Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E44


__ADS_3

Voren beranjak dari kursi kerjanya, ia merapikan dasi dan juga jas agar selalu dan senantiasa rapi. Ia menarik pergelangan tangannya, melirik jam tangan mewah yang selalu digunakan untuk menyempurnakan penampilan mewahnya.


"Doni, apa Daren sudah siap?" tanya Voren.


"Informasi dari Dinar, lima belas menit lagi, Tuan Daren baru selesai rapat, Tuan," jawab Doni.


"Baiklah, kalau begitu kita menunggu di restoran saja," kata Voren.


"Baik Tuan, saya akan menyampaikannya pada Dinar," sahut Doni.


Voren segera melangkah keluar dari ruang kerja. Terlihat para pegawai yang baru saja akan meninggalkan meja kerja mereka untuk pergi makan siang, terpaksa kembali duduk dan bersandiwara.


"Tuan Voren itu tidak galak, tapi kenapa akhir-akhir ini terasa menyeramkan ya?" para pegawai berkomentar.


"Benar, senyumnya terlihat sangat menakutkan," sahut yang lain.


...~...


Daren segera memasuki restoran Jepang yang berada di pusat kota. Ia tentu bertanya-tanya lantaran tumben sekali Voren mengajak makan siang bersama. Ia melihat Doni yang sudah berdiri menunggunya di depan pintu ruangan VIP.


"Selamat datang, Tuan Daren, silakan," kata Doni menyambut kehadiran pria itu, lalu membukakan pintu.


"Terima kasih, Doni," kata Daren.


Daren melepas sepatunya saat memasuki ruangan VIP dengan pemandangan taman khas Jepang yang begitu asri. Batu-batu ditata begitu estetik, pagar yang terbuat dari bambu, hingga kolam mini dengan batang bambu mengucurkan aliran air ke dalam kolam.


Daren segera duduk di atas tatami, di hadapannya tersaji hidangan berupa sashimi, beraneka macam sushi, hingga ramen.


"Terima kasih sudah datang, Daren," sambut Voren.


"Maaf, aku terlambat, rapat dengan klien lebih lama dari perkiraanku," kata Daren.


"Mari kita makan," ajak Voren.


Voren memegang sumpit dan mengambil potongan daging ikan segar yang berada di atas es batu lalu mengunyahnya.


Daren tidak bisa mengonsumsi ikan yang masih mentah, sehingga ia hanya memilih ramen untuk disantapnya.


"Daren, berapa lama kau dan kekasihmu menjalin hubungan?" tanya Voren sembari mengambil sepotong sushi dan mencelupkannya ke dalam shoyu atau yang biasa disebut sebagai kecap Jepang.

__ADS_1


Daren tidak langsung menjawab pertanyaan Voren, karena ia masih sibuk mengunyah mie ramen yang kenyal.


Voren menatap tajam ke arah Daren, ia tidak sabar, sungguh ingin mendapat jawaban dari pria itu. 


"Maaf Voren, untuk apa kau bertanya seperti itu?" tanya Daren.


"Aku sungguh ingin tahu," kata Voren sambil menuangkan teko teh berisi teh hijau hangat ke dalam cangkir Daren.


"Mengapa kau tertarik untuk mengetahui hubungan asmaraku, Voren?" tanya Daren keheranan.


"Daren, apa kau tahu kalau kekasihmu itu sudah memiliki suami?" Voren kembali bertanya.


Daren mengulas senyumnya.


"Voren, aku rasa hubungan asmaraku dengan Velan sungguh bukan urusanmu," jawab Daren diplomatis.


Voren meletakkan kembali teko teh. Ia mengambil potongan sashimi selanjutnya lalu mengunyahnya.


"Hubungan asmaramu dengan kekasihmu tentu ada hubungannya denganku, Daren, karena suami kekasihmu itu adalah aku," kata Voren.


Seketika Daren terdiam mendengar pengakuan Voren yang begitu mengejutkannya.


...~...


Batang bambu yang telah dipenuhi air menumpahkan air tersebut ke dalam kolam. Gemericik suara air yang berada di kolam taman terdengar begitu jelas memenuhi ruang VIP yang begitu hening. Atmosfer penuh ketegangan tercipta antara Voren yang jelas-jelas sedang menatap Daren dengan tatapan mengintimidasi.


"Kau suami Velan?" tanya Daren setelah beberapa saat terjebak dalam keheningan.


Voren mengulas senyumnya, merasa tak perlu memberi bukti otentik apapun karena menurut Voren, Daren pasti sudah mengetahuinya namun pria itu pastilah hanya berpura-pura. Buktinya Daren terlihat tidak terkejut sama sekali dengan pengakuan Voren.


"Daren, aku sungguh tidak tahu, apa kurangnya aku hingga istriku mencurangiku seperti ini?! Padahal aku sudah merasa lebih dari cukup memberikan curahan cinta dan kasih sayangku untuknya," kata Voren sembari melanjutkan mengambil sepotong sushi dengan sumpitnya.


"Saat istriku mengaku bahwa ia memiliki pria idaman lain, jujur saja, aku tidak serta merta percaya padanya! Lalu aku memintanya untuk menghadirkan pria itu tepat di depan mata kepalaku sendiri! Dan kau pun muncul sebagai sosok pria idaman lain istriku," lanjut Voren yang kemudian mengunyah sushinya.


Daren masih diam dan mencerna semua perkataan Voren.


"Awalnya aku masih belum memercayai bahwa kau adalah pria idaman lain istriku! Aku yakin, bahwa kau tidak mungkin menjadi pria idaman lain istriku! Kau tidak mungkin mengkhianatiku, Daren! Namun ternyata rasa percayaku padamu harus berbuah pengkhianatan seperti ini," kata Voren sambil mengulas senyumnya.


"Daren, menurutku, sungguh tidak pantas seorang pria lajang sepertimu mendambakan wanita yang telah bersuami, terlebih wanita itu adalah istriku! Kau pasti tidak ingin reputasimu jadi buruk karena kau harus tersandung skandal perselingkuhan! Apa tanggapan para dewan komisaris jika skandal perselingkuhan istriku denganmu terdengar sampai ke telinga mereka?! Hal ini tentu saja akan membuat reputasi kita sama-sama buruk!" Voren menjelaskan panjang lebar pemikirannya.

__ADS_1


"Oleh sebab itu, Daren, aku harap kau segera akhiri hubungan romantismu dengan istriku demi kebaikan kita bersama! Aku akan menganggap hubungan asmara kalian tak lebih dari sekadar cinta musim panas!" kata Voren sebelum meneguk teh hijaunya.


Daren kembali mengulas senyumnya.


"Voren, apa benar kau sangat mencintai istrimu?" tanya Daren.


"Asal kau tahu, aku sangat mencintai istriku, apa yang dia inginkan pasti kuberikan! Bahkan saat istriku mendambakan pria lain, aku tidak marah padanya! Aku ini suami yang demokratis!" kata Voren.


Daren meneguk teh hijau hangatnya, meletakkan kembali cangkir ke atas meja, lalu mengulas senyumnya pada Voren.


"Kau tidak marah pada Velan, karena kau pun mendambakan cinta wanita lain, bukankah begitu, Voren?" kata Daren dengan ketenangan yang luar biasa.


Voren merasa ada petir yang menyambar di dalam kepalanya.


"Daren, apa maksudmu?" Voren berpura-pura tidak mengerti apa maksud Daren.


Daren menatap lurus ke arah Voren.


"Voren, aku sudah tahu semuanya," kata Daren.


"Aku bahkan sudah tahu bahwa kalian akan segera bercerai, dan hingga kini kau masih menggantungkan hubungan kalian seperti ini," lanjut Daren.


Skak mat.


Voren seakan kehilangan kata-katanya.


Situasi ini jelas terlihat menggambarkan Voren yang sedang menodongkan pistol ke jantung Daren sementara Daren menodongkan pistol ke kepala Voren.


"Voren, jika kau memang tidak bisa membahagiakan Velan, lebih baik kau lepaskan saja! Biarkan Velan memilih kebahagiaannya sendiri!" kata Daren.


Voren benar-benar langsung kehilangan selera makannya.


"Voren, sebentar ya, aku harus menjawab telepon ini," kata Daren menunjukkan ponselnya yang bergetar.


Daren keluar dari ruangan tersebut untuk menjawab teleponnya, meninggalkan Voren yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Saat ini Voren benar-benar merasa harga dirinya terjun sebebas-bebasnya.


...~...

__ADS_1


__ADS_2