
Velan memasuki ruang penatu dengan membawa banyak kantong belanja yang membuatnya pusing sendiri. Ruang penatu tersebut tidak berukuran besar sehingga kantong belanjaan itu nampak memenuhi ruangan tersebut. Velan tentu saja luar biasa takjub karena semua pakaian itu merupakan hadiah yang diberikan oleh kedua kakak iparnya.
Pakaian-pakaian dengan harga selangit yang jika nominalnya dikonversi dalam bentuk uang tunai jelas bisa membuat Velan membayar sebagian utangnya.
"Apa kujual lagi saja ya?" tanya Velan. "Tapi ini kan hadiah sekaligus kenang-kenangan dari kakak-kakak ipar! Suatu hari nanti belum tentu aku bisa membeli lagi semua pakaian ini," kata Velan sambil memandangi semua pakaian yang ia keluarkan satu per satu dari kantong belanjaan.
Velan benar-benar merasa bahagia karena ia memiliki kakak-kakak ipar yang begitu baik padanya, meski hanya sementara, namun Velan sudah merasa bahagia.
...~...
Doni menghela napas berat saat melihat Tuan Voren yang mondar-mandir berkeliling ruang kerjanya. Penyebabnya tentu saja karena melihat penampilan Nona Velan yang benar-benar membuat mereka terpaksa harus menyembunyikan keterkejutan mereka.
Tiba-tiba saja Nona Velan mengubah penampilannya. Biasanya wanita itu kerap terlihat seperti boneka orang-orangan sawah tapi kini justru terlihat seperti boneka Barbie. Rambutnya mendadak panjang dan ditata bergelombang. Wanita itu biasanya hanya mengenakan kaus longgar dan celana jeans, kini memakai baju terusan berwarna merah muda lembut.
Doni nyaris tak mengenali ketika mereka bertemu di lift khusus. Doni pikir wanita itu hanyalah penghuni unit lain. Namun karena wanita itu memasuki unit apartemen Tuan Voren, barulah Doni menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nona Velan.
"Astaga, aku bahkan hampir menyuruh petugas keamanan untuk mengusir wanita asing yang sembarangan menerobos masuk ke unit apartemenku," kata Voren saat membuntuti Velan.
Velan mengibaskan rambutnya dengan gerakan lambat.
"Ya, setelah kita resmi bercerai, toh kita memang akan menjadi orang asing!" Velan menanggapi perkataan Voren sambil mengulas senyum sinis.
Voren terperangah mendengar tanggapan Velan.
"Istriku! Apakah penampilanmu ini merupakan permintaan dari pria idaman lainmu? Melihat penampilanmu yang seperti ini, aku jadi bisa menebak betapa rendahnya selera pria itu!" tukas Voren sambil ikut-ikutan mengulas senyum sinis.
"Apa-apaan rambutmu yang seperti kepala Medusa?! Terus pakaianmu itu, sungguh membuatmu jadi terlihat seperti seorang waria!" lanjut Voren.
"Haha," Velan tertawa dengan tawanya yang dibuat-buat.
"Suamiku! Berhentilah mengomentari penampilanku! Toh aku tidak menggunakan uangmu untuk membiayai semua ini!" kata Velan sambil mengangkat semua kantong belanjanya untuk memamerkan semua itu kepada Voren.
Voren terperangah mendengar perkataan Velan. Velan memutar tubuhnya, mengangkat semua belanjaannya ke udara lalu memasuki ruang penatu, meninggalkan Voren yang hanya bisa terdiam seribu bahasa.
Doni benar-benar hanya bisa menghela napas berat. Nona Velan benar-benar sungguh luar biasa berani memprovokasi Tuan Voren.
__ADS_1
Lihatlah akibatnya! Pria itu benar-benar tidak bisa berhenti mondar-mandir serta kehilangan ketenangan lantaran termakan provokasi dari Nona Velan.
"Doni, pria idaman lain istriku itu benar-benar! Hihh!" Voren benar-benar kesal dan terlihat ingin mencekik sesuatu.
"Tuan, menurut pandangan saya, ada kemungkinan pria idaman lain Nona Velan sedang menantang Anda," kata Doni.
Voren menjatuhkan tubuh di kursi kerjanya. Ia memejamkan mata sambil berputar-putar di kursinya.
"Apa maksudmu, Doni?" tanya Voren keheranan.
"Pria idaman lain Nona Velan jelas sekali ingin membangun citra sebagai pria idaman lain yang sesungguhnya! Pria itu jelas memberi Nona Velan kebahagiaan yang selama ini tidak beliau dapatkan dari Anda! Anda pasti dengar sendiri kan, bahwa Nona Velan sampai mengubah penampilannya karena keinginan dari pria itu! Lihat betapa banyak barang belanjaan yang dibawa oleh Nona Velan! Jelas sekali pria tersebut yang membiayai semua itu," Doni menjelaskan hasil analisisnya.
"Wah, sungguh pria yang bermurah hati sekali," komentar Voren.
"Tuan, bukankah semua pria pasti akan bermurah hati kepada wanita yang diinginkannya?!" kata Doni.
"Cih, aku benar-benar sangat heran, bagaimana bisa ada pria yang menginginkan istriku?! Wanita itu sama sekali bukan tipe wanita yang mudah diinginkan oleh pria! Dia bahkan tidak cantik dan tidak menarik! Entah apa yang dilihat pria itu dari istriku!" kata Voren sambil memegangi dagunya.
"Nona Velan sangat berani dan agresif, Tuan!" jawab Doni.
"Mungkin itulah yang membuat pria idaman lain Nona Velan begitu tergila-gila pada Nona Velan! Saat saya pertama kali melihat Nona Velan mencium Anda dengan begitu brutal, jujur saja sudah membuat saya jadi panas dingin sendiri!" Doni melanjutkan.
Doni langsung membungkam mulutnya, sepertinya ia sudah salah karena mengungkit hal tersebut.
"Aku berjuang keras untuk melupakan kejadian mengerikan itu dan kau malah mencoba mengingatkanku lagi?!" sergah Voren.
"Aku benar-benar tidak bisa melupakan bagaimana istriku melakukan aksi teror penuh gairah terhadapku! Wanita itu begitu terobsesi untuk menyentuhku! Kau pasti tidak akan lupa kan, sebegitu inginnya dia agar aku menidurinya hingga menggunakan obat perangsang yang nyaris membunuhmu! Kau jangan pura-pura lupa, Doni!" cecar Voren.
"Anda benar, Tuan," jawab Doni.
"Pasti bisa kau bayangkan sendiri, bagaimana saat istriku bersama pria idaman lainnya saling bermesraan, istriku yang begitu agresif di atas tempat tidur akan menerkam pria itu seperti saat dia menerkamku, lalu...," Voren menghentikan perkataannya karena melihat wajah Doni yang memerah seperti kepiting rebus.
Doni benar-benar membayangkan bagaimana aksi Nona Velan yang begitu agresif saat bergumul dengan begitu panasnya bersama pria idaman lain wanita itu.
"Doni!" teriak Voren membuyarkan lamunan Doni.
__ADS_1
"Oh, maaf, Tuan," kata Doni terkesiap.
"Apa yang kau bayangkan sampai wajahmu memerah seperti itu?! Dasar laki-laki cabul!" teriak Voren.
"Tuan, saya hanya melakukan apa yang Anda katakan! Bukankah Anda meminta saya membayangkan momen erotis Nona Velan bersama pria idaman lainnya?!" Doni membela diri.
"Ya jangan dibayangkan benar-benar! Singkirkan pikiran mesum dan cabulmu itu! Sungguh pria tidak berakhlak!" sembur Voren.
Doni mencebik namun ia cepat-cepat mengulas senyumnya.
"Lalu, bagaimana dengan hasil penyelidikan tentang pria idaman lain istriku itu? Apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Voren.
"Saya sudah menyewa detektif swasta terbaik untuk menyelidiki Nona Velan, Tuan," jawab Doni.
"Detektif swasta?" tanya Voren.
"Detektif swasta yang sudah terkenal dengan pamornya sebagai detektif untuk menyelidiki kasus-kasus perselingkuhan!" jawab Doni.
"Kapan dia bisa memberikan hasil laporan penyelidikannya itu?" tanya Voren.
Doni membuka tablet pintarnya.
"Ada apa, Tuan? Apa Anda mau berbincang langsung dengan detektif tersebut?" tanya Doni.
"Ya, aku harus berbincang dengannya! Tolong aturkan pertemuannya!" sahut Voren.
"Baik, Tuan," kata Doni.
"Kau bisa pulang sekarang, Doni," kata Voren.
"'Baik, Tuan, kalau begitu permisi," kata Doni segera keluar dari ruang kerja Voren.
Voren ikut keluar dari ruangan kerjanya dan mengarahkan pandangan ke pintu ruang penatu yang tertutup rapat.
Entah mengapa ia jadi penasaran, siapa pria idaman lain istrinya itu?
__ADS_1
Aku benar-benar akan menertawai pria idaman lainmu yang sama sekali tidak bisa dibandingkan denganku, Istriku! Batin Voren sambil mengulas senyumnya.
...~...