
"Huekk... Huek...,"
Velan masih merasakan mual yang begitu hebat. Tubuhnya benar-benar sudah begitu lemah dan ia tidak bisa melakukan apa pun selain muntah.
Tok..Tok..
"Velan!"
Terdengar ketukan pintu rumah membuat Velan segera beranjak dari sofa dengan mengerahkan segenap tenaganya yang masih tersisa.
Lita segera masuk begitu Velan membukakan pintu untuknya. Lita sungguh mencemaskan Velan lantaran harus menjalani masa kehamilan yang begitu berat hanya seorang diri. Kakak-kakak Velan sibuk mencari pekerjaan, begitu juga dengan orang tua Velan yang masih berada di kampung.
Kondisi Velan yang makin memburuk jelas membuat Lita sangat mencemaskan temannya itu.
"Velan, ayo kita ke rumah sakit sekarang," ajak Lita.
"Terima kasih, Lita, huek...,"
Lita segera memapah Velan memasuki mobilnya.
"Tante Velan," seru Alika dan Aliza menyambut kehadiran Velan.
Keduanya nampak duduk tenang di car seat mereka.
"Alika, Aliza," Velan menyapa kedua anak Lita, ia berusaha tersenyum dalam kondisinya yang begitu lemah.
"Tante Velan bacakan cerita lagi ya!" pinta Alika.
"Ikan! Ikan!" seru Aliza.
"Anak-anak, nanti ya baca ceritanya," kata Lita.
"Kenapa nanti, Ma?" tanya Alika.
"Sekarang boleh, ya?" tanya Aliza.
Lita tidak segera menjawab, ia melihat Velan sudah macam orang teler akibat mabuk minuman keras. Anak-anaknya yang sedang tumbuh jelas memiliki tingkat ingin tahu yang begitu tinggi. Mereka akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban.
"'Anak-anak, Mama minta tolong, kalian ngobrolnya pelan-pelan saja ya, ada adik bayi yang sedang tidur," kata Lita.
"Adik bayi? Di mana, Mama?" tanya Alika.
"Itu di perut Tante Velan ada adik bayi," jawab Lita.
"Mau lihat adik bayi!" seru Aliza.
"Sst... adik bayinya sedang bobo," desis Lita.
"Iya, Mama," sahut kedua anak Lita secara serempak.
__ADS_1
"Kita antar Tante Velan ke rumah sakit dulu ya," kata Lita.
"Iya, Mama," sahut Alika.
Berat rasanya bagi Velan untuk sekadar menarik senyumnya. Saat ini kondisinya sedang benar-benar parah.
Fasilitas kesehatan tingkat satu merujuk Velan untuk segera ke rumah sakit. Hiperemesis gravidarum, yakni komplikasi pada trimester pertama kehamilan menyebabkan mual dan muntah yang amat parah. Itulah kondisi yang kini dialami oleh Velan. Mual yang terlalu sering membuatnya tidak nafsu makan, volume muntah yang sangat banyak dengan frekuensi muntah yang sering hingga membuat tubuhnya lemah jelas membuat Velan harus mendapat perawatan di rumah sakit.
Dalam hati, Velan jelas mengutuk pria yang sudah membuatnya harus mengalami kondisi hamil yang mengerikan ini. Dalam benak Velan terlintas bahwa saat ini mungkin Voren sedang pergi untuk menemui Soraya.
Soraya pasti pergi meninggalkan Voren karena saat itu Velan melabrak wanita itu, meminta dengan sangat agar Soraya tidak mengganggu pernikahannya. Kepergian Soraya jelas membuat Voren sangat marah dan akhirnya memutuskan untuk menceraikan Velan.
Velan enggan menerima tawaran Voren untuk melanjutkan pernikahan mereka karena Velan pikir, pria itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Bisa saja Voren hanya ingin membuat Soraya cemburu, menjadikan Velan hanya sebagai pelampiasan, pelarian, dan tempat meleburkan birahi pria itu saja. Setelah misi Voren berhasil, pria itu akan mudah sekali mencampakkan Velan.
Siapa yang bisa menjamin bahwa Voren benar-benar tulus untuk menjalani pernikahan mereka yang sudah berakhir bahkan sebelum mereka mulai?
Pria itu bahkan tidak mencintai Velan. Cinta Voren hanya untuk Soraya. Itulah yang selalu diyakini oleh Velan.
"Huek...," Velan kembali mual.
"Sabar ya Velan, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," kata Lita.
"Lita, terima kasih ya, maaf aku merepotkanmu," kata Velan.
"Velan, aku pasti akan membantumu sebisaku," kata Lita.
Mobil yang dikendarai Lita terhenti di depan pintu IGD sebuah rumah sakit. Lita segera turun dan menghampiri petugas IGD untuk membawa kursi roda.
"Alika, Aliza, kalian tunggu di depan pintu IGD ini sebentar ya, Mama di dalam sebentar saja. Ingat ya, apa pun yang terjadi tunggu Mama ya," pesan Lita.
"Iya, Mama," sahut Alika.
"Nanti beli es krim ya, Mama," pinta Aliza.
"Iya, nanti kita beli es krim," kata Lita.
Lita segera memasuki IGD sementara Alika dan Aliza menunggu di depan pintu IGD yang tertutup.
"Kak, kita main ke sana yuk," ajak Aliza.
"Tidak Liz, kita harus tunggu Mama di sini," tolak Alika.
"Tapi Aliza mau ikut sama Mama," rengek Aliza.
"Aliza, kata Mama kita harus tunggu," tukas Alika.
"Mau ikut Mama," Aliza mulai merengek.
...~...
__ADS_1
Doni segera turun dari mobil yang dikemudikannya. Ia berusaha tetap tenang, memasuki IGD, menemui petugas untuk menyiapkan kursi roda.
Secara mendadak, vertigo Tuan Voren kambuh, asam lambung naik, dan mengalami mual serta muntah karena penyakit maagnya kambuh.
Doni langsung mengambil inisiatif pergi ke rumah sakit terdekat karena tidak mungkin kembali lagi ke rumah hanya untuk menunggu kedatangan dokter pribadi. Padahal hari ini mereka akan pergi ke Paris sesuai rencana yang telah disusun.
Doni segera membantu Tuan Voren yang sudah macam layang-layang putus untuk duduk di kursi roda.
"Huek, aduh, Doni," keluh Voren.
"Sabar Tuan, saya sudah berkoordinasi dengan petugas IGD," kata Doni.
Langkah Doni terhenti saat melihat seorang bocah perempuan yang langsung mengikuti mereka.
Voren tersentak kaget karena bocah kecil itu langsung naik ke atas pangkuannya.
"Kakak, anak ayam!" seru bocah kecil itu langsung memainkan rambut Voren.
"Aliza, tidak boleh begitu!" tegur bocah yang lebih besar.
"Anak ayam ungu!" seru Aliza kegirangan.
"Aduh, Doni, anak siapa ini?!" keluh Voren.
Voren dan Doni jelas tidak bisa marah pada bocah-bocah ini karena pasti akan menimbulkan kesalahpahaman jika mereka sampai menangis.
"Anak ayam! Anak ayam!" Aliza masih mengacak-acak rambut Voren.
"Orang tua kalian di mana?" tanya Doni.
"Di dalam," jawab bocah yang paling besar.
"Baiklah, kalau begitu, kita temui orang tua kalian ya," ajak Doni.
"Tapi kata Mama kami tidak boleh ke mana-mana," tolak bocah yang lebih besar.
"Doni, kepalaku bisa botak! Ugh, huek...," Voren kembali mual.
"Kalau begitu, adikmu harus turun dari pangkuan Tuan Voren," Doni segera menurunkan Aliza.
"Tidak mau!" seru Aliza sambil memeluk erat lehet Voren.
"Aduh, anak-anak ini, menyusahkan sekali," cibir Doni.
"Aliza, turun!" perintah kakaknya.
"Tidak mau!" Aliza menjerit keras.
Voren mendengus kesal, lalu menarik kedua bocah itu ke pangkuannya.
__ADS_1
"Doni, ayo kita masuk, temui orang tua bocah-bocah ini!"
...~...