Jodoh Instan

Jodoh Instan
Agresi Militer 2


__ADS_3

Velan segera berbaring di atas kasur, ia menarik selimut dan menatap sisi kasur yang kosong. Rasanya ini seperti mimpi baginya, setiap malam bisa tidur di samping pria berparas tampan yang hanya bisa ia lihat namun tak bisa ia nikmati. Setiap malam Velan hanya bisa mengagumi betapa tampannya suaminya yang tak bisa ia sentuh. Pasca penolakan yang dilakukan oleh suaminya di malam saat Velan melakukan agresi militer yang berujung pada penolakan membuat harga diri Velan amatlah terluka. Velan bahkan sampai memohon untuk ditiduri, namun suaminya benar-benar tak bergeming.


Apakah seumur hidup Velan akan terus seperti ini?


Hidup bersama dengan suami yang tak tertarik pada wanita karena tertarik pada pria.


Velan tentu tak ingin pernikahannya ini hanya akan menjadi status semata.


Velan bahkan tak berani meminta nafkah lahir kepada suaminya lantaran ia merasa belum sepenuhnya menunaikan kewajiban sebagai seorang istri yang seutuhnya.


Velan membenturkan kepalanya ke atas bantal berkali-kali. Hingga kini Velan masih belum juga menunaikan kewajibannya sebagai istri seutuhnya, lantas bagaimana dengan nasib utang yang harus segera dilunasi oleh Velan?


Aku harus bisa membuat suamiku meniduriku! Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan sudah pernah memaksanya, namun pria itu justru menolakku! Velan kembali mengalami pergolakan batin.


Velan melihat suaminya sudah keluar dari kamar mandi, pria itu mengenakan piyama kotak-kotak berwarna hitam putih. Di mata Velan, suaminya itu benar-benar nampak macam model piyama yang akan melakukan pemotretan.


Voren segera naik ke tempat tidur, ia merebahkan tubuhnya di tumpukan bantal lalu menarik selimutnya dengan perasaan was-was.


Lagi-lagi wanita di sampingnya menatapnya dengan tatapan seakan hendak memangsa. Benar-benar sungguh menakutkan. Apa malam ini ia akan mengalami aksi teror penuh gairah lagi?


"Suamiku," kata Velan segera duduk menghadap ke arah suaminya yang begitu tampan dalam keadaan apapun.


"Ada apa, Istriku?" tanya Voren sambil mengulas senyumnya.


"Suamiku, sudah berapa lama kau menjalankan diet gula dan garam?" tanya Velan.


"Entahlah, aku tidak mengingatnya dengan jelas," jawab Voren singkat.


"Suamiku, bagaimana kau bisa setampan ini?" tanya Velan.


"Entahlah, mungkin itu sudah jadi anugerah dari Tuhan," jawab Voren singkat.


Voren sungguh tidak tertarik untuk melanjutkan obrolan dengan istrinya ini. Ia sudah merasa lelah dan memutuskan untuk tidur lebih awal.


"Suamiku, apa kau tahu, bagiku kau adalah anugerah yang dikirimkan oleh Tuhan untukku," kata Velan lagi.


"Rasanya aku masih tidak percaya bahwa pria setampan dirimu menjadi suamiku," kata Velan.


Baguslah, kalau kau sadar diri, batin Voren.


"Suamiku, apa kau tahu, aku bahkan belum pernah menggenggam tangan pria," kata Velan mengambil tangan Voren dan mendekapnya ke wajahnya.


"Aku tidak pernah mengencani pria manapun sebelum menikah denganmu, namun itu bukan berarti orientasi seksualku beralih. Hanya saja memang tidak ada pria yang berani mengencaniku lantaran pria yang mencoba mendekatiku ketakutan! Kakak-kakakku yang tidak setuju aku menjalin kasih dengan pria sembarangan," Velan melanjutkan ceritanya.


"Makanya saat tahu bahwa aku akan menikah dengan pria luar biasa sepertimu mereka benar-benar sangat mendukung," kata Velan sambil mengecup satu persatu jemari Voren.


Voren hanya menanggapi cerita Velan dengan senyumnya. Ingin rasanya ia menarik tangannya dari istrinya yang sedang menciumi tangannya. Ia benar-benar risih dengan sikap istrinya ini.

__ADS_1


"Istriku, sebaiknya kita tidur saja, aku benar-benar sudah lelah dan mengantuk," kata Voren.


"Suamiku, apa kau mau aku memberimu pijatan di bahumu agar rasa lelahmu berkurang?" tanya Velan.


"Maaf, Istriku, aku rasa tidur lebih efektif untuk mengusir rasa lelah," jawab Voren.


"Suamiku, biarkan aku memijat bahumu," kata Velan menarik bahu Voren.


"Istriku, sungguh tidak perlu", sergah Voren.


"Suamiku, apa jika Pak Doni yang memijatmu maka kau akan bersedia dengan senang hati?" tanya Velan penuh selidik.


"Istriku, apa maksudmu?" Voren balik bertanya.


"Suamiku, jadi kau lebih memilih aku yang memijatmu, atau Pak Doni?" tanya Velan lagi.


"Istriku, aku minta maaf, aku benar-benar merasa lelah," kata Voren segera membaringkan tubuhnya,.


"Suamiku," Velan langsung memeluk Voren dari belakang.


Voren terkesiap, ia sungguh merasa risih karena tiba-tiba saja dipeluk lagi seperti ini.


"Istriku," Voren mencoba melepaskan diri dari pelukan Velan.


"Suamiku, apa kau tahu betapa aku menginginkanmu?" tanya Velan sambil mempererat pelukannya.


Velan melepaskan pelukannya, ia segera naik ke atas tubuh Voren dan menatap pria yang nampak mengatur napasnya.


"Suamiku, aku sungguh mencintaimu," kata Velan dengan tatapan yang bersungguh-sungguh.


Velan sungguh tergoda untuk mencicipi bibir ranum suaminya itu. Saat bibir mereka akan bersentuhan, Voren memalingkan wajahnya.


"Suamiku!" Velan memburu bibir Voren.


Voren menahan wajah Velan yang mencoba menciumnya dengan kedua tangannya.


Cih, dasar wanita gila! Batin Voren dengan gusarnya.


"Suamiku, aku benar-benar menginginkanmu! Aku ingin memilikimu sepenuhnya!" kata Velan dengan memaksa.


Velan mengerahkan segenap kekuatannya untuk menerobos benteng pertahanan suaminya yang jelas sekali tidak bersedia menyerahkan dirinya.


Menyerahlah, Suamiku! Mari kita mulai perang ranjang kita! Batin Velan.


"Sungguh aku akan membuatmu merasa puas, Suamiku! Jika kau merasa tidak puas, setidaknya aku sudah berupaya hingga akhirnya aku merasa lemas!" kata Velan berusaha melakukan penyerangan terhadap suaminya.


"Istriku! Kumohon! Jangan lakukan ini!" Voren mendorong Velan menjauh darinya.

__ADS_1


Velan terdorong, tubuhnya terpelanting ke atas kasur. Voren memasang ekspresi ngeri yang tak tertahankan. Lagi-lagi ia mengalami peristiwa penyerangan yang tidak ia inginkan.


"Suamiku!" Velan kembali menerjang Voren.


"Istriku! Hentikan!" Voren berusaha menghalau Velan.


"Aku menginginkanmu, Suamiku!" Velan berusaha menarik wajah Voren ke arahnya.


"Istriku! Hentikan!" Voren kembali mendorong Velan agar menjauh darinya.


Velan benar-benar tidak peduli dengan penolakan Voren, ia tetap berupaya untuk menyerang Voren dengan brutalnya. Melemparkan satu persatu bom berupa hadiah-hadiah manja dan basah dari otot tak bertulang yang memporak-porandakan tulang selangka Voren.


Dibombardir dengan begitu meresahkan tentu membuat Voren nyaris ikut meledak lantaran ledakan gairah yang membumbung tinggi. Serangan demi serangan harus pandai-pandai dihindarinya.


Velan tak peduli, ia berpetualang hingga menyusuri area yang dipenuhi dengan ranjau darat. Tangannya mulai memasuki area ranjau darat dan meraih rudal yang harus bisa diaktifkan untuk memulai peperangan ini.


Rudal cinta yang akan membuai Velan dalam kenikmatan perang hingga fajar menjelang. Sekarang Velan tak perlu merasa takut ataupun tidak siap untuk menikmati rudal cinta yang bisa membuatnya mengandung benih suaminya.


Tidak! Jangan sentuh! Batin Voren menjerit penuh ketegangan.


Plakk....


Satu tamparan mendarat di pipi kiri Velan, membuat wanita itu langsung tertegun menatap suaminya.


"Istriku, maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja," kata Voren sambil memandangi tangannya yang tak sengaja menampar wajah Velan.


Voren tak bermaksud untuk menampar Velan, hanya saja penyerangan yang dilakukan oleh Velan membuat Voren bertindak spontan.


"Istriku," kata Voren menatap Velan yang kini menunduk dan terdiam sambil memegangi pipinya.


"Istriku, aku sungguh minta maaf," kata Voren.


Velan menatap Voren dengan mata yang berkaca-kaca.


"Istriku, aku tahu kau begitu menginginkanku, tapi maaf, aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan," kata Voren menatap Velan lekat-lekat.


"Istriku, kuharap kau bisa mengerti keadaan ini," Voren menghapus air mata yang mengalir turun membasahi wajah Velan yang menangis dalam diam.


"Istriku, sungguh aku merasa lelah dan aku hanya butuh istirahat," kata Voren lagi.


Voren segera mengajak Velan untuk berbaring di kasur, ia segera menarik selimut dan menatap lembut ke arah Velan.


Voren segera mengambil ponselnya untuk memadamkan lampu kamarnya. Ia segera berbaring, menarik selimut dan memeluk gulingnya.


Velan hanya bisa menangis dalam diam. Rasa sakit di wajahnya akibat tamparan dari suaminya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak yang ada dalam dadanya.


...~...

__ADS_1


__ADS_2