Jodoh Instan

Jodoh Instan
Menemui


__ADS_3

Suasana di butik Soraya nampak lengang saat Velan memasuki butik tersebut. Pegawai butik bernama Manda langsung menyambut kedatangan Velan.


"Selamat datang di Sky's, ada yang bisa saya bantu?" tanya Manda.


Velan mengulas senyumnya.


"Saya butuh sebuah gaun yang cocok untuk saya," jawab Velan sambil melihat-lihat ke sekeliling butik.


"Mohon maaf, kalau boleh tahu untuk digunakan pada acara apa?" tanya Manda.


"Pesta," jawab Velan singkat.


"Mohon maaf, pestanya berada di dalam ruangan atau di luar ruangan? Acaranya pada siang hari atau malam hari?" tanya Manda lagi.


Manda tentu saja harus bertanya sesuai dengan standar operasional prosedur untuk memenuhi keinginan pelanggan.


"Waktu itu, ada Mbak cantik yang seperti model membantu saya memilihkan gaun," kata Velan.


"Maksud anda, Bu Soraya?" tanya Manda.


Oh, jadi namanya Soraya, batin Velan.


"Benar, saya senang sekali jika beliau bisa membantu saya lagi untuk memilihkan gaun, bisakah Bu Soraya membantu saya kembali?" tanya Velan.


Manda tentu saja tidak bisa menolak keinginan pelanggan. Namun ia ragu, karena bosnya saat ini sedang sibuk bekerja di lantai atas.


"Sungguh, ini gaun hitam yang saya kenakan, sesuai pilihan Bu Soraya," Velan mengeluarkan selembar gaun dari dalam tasnya.


Melihat label Sky's pada gaun tersebut membuat Manda jelas makin tak bisa menolak keinginan pelanggannya itu.


"Sebentar akan saya coba bantu panggilkan Bu Soraya," kata Manda.


"Terima kasih banyak," kata Velan.


Salah satu strategi perang adalah dengan mempelajari musuhmu. Mencari tahu kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh wanita itu.


Manda segera menemui Soraya di lantai atas.


"Permisi, Bu Soraya," panggil Manda.


Soraya yang sedang sibuk menjahit pola menghentikan aktivitasnya.


"Ada apa, Manda?" tanya Soraya.


"Bu, di bawah ada pelanggan yang mencari Anda," jawab Manda.


"Mencari saya? Kenapa?" tanya Soraya.


"Pelanggan tersebut mengatakan bahwa beliau membutuhkan bantuan Anda untuk menemukan gaun yang pas untuknya karena menurut beliau gaun yang pernah beliau beli merupakan pilihan langsung dari Bu Soraya," Manda menjelaskan panjang lebar.


"Baiklah, aku akan menemuinya," kata Soraya.


Soraya segera turun dari lantai atas, matanya menangkap sosok wanita berperawakan mungil yang langsung tersenyum ke arahnya.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Soraya.


"Selamat siang, Bu Soraya ya? Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu Anda," kata Velan.

__ADS_1


"Saya senang bisa membantu," kata Soraya dengan ramah.


"Ini gaun yang waktu itu Anda pilihkan untuk saya, gaun ini sungguh bagus dan saya mendapat pujian dari keluarga besar suami saya saat memakai gaun ini," kata Velan.


"Begitu ya, wah, saya jadi turut senang mendengarnya," kata Soraya.


Velan sungguh terpana melihat senyum Soraya yang begitu memesona, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Rambutnya yang hitam dan panjang itu tergerai indah, begitu kontras dengan kulit putihnya. Tubuhnya tinggi dalam balutan gaun yang indah membungkus tubuhnya dengan begitu sempurna. Kalung yang melingkar di leher dan sepasang anting berlian yang terpasang di kedua daun telinganya tak luput dari perhatian Velan.


"Gaun berwarna abu-abu ini akan membuat penampilan terlihat lebih bersih," kata Soraya sembari mengambil sebuah gaun dari rak dan menunjukkannya pada Velan.


"Sungguh gaun yang cantik sekali, Anda sungguh mempunyai cita rasa yang bagus," puji Velan.


"Begitulah Mbak, Bu Soraya sendiri yang merancang semua gaun ini," sahut Manda.


"Benarkah, wah, Anda hebat sekali," puji Velan.


"Bulan depan bahkan Bu Soraya akan mengadakan pagelaran tunggalnya," lanjut Manda.


"Wah, Bu Soraya pasti bangga sekali ya," puji Velan lagi.


"Terima kasih, saya tersanjung sekali atas pujian Anda," kata Soraya.


"Oh ya, ngomong-ngomong, Bu Soraya ini beruntung sekali ya, karena bisa mendapatkan kalung dan anting berlian edisi terbatas yang saat ini Bu Soraya pakai," kata Velan.


"Saya bahkan tidak kebagian perhiasan edisi terbatas itu, sungguh susah sekali untuk mendapatkannya," kata Velan.


"Bagaimana Anda bisa mendapatkan perhiasan itu, Bu Soraya? Anda sudah memesan jauh-jauh hari sebelum perhiasan itu dirilis?" tanya Velan.


Ya, Velan sungguh berharap kalung dan anting yang dikenakan oleh Soraya bukanlah perhiasan yang ia temukan di saku jas suaminya. 


"Saya sungguh tidak tahu, karena kalung dan anting ini adalah hadiah yang diberikan seseorang untuk saya," jawab Soraya.


"Manda," Soraya menatap skeptis ke arah Manda yang langsung menyeringai.


Velan bisa mendengar suara pecahan kaca yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. 


Wanita ini benar-benar sungguh kekasih suaminya, semua orang yang ada di pihak mereka bahkan sudah saling tahu. Lantas, hanya Velan yang tidak tahu?


Luar biasa sekali kau, Voren Lazaro! Batin Velan.


"Bagaimana? Apa Anda mau mencoba mengenakan gaun ini?" tanya Soraya ke arah Velan.


Soraya melihat pelanggannya ini nampak tertegun, terlihat air mata menggenang di pelupuk mata wanita itu.


"Mbak?" Soraya memanggil Velan.


"Ah, iya," Velan terkesiap.


Cepat-cepat Velan menyeka air matanya, jangan sampai wanita ini melihatnya dalam keadaan terpuruk.


"Iya, saya mau membeli gaun itu," kata Velan.


"Baik, akan saya bawa ke kasir, apa ada lagi, Mbak?" tanya Manda.


"Saya rasa itu saja dulu," jawab Velan sambil mengulas senyumnya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," kata Soraya berpamitan.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuan anda, Bu Soraya," kata Velan.


Velan segera menuju ke kasir bersama Manda. Saat ia membuka tasnya tiba-tiba saja ia harus bersandiwara dengan lebih meyakinkan lagi.


"Maaf Mbak, dompet saya tertinggal, bisa tolong simpankan dulu gaun itu?" tanya Velan.


Manda dan Liyah saling berpandangan.


"Tolong catat nomor telepon saya, saya janji akan datang lagi untuk mengambil gaun itu," kata Velan.


Velan menuliskan nomor ponselnya dan menyerahkannya pada Manda.


"Terima kasih," kata Velan bergegas pergi meninggalkan butik tersebut.


...~...


Velan sudah duduk di sebuah kedai kopi yang letaknya tak jauh dari gedung perusahaan Emperor Grup. Rasa kesal dan amarah berkecamuk dalam dadanya. Ia menunggu kedatangan Doni, asisten pribadi suaminya. 


Doni segera memasuki kedai kopi tersebut dan langsung duduk bergabung dengan istri atasannya itu. Doni tentu saja bertanya-tanya mengapa Nona Velan sampai memanggilnya untuk bicara empat mata seperti ini.


Velan menyeruput es kopinya sebelum mulai menyatakan maksud dan tujuannya mengundang Doni untuk berbicara secara pribadi.


"Pak Doni, terima kasih sudah datang memenuhi panggilanku," kata Velan.


"Apa yang ingin Nona Velan sampaikan pada saya?" tanya Doni.


"Pak Doni, sudah berapa lama Anda mengenal suamiku?" tanya Velan.


"Kenapa Anda menanyakan hal itu, Nona?" Doni balik bertanya.


"Pak Doni, pertanyaan dibuat untuk dijawab," kata Velan sambil menatap tajam Doni.


Doni terkesiap, ia belum pernah melihat tatapan Nona Velan yang seperti itu.


"Saya sudah mengenal Tuan Voren sejak masih SMA," jawab Doni.


"Wah, ternyata sudah lama sekali ya," kata Velan.


Doni hanya mengangguk pelan, ia sungguh merasa tidak nyaman lantaran merasa sangat terintimidasi.


"Sudah berapa lama Anda bekerja untuk suamiku?" tanya Velan lagi.


"Saya rasa ini tahun ke sepuluh saya bekerja untuk Tuan Voren," jawab Doni.


"Berarti Anda benar-benar sangat memahami sekali suamiku ya," kata Velan.


"Nona Velan, jika Anda benar-benar ingin mengetahui semua hal tentang Tuan Voren, bukankah dari awal sudah saya katakan bahwa lebih baik anda bertanya langsung kepada Tuan Voren?" kata Doni yang sepertinya bisa menebak arah pembicaraan mereka.


"Apa kau yakin jika aku bertanya apa pun, maka suamiku akan memberi jawabannya?" tanya Velan.


"Tuan Voren pasti akan menjawab Anda, Nona," jawab Doni.


"Lantas, jika aku bertanya siapa Soraya, akankah suamiku menjawabnya?" tanya Velan.


Mendengar Nona Velan menyebut nama Soraya membuat jantung Doni seakan berhenti berdetak.


Dari mana Nona Velan mengetahui tentang Soraya?

__ADS_1


...~...


__ADS_2