
Voren masih menatap ke arah Soraya yang nampak tenang saat menyantap makan siang. Soraya hanya memakan salad sayur sebagai menu pilihannya. Wanita itu sangat menjaga penampilan, tak heran meski sudah berusia tiga puluh enam tahun, ia masih terlihat senantiasa cantik.
Tujuh tahun Voren tak pernah bertemu lagi dengan Soraya dan tiba-tiba saja Soraya datang kembali ke dalam kehidupannya, membuat Voren tentu saja luar biasa senang. Wanita yang menjadi cinta pertamanya, wanita yang membawa pergi semua cintanya, benar-benar kembali menemui Voren dengan cara yang tak terduga.
Soraya mengajukan proposal untuk mencari sponsor yang dapat membantunya agar pagelaran busana tunggalnya dapat terselenggara. Soraya jelas menghubungi semua kenalannya, tak terkecuali Voren.
Bagi Voren, ia bisa saja mendapatkan semua wanita yang menginginkannya. Namun ia hanya menginginkan Soraya. Lima belas tahun lamanya Voren mencintai Soraya, meski Soraya selalu menghindarinya namun Voren tentu tak semudah itu untuk menyerah.
Hingga akhirnya Soraya seakan menghilangkan jejaknya. Saat itu bertepatan pula Voren harus memulai karir di Emperor Grup yang pada akhirnya menyita hampir seluruh waktunya. Namun demikian perasaan Voren pada Soraya tetaplah sama dan tak akan lekang oleh waktu.
"Voren," kata Soraya sambil menatap lurus ke arah Voren.
"Aku sungguh berterima kasih karena kau bersedia menjadi sponsor untuk acara pagelaran busanaku, aku benar-benar berterima kasih atas dukunganmu," kata Soraya.
"Soraya, bukankah menggelar pagelaran busana tunggal sudah menjadi impianmu sejak lama?" tanya Voren.
"Kau sangat berdedikasi atas impianmu itu, sehingga bagiku secara pribadi, aku perlu mengapresiasi dedikasimu tersebut," Voren melanjutkan.
"Aku sungguh menghargai kemurahan hatimu, Voren," kata Soraya sambil mengulas senyumnya.
"Hanya saja saat ini aku ingin membuka butikku di kota lain," kata Soraya lagi.
"Soraya, kau bisa membuka butikmu di kota ini dan juga di kota lain, namun menurutku kota ini cocok untuk menjadi pusat butikmu! Jika kau mau, aku bisa membantu membuka banyak cabang untuk butikmu, kau tak perlu cemas, Soraya," Voren melanjutkan.
"Voren, aku sekali lagi berterima kasih atas kebaikanmu, aku pasti akan membalas semuanya saat aku sukses nanti," kata Soraya.
Voren mengulas senyum, saat ini baginya yang terpenting adalah Soraya telah kembali ke dalam kehidupannya. Selama ini tujuannya bekerja begitu keras tentu saja untuk mewujudkan semua yang ia inginkan. Keinginan Soraya pun akhirnya menjadi keinginannya juga.
...~...
Doni masih mengawasi Tuan Voren yang nampaknya tengah terjebak nostalgia. Terlihat jelas bahwa Tuan Voren masih menyimpan rasa cintanya pada Soraya. Doni tahu jelas bagaimana sepak terjang Tuan Voren kepada Soraya mengingat bahwa Doni sudah menjadi saksi hidup yang telah mendampingi Tuan Voren selama ini.
"Sebentar aku cuci tangan dulu," kata Voren berpamitan.
__ADS_1
Doni segera duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah Soraya.
"Soraya, aku sungguh terkejut karena setelah sekian lama akhirnya kau meminta bantuan kepada Tuan Voren," kata Doni sambil mengulas senyumnya.
Soraya membalas senyum Doni.
"Soraya, kau pasti sudah mendengar kabar pernikahan Tuan Voren," kata Doni yang merasa tak perlu berbasa-basi.
"Ya, aku sudah mendengarnya, Doni," sahut Soraya.
"Aku harap, kalian bisa menjaga profesionalisme," kata Doni.
Soraya menatap lurus ke arah Doni. Ia sungguh kurang nyaman karena Doni nampak mengintimidasinya.
"Doni, aku tahu, kau adalah orang yang paling peduli pada Voren. Sungguh kerja sama kami murni adalah bisnis," kata Soraya.
"Terima kasih atas kerja samamu, Soraya," kata Doni.
Masa lalu mereka tentu lebih baik menjadi masa lalu semata, itulah kini yang ada dalam pikiran Doni.
...~...
Doni segera mengemudikan mobil menuju ke tempat yang dituju oleh Soraya. Sepanjang perjalanan, Doni hanya bisa mengawasi Tuan Voren dan Soraya yang nampak berbincang akrab. Yah, Doni tahu jelas, mereka dulu sangat dekat lantaran Tuan Voren menjadi model utama pada pagelaran busana yang diselenggarakan sebagai proyek tugas akhir Soraya.
"Terima kasih atas tumpangannya Doni, Voren," kata Soraya begitu turun dari mobil.
"Voren, aku benar-benar berterima kasih atas bantuanmu," kata Soraya lagi.
"Apapun yang kau butuhkan jangan sungkan dan ragu untuk menghubungiku atau Doni," kata Voren.
Usai berpamitan, Soraya bergegas pergi. Doni kembali mengemudikan mobilnya. Dari kaca spion belakang ia bisa melihat ekspresi Tuan Voren yang nampak menunjukkan bahwa pria itu benar-benar sedang menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini.
"Doni, tak sia-sia rasanya aku menunggu Soraya karena pada akhirnya Soraya-lah yang mencariku," kata Voren sambil memegangi dagunya.
__ADS_1
"Tuan, Soraya datang mencari Anda karena Anda akan menjadi pihak sponsor acara Soraya," Doni menanggapi perkataan Voren.
"Doni, aku rasa itu hanya alasan Soraya saja mencari pihak sponsor! Aku yakin sekali, Soraya pasti pada akhirnya menyadari bahwa hanya akulah pria yang pantas untuknya," kata Voren sambil melayangkan pandangannya ke luar jendela.
"Tuan, menurut saya, lebih bijaksana jika Anda tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan bisnis Anda bersama Soraya," kata Doni.
"Doni, apa salahnya jika aku mencintai Soraya?" tanya Voren menatap tajam ke arah Doni dari kaca spion.
"Lima belas tahun aku mencintainya dan terus menunggunya hingga akhirnya dia datang kembali padaku, Doni!" sergah Voren.
"Tuan, saya bisa memahami perasaan Anda, namun Anda jangan lupa bahwa saat ini Anda sudah menikah! Tolong jangan sampai kedekatan Anda dengan Soraya menimbulkan skandal yang akan merusak reputasi Anda!" kata Doni.
"Haha," Voren tertawa.
"Doni, aku memang sudah menikah, namun kau pasti tak lupa bahwa pernikahan tersebut bukan inginku!" Voren menyudahi tawanya.
"Tuan, Anda pasti tidak lupa kan, bahwa meski pernikahan tersebut bukan keinginan Anda, tidak mengubah kenyataan bahwa Anda sudah menikah dengan Nona Velan," Doni menjaga intonasi bicaranya.
"Doni, aku sungguh tak ingin berdebat denganmu! Jangan membuat moodku rusak, Doni!" keluh Voren.
"Tuan, saya sungguh tidak bermaksud untuk berdebat dengan Anda! Saya hanya menyampaikan apa yang menjadi hasil pemikiran saya," kata Doni.
"Doni, aku tanya sekali lagi padamu! Coba kau posisikan dirimu di posisiku! Mendadak kau harus menjalani pernikahan yang tak kau inginkan dengan wanita yang juga tak kau inginkan! Dan kini wanita yang begitu kau cintai datang padamu!" kata Voren.
"Lima belas tahun berlalu dan aku masih begitu mencintai Soraya, jadi kumohon mengertilah, Doni!" sergah Voren.
"Tuan, berapa kali harus saya katakan bahwa saya mengerti perasaan Anda?! Namun saat ini menurut saya bukan waktu yang tepat bagi Anda jika Anda berniat untuk kembali mendapatkan Soraya! Karena Anda sekarang sudah menikah, Anda sudah menjadi seorang suami! Meski Anda tidak mencintai istri Anda tetap tidak akan mengubah status Anda sebagai suami dari Nona Velan!" beber Doni panjang lebar.
Doni sungguh berharap argumentasinya ini dapat diterima oleh Tuan Voren. Sungguh saat ini Doni hanya tidak ingin reputasi Tuan Voren rusak jika harus tersandung skandal dengan Soraya.
"Doni, apapun yang akan terjadi, aku tetap memilih Soraya," kata Voren.
...~...
__ADS_1