
Velan merasa hari ini sangat melelahkan namun sekaligus menyenangkan. Hari ini ia menerima pesanan yang cukup banyak. Seharian ia berkutat di kios untuk mengolahnya. Setelah selesai ia pun mengantarkan semua pesanan tersebut ke pembelinya.
Seandainya saja Velan punya cukup modal, mungkin ia akan mengembangkan usahanya ini secara serius.
Pukul sembilan malam, ia tiba di unit apartemen mewah itu.
Velan membuka pintu dan ruangan apartemen tetap gelap seperti biasanya.
Velan melangkah menuju ke dapur, ia terlonjak kaget karena melihat sosok Voren yang berada di tengah kegelapan.
Pria itu duduk di belakang meja makan, terdiam tanpa ekspresi. Matanya mengikuti langkah Velan yang menuju ke ruang penatu.
"Istriku," kata Voren menghentikan langkah Velan.
"Istriku, kita harus bicara!" kata Voren dengan nada begitu tegas.
Velan memasang ekspresi dingin.
"Berapa kali harus kukatakan padamu agar kau mengerti? Kita tidak perlu bicara jika bukan membahas tanggal perceraian kita!" kata Velan sambil menatap penuh kebencian pada Voren.
Velan terkesiap, pria di hadapannya sama sekali tidak mengulas senyum saat menatap ke arahnya.
"Istriku, aku mohon padamu berhentilah membahas masalah perceraian kita! Aku sungguh muak mendengarnya!" sergah Voren.
"Voren Lazaro! Apa kau pikir aku tidak muak dengan sikapmu yang seakan menggantungkan hubungan pernikahan ini?!" tandas Velan.
Velan dan Voren kembali saling melayangkan tatapan tajam dengan segenap kemarahan yang mereka miliki.
Voren mengusap wajah dengan gusar, kemudian menyugar rambutnya.
"Istriku! Sebegitu inginnya kah kau bersama Daren?" tanya Voren.
"Jika kau bertanya seperti itu, tanyakan dulu pada dirimu, sebesar apa keinginanmu untuk bersama Soraya? Sebab sebesar itu pula keinginanku untuk bersama Daren!" jawab Velan.
Voren masih menatap Velan dengan tajam.
"Istriku, katakan padaku, apa saja yang sudah diberikan Daren padamu?! Aku akan menggantinya dengan sepuluh, tidak, bahkan seratus atau kalau perlu seribu kali lipat dari Daren!" kata Voren.
Velan bisa melihat mata pria itu berkilat-kilat dipenuhi dengan kemarahan namun bagi Velan ia sama sekali tidak merasa gentar.
Pria ini bahkan sudah menemui Daren dan mengaku sebagai suami Velan yang mengakibatkan Daren akhirnya memilih untuk mengakhiri kerja sama mereka.
__ADS_1
Apa sebenarnya mau pria ini? Velan membatin penuh dengan kecurigaan.
"Voren Lazaro! Kau tidak perlu repot-repot memberiku penawaran seperti itu karena sungguh aku tidak tertarik pada kemurahan hatimu!" tandas Velan.
"Apa?!" Voren tercengang.
Velan melemparkan tatapan skeptis ke arah Voren.
"Aku lebih mengapresiasi jika kau memberiku akta perceraian kita, daripada kau memberiku puluhan kali hal yang sudah diberikan Daren padaku!" lanjut Velan.
"Begitukah?" tanya Voren.
"Ya, perceraian kita adalah hal yang paling kita berdua inginkan! Kau bisa bebas bersama Soraya, dan aku bisa bebas melakukan hal yang kuinginkan!" jawab Velan.
Voren menyunggingkan senyum dinginnya.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan membatalkan gugatan perceraian kita!" kata Voren.
"Apa?!" Velan tersentak kaget.
Voren mengulas senyum penuh kemenangan yang membuat kemarahan Velan makin menjadi.
"Aku tidak akan menceraikanmu, Istriku," kata Voren.
Voren memegangi dagunya, ia merasa benar-benar sudah memegang kartu As yang bisa membuatnya memenangkan pertarungan ini.
"Istriku, jika kau merasa bahwa hanya Daren saja yang bisa membahagiakanmu, kau salah! Aku bisa membuatmu merasa jauh lebih bahagia!" kata Voren dengan senyumnya.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak butuh kebahagiaan darimu! Aku tidak butuh!" sergah Velan.
"Aku bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri! Dan kau bukanlah kebahagiaanku!" teriak Velan.
"Istriku, inilah keputusanku. Aku akan meminta Doni untuk membatalkan perceraian kita," kata Voren.
"Voren Lazaro! Untuk apa kau membatalkan perceraian kita?! Apa kau benar-benar belum puas menyiksaku dengan semua kepura-puraan yang selama ini kau lakukan?! Masih segar dalam ingatanku bahwa kau lebih memilih menceraikanku demi bersama Soraya! Aku sudah ikhlas melepasmu, merelakanmu! Aku ikhlas! Jika kau memang merasa keberatan dengan uang kompensasi yang kau janjikan pasca perceraian kita, baiklah, tidak masalah! Yang penting kita bercerai sekarang juga!" cecar Velan.
Voren menyunggingkan senyum. Ia bisa menebak bahwa saat ini istrinya benar-benar sangat panik dengan keputusan Voren. Ya, bagi Voren, ini adalah keputusan yang memang harus diambilnya.
Jika perceraian mereka dibatalkan, jelas istrinya tidak akan bisa bersama dengan Daren kan?
Voren tidak bisa membayangkan dirinya saat harus menjadi saksi pernikahan antara Daren dengan istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana, para saksi? Apa sah?" tanya Pak Penghulu.
"'Ohh tidak sah! Tidak sah! Tidak bisa! Dia istriku!!" tandas Voren yang berperan sebagai saksi.
Mau ditaruh di mana wajah Voren saat melihat istrinya dan Daren berakhir happy ending sementara Voren hanya bisa gigit jari.
Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!
Voren mengambil ponsel dari atas meja makan. Ia mengusap layar dan langsung membuat panggilan untuk Doni.
"Doni, batalkan perceraianku dengan istriku," kata Voren sebelum mengakhiri teleponnya.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau kau membatalkan perceraian kita!" teriak Velan penuh kemurkaan.
Voren mengulas senyum penuh kemenangan yang harus pandai-pandai ia sembunyikan. Pria itu melangkah meninggalkan Velan yang seakan hanya bisa menelan kemurkaannya pada Voren.
...~...
Velan masih menatap langit-langit ruang penatu. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya barang sedetik pun. Secara mendadak, Voren membatalkan perceraian mereka.
Itu artinya Velan harus terus melanjutkan pernikahan menyedihkan yang sama sekali tidak membuatnya bahagia. Jika pria itu tidak menceraikan Velan, artinya Voren memang berniat untuk memadu Velan.
Terlintas dalam benak Velan sebuah drama mengerikan yang harus dihadapinya.
Voren menikahi Soraya dan membawa Soraya ke tempat ini. Memamerkan kepada Velan, sebuah kehidupan pernikahan yang begitu manis. Membuat Velan iri lahir batin.
Lalu drama bergulir ketika Velan dan Soraya harus terlibat pertikaian tidak penting yang membuat Voren jelas harus membela Soraya.
Soraya yang tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Velan benar-benar terpuruk seperti di sinetron-sinetron yang mengisahkan kehidupan poligami di mana sang suami tidak berlaku adil atas istri-istrinya.
Yah, bagaimana Velan bisa mendapat keadilan, sedangkan Velan bahkan bukan istri yang diinginkan oleh pria itu.
"Apa pria itu serius ingin membangun harem?!" geram Velan.
"Apa yang harus kulakukan?!" Velan mengacak rambutnya dengan kesal.
Velan kembali merasa terpuruk, Daren bahkan telah memutuskan untuk menyudahi kerja sama mereka lantaran pria itu berada di posisi yang serba salah.
Situasi ini jelas merupakan pernyataan perang dari Voren. Pria itu tidak bersedia menceraikan Velan karena ingin membuat Velan lebih menderita lagi.
Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan agar pria itu menceraikanku?!
__ADS_1
...~...