
Voren keluar dari ruang kerja ayahnya. Langkah gontainya seiring dan seirama dengan hembusan napasnya. Berkali-kali pria itu menghembuskan napas berat.
Ya, saat ini Voren memang sedang merasa seakan harga dirinya sudah tak ada harganya lagi. Ia merasa benar-benar kehilangan harga dirinya. Semua orang pasti sedang menertawakannya. Menertawai dirinya yang benar-benar tidak becus dalam menjalani kehidupan. Kegagalan demi kegagalan harus dirasakannya.
Mulai dari kegagalan atas cintanya kepada Soraya. Lima belas tahun lamanya, pria itu menjaga hati, pikiran, dan perasaannya untuk cinta pertama yang tak pernah bisa ia miliki.
Kegagalan selanjutnya adalah kegagalan dalam menjalani kehidupan pernikahan. Pernikahan yang tak pernah diinginkannya namun tetap harus dijalani dengan terpaksa demi menjaga nama baiknya. Pasca memutuskan untuk menceraikan sang istri, Voren bukannya merasa tenang melainkan justru merasakan dunianya jungkir balik akibat ulah istrinya. Ulah istri yang kini malah membuatnya mengalami kegagalan selanjutnya terlebih di mata ayahnya yang menganggap bahwa Voren benar-benar payah.
"Tuan," sapaan Doni membuyarkan lamunan Voren.
"Doni, di mana istriku?" tanya Voren.
"Saya tadi melihat Nona Velan pergi ke balkon bersama Nyonya Vega," jawab Doni.
Voren bergegas menuju ke balkon. Entah mengapa ia merasa harus membuat perhitungan dengan istrinya. Langkah Voren terhenti di ambang pintu menuju balkon saat melihat Velan sedang berbincang dengan Daren.
"Istriku!" Voren langsung menarik tangan Velan.
"A-apa yang kau lakukan?!" Velan tersentak kaget dan berusaha menepis tangan Voren.
"Pembicaraan bisnis kalian harus berakhir sekarang! Mari kita pergi!" tukas Voren sambil mengulas senyum sinis ke arah Daren.
Voren segera menarik tangan Velan dan menyeret Velan pergi dari hadapan Daren. Begitu berpapasan dengan Doni, Voren langsung mengulurkan tangannya.
"Doni, kunci mobilku," ucap Voren.
"Voren, lepaskan tanganku!" geram Velan merasa lengannya mulai sakit akibat cengkeraman tangan Voren.
"U-untuk apa, Tuan?" tanya Doni tergagap.
"Aku akan mengajak istriku jalan-jalan sebentar karena banyak hal yang perlu kami bicarakan," jawab Voren.
Doni sebenarnya enggan menyerahkan kunci mobil pada Tuan Voren. Mengingat pria itu bukanlah seorang pengemudi yang santuy.
"Ck, Doni," Voren berdecak kesal.
"Baiklah," Doni menyerahkan kunci mobil pria itu dengan berat hati.
"Terima kasih, Doni," sahut Voren.
__ADS_1
"Voren! Lepaskan tanganku!" Velan kembali berusaha melepaskan cengkeraman tangan Voren.
Namun Voren benar-benar tidak menggubris Velan, ia tetap melangkah cepat menuju ke mobilnya. Ia membukakan pintu untuk Velan dan dengan sedikit memaksa agar Velan duduk di kursi depan.
"Istriku, pakai sabuk pengamanmu," tukas Voren memberi perintah.
"Tidak!" Tolak Velan dengan tegas.
"Baiklah, aku akan memasangnya untukmu," kata Voren.
Klik..
Begitu sabuk pengaman Velan terpasang, Voren segera menginjak pedal gas yang membuat mobil mewahnya meluncur meninggalkan kediaman utama keluarganya.
Daren yang berada di balkon menyaksikan semua itu dalam diam.
...~...
Velan berpegangan pada apa pun yang bisa dipegangnya saat mobil yang dikemudikan oleh Voren melesat begitu kencang menembus gelapnya malam. Velan bahkan terbelalak melihat jarum spidometer yang bergerak tumbang ke kanan. Di tambah hujan yang mulai turun membuat suasana makin mencekam.
"Istriku! Mengapa kau berbohong dengan mengatakan bahwa kau dan Daren hanya rekan bisnis semata? Bukankah kalian memang sepasang kekasih yang saling mencintai?" tanya Voren.
"Kenapa kau tidak menjawab, Istriku?" tanya Voren lagi.
"Voren Lazaro! Apa kau merasa saat ini sedang berlaga di sirkuit F1?!" ucap Velan.
"Oh, kau takut ya?" tanya Voren dengan nada mengejek.
"Aku mual, bodoh! Kau mengemudi ugal-ugalan seperti supir angkot!" teriak Velan.
"Haha! Ada ya, supir angkot yang begitu mewah sepertiku?!" Voren tertawa dengan tawanya yang terdengar mengerikan di telinga Velan.
Velan kembali terdiam, ia benar-benar merasa mual, dan perutnya begitu kram saking tegangnya.
"Istriku, apakah sebuah keharusan dengan mengumbar masalah rumah tangga kita di depan keluargaku demi melindungi Daren?" tanya Voren.
Velan masih belum menjawab, membuat Voren benar-benar merasa kesal. Pria itu semakin meningkatkan kecepatan mobilnya. Mobil yang dikemudikan Voren bahkan sudah mulai memasuki kawasan perbukitan yang begitu sepi.
"Voren Lazaro! Berhenti!" Velan setengah berteriak.
__ADS_1
"Jawab aku, Istriku!" kata Voren dengan santai.
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya!" kata Velan.
"Hal sebenarnya?! Harusnya kau mengaku bahwa kau adalah kekasih Daren! Bukannya malah membuka masalah perceraian kita! Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa aku telah membatalkan gugatan perceraian kita?!"
"Aku hanya bersikap jujur! Untuk apa menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya?! Kita akan bercerai dan kau akan menikah dengan Soraya! Aku dan Daren hanya rekan bisnis!" kata Velan dengan suara gemetaran.
"Istriku! Hentikan semua omong kosongmu mengenai pernikahanku dengan Soraya! Aku benar-benar muak mendengarnya!" kata Voren.
"Yang harusnya merasa muak dengan sikapmu itu adalah aku! Apa kau pikir dengan membatalkan perceraian kita, lantas aku harus menerima untuk dimadu saat kau menikah dengan Soraya?! Lebih baik kau ceraikan aku daripada aku harus dimadu!" teriak Velan.
Voren menginjak pedal rem dalam-dalam, Velan terhempas kembali ke kursi. Untunglah sabuk pengaman yang membelit tubuh Velan terpasang dengan erat, jika tidak tubuh Velan pasti sudah menghantam kaca depan seperti di film-film laga.
Velan masih merasakan jantungnya berdentam begitu keras. Ketegangan nyaris membunuhnya.
"Sudah berapa kali kukatakan padamu bahwa aku muak mendengar omong kosongmu tentang Soraya, Istriku!" kata Voren dengan kedua tangannya yang bertumpu pada kemudi.
Tubuh Velan bergetar hebat, kemarahan dan ketakutan sedang bergejolak dalam darahnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Voren Lazaro, berhenti memanggilku dengan sebutan istriku! Aku muak mendengarnya!" geram Velan.
"Mengapa aku harus berhenti memanggilmu istriku sedangkan kau memanglah istriku?!" kata Voren sambil mengulas senyum sinis.
"Kau bahkan tidak pernah menganggapku sebagai seorang istri! Aku hanya orang yang kebetulan terpilih untuk menikah denganmu tanpa pernah menjalani kehidupan pernikahan! Sungguh ironis dan sangat menyedihkan!" teriak Velan meluapkan emosinya.
Voren melemparkan tatapan tajam ke arah Velan.
"Baiklah, kalau begitu, mari kita benar-benar menjalani pernikahan ini!" kata Voren.
Velan membuang pandangannya ke luar jendela, mengumpat dalam hati, betapa piciknya pria yang saat ini menatapnya tajam.
"Apa kau benar-benar serius ingin membangun harem? Apa kau sungguh ingin melihatku menderita di atas kebahagiaanmu bersama Soraya?!" teriak Velan dengan tangisnya yang mulai pecah.
Dada Velan terasa begitu sesak karena semua kejadian berputar cepat dalam benak Velan. Kejadian-kejadian yang begitu menyakitkan dan sepatutnya tak perlu diingat lagi.
Voren menyugar rambutnya, saat ini ia benar-benar merasa dilema. Ia tidak mengerti perasaan apa yang saat ini sedang merasukinya. Sebuah rasa yang tidak bisa ia mengerti yang tiba-tiba datang mengisi hatinya yang hampa dan terluka.
"Istriku, mari kita mulai pernikahan kita dari awal lagi, aku akan membahagiakanmu!"
__ADS_1
...~...