
"Argh sial! Sial!"
Pria itu mengumpat kesal lalu melempar stik game konsol ke lantai. Ia beranjak dari kursi sambil meninju udara untuk meluapkan kekesalannya. Pria itu berjalan menuju ke balkon, menghirup hawa dingin pegunungan yang menyapanya. Angin menerbangkan rambut lurusnya yang mulai panjang.
Matanya menatap ke langit sore, terlihat berkilau jingga keemasan yang nampak indah. Awan-awan yang mengambang di langit nampak membentuk wajah seseorang yang saat ini benar-benar meracuni hati dan pikirannya.
Bayang-bayang wanita itu menari-nari dalam benaknya. Tidak bisa diusir pergi dan tak mau pergi. Rasa rindunya kepada wanita itu makin menggila setiap harinya. Ya, pria itu sedang terpuruk sendiri, melewati hari-hari yang begitu hampa dan sepi. Tak ada pertengkaran yang mewarnai dan semua benar-benar terasa sunyi dan sepi.
Doni, pria itu memasuki ruangan atasannya yang kini benar-benar terlihat menyedihkan. Atasannya yang selalu berpenampilan rapi dan mewah paripurna itu kini terlihat begitu berantakan.
Depresi merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi Voren saat ini. Pria itu nampak seperti pasien rumah sakit jiwa. Tidak ada rambut yang senantiasa tertata rapi dengan gel, yang ada rambut yang dibiarkan mulai panjang, gondrong, dan awut-awutan. Kumis, jenggot, dan brewok mulai tumbuh subur di wajahnya.
Doni sungguh terkejut, perceraian benar-benar berdampak buruk pada psikologis Tuan Voren. Pria itu benar-benar seakan kehilangan jati dirinya. Bahkan sudah sebulan ini, pria itu menarik dirinya dari peradaban.
Voren memutuskan meninggalkan pekerjaannya, pindah ke tempat terpencil untuk menenangkan diri. Setiap hari pria itu hanya bermain game konsol, rebahan, dan seakan menjelma menjadi seekor beruang yang sedang memasuki tahap hibernasi.
"Tuan, sampai kapan Anda harus seperti ini?" tanya Doni sambil meletakkan nampan berisi makan malam untuk Tuan Voren.
"Doni, aku ingin istriku kembali padaku!" kata Voren dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sangat merindukannya, Doni," Voren mulai meneteskan air matanya lagi.
Doni memutar bola matanya, atasannya ini memulai kembali drama kolosalnya.
"Aku rindu pada istriku, aku ingin memeluknya seperti ini," Voren mencoba memeluk Doni.
Doni dengan gesit menghindar, ia tentu tidak mau mendapat pelukan, lalu kemudian disusul dengan cekikan yang membuat Doni nyaris kehilangan nyawanya.
"Tuan, kalau memang Anda rindu pada Nona Velan, telepon dan ajak ketemuan! Atau langsung kunjungi saja!" Doni lagi-lagi hanya bisa mengusulkan hal itu.
"Doni, apa kau tahu mengapa aku tidak mau menelepon istriku? Dia pasti tidak akan menjawab teleponku, dan jika aku mengajaknya bertemu, dia pasti akan menolak dengan tegas! Jika aku mengunjunginya, dia pasti akan mengusirku!" sahut Voren masih menangis tersedu-sedu.
"Tuan, maaf jika saya harus berkata jujur sejujurnya! Anda benar-benar amat sangat menyedihkan sekali! Jika Anda memang menginginkan Nona Velan kembali kepada Anda, tidak seharusnya Anda terpuruk seperti ini!" kata Doni.
"Anda harus tunjukkan bahwa Anda adalah sosok duda berkelas yang tidak terpengaruh pada perceraian Anda!" lanjut Doni.
Voren mengerucutkan bibirnya, saat ini ia memang tengah terpuruk. Ia bahkan memilih melarikan diri, melakukan pertapaan yang dipikirnya bisa menenangkan dirinya. Menjadi penghuni vila pribadi miliknya yang berada di kawasan pegunungan, jauh dari pemukiman.
"Tuan, jika Nona Velan melihat Anda sekarang, beliau pasti akan mengejek dan menghina Anda habis-habisan! Menurut pendapat saya, sebaiknya Anda fokus untuk membuat Nona Velan menyesal karena sudah bersikeras bercerai dari Anda!"
__ADS_1
"Ini sudah saatnya Anda turun gunung, Tuan!" Doni bersorak heboh.
Voren masih menatap Doni dengan tatapan kosong. Doni mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan layar ponselnya kepada pria itu.
"'Tuan, Anda pasti pernah mendengar istilah bahwa janda lebih menggoda! Sehingga meski Anda sudah menduda, Anda pun harus jauh lebih menggoda!" lanjut Doni.
"'Doni, apa kau mau aku menjadi duda gatal yang tidak punya harga diri?! Dasar kurang ajar kau!" geram Voren.
"Bukan! Maksud saya bukan seperti itu, Tuan! Maksud saya, coba Anda pikir, apakah saat ini Nona Velan juga terpuruk seperti Anda? Tentu tidak, kan?! Nona Velan saat ini pasti menjelma menjadi janda yang benar-benar menggoda! Akan banyak pria yang mendekati Nona Velan, yah, meski para pria itu tidak sebanding dengan Anda, tapi mereka tentu tidak menyedihkan seperti Anda saat ini!" lanjut Doni.
Voren menyugar rambutnya berkali-kali, dalam benaknya saat ini terlintas Velan yang menggoda para pria. Wanita itu memakai pakaian yang menggoda iman para lelaki, bergelayut manja dalam pelukan-pelukan mereka. Menjadi janda yang haus akan belaian, sentuhan, dan kasih sayang dari pria.
"Huhu... istriku... ," Voren merengek.
"Tuan, apa Anda benar-benar ingin Nona Velan kembali pada Anda?" tanya Doni.
"Harus berapa kali kukatakan padamu, Doni?! Aku benar-benar ingin istriku kembali ke sisiku lagi! Tapi sepertinya sudah tidak mungkin kan?!" sahut Voren.
"Tuan, tidak ada yang tidak mungkin! Percayalah! Pasti masih ada jalan lain!" kata Doni.
"Jalan apa, Doni? Jalan apa? Jalan buntu?!" raung Voren.
"Tuan, jika Anda terus merana seperti ini, inilah yang dinamakan jalan buntu!" sahut Doni.
...~...
Semua mata langsung tertuju ke arah seorang pria yang membuat mereka terpana dan terpesona. Pria berkulit seputih susu, dengan wajah tampan di atas rata-rata, serta bertubuh tinggi nan atletis. Semua orang yang melihat pria itu tentu saja bertanya-tanya, siapa gerangan pria tampan yang langsung menjadi pusat perhatian semua orang?
Doni hanya bisa menghela napas berat berkali-kali melihat Tuan Voren yang benar-benar menyita perhatian semua orang dengan penampilan nyentriknya.
Pria itu mengecat rambut hitam legamnya dengan warna ungu lembut yang begitu menyedot perhatian.
"Tuan, kenapa Anda sampai mengubah warna rambut Anda?" tanya Doni.
"Doni, bukankah kau yang mengatakan bahwa aku harus mengubah penampilanku?" tanya Voren.
"Hmm, ya, tapi penampilan Anda saat ini benar-benar terlalu mencolok, terlebih warna rambut Anda," jawab Doni.
"Doni, tapi aku tetap tampan kan?" tanya Voren.
__ADS_1
Terlihat rombongan para gadis mengarahkan kamera ponsel mereka saat Voren dan Doni melalui mereka.
"Gila! Tampan sekali!"
"Apa dia anggota boyband?!"
"Tampan sekali!"
Voren melambaikan tangannya, membalas lambaian para gadis yang begitu antusias saat melihatnya.
"Permisi," seorang wanita cantik segera menghalangi langkah Voren.
"Boleh saya mengambil swafoto dengan Anda? Anda benar-benar sangat tampan!" puji wanita itu.
Voren mengerutkan alisnya, wanita itu terlihat tanpa ragu segera mengambil swafoto.
"Bisa sekali lagi?" tanya wanita itu langsung menggandeng lengan Voren.
Voren terkesiap dan langsung memasang ekspresi kesal.
"Nona, maaf," Doni segera melepas gandengan tangan wanita itu. "Anda membuat beliau kurang nyaman."
"Oh maaf, maaf, saya jadi antusias begini karena Anda benar-benar sangat tampan! Kalau begitu, permisi," wanita itu bergegas pergi dengan perasaan begitu girang.
Voren menyeringai ke arah Doni sambil menyugar rambutnya.
"Doni, aturkan penerbangan ke Paris! Aku mau pergi berlibur!" perintah Voren.
"Tuan, bukankah Anda berencana untuk menemui Nona Velan?" tanya Doni.
"Aku rasa aku akan menemui dia setelah aku mendapatkan wanita lain yang bisa kupamerkan padanya! Aku sungguh ingin melihat reaksinya saat aku membawa wanita Prancis ke hadapannya! Hihi!" sahut Voren sambil menyeringai lebar.
"Tuan, menurut pendapat saya, ide Anda sungguh buruk! Jika Anda memang berniat untuk mengajak Nona Velan untuk kembali, saya rasa membawa wanita Prancis ke hadapan Nona Velan jelas adalah tindakan yang kurang tepat!" tukas Doni.
"Doni, bukankah kau yang menyarankan padaku untuk tampil memukau dan membuat wanita itu menyesali keputusannya karena telah menolak orang setampan aku?!" Voren melayangkan tatapan mencemooh pada Doni.
"Ya, tapi menurut saya, membuat Nona Velan cemburu bukanlah cara yang tepat, Tuan," protes Doni.
"Hmm, tidak masalah, Doni, aku sungguh menantikan kemarahannya, aku benar-benar sangat rindu bertengkar dengannya! Istriku benar-benar sangat cantik saat sedang marah-marah! Berdebar-debar rasanya hatiku setiap kali dia marah! Hihi!" Voren terkekeh lagi.
__ADS_1
Sepertinya Tuan Voren memang sudah gila! Nona Velan yang sedang marah-marah itu sungguh mengerikan dan jauh dari kata cantik! Itulah yang ada dalam pikiran Doni saat ini.
...~...