
"Aku dengar kabarnya Tuan Voren sudah menikah, ya?!".
"Aku juga mendengar kabarnya begitu! Beliau menikah namun tidak mengundang para karyawan,".
"Sungguh mendadak sekali! Tuan Voren bahkan tidak pernah dirumorkan berkencan dengan wanita manapun!".
"Tuan Voren menikah dengan wanita atau dengan pria, ya?".
"Hei-hei! Bukankah semua orang tahu bahwa Tuan Voren dan Pak Daren selalu terlihat mesra?!"
"Haha, zaman sekarang pria tampan ya sukanya dengan pria tampan juga!".
Begitulah obrolan yang secara tidak sengaja didengar oleh Dinar, sekretaris Pak Daren yang kebetulan menuju ke pantri hendak membuat secangkir kopi.
Para karyawati yang bergosip langsung terdiam begitu melihat kehadiran Dinar. Sungguh situasi yang kurang nyaman karena mereka kepergok menggunjingkan atasan langsung Dinar.
Dinar hanya mengulas senyumnya kepada para karyawati yang langsung membubarkan diri, seakan tidak terjadi apa-apa.
...~...
"Dinar! Ke ruangan saya," Daren menelpon Dinar.
"Baik Pak Daren," jawab Dinar sebelum menutup teleponnya.
Dinar segera memasuki ruangan kerja Pak Daren. Pria itu terlihat merengut sambil menatap layar gawai cerdasnya.
"Dinar, aku mendapat informasi dari kepala proyek Arvanas, apa benar mereka terkendala biaya lantaran beberapa pengajuan dana yang belum dikucurkan?" tanya Daren.
"Benar Pak, saya sudah melakukan follow up kepada pihak dari departemen keuangan, namun menurut informasi yang saya dapatkan, Tuan Voren memang masih menahannya, karena menurut beliau masih ada yang harus dikonfirmasi ulang," jawab Dinar.
"Ck, dasar Voren! Baiklah, aku akan ke ruangannya dan akan membicarakannya langsung," Daren berdecak kesal.
"Akan saya hubungi Doni dulu Pak," kata Dinar.
"Baiklah, Dinar, jangan lupa siapkan semua proposal proyek Arvanas yang masih belum disetujui oleh direktur keuangan kita itu!" Daren mengulas senyumnya yang berisi kekesalan.
__ADS_1
Ya, tentu saja Daren kesal karena proposal-proposal yang belum disetujui oleh Voren membuat kelancaran proyek jadi terhambat. Sementara Daren juga punya tenggat waktu yang harus dipenuhinya.
Daren segera menuju ke ruangan kerja Voren. Doni segera membukakan pintu untuk Daren dan juga Dinar.
"Silahkan duduk Tuan Daren, Dinar," kata Doni mempersilakan keduanya untuk duduk di sofa.
"Mau kopi atau teh?" tanya Doni.
"Terima kasih Pak Doni, kami hanya sebentar saja," jawab Daren.
Voren yang baru saja keluar dari kamar mandi pribadinya langsung mengulas senyum kepada dua tamunya yang datang.
"Daren, betapa rindunya aku karena tidak melihatmu akhir-akhir ini," kata Voren sambil duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Daren.
Dinar bersorak dalam hatinya. Tuan Voren memang selalu frontal dalam mengekspresikan perasaannya. Sungguh tipe pria yang membuat kesengsem.
"Kau benar Voren, beberapa waktu ini aku benar-benar sibuk mengurus proyek-proyek baru yang ada di luar kota," jawab Daren.
Voren mengulas kembali senyumnya, menatap Daren dengan tatapan penuh arti. Dinar sungguh berdebar-debar melihat kedua pria ini kembali saling menatap begitu intens.
"Voren, aku kemari karena ada hal yang harus kita bicarakan mengenai beberapa proposal pengajuan dana proyek Arvanas yang belum kau setujui! Apa kau tahu, akibat perbuatanmu itu, beberapa pekerjaan harus terhenti karena ketiadaan dana operasional! Dan itu benar-benar menghambat kelancaran pekerjaan," kata Daren.
Daren bersitatap dengan Dinar. Dinar memperlihatkan tablet pintarnya dan menunjukannya pada Doni. Tablet pintar itupun langsung terkoneksi ke layar monitor besar yang ada di ruangan Voren.
Voren mengulas senyumnya melihat data yang tersaji di hadapannya. Ia kembali melemparkan pandangannya pada Doni yang dibalas dengan anggukan singkat Doni.
"Ini adalah data proposal yang masih belum rilis untuk pencairan dananya! Dan aku tidak tahu, masalahnya dimana sehingga kau belum juga menyetujui proposal tersebut!" kata Daren.
"Daren, aku bukannya belum menyetujui, tentu saja sebelum memutuskan sesuatu, banyak hal yang harus kupelajari dan harus kupertimbangkan! Aku tentu tidak bisa asal-asalan untuk menyetujui anggaran sebuah proyek sebelum tahu persis seperti apa proyek tersebut", jawab Voren diplomatis.
Daren menarik nafasnya perlahan-lahan. Entah mengapa ia merasa bahwa Voren berasumsi bahwa proyek yang tengah digarap Daren hanyalah proyek kaleng-kaleng.
"Voren, aku sungguh menghargai cara kerjamu yang penuh dengan pertimbangan dan tentunya perhitungan yang cermat! Namun hal yang harus kau perhatikan adalah bahwa proyek yang saat ini sedang kugarap bukanlah proyek abal-abal!" kata Daren.
"Daren, aku tidak pernah menyebutkan proyek yang kau garap adalah proyek abal-abal," potong Voren.
__ADS_1
"Lantas, mengapa kau belum juga menyetujui pengajuan dananya? Sedangkan Pak Presdir saja jelas sudah menyetujui proyek tersebut!" kata Daren.
Voren menatap lurus ke arah Daren. Dalam hatinya Voren jelas mengumpat kesal pada pria yang selalu membawa-bawa Pak Presdir.
"Voren, sebenarnya apa masalahmu? Jika kau bersikap seperti ini, kau jelas menghambat pekerjaan yang ada! Voren, aku punya tenggat waktu yang harus kupenuhi! Jadi tolong sampaikan apa masalahmu, apa kendalamu, sehingga kita bisa sama-sama mencari solusi!" kata Daren lagi.
Voren menautkan semua jarinya di depan dadanya sambil mengulas senyum ramah yang memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"Voren, bagaimana jika kau juga ikut meninjau langsung proyek tersebut? Saat terjun langsung ke lapangan tentu kau bisa menilai sendiri bagaimana kondisi di lapangan yang jelas akan sangat berbeda jika kau hanya mendengarnya dari belakang meja kerjamu," tambah Daren.
"Daren, itu sungguh ide yang sangat menarik," sahut Voren.
"Ya, kau perlu ikut bersamaku untuk melakukan peninjauan langsung proyek tersebut," kata Daren.
"Tapi Daren, kau pasti tahu sendiri! Aku begitu sibuk! Aku bahkan tidak punya banyak waktu untuk meninggalkan meja kerjaku ini! Bagaimana Doni?" Voren bertanya ke arah Doni.
"Benar Tuan, jadwal Tuan Voren bahkan sudah penuh hingga bulan depan," kata Doni.
Daren menatap Voren yang kembali mengulas senyumnya.
"Voren, aku sungguh berharap pada kebijaksanaanmu! Aku lebih menghargai jika kau juga menghargai kerja kerasku! Mungkin kita memang tidak sedang berada di tim yang sama! Namun kau pasti tahu, dalam sebuah organisasi, semua bagian merupakan satu kesatuan! Sehingga untuk memenuhi visi dan misi perusahaan, kerja sama yang baik tentu harus ditingkatkan!" kata Daren diplomatis.
"Baiklah, aku akan mempertimbangkan ajakan kencanmu ini Daren!" kata Voren dengan nada mengejek.
Apa?! Kencan? Dinar bersorak dalam hatinya.
Tuan Voren menganggap ajakan Pak Daren untuk meninjau proyek sebagai ajakan kencan?
"Terserah kau menganggapnya apa Voren! Segera informasikan karena jujur saja, kita tidak boleh membuang waktu yang ada," kata Daren tersenyum ramah.
"Doni, segera aturkan jadwalku," kata Voren memberi perintah.
"Baik Tuan," jawab Doni.
Dinar kembali mengulas senyum misteriusnya. Melihat dua pria tampan sedang membicarakan perjalanan bersama sungguh membuat Dinar berdebar-debar. Tuan Voren dan Pak Daren akan pergi dinas bersama sekaligus liburan.
__ADS_1
Keromantisan seperti apakah yang akan mereka pertontonkan pada Dinar?
Dinar sungguh tidak sabar untuk menyaksikan keromantisan dua pria tampan yang saling bersaing namun saling melengkapi ini.