Jodoh Instan

Jodoh Instan
Extra part 6


__ADS_3

Suasana di kantor polisi nampak ramai. Para petugas mulai dari petugas berseragam dinas hingga petugas berpakaian preman memenuhi kantor polisi.


Para kuli tinta nampak sibuk memulai wawancara, para juru kamera sibuk membidik setiap momen wawancara tersebut.


"Ibu!" Doni langsung menghampiri ibunya yang menangis tersedu-sedu.


"Doni," Ibu Doni langsung merangkul Doni begitu Doni menghampiri beliau.


"Bapak kenapa, Bu?" tanya Doni berusaha tetap tenang.


"Bapakmu itu memang ya, bodohnya benar-benar tidak bisa dikondisikan!" Ibu Doni mengomel sambil menangis.


...*****...


Bapaknya Doni hanya bisa menunduk lesu saat melihat anak dan istrinya nampak begitu depresi saat menemuinya. Bapak Doni harus mendekam di penjara karena pihak kepolisian menciduk beliau yang saat itu tengah berperan sebagai kurir narkoba, mengantarkan paket narkoba jenis sabu seberat sepuluh gram untuk pembeli narkoba.


"Bapak, apa alasan Bapak sampai harus menjadi kurir barang haram itu?" tanya Doni.


Bapak Doni menatap Doni dan ibu Doni secara bergantian.


"Doni, Bapak tentu harus bekerja keras mengumpulkan banyak uang, demi keluarga kita," kata bapak Doni.


"Bapak, bekerja keras mengumpulkan banyak uang tidak harus dengan jalan haram seperti ini kan?!" sergah Doni.


"Doni, Bapak hanya ingin mengumpulkan banyak uang dengan cara yang jauh lebih cepat! Apalagi sebentar lagi kamu akan masuk kuliah! Bapak sungguh hanya ingin mewujudkan cita-citamu itu, Doni!" kata Bapak Doni.


"Bapak, maaf, tapi menurutku cara Bapak ini malah justru membuat apa yang aku cita-citakan harus kandas! Lihat, Bapak ditangkap seperti ini, bagaimana nasib keluarga kita, Bapak?!" kata Doni sambil mengusap wajahnya.


Doni jelas merasa sangat putus asa sekali. Saat ini bapaknya selaku tulang punggung keluarga harus mendekam di penjara, otomatis peran tersebut akan jatuh kepada ibunya. Doni pun jelas tidak bisa hanya tinggal diam saja, ia harus membantu meringankan beban sang ibu.


Ini juga artinya Doni harus siap putus sekolah demi membantu perekonomian keluarga mereka. Mata Doni mulai berair, ia benar-benar harus mengubur semua cita-cita dan impian yang ingin diraihnya.


Ibu Doni hanya bisa terdiam dengan mata menerawang, memikirkan bagaimana nasibnya yang harus menghidupi tujuh anak.


Bapak Doni mulai menangis, entah mengapa ia jadi menyesali perbuatannya karena sudah bertindak tanpa pikir panjang.


...*****...


Doni meninggalkan kedua orang tuanya, keduanya memerlukan ruang dan waktu untuk bicara empat mata. Doni terkejut melihat Voren masih menunggu di ruang tunggu.


"Voren, kenapa kau masih di sini?" tanya Doni keheranan.


"Menunggumu, sekalian melihat para polisi di sini, tubuh mereka keren sekali," sahut Voren seraya terkekeh.


Voren bisa melihat ekspresi Doni yang nampak sayu usai bertemu dengan ayahnya.


"Doni, apa kau baik-baik saja?" tanya Voren.


"Voren, lebih baik kau pulang, nanti ibumu mencarimu," jawab Doni.


"Doni, sebenarnya kau ada masalah apa?" tanya Voren.


"Voren, terima kasih sudah mencemaskanku, tapi sungguh, menurutku lebih baik kau tidak usah ikut campur dengan masalah keluargaku," jawab Doni.


"Doni, masalah ada untuk diselesaikan, siapa tahu aku bisa membantumu," kata Voren.

__ADS_1


Doni menatap skeptis ke arah Voren.


"Voren, aku sungguh berterima kasih atas kemurahan hatimu! Tapi ini masalah yang terjadi dalam keluargaku! Orang kaya sepertimu sungguh tidak akan mengerti dengan masalah yang kuhadapi sekarang ini!" Doni tak kuasa menahan amarahnya.


"Oh begitu, baiklah," kata Voren sebelum meninggalkan Doni.


Entah mengapa Doni jadi merasa sangat menyesal karena sudah meluapkan kemarahannya pada Voren. Saat ini Doni hanya terlalu terpukul dan tak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi masalah yang timbul di tengah keluarganya.


...*****...


Selama beberapa hari, Doni bahkan hanya mengurung diri dalam kamar. Ia tak berani keluar dari rumah karena semua tetangganya sudah menjadikan masalah keluarga Doni sebagai buah bibir. Saking tidak inginnya muncul ke publik, Doni bahkan sudah beberapa hari tidak pergi ke sekolah. Ia sudah memutuskan bahwa lebih baik ia berhenti sekolah saja dan mencari pekerjaan.


Ada enam adik perempuan yang saat ini menggantungkan nasib mereka pada Doni, itulah yang ada dalam benak Doni.


"Abang!" Dela, adik Doni mengetuk pintu kamar Doni berkali-kali.


Doni mengabaikan panggilan Dela.


"Abang, ada teman Abang datang," kata Dela lagi.


Doni menghela napas berat dan segera turun dari tempat tidur untuk membuka pintu kamarnya.


"Ada apa sih, Dela?" tanya Doni.


"Itu, teman Abang yang namanya Jeruk datang mencari Abang," jawab Dela.


"Jeruk?" Doni mengerutkan keningnya.


"Aku rasa namanya Jingga, bukan Jeruk," sahut Novia, adik Doni yang lain.


"Voren?" Doni heran melihat kehadiran Voren.


"Hai, Doni," sapa Voren.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Doni.


"Aku menjengukmu, kau sudah beberapa hari tidak masuk sekolah," jawab Voren. "Aku datang membawakanmu catatan pelajaran dan juga tugas-tugas yang harus kau kerjakan," lanjut Voren.


"Voren, terima kasih, tapi aku rasa itu tidak perlu, aku sudah memutuskan untuk berhenti sekolah," kata Doni.


Voren menatap lurus ke arah Doni yang menunduk.


"Begitu ya," kata Voren lagi.


"Ya, memang harus begitu," jawab Doni dengan mantap.


"Kalau begitu, ikutlah denganku sekarang," ajak Voren.


Voren melemparkan kunci mobilnya ke arah Doni.


"Kau yang bawa mobilku," kata Voren.


"Voren, apa maksudmu?" kata Doni keheranan.


Voren mengulas senyum misteriusnya.

__ADS_1


...*****...


Doni keheranan karena Voren mengajaknya ke kantor polisi. Mereka memasuki kantor polisi bersama-sama.


Mata Doni tertuju pada ibu dan bapaknya yang dikelilingi beberapa pria bersetelan jas. Selain itu, sosok ibu Voren juga berada di antara orang-orang itu.


"Doni!" Bapak dan ibu Doni langsung menyambut kehadiran Doni.


Bapak dan ibu Doni menangis sambil merangkul Doni dengan erat.


Voren langsung merangkul ibunya yang tersenyum ke arahnya.


"Terima kasih, Mama," kata Voren.


Vega mengulas senyum karena Voren memintanya agar membantu Doni. Melalui kuasa hukum yang ditunjuk oleh Vega, bapak Doni bisa kembali menghirup kebebasannya.


...*****...


Doni sungguh tak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada Voren dan juga ibunya yang telah membantu membebaskan bapak Doni dari penjara. Ibu Voren juga membantu bapak dan ibu Doni untuk keluar dari kesulitan ekonomi yang mereka hadapi di kota dengan membantu bapak Doni untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Doni sungguh berutang pada kebaikan Voren dan juga Nyonya Vega.


"Voren, aku sungguh tak tahu bagaimana aku harus membalas kebaikan yang sudah kau berikan pada keluargaku! Sungguh, aku siap melakukan apa saja untuk menebus hal ini," kata Doni kepada Voren.


"Hmm, begitu ya," kata Voren sambil mengulas senyumnya.


Doni mengangguk.


"Bahkan dengan jiwamu?" tanya Voren.


"Jika itu memang harus," jawab Doni dengan segenap kesungguhannya.


Begitulah, pada akhirnya Doni membuat semacam perjanjian darah dengan Voren. Pengabdian Doni kepada Voren bukan hanya sebatas masalah utang budi keluarga Doni pada Voren. Namun bagi Doni, mendampingi Voren seakan sudah menjadi panggilan untuk jiwanya. Voren yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan Doni tentu membuat perubahan yang begitu signifikan.


Doni pun berhasil meraih apa yang diimpikannya berkat bantuan Voren. Ia bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan apa yang dicita-citakannya melalui beasiswa penuh yang diberikan oleh Voren. Mendapatkan pekerjaan yang baik dan mampu membuat kehidupan keluarganya menjadi lebih baik lagi.


...*****...


Lamunan Doni buyar ketika mencium aroma daging panggang yang telah ia hangatkan di microwave pantry. Ia harus menyiapkan makan malam untuk Tuan Voren.


Doni paham betul bahwa Tuan Voren kerap naik darah ketika lapar. Bahkan ketika Tuan Voren harus menurunkan berat badannya. Yah, perjuangan pria itu sungguh tidak main-main untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


Doni segera membawa nampan berisi makan malam Tuan Voren ke ruangan kerja pria itu. Doni mengulas senyum saat Tuan Voren membukakan pintu untuknya.


"Doni, berapa banyak kalori yang harus kubakar jika aku memakan empat ratus gram daging sapi ini?" tanya Voren sambil mencomot sepotong daging steik dengan perasaan was-was.


"Anda hanya perlu berlari di atas treadmill selama empat puluh lima menit," jawab Doni.


"Oh ya, hmm Doni, aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud marah-marah padamu, aku hanya kesal karena merasa lapar," kata Voren.


"Tidak masalah Tuan, saya sudah sangat memahami Anda," kata Doni.


"Ya, terima kasih karena sudah memahamiku selama ini, Doni," sahut Voren.


Doni mengambil sepotong daging dan menyuapkannya kepada Tuan Voren, persis seperti yang dulu ia lakukan kepada adik-adiknya. Karena bagi Doni, Tuan Voren sudah seperti adik laki-laki yang tak pernah ia miliki. Pria yang sudah membantu Doni mewujudkan apa yang paling diinginkan oleh Doni yakni kebahagiaan keluarganya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2