Jodoh Instan

Jodoh Instan
Menemui Adik Ipar


__ADS_3

Taki dan Toro terpana melihat kemegahan gedung perusahaan Emperor Grup. Dua pria itu saling bertatapan sambil mengangguk serempak. Dengan langkah mantap membulatkan tekad untuk menjemput impian mereka dengan mendatangi orang yang menurut mereka sangatlah tepat untuk membantu mewujudkan impian.


Petugas keamanan langsung menghentikan langkah dua orang pria yang hendak menuju ke gedung Emperor Grup. Satu pria berperawakan tinggi besar dengan rambut berwarna cokelat gelap serta mata besar yang melotot lebar. Sedangkan pria yang lain berperawakan mungil dengan rambut bercat cokelat terang.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas keamanan itu ramah.


"Kami datang untuk menemui direktur Emperor Grup," jawab Taki.


Petugas keamanan itu mengamati penampilan dua pria yang memakai kaos longgar dan celana jeans yang robek-robek di bagian kedua lututnya.


"Begitu ya, bisa tolong perlihatkan kartu identitas kalian?" tanya petugas keamanan itu.


"Kartu identitas?" tanya Taki.


"KTP atau SIM," jawab petugas keamanan itu.


Toro dan Taki membuka dompet mereka, air mata rasanya ingin menetes karena dompet mereka hanya berisi sarang laba-laba. Petugas keamanan itu pun langsung mencatat identitas mereka di buku tamu.


"Mohon maaf sebelumnya, siapa direktur yang hendak kalian temui?" tanya petugas keamanan itu lagi.


"Kami ini kakak i....," kata-kata Taki tertahan karena Toro menyikut rusuk Taki.


"Direktur yang bernama Voren! Voren Lazaro," kata Toro.


"Oh, kalian hendak bertemu dengan Tuan Voren Lazaro," kata petugas keamanan itu lagi.


"Benar," jawab Toro.


"Ini ID Badge pengunjung untuk kalian, silakan menuju ke resepsionis," kata petugas keamanan itu menyerahkan kartu pengunjung pada mereka.


Taki dan Toro mengalungkan ID Badge bertuliskan Visitor itu di leher mereka kemudian menuju ke lobi gedung perusahaan untuk menemui dua orang resepsionis cantik yang menyambut mereka dengan ramah.


"Selamat siang, silakan isi buku tamu," kata resepsionis bernama Ajeng kepada dua pria yang nampak terpana saat memasuki gedung perusahaan tersebut.


"Permisi, Pak," sapa Dian, rekan Ajeng yang berusaha membuyarkan lamunan dua pria itu.


"Oh, iya, maaf," kata Taki sambil tersenyum kikuk.


Taki mulai mengisi buku tamu, namun ia terhenti dan menyerahkan pulpen pada Toro.


"Toro, kau saja yang tulis! Tulisanku nanti tidak terbaca!" kata Taki.


"Taki, kau saja! Tulisanku juga jelek!" kata Toro.


Ajeng dan Dian saling melemparkan tatapan skeptis ke tamu mereka yang nampak berdebat.


"Mbak, bisa tolong dibantu tuliskan? Tulisan kami jelek," kata Toro pada akhirnya.


Ajeng mengulas senyum ramah.


"Baiklah, nama kalian?" tanya Ajeng.


"Taki," jawab Taki.


"Toro," jawab Toro.


"Bisa tolong sebutkan nama perusahaan atau instansi kalian?" tanya Ajeng.


"Tidak ada," jawab Taki.


"Pribadi, ya," tanya Ajeng.


"Keperluan kalian?" tanya Ajeng lagi.


"Kami mau menemui Voren Lazaro," jawab Toro.


"Apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya Ajeng.

__ADS_1


"Tidak ada, maksudnya belum ada janjian," jawab Taki.


"Baik, silakan duduk dulu di sofa," kata Ajeng.


Dua pria itu segera menuju ke sofa dan duduk sambil celingukan melihat kemewahan yang ada di lobi perusahaan itu. Terlihat para karyawan yang begitu sibuk berseliweran di sekitar lobi.


Ajeng segera menghubungi Pak Doni selaku sekretaris Direktur Keuangan yang kedatangan tamu berpenampilan nyentrik itu.


"Siang, Pak Doni, di lobi ada dua orang pria bernama


Pak Taki dan Pak Toro, keduanya mau bertemu dengan Tuan Voren untuk keperluan pribadi, dan keduanya mengaku belum ada janji," kata Ajeng ragu-ragu.


"Taki dan Toro?" Doni mengerutkan alisnya saat mendengar dua nama yang begitu asing di telinga Doni.


Doni segera memeriksa agenda Tuan Voren, mencari dua nama tersebut. Namun tidak ditemukan nama keduanya.


"Ajeng, tolong sekali lagi pastikan kepada dua tamu tersebut, apa benar mereka mencari Tuan Voren? Tanyakan lebih detail, apa keperluan mereka," kata Doni.


"Baik, Pak Doni," jawab Ajeng sebelum menutup teleponnya.


"Pak Taki, Pak Toro," panggil Ajeng.


Taki dan Toro langsung menghampiri Ajeng.


"Mohon maaf sebelumnya, saya hanya ingin memastikan kembali, apa benar kalian ingin bertemu dengan Tuan Voren Lazaro?" tanya Ajeng.


"Benar, Mbak cantik, tidak salah itu!" sahut Taki.


"Mohon maaf, kalau boleh tahu untuk keperluan apa, ya?" tanya Ajeng.


Taki meringis, seandainya saja yang bertanya padanya ini bukan wanita berparas cantik dan juga ramah, mungkin Taki sudah akan berteriak meluapkan emosinya.


Kenapa orang ini kepo sekali, sih?! Keluh Taki.


"Begini, Mbak cantik, kami ingin bertemu dengan Voren Lazaro karena kami ingin bertemu! Kalau kami tidak mau bertemu, ya kami tidak datang ke sini," kata Taki.


Ajeng dan Dian serempak mendelik gusar.


Ajeng hanya bisa mengulas senyumnya.


"Mohon maaf, Pak, ini sudah menjadi ketentuan dan prosedur yang harus kami jalankan di perusahaan ini," kata Ajeng diplomatis.


"Mbak, kuberitahu kau satu hal, kami ini keluarganya Voren Lazaro! Jadi wajar dong jika kami ingin menemuinya!" kata Taki.


...~...


Doni segera menemui tamu yang menurut informasi dari Ajeng dan Dian adalah keluarga dari Tuan Voren. Doni terkejut melihat dua pria yang langsung melambaikan tangan ke arahnya.


Tatapan mata penuh tanda tanya langsung menyerang Doni.


"Mas Bro!" sapa Taki langsung menepuk lengan Doni.


"Kau tidak lupa siapa kami kan, Mas Bro?!" Toro ikut menepuk lengan Doni.


Doni mengulas senyumnya, rupanya dua pria itu adalah kakak ipar Tuan Voren.


"Mas Bro, kami mau bertemu dengan...," kata Taki terhenti.


"Baik Pak, mari ikuti saya," potong Doni.


Doni segera membawa dua pria itu untuk pergi bersamanya menuju ke ruang tamu untuk mendapatkan privasi lebih.


"Silakan duduk, Pak Taki, Pak Toro," kata Doni.


Taki dan Toro segera duduk di kursi tamu yang berada dalam bilik kaca tersebut.


"Mas Bro, kami mau bertemu adik ipar!" kata Taki.

__ADS_1


"Iya, ada hal penting yang ingin kami bicarakan, bisakah kami bertemu dengan beliau?" tanya Toro.


"Mohon maaf, saat ini Tuan Voren sedang sibuk, kalian bisa mengatakannya pada saya, saya akan menyampaikannya kepada beliau," kata Doni.


"Tidak bisa, Mas Bro! Kami harus langsung bicara dengannya! Ini bisnis! Tanpa perantara lebih baik!" kata Taki.


Doni mengulas senyumnya, dua pria ini sungguh membuat Doni teringat dengan Nona Velan. Mereka sungguh kakak-beradik yang kompak.


"Lima menit, paling lama sepuluh menit, tolong pertemukan kami dengan adik ipar!" Toro memohon.


"Baiklah, sebentar akan saya konfirmasi langsung pada Tuan Voren," kata Doni.


...~...


Taki dan Toro segera duduk di sofa yang ada di ruang kerja Voren. Mata keduanya tak putus-putusnya tercengang melihat betapa kerennya adik ipar mereka. Tampan, muda, dan begitu sukses, sungguh berbeda dengan mereka.


Voren segera duduk di sofa dan menatap kedua kakak iparnya yang masih nampak celingukan melihat ruang kerjanya. Doni berdiri di sisi Tuan Voren dan mengamati secara saksama dua pria itu.


"Kakak ipar, apa yang membawa kakak ipar kemari?" tanya Voren keheranan.


"Ah, iya, Adik ipar, terima kasih sudah bersedia menemui kami," kata Toro.


"Adik ipar, begini, aku tidak akan panjang lebar menjelaskan semuanya! Aku akan langsung ke intinya saja," kata Taki.


"Apa itu, Kakak ipar?" tanya Voren.


"Kami mau berbisnis denganmu!" kata Taki.


"Kami punya band! Impian kami adalah tembus ke pasar industri musik! Karena itulah kami membutuhkan investor, dan menurut kami, kau adalah orang yang tepat untuk menjadi investor kami," kata Taki.


"Benar! Saat kami sukses nanti, modalmu pasti akan kembali lebih banyak!" kata Toro.


"Oh, begitu," Voren menautkan jemarinya di depan dadanya.


"Benar! Bukankah sektor hiburan menjadi sektor investasi yang sangat menguntungkan?!" Toro menambahkan.


"Apa kalian bisa menunjukkan padaku proposalnya?" tanya Voren.


"Proposal?" tanya Taki.


"Ya, dengan adanya proposal bisnis, aku bisa mempelajarinya terlebih dahulu sebelum melakukan investasi," jawab Voren.


"Harus, ya?" tanya Toro.


"Tentu saja, Pak Taki, Pak Toro! Dengan adanya proposal, bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menilai sebuah investasi, layak atau kurang layak, karena pada dasarnya bisnis adalah kerja sama untuk meraih keuntungan," jawab Doni.


"Oh begitu ya, aku sungguh tidak berpikir ke situ! Aku pikir karena kita keluarga itu sudah cukup," Taki menyeringai.


"Kakak ipar, bisnis adalah bisnis!" Voren mengulas senyumnya.


Taki dan Toro saling melemparkan tatapan.


"Kakak ipar, datanglah kemari jika proposal kalian sudah siap," kata Voren.


Voren menatap jam tangannya, lalu kembali mengulas senyumnya pada kedua kakak iparnya.


"Ba-baik, kami akan menyiapkan proposalnya," kata Taki dengan raut wajah kebingungan.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu," kata Toro.


Taki dan Toro segera meninggalkan ruang kerja Voren, mengikuti Doni yang mengantar keduanya hingga ke lobi.


"Toro, proposal itu apa, ya?" tanya Taki.


"Aduh Taki, makanya waktu sekolah jangan bolos terus! Kau jadi tidak tahu apa-apa!" cibir Toro.


"Memangnya kau tahu, proposal itu apa?" tanya Taki.

__ADS_1


"Nanti cari saja di internet!" sahut Toro.


...~...


__ADS_2