Jodoh Instan

Jodoh Instan
Bonus Ch 06


__ADS_3

"Istriku...,;"


Voren membuka pintu kamar, tangannya membawa sebuah nampan berisi semangkuk sup ayam hangat untuk Velan yang masih berbaring di tempat tidur.


"Ayo dimakan supnya, Mamaku mengirimkan sup ini untukmu," Voren mengulas senyum cemerlang.


Velan hanya diam, ia masih tetap bersikap dingin kepada pria yang kembali menjadi suaminya secara resmi sejak dua minggu yang lalu.


Sejak kembali menikah, Voren berusaha untuk memberikan seluruh perhatiannya hanya untuk Velan. Membujuk Velan untuk makan jelas menjadi salah satu tugas utama Voren.


"Tidak, aku mual!" Velan kembali menarik selimutnya.


"Istriku, kau harus makan, bayi kita perlu asupan nutrisi dan gizi yang baik untuk tumbuh dan berkembang," Voren membujuk Velan.


Velan mendengus kesal, setiap jam pria itu selalu datang dengan membawakan makanan yang mesti dimakan oleh Velan. Seakan Velan adalah seekor sapi yang harus merumput setiap jam agar senantiasa kenyang dan cepat gemuk.


"Mudah bagimu untuk bicara seperti itu! Aku sungguh malas makan kalau nanti muntah lagi!" sergah Velan.


"Kalau muntah lagi ya makan saja lagi, Istriku, aku siap menyuapi lagi setiap saat," Voren menyodorkan sendok berisi sup ke arah Velan.


"Aku tidak mau!" Velan mendorong Voren menjauh darinya.


Prang..!


Mangkuk sup di tangan Voren tergelincir dan hancur berantakan begitu menghantam lantai. Voren menghela napas berat melihat kepingan mangkuk yang lagi-lagi harus dibersihkannya setiap kali membujuk Velan untuk makan.


Voren sungguh cemas dengan kondisi Velan yang semakin kurus dan kuyu. Setiap kali makan, Velan selalu muntah. Seakan tubuh wanita itu sama sekali tidak bisa mencerna apa pun. Hal itu jelas membuat Voren mencemaskan apakah bayi mereka menerima asupan gizi yang cukup untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.


"Aku tidak mau makan! Aku lelah harus makan lalu muntah lagi! Aku tidak mau!" tolak Velan.


"Istriku, dokter bilang memang sudah sewajarnya wanita hamil itu makan lalu muntah. Kebanyakan wanita hamil memang seperti itu," kata Voren.


"Kau bisa mengatakan hal itu karena kau tidak merasakan betapa beratnya hamil! Dasar laki-laki tidak tahu diri!" sembur Velan dengan kesalnya.


"Istriku, seandainya saja morning sickness-mu bisa kau berikan padaku, aku siap menerimanya," kata Voren.


"Huh, mulutmu! Pergi sana! Aku muak melihatmu!" Velan mengusir Voren.


Velan kembali bersembunyi dalam selimutnya. Sementara Voren hanya bisa diam sambil memunguti pecahan mangkuk.

__ADS_1


Entah mengapa ia merasa sangat sedih karena Velan masih tetap mengibarkan bendera permusuhan padanya. Entah apa yang harus dilakukan oleh Voren agar Velan benar-benar bisa menerima ketulusannya.


"Istriku, akan kuambilkan lagi makanan lain, makanlah walaupun sedikit, ya," kata Voren.


Voren kemudian keluar dari kamar Velan. Ia segera menghampiri Ibunya dan Doni yang menunggu di depan kamar itu.


"Voren, kamu yang sabar ya, kehamilan memang membuat kepribadian wanita berubah drastis," ucap Vega.


Voren menyeringai, tidak hamil saja istrinya sangat mengerikan, apalagi saat hamil.


"Iya Mama, aku mengerti," sahut Voren.


"Oh ya, Voren, berhubung kehamilan Velan sudah akan menginjak bulan keempat, bagaimana jika kalian mengadakan syukuran empat bulanan?" usul Vega.


"Mama, aku rasa itu bukan ide yang bagus, mengingat kondisi istriku sangat lemah dan tidak stabil," Voren berusaha menolak.


"Makan saja dia tidak mau, aku sungguh cemas dengan kondisi istriku dan bayi kami, Mama," lanjut Voren.


"Tapi Voren, mengadakan acara syukuran itu tujuannya mengucap rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan. Lagipula bukankah bagus jika semua keluarga besar kita tahu bahwa akan ada anggota keluarga baru yang meneruskan garis keturunan Keluarga Lazaro? Dan tentu saja dengan demikian sekaligus bisa menghapus sepenuhnya isu perselingkuhan antara Velan dan Daren yang masih merebak di kalangan keluarga besar," Vega menjelaskan panjang lebar.


"'Mama, terserah orang mau berkata apa tentang istriku dan Daren, aku tidak peduli, toh, yang penting aku dan istriku sudah kembali bersama," sahut Voren.


Yah, meski Voren sadar bahwa mereka sepakat untuk kembali bersama demi anak yang berada dalam kandungan Velan. Voren jelas tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, siapa tahu Velan akan berubah pikiran seiring berjalannya waktu.


"Voren, apa kau tahu, kakek dan nenekmu sungguh senang mendengar kabar kehamilan Velan? mereka sungguh tidak sabar untuk menyambut cicit mereka. Seandainya saja kau tidak menyerah untuk mendapatkan kursi Presiden Direktur, pasti kau sudah menjadi Presiden Direktur sekarang," Vega menghela napas berat.


"Mama, aku lebih menikmati hidupku yang sekarang. Aku bisa bebas melakukan apa pun yang kuinginkan, dan aku punya banyak waktu yang bisa kuhabiskan bersama istriku. Terlebih sebentar lagi anakku lahir," kata Voren membela dirinya.


"Sungguh, aku tidak mau menjadi orang tua seperti Papa, dari muda sampai tua masih saja terus mengurus pekerjaan!"


"Voren, Papamu bekerja keras agar kita semua hidup nyaman dan berkecukupan tanpa kekurangan apa pun," Vega membela suaminya.


"Ya, Papa melakukan semua itu demi ego Papa sendiri," cibir Voren.


"Yah, terserah kau saja, Voren," Vega mengalah.


"Voren, bagaimana jika Mama yang mengaturkan acara syukuran empat bulanan anak kalian? Mama sungguh ingin sekali mengadakan acara itu," Vega kembali melakukan negosiasi.


"Hmm, baiklah, Mama, aku akan menanyakan pada istriku, tapi aku tidak berani menjanjikan pada Mama, apakah istriku akan setuju dengan acara tersebut," sahut Voren.

__ADS_1


"Kau bicarakan dulu baik-baik, kalau memang tidak bisa, Mama yang akan bicara pada Velan," tukas Vega.


"Baiklah, kalau begitu Mama pulang dulu, Mama tunggu kabar baiknya," Vega berpamitan.


Voren dan Doni mengantar kepergian Vega dari rumah Velan. Sejak rujuk, Voren dan Doni tinggal di rumah keluarga Velan karena Velan menolak untuk tinggal di apartemen Voren atau pun rumah utama.


"Tuan, saya yakin, Nona Velan akan menolak untuk mengadakan acara syukuran itu," kata Doni.


Voren mencebik, berat untuk mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Doni adalah kebenaran. 


"Doni, jangan pesimis begitu, siapa tahu istriku bersedia!" tukas Voren.


...~...


"Tidak! Aku tidak mau mengadakan acara konyol seperti itu! Aku bahkan tidak menerima kehamilan ini! Untuk apa mengadakan acara syukuran segala?!"


Velan mencecar Voren, sesekali ia membuang ludahnya ke dalam ember tempat muntahannya. Hamil membuat produksi air liur Velan menjadi berlebihan selain mual dan muntah.


"Istriku, mau kau terima atau tidak terima, hamil tetaplah hamil!" kata Voren.


"Tidak! Aku tidak mau! Kalau kau memang mau mengadakan acara itu, kau saja yang hamil!" Velan beranjak dari tempat tidurnya.


Tubuhnya terhuyung, dengan sigap Voren menopangnya.


"Minggir, jangan sentuh-sentuh aku!" sungut Velan.


Velan menuju ke kamar mandi yang berada di luar kamarnya. Sedari tadi perutnya terasa kurang nyaman, ada muncul kram yang membuatnya memilih untuk berbaring sepanjang hari. Tak ayal hal itu membuatnya stres sendiri.


Begitu keluar dari kamar mandi, wajah Velan seketika memucat. Ada bercak darah yang keluar ketika ia buang air kecil.


"Ada apa, Istriku?" tanya Voren menyadari perubahan ekspresi Velan.


"Ada darah yang keluar," jawab Velan.


"Darah?" tanya Voren.


"Nona Velan, sebaiknya anda harus ke rumah sakit sekarang," sahut Doni.


"Doni, apa maksudmu?" tanya Voren.

__ADS_1


"Saya sudah membaca banyak artikel seputar kehamilan, pendarahan ketika hamil menandakan adanya masalah," jawab Doni.


...~...


__ADS_2