang menderita bukan hanya kamu, tapi Mama juga! Mama tidak mungkin tega melihatmu sakit, kehilangan nafsu makan, dan akhirnya kekurangan gizi!" lanjut Vega.
Petugas piket yang berada di sekitar Voren dan ibunya menahan senyumnya. Anak-anak orang kaya yang bersekolah di sekolah ini ada banyak, namun murid yang nampaknya sangat dimanjakan oleh orang tuanya jelas hanyalah Voren.
Kalau sampai penjual makanan di kantin sekolah mendengar ucapan Vega yang nampaknya menjatuhkan citra makanan di kantin yang tidak terstandarisasi dari ahli gizi terbaik, Vega pasti sudah didemo penjual makanan di kantin sekolah.
"Baik Mama, aku mengerti, tapi sebaiknya mulai besok aku membawa bekal dari rumah saja, jadi Mama tidak perlu repot mengantar makan siang untukku," kata Voren.
Vega menatap lama ke arah Voren yang nampak memasang ekspresi memelas.
"Baiklah, kalau itu maumu, Voren," Vega kembali mengusap gemas pipi Voren.
"Mama, aku mau kembali ke kelas," kata Voren.
"Makanannya dihabiskan ya, jangan sampai ada yang tersisa kecuali kotak bekalnya," kata Vega sambil kembali memeluk Voren.
__ADS_1
"Iya, Mama," kata Voren.
Vega melambaikan tangan kepada anak laki-lakinya yang selalu ia manjakan. Karena bagi Vega, Voren adalah anaknya yang begitu berharga.
...*****...
Begitu Voren tiba di kelas, terlihat teman-temannya melemparkan tatapan skeptis ke arahnya.
"Jadi, hari ini kau dapat bekal apa lagi, Voren?" tanya Beni.
"Oh, hanya menu-menu seperti biasanya," jawab Voren.
"Menu diet, ya?" tanya Budi.
"Bukan, hanya menu lengkap dengan gizi seimbang," jawab Voren.
"Haha, sebenarnya orang tuamu memelihara manusia atau babi?" tanya Beni seraya tertawa.
"Enak sekali anak orang kaya sepertimu, kerjanya hanya makan dan tidur," Budi menimpali.
Doni bisa melihat ekspresi Voren berubah karena Beni dan Budi yang merundungnya.
"Teman-teman, hentikan," sergah Doni. "Memangnya apa salahnya orang tua Voren begitu perhatian pada Voren? Orang tua yang baik tentu saja orang tua yang peduli pada anaknya," kata Doni.
"Haha, tapi ya sadar diri dong, berapa usiamu sekarang, Voren? Apa sekarang kau merasa masih menjadi anak TK?" tanya Beni seraya tertawa.
Terdengar semua murid ikut tertawa mendengar Beni mengejek Voren.
Seketika semua orang terdiam, Budi dan Beni memasang ekspresi kesal.
"Doni, kamu berani menantangku ya?" Beni langsung mencengkeram kerah kemeja Doni.
"Lepaskan tanganmu, Beni!" kata Doni dengan nada memerintah.
"Hajar! Hajar!" seru para murid bersorak heboh.
"Teman-teman," kata Voren langsung mencoba melerai Doni dan Beni yang nampak akan memulai baku hantam.
"Bagaimana jika kita semua makan siang di kantin bersama?" usul Voren.
Semua murid langsung melayangkan pandangan mereka pada Voren.
"Kau yang traktir, Voren?" tanya Budi.
"Iya, aku yang traktir," jawab Voren.
"Ayo teman-teman!" seru Budi mengajak semua teman-teman untuk pergi ke kantin.
Doni dan Beni saling melepaskan cengkeraman mereka.
"Ayo, Ben," ajak Budi pada Beni.
__ADS_1
Doni kembali duduk di kursinya, masih berusaha menahan emosi.
"Doni, terima kasih sudah membelaku," kata Voren.
"Aku tidak membelamu, Voren! Aku hanya kurang suka melihat orang yang suka menjelek-jelekkan orang tua, terlebih orang tuanya orang lain," kata Doni.
"Oh begitu," kata Voren. "Ayo kita ke kantin, Doni," ajak Voren.
"Terima kasih Voren, pergilah tanpaku," kata Doni.
"Kenapa kau tidak mau pergi ke kantin, Doni? Kau tenang saja, aku yang bayar," kata Voren.
"Tidak, aku sudah bawa bekal dari rumah," jawab Doni.
Doni beranjak dari bangkunya, membawa tasnya keluar dari kelas. Doni biasa ke halaman belakang sekolah untuk menyantap makan siangnya sendiri. Ia bahkan tidak punya cukup uang untuk membeli makanan di kantin sekolah.
...*****...
Voren menuju ke kantin dan membayar semua makanan yang dipesan oleh teman-teman sekelasnya. Terserah teman-teman sekelasnya mau makan apa, toh Voren punya uang saku yang banyak dan selalu membuatnya bingung untuk menghabiskannya.
"Terima kasih Voren, semoga rejekimu makin bertambah," kata mereka pada Voren.
"Semoga berat badanmu juga bertambah," sahut yang lain.
"Sama-sama," kata Voren.
Entah mengapa Voren merasa senang sekali, saat di sekolah lamanya dulu, mana ada orang yang bisa ditraktirnya. Sudah ada kafetaria yang menyiapkan menu lengkap dengan gizi seimbang setiap harinya.
Voren kembali ke kelas, membawa tas bekal makan siangnya, dan mencari keberadaan Doni yang biasa nongkrong sendiri di halaman belakang sekolah untuk menyantap bekal makan siangnya.
"Hai, Doni," sapa Voren pada Doni.
"Loh, Voren, kenapa kau ke sini? Bukannya kau dan teman-teman lain makan di kantin?" tanya Doni.
Voren segera duduk di samping Doni.
"Kau selalu membawa bekal ya, Doni?" tanya Voren.
"Kalau makan angin bisa membuatku kenyang, aku tidak akan membawa bekal," jawab Doni.
Voren melihat bekal makan siang Doni yang di mata Voren tentulah sangat memprihatinkan. Doni pun terpana melihat bekal makan siang Voren yang begitu banyak, dan semuanya terlihat begitu menggiurkan.
"Doni, ayo kita makan bersama, jujur saja aku tidak sanggup jika harus memakannya sendiri," kata Voren.
"Tidak, Voren, bekal itu kan untukmu, sudah dibuat sesuai untuk porsi makanmu," tolak Doni.
"Tidak Doni, aku selalu menyisakan semua makanan ini dan akhirnya benar-benar mubazir," kata Voren.
Jujur saja, Doni sungguh kagum dengan kepribadian Voren. Pemuda itu bukanlah seperti kebanyakan anak-anak orang kaya yang pada umumnya bersikap sombong atas apa yang orang tua mereka miliki.
...*****...
__ADS_1