Jodoh Instan

Jodoh Instan
Pencitraan


__ADS_3

Velan membuka matanya yang terasa berat. Ia menatap langit-langit tinggi yang masih begitu asing. Saat ini otak Velan sedang dipaksa untuk berpikir dengan sangat cepat bahkan dituntut untuk melebihi kecepatan cahaya. Terlebih saat ia menoleh ke arah dua orang yang nampak sedang berbincang di dapur.


"Tuan, saya akan selalu ada untuk Anda," kata Doni sambil menggenggam erat tangan Voren.


Velan yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa merasa nelangsa.


Alamak yang benar saja!


Suami sempurnaku tidak tertarik pada wanita karena tertarik pada pria?!


Kenyataan pahit macam apa ini?!


"Woaa!" seru Velan yang terjatuh ke lantai lantaran ia terguling dari sofa.


Seruan Velan langsung mengundang perhatian dua pria yang sedang duduk bercengkerama di meja makan. Doni segera beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Velan.


"Nona Velan, Anda baik-baik saja?" tanya Doni.


Doni melirik ke arah Tuan Voren yang nampak menatap tanpa ekspresi.


"Tuan," Doni melotot memberi kode pada atasannya itu.


Voren segera beranjak dari kursinya dan menghampiri istrinya.


"Oh istriku, kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Apa perlu ke rumah sakit?" tanya Voren.


Doni memutar bola matanya, Anda terlalu berlebihan, Tuan!


"Te-terima kasih, aku baik-baik saja," jawab Velan perlahan bangkit.


Untunglah ia terjatuh di atas tumpukan gaun megahnya ini sehingga ia sama sekali tidak merasa sakit. Justru hatinya yang terasa sakit melihat adegan saling tatap yang nampak begitu intens antara suaminya dan Doni. Sungguh Velan jadi teringat adegan erotis pria yang tak sengaja dilihatnya saat malam ia pergi karaoke bersama teman-temannya sebelum hari pernikahan.


Sekarang pria yang tampan itu senangnya dengan pria yang tampan juga, kata-kata itu terus terngiang bagai lagu viral dari aplikasi jejogetan masa kini dalam kepala Velan.


Velan berharap ia hanya salah mendengar pengakuan mengejutkan dari suaminya yang luar biasa tampan ini. Tidak mungkin suaminya yang tak tertarik pada wanita ini justru malah tertarik pada pria! Ini pasti salah! Salah itu adalah tidak benar, tidak benar berarti salah! Velan berusaha meyakinkan dirinya.


"Nona Velan pasti begitu lelah ya, sampai pingsan begitu," komentar Doni.

__ADS_1


"Ah iya, lelah sekali harus menyambut tamu yang begitu banyak," kata Velan.


"Istriku, mungkin sebaiknya kau mandi terlebih dahulu agar tubuhmu lebih segar," kata Voren. "Silakan gunakan kamar mandi di dalam kamarku, berendam dengan air hangat pasti akan membuatmu merasa nyaman," lanjut Voren.


"Benar Nona, Tuan Voren juga akan segera menyusul Anda," kata Doni sambil tersenyum sumringah.


Voren melotot ke arah Doni.


Untuk apa aku menyusulnya Doni! Batin Voren yang berharap bahwa Doni bisa membaca apa yang sedang dipikirkannya.


"Tuan Voren tentu menyenangkan mandi bersama dengan istri anda," kata Doni.


Velan tertegun mendengar perkataan Doni, seketika ia merasa tegang sekali.


Ma-mandi bersama suamiku? Batin Velan yang langsung berdebar tak karuan.


"Haha, Doni, apa maksud perkataanmu?" tanya Voren seraya tertawa.


"Jika Tuan dan Nona mandi bersama akan lebih hemat waktu, sehingga begitu kalian selesai mandi, makanan yang saya pesan jelas sudah terhidang di atas meja makan," jawab Doni dengan mantap.


"Ba-baiklah," jawab Velan.


Yah mandi bersama tentu bukan masalah yang besar toh Velan dan Voren sudah resmi menikah. Meski pernikahan mereka begitu mendadak, mereka tetaplah sudah menjadi pasangan suami istri yang sah dimata hukum yang berlaku.


Pasangan yang belum resmi menikah saja sudah banyak yang melakukan kegiatan layaknya suami istri yang sah, apalagi mereka yang sudah nyata halal dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku?


Velan segera memasuki kamar tidur yang ditunjukkan oleh Voren. Ia meninggalkan dua pria yang masih saling bertatapan itu satu sama lain.


"Doni, kenapa aku harus mandi bersama istriku?! Dia wanita yang bahkan belum kukenal, apa kau mau aku disangka keong racun yang baru kenal sudah ngajak tidur?! Sungguh keterlaluan kau, Doni!" sergah Voren.


Doni menatap atasannya itu dengan tatapan bersungguh-sungguh. Sepertinya Tuan Voren memang harus diberi sedikit pengertian betapa pentingnya pernikahan yang saat ini sedang dijalani oleh beliau.


"Tuan, Anda tentu harus menunjukkan citra sebagai suami yang sempurna! Anda harus membangun imej sebagai suami yang lembut dan penyayang terhadap istri!" kata Doni meyakinkan Tuan Voren.


"Astaga, Doni! Yang benar saja!" keluh Voren.


"Tuan, saat ini kita hidup di era pencitraan! Pencitraan yang baik adalah segala-galanya dan sudah menguasai hajat hidup orang banyak!" Doni menjelaskan.

__ADS_1


"Doni," keluh Voren.


"Tuan, untuk apa Anda merasa sungkan mandi bersama dengan istri Anda? Bukankah Anda tidak punya perasaan terhadapnya? Saya rasa sungguh tidak masalah Anda mandi bersama dengan istri Anda! Anggap saja Anda sedang mandi dengan bebek-bebek karet!" kata Doni lagi.


"Tapi Doni!" keluh Voren lagi.


"Tuan, ini demi pencitraan sebagai suami yang sempurna! Lembut, hangat, dan penyayang! Tunjukkan pesona anda, Tuan!" kata Doni.


Voren menghela napas berat.


"Ya, ya, anggap saja bebek karet!" Voren akhirnya menyerah.


Doni menyembunyikan senyumnya.


Mandi bersama lalu lanjut tidur bersama, betapa enaknya pengantin baru!


...~...


Velan memasuki kamar berukuran luas yang begitu minimalis. Kamar itu nampak dikelilingi cermin yang rupanya adalah lemari. Terdapat kasur besar dan nakas di sisi kiri kanannya. Di kamar inilah tempat suaminya menghabiskan malam-malamnya. Terlintas dalam benak Velan suaminya yang begitu rupawan itu sedang berbaring bersama sosok pria yang tak lain adalah Doni. Doni, sang asisten pribadi yang mengurus semua kebutuhan suaminya termasuk urusan ranjangnya.


Oh, tidak! ini tidak mungkin! Ini pasti salah! Batin Velan memberontak.


Velan berusaha membuka gaun pengantinnya. Gaun dengan ritsleting di bagian belakangnya tentulah menyulitkan Velan.


"Sebaiknya aku minta tolong saja," gumam Velan.


Velan keluar dari kamar untuk meminta bantuan. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu lantaran menyaksikan adegan yang membuat jantungnya benar-benar seakan berhenti berdetak.


Mata Velan menangkap sosok Voren yang berdiri sementara Doni berlutut, dalam posisi membelakangi tempat Velan berdiri. Velan bisa melihat jelas tangan Doni yang nampak begitu lincah saat berpetualang di area terlarang milik suaminya.


"Aduh Doni, pelan-pelan! Ini barang edisi terbatas! Jangan sampai rusak!" keluh Voren.


"Maaf Tuan, ini saya sudah berusaha pelan-pelan," kata Doni.


"Apa karena sudah lama tidak digunakan jadi macet begini ya, Tuan?" tanya Doni.


"Aduh, Doni! Perutku terjepit!" keluh Voren lagi.

__ADS_1


Velan mematung dan kehilangan kata-kata menyaksikan adegan yang menghancurkan hatinya. Adegan erotis antara suami bersama asisten pribadi suaminya.


...~...


__ADS_2