Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E57


__ADS_3

Hujan turun semakin deras saat Voren menepikan mobilnya di bahu jalan sepi yang berada di kawasan perbukitan. Pria itu merasa tegang lantaran telah melontarkan sebuah pertanyaan yang tentunya saat ini membutuhkan sebuah jawaban.


Dengan harga dirinya yang begitu tinggi, Voren telah melemparkan sebuah ajakan kepada seorang wanita yang kehadirannya benar-benar membuat kehidupan Voren menjadi jungkir balik tak karuan.


Wanita yang kehadirannya bak jelangkung, datang tak diundang ke dalam kehidupan Voren. Di saat Voren terpuruk dengan kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan, wanita ini justru menyiramkan air garam di atas luka Voren.


Luka yang semakin menyakitkan, hingga akhirnya membuat Voren melupakan rasa sakit itu. Rasa sakit yang kini berganti menjadi rasa takut ketika wanita yang kerap memicu pertengkaran demi pertengkaran dengannya ini pergi meninggalkannya terpuruk sendiri.


Setiap hari pertengkaran mereka seakan menjadi sesuatu yang harus ada dalam agenda Voren. Semua pertengkaran mereka membuat Voren tersadar bahwa Voren jelas telah melakukan sebuah kesalahan yang menyakiti hati wanita ini. Hingga wanita ini mendambakan kebahagiaan dari pria lain lantaran merasa tidak mendapat kebahagiaan dari Voren.


Voren meraih tangan Velan, Velan tersentak kaget saat pria itu mengambil tangannya dan menggenggamnya. Voren mengecup punggung tangan Velan. Velan tersadar bahwa pria itu pernah melakukan hal yang sama kepada Soraya di depan mata Velan saat Velan memergoki perselingkuhan pria itu.


"Tidak!" Velan menepis tangan Voren.


Voren terperangah.


"Aku tidak mau memulai apa pun lagi denganmu, Voren Lazaro! Aku akan lebih berterima kasih padamu saat kita mengakhiri pernikahan ini!" kata Velan.


"Apa?!" Voren tercengang.


"Aku mau memulai semua dari awal, tapi bukan bersamamu!" kata Velan dengan tegas.


"Kenapa?! Kenapa kau tidak mau memulai semuanya dari awal lagi bersamaku?" tanya Voren.


Velan menyeka air matanya, menguatkan diri bahwa ia tidak boleh meneteskan air mata lagi untuk pria pendusta di hadapannya ini.


"Ibuku pernah mengatakan padaku bahwa ada dua tipe pria yang sebaiknya harus dihindari dan tidak perlu dimaafkan. Yang pertama adalah pria yang memukulmu, dan yang kedua adalah pria yang melakukan perselingkuhan! Kenapa? Karena kedua tipe pria itu melakukannya secara sadar!" kata Velan.


Voren menyugar rambutnya, saat ini otaknya dipaksa harus berpikir keras.


"Istriku, jika kau menganggap bahwa aku dan Soraya berselingkuh, lantas hubunganmu dengan Daren harus kusebut apa? Hubungan bisnis erotis?" tanya Voren.


"Ya, ya, kau dan Soraya tidak berselingkuh! Kau begitu mencintai Soraya! Aku yang salah menempatkan diri di antara kalian! Aku yang salah karena menerima saat ibumu melamarku! Aku yang salah karena begitu berharap pada pernikahan ini! Remahan rengginang yang begitu bangga hingga lupa daratan karena berhasil menikah dengan pria tampan nan kaya raya seperti di sinetron-sinetron di televisi yang ternyata semua hanya settingan! Settingan!" cecar Velan.


"Ya, maka dari itu, Istriku, berapa kali harus kukatakan agar kau mengerti?! Mari kita mulai semuanya dari awal lagi! Mari kita jalani pernikahan ini dengan sebaik-baiknya, menjalani pernikahan yang kau dambakan! Kehidupan pernikahan seperti apa yang kau inginkan, aku akan mewujudkannya!" tukas Voren.


"Voren Lazaro! Apa kau serius mau melakukan poligami?! Apa kau serius ingin menciptakan arena gladiator dengan menghadirkan istri tua dan istri muda untuk melakukan pertarungan hidup dan mati?! Kau mau aku menjadi pembunuh dengan meracunimu dan juga Soraya?!" tandas Velan.


"Istriku, Soraya tidak ada. Dan Soraya tidak akan berada di tengah pernikahan kita," kata Voren berusaha menjaga intonasi bicaranya.


Voren benar-benar tidak ingin terpengaruh tensi Velan yang begitu tinggi. Saling berteriak dan akhirnya tidak saling mendengarkan.


"Soraya tidak ada?! Soraya tidak ada, lantas apa itu berarti aku harus menggantikan posisi Soraya, begitu?" tanya Velan dengan nada menantang.

__ADS_1


"Tidak, Istriku, maksudku bukan begitu," jawab Voren.


"Kalau bukan begitu lalu seperti apa? Apa maksudmu aku berperan sebagai pemain cadangan seperti dalam pertandingan sepak bola, begitu?!" tanya Velan masih mempertahankan tensinya.


"Istriku, apa kau bersikeras menolak kemurahan hatiku untuk memulai semuanya dari awal lagi karena kau ingin bersama dengan Daren?" tanya Voren.


"Voren Lazaro! Kau harus tahu, aku menolak semua kemurahan hatimu karena aku tidak mau menerimanya! Kenapa? Karena aku tidak butuh kemurahan hatimu!" jawab Velan.


"Dan keinginanku ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Daren! Sehingga kau jangan membawa-bawa Daren!" kata Velan.


Voren benar-benar merasa kesal melihat Velan yang begitu bersikeras melindungi Daren.


"Istriku, kau benar-benar keterlaluan! Kau berselingkuh dengan Daren tepat di depan mataku dan kau begitu melindungi Daren sampai seperti ini! " teriak Voren.


"Aku tidak berselingkuh dengan Daren! Aku tidak berselingkuh dengannya! Aku dan Daren hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih!" balas Velan dengan berteriak ke arah Voren.


"Lihat, kau bahkan selalu mengataiku sebagai pria pendusta, padahal kau sendiri juga begitu pandai berdusta! Dasar wanita pendusta! Hingga detik ini kau masih saja tetap berdusta! Saking inginnya kau bersama Daren, hingga kau berdusta seperti ini! Sungguh luar biasa! Luar biasa!"


"Aku tidak berdusta! Aku mengatakan yang sebenarnya padamu! Aku dan Daren tidak memiliki hubungan romantis seperti yang kau tudingkan! Aku tidak sepertimu yang mendambakan cinta pada Soraya hingga mengorbankan pernikahan kita!" teriak Velan.


"'Aku benci padamu, Voren Lazaro! Aku benci hingga rasanya aku tidak sanggup untuk menghirup udara yang sama denganmu! Aku tidak sanggup jika harus menyaksikan kebahagiaanmu bersama Soraya! Melihatmu berbahagia di atas rasa sakitku sungguh tidak adil untukku!"


"Kau pasti tidak tahu bagaimana rasanya ketika cintamu hanya bertepuk sebelah tangan! Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang sama sekali tidak diharapkan! Tidak diinginkan oleh orang yang dicintainya! Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi aku!" 


"Kau dan semua dustamu benar-benar sudah menyakitiku! Mentang-mentang kau tampan, kau punya segalanya, sehingga kau sama sekali tidak pernah memandangku! Hanya karena aku adalah seseorang yang datang tanpa diundang ke dalam kehidupanmu! Kau sama sekali tidak pernah memberi kesempatan untukku untuk bisa berada dalam hatimu! Kau bohongi aku, kau curangi aku, kau khianati aku demi wanita lain! Lalu kini kau katakan padaku bahwa kau ingin memulai semuanya kembali dari awal dan menjadikanku sebagai pemain cadangan! Otakmu ada di mana Voren Lazaro?!" cecar Velan.


Voren hanya terdiam kehilangan kata-katanya. Saat ini semua kata-kata yang keluar dari mulut Velan seakan menamparnya bolak balik, kiri-kanan secara bergantian.


Voren mengetuk-ngetuk jemarinya di atas kemudi. Saat ini ia sedang memikirkan hal apa yang harus dilakukannya. Ia ingin wanita ini tetap berada di sisinya.


Keheningan menyergap mereka berdua. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Voren jelas merasa kecewa karena keinginannya untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka harus ditolak mentah-mentah oleh Velan.


Padahal Voren sudah menurunkan gengsinya dengan mengajak kembali Velan untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka.


"'Istriku, apa kau benar-benar tidak mau kita memulai kembali pernikahan kita?" tanya Voren lagi.


"Ya, aku tidak mau!" jawab Velan tanpa berpikir lagi.


"Aku ini tampan sekali lho, aku bahkan punya dua lesung pipi yang menggemaskan!" Voren mengulas senyum dan menunjuk ke dua lesung pipinya yang dalam.


Velan menatap skeptis ke arah Voren.


"Aku tidak butuh ketampanan dan lesung pipimu yang unfaedah itu!" sahut Velan.

__ADS_1


"Istriku! Aku masih mengingat dengan jelas, kau sampai mimisan saat pertama kali bertemu denganku! Kau pasti silau kan melihat ketampananku ini?"


"Tidak, saat itu aku terlalu kelelahan lantaran persiapan pernikahan menyedihkan ini!" sahut Velan dengan ketusnya.


Voren mengulas senyum kecut.


"Oleh karena itu, aku harap, kau menceraikanku! Aku sudah punya banyak rencana besar untuk melanjutkan hidupku! Aku benar-benar akan menghilang dari hidupmu, dan tak akan pernah mengingat tentangmu lagi, Voren Lazaro!" kata Velan.


Velan merasa dadanya kembali terasa sesak. Voren pun merasa dadanya begitu sesak. Ia bahkan merasa sulit untuk bernapas. 


"Kenapa kau tidak memberi kesempatan padaku?! Aku akan membahagiakanmu, Istriku!" kata Voren dengan suaranya yang bergetar.


"Kesempatan? Apa itu kesempatan?!" Velan tertawa getir.


"Apa kau tahu, seberapa besarkah rasa kecewaku padamu?" tanya Velan ke arah Voren.


Voren terdiam saat Velan menatapnya dengan sinis.


"Baiklah, lantas apa yang harus kulakukan untuk membayar semua rasa kecewamu padaku? Aku akan menebusnya seumur hidupku jika itu yang kau inginkan, asal kau tetap bersamaku!" sahut Voren.


"Voren Lazaro, meski kau membawakan rembulan ke pangkuanku, tetap tidak akan mengubah keputusanku untuk berpisah darimu!" tandas Velan.


Voren melempar pandangannya ke luar jendela. Saat ini ia merasakan rasa sakit dan nyeri yang menusuk-nusuk hatinya. Rasa sakit yang membuat air mata terjun bebas tanpa disadarinya. Ia mengambil tangan Velan dan menggenggam jemari ramping wanita itu lagi.


"Apa yang kau lakukan?!" Velan menepis tangan Voren.


"'Istriku, baiklah, aku akan menceraikanmu," kata Voren.


"'Ya, itulah yang memang menjadi keinginan kita," Velan menanggapi perkataan Voren.


"Aku akan menceraikanmu besok," kata Voren.


Velan menatap skeptis ke arah Voren.


"Besok?! Besok kapan?! Besok saat lebaran monyet?!" geram Velan.


"Sungguh, aku akan menceraikanmu besok, tapi dengan satu syarat," ucap Voren.


"Syarat apalagi yang kau inginkan?!" gerutu Velan.


"Malam ini, tidurlah denganku!" Voren menatap Velan lekat-lekat.


"Bercintalah denganku, sekarang, Velan," kata Voren sambil mengulas senyumnya.

__ADS_1


...~...


__ADS_2