
Velan masih menangis tersedu-sedu, dadanya terasa begitu sesak hingga rasanya sulit untuk bernapas. Velan benar-benar mengabaikan rasa sakit begitu efek bius total selama menjalani prosedur kuret berangsur-angsur menghilang. Rasa kehilangannya sebesar rasa bersalahnya saat ini. Ia kehilangan janin yang dikandungnya. Padahal baru saja Velan mulai menerima kehadiran jabang bayinya, namun secepat itu pula ia harus kehilangan janinnya.
Velan benar-benar merasa sangat bersalah pada Voren. Pria itu menjadi orang pertama yang menangis saat dokter menyatakan bahwa calon anak mereka tidak bisa dipertahankan lagi alias harus digugurkan.
Velan menyeka air matanya, menyembunyikan rasa sedih dan bersalahnya begitu melihat sosok Voren memasuki ruang tempat Velan dirawat. Pria itu segera menghampiri Velan. Saat ini Voren pun juga merasakan rasa kehilangan yang begitu besar. Rasanya ia masih belum ikhlas menerima kenyataan ini. Padahal baru saja ia merasa begitu bahagia karena pada akhirnya Velan menerima kehadiran calon anak mereka. Namun dengan berat hati, ia harus merelakan calon buah hatinya.
Velan bisa melihat bahwa Voren nampak begitu terpukul. Di mata Velan, pria itu pasti amatlah marah dan tentu saja kecewa pada Velan. Pria itu pasti akan menggugat Velan, merasa bahwa semua yang telah diberikan pria itu, perhatian dan kasih sayang yang dicurahkan untuk Velan selama ini menjadi hal yang sia-sia.
"Voren, apa kau marah dan kecewa padaku? Apa kau menyalahkanku karena kau kehilangan anak itu?" Velan memberondong Voren dengan pertanyaan.
Voren menatap Velan yang menegang.
"Apa kau akan kembali menceraikanku?" tanya Velan.
Voren segera duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Velan. Ia memandangi mata Velan yang berkaca-kaca. Velan tak kuasa untuk menahan air matanya yang perlahan-lahan kembali mengalir turun dari pelupuk matanya.
"Istriku," Voren mengambil tangan Velan dan menggenggamnya erat.
"Kau akan menceraikanku lagi kan? Sudah tidak ada yang membuat kita terikat lagi! Semua sudah berakhir!" suara Velan bergetar hebat.
Voren menghela napasnya, masih tetap memandangi Velan.
"'Istriku, kau sungguh salah jika berpikir bahwa aku mau menikahimu semata-mata hanya karena adanya anak yang kau kandung. Aku ingin kita kembali bersama karena aku ingin bersamamu," kata Voren.
"Kenapa kau ingin bersamaku?! Kenapa kau tidak bersama Soraya?! Bukankah kau sangat mencintai dan menginginkan Soraya?!" sergah Velan.
"Istriku, wanita yang mencintai dan menginginkanku adalah kau, bukannya Soraya!" kata Voren.
"Aku tidak percaya padamu! Aku tidak percaya pada pria pendusta sepertimu!"
"Istriku, jika kau memang masih menganggap bahwa aku mendustaimu, maka yang harus kulakukan adalah membuktikan padamu bahwa aku tidak berdusta!" kata Voren.
Voren mengulas senyumnya yang terasa begitu berat. Sorot mata pria itu jelas tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan luka di hatinya.
__ADS_1
"Istriku, beristirahatlah, aku akan kembali lagi setelah memakamkan anak kita," lanjut Voren dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.
Velan menahan kepergian Voren, ia menarik tangan pria itu dan menenggelamkan diri ke dalam pelukan Voren.
"Maafkan aku, Voren!" Velan menangis tersedu-sedu dalam pelukan pria itu.
"Ini salahku karena aku tidak menerima kehadiran anak kita! Ini salahku yang tidak bisa menjaganya dengan baik! Ini salahku!"
Voren mendekap erat Velan dan mencium berkali-kali puncak kepala Velan.
"Tidak, Istriku, ini bukan salahmu. Sebagai orang tua, kita sudah cukup berusaha melakukan yang terbaik untuk anak kita," Voren mengusap lembut kepala Velan.
Velan menangis dalam pelukan Voren yang saat ini berusaha untuk menguatkannya.
...~...
Cuaca mendung dan angin berembus cukup kencang ketika Velan menyusuri jalan setapak yang kosong. Jantungnya kembali bergemuruh, beberapa kali ia melirik ke arah Voren yang berjalan dengan tenang di sampingnya. Pemandangan dari permukaan air danau yang tenang menyambut mereka berdua.
"Istriku, apa kau tahu? Dulu aku selalu datang ke tempat ini untuk melarikan diri setiap kali Papaku selesai memarahiku," Voren mulai bercerita.
"Tidak, aku bukan anak bandel, aku anak baik-baik," sahut Voren. "Papaku selalu marah setiap kali mendapat hasil rapor dari sekolahku, jujur saja, aku sangat payah dalam belajar," Voren terkekeh, ada rasa bangga dari nada bicaranya.
"Rasanya tidak etis jika membandingkan setiap orang hanya dari nilai rapornya saja, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi Papaku selalu begitu, selalu menjadikan dirinya sebagai acuan dan pedoman hidup yang harus kupatuhi dan kuikuti. Seakan mengharuskanku untuk berkiblat padanya," lanjut Voren.
"Haha," Velan tertawa. "Kenapa kau julid sekali pada Papamu? Kau mau jadi anak durhaka?" tanya Velan.
"Aku bukan anak durhaka, aku anak baik-baik!" sahut Voren.
"Mana ada orang baik yang mengaku dirinya baik!" Velan tertawa lagi.
"Ada, orang itu adalah aku!" sahut Voren seraya terkekeh.
Mereka berdua kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang di kiri kanannya ditumbuhi deretan pepohonan pinus yang tertata rapi.
__ADS_1
Di ujung jalan setapak terdapat area rerumputan dengan deretan pusara dari bahan marmer hitam yang diukir dengan pahatan bercat warna emas. Velan memasuki area pemakaman pribadi Keluarga Lazaro.
Voren menghentikan langkahnya di depan sebuah pusara. Mata Velan langsung berkabut, memandangi pusara tempat peristirahatan anaknya yang bahkan belum sempat menghirup napas pertamanya di dunia.
Tiga bulan yang lalu Voren datang ke tempat ini untuk mengebumikan anaknya. Voren selalu datang secara berkala, mengunjungi makam anaknya. Membawakan bunga krisan putih lalu meletakkannya di atas pusara.
Velan pun akhirnya memberanikan diri untuk ikut mengunjungi makam anak mereka setelah selama tiga bulan ini Velan merasakan patah hati yang begitu besar. Ia kehilangan anaknya di saat baru mencintai dan menerima kehadiran jabang bayinya.
Velan mengerutkan kening membaca nama yang terpahat di pusara tersebut.
"Kenapa kau memberi nama Love?" tanya Velan pada Voren.
Voren mengembangkan senyumnya, ia sudah menduga bahwa Velan pasti akan mempertanyakan nama pemberian Voren untuk calon anak mereka yang belum sempat lahir ke dunia.
"Istriku, ada dua alasan mengapa aku memberi nama Love untuk anak kita. Yang pertama, karena aku tidak tahu apa jenis kelamin anak kita. Apakah dia berjenis kelamin perempuan, ataukah laki-laki. Jasadnya masih terlalu mikro untuk diidentifikasi. Dan yang kedua, karena aku mencintainya bahkan sebelum ia lahir ke dunia ini," jawab Voren panjang lebar.
"Aku rasa, aku pun sudah mencintaimu bahkan sebelum aku lahir ke dunia ini," lanjut Voren.
Velan menatap Voren yang mengulas senyum sambil mengulurkan tangannya.
"Maafkan aku yang sudah begitu terlambat menyadarinya, Istriku," kata Voren.
Velan menyeka air matanya lalu menyambut uluran tangan Voren.
"Apa kau sedang berbohong padaku?" tanya Velan.
"Aku tahu, kau pasti akan berkata seperti itu. Jadi, sepertinya yang bisa kulakukan hanyalah membuktikan padamu, bahwa aku sangat mencintaimu," jawab Voren.
Velan mengulas senyumnya, menyambut senyum Voren yang begitu hangat. Pria itu menarik Velan ke dalam rangkulannya.
"Anakku, baik-baik di sana, tunggu dan sambutlah Mama dan Papamu ini, jika saatnya sudah tiba," kata Voren.
"Aku mencintaimu, Love," kata Velan.
__ADS_1
...~...