
"Tuan, apa besok Anda akan pergi ke kantor?" tanya Doni.
Voren baru saja selesai memeriksa setumpuk dokumen yang tertunda lantaran mengadakan pesta pernikahan, ia langsung menatap skeptis ke arah Doni.
"Tentu saja besok harus pergi ke kantor, Doni! Lihat, satu hari saja aku tidak ke kantor, begitu banyak dokumen yang harus diperiksa!" sahut Voren.
Doni mendelik gusar, padahal ia berharap besok bisa mengambil istirahat karena Tuan Voren yang mengambil cuti untuk mengadakan pesta pernikahan.
"Baiklah saya mengerti, Tuan," kata Doni.
Voren segera beranjak dari kursi kerjanya lalu keluar dari ruang kerja. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia mengedarkan pandangannya, istrinya tidak terlihat.
"Doni, ke mana wanita itu?" tanya Voren.
"Nona Velan sudah lebih dulu beristirahat di kamar Anda, Tuan," jawab Doni.
Voren terperangah mendengar jawaban Doni.
"Istriku di kamarku?" tanya Voren.
"Tuan, di unit apartemen Anda hanya ada dua kamar, satu kamar utama sebagai kamar tidur Anda, dan satu kamar lagi menjadi ruang kerja Anda. Lantas di mana Anda akan mempersilakan istri Anda untuk beristirahat jika tidak di kamar Anda?" Doni menjelaskan.
"Astaga Doni, yang benar saja, masa' aku harus berbagi kamar dengan wanita yang baru kukenal?!" sergah Voren.
"Tuan, saya tahu Anda bukan keong racun yang baru kenal sudah ngajak tidur! Tapi Nona Velan saat ini adalah istri Anda, Tuan! Anda tentu tidak lupa dengan peran anda sebagai suami sempurna, kan?" kata Doni.
"Lagipula bukankah Anda tidak punya perasaan terhadap istri Anda, sehingga saya rasa tidak masalah kan, jika Anda berbagi kamar, bahkan berbagi tempat tidur?" Doni melanjutkan perkataannya.
"Tapi Doni, wanita itu nampaknya begitu bar-bar!" keluh Voren.
"Tuan, Nona Velan hanya sedikit ceroboh dan begitu gugup saat berada di sisi Anda, yah, memang sih, wanita mana yang tidak merasa gugup dan salah tingkah saat bersama orang setampan Anda?" kata Doni berusaha menghalau semua rasa risau yang membuat Voren merasa galau.
Doni sangat memahami karakter Tuan Voren yang nampak mudah bimbang dan meragu terhadap hal yang tidak beliau sukai. Sehingga sudah menjadi tugas Doni untuk meyakinkan kepada pria itu bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tuan, demi reputasi! Semangat!" kata Doni terlihat begitu meyakinkan sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya, ya, aku mengerti," sahut Voren sambil merengut.
"Baiklah Tuan, jika tak ada hal lain yang dapat saya lakukan, maka saya mohon pamit undur diri," kata Doni berpamitan.
"Silakan," sahut Voren segera menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Doni segera bergegas meninggalkan unit apartemen itu. Ia mengulas senyum misteriusnya sepanjang menyusuri koridor.
...~...
Voren memasuki kamarnya, matanya menatap ke arah Velan yang nampak duduk di tepi tempat tidur. Sungguh pemandangan yang aneh karena Voren harus berbagi tempat tidur dengan wanita asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya dan kini berstatus sebagai istrinya.
Voren membuka lemari pakaian dan mengambil selembar piyama. Kemudian ia segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual setiap malam sebelum tidur.
Ia menggosok gigi dan mencuci muka dengan perasaan was-was. Ada rasa gelisah yang membuatnya merasa resah tak beralasan.
"Tampang wanita itu begitu lugu, tidak mungkin berani berbuat macam-macam padaku," gumam Voren bermonolog di depan cermin sambil mengganti pakaiannya dengan piyama.
Voren segera naik ke atas kasur dengan perasaan ragu-ragu. Ia segera merebahkan diri dan menarik selimutnya. Rasanya sungguh aneh ada seorang wanita yang berbaring di sisi kasurnya yang selama ini selalu dan senantiasa kosong. Ia mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Menyentuh layar datar itu untuk memadamkan lampu kamar, setelahnya segera ia memejamkan mata sambil memeluk gulingnya.
...~...
Velan masih terjaga di dalam selimut dengan debar jantungnya yang menggila. Ini pertama kali dalam hidupnya ada pria yang berbaring di sisinya. Yah, meski waktu masih kecil ia selalu tidur bersama empat orang kakak laki-lakinya, namun tentu kali ini jelas berbeda. Pria luar biasa tampan ini adalah suaminya. Pria itu berbaring dalam posisi memunggungi Velan. Punggung atletisnya itu benar-benar sungguh menggiurkan.
Bagaimana ya rasanya berada dalam pelukan dada bidang pria itu?
Velan sudah bersiap untuk melakukan perang gerilya dalam rangka melepaskan segel keperawanan yang harus direnggut oleh suaminya yang mengaku tidak tertarik pada wanita. Namun tentu saja Velan harus memastikan sendiri, apakah itu adalah sebuah kebenaran yang hakiki.
Tidak boleh ada kesalahan lagi! Agresi militer ini harus berhasil!
Velan mulai mendekat dan memeluk punggung atletis pria itu. Tangannya mulai meraba otot-otot perut yang benar-benar terjaga.
Ugh, roti sobeknya, batin Velan.
Voren terperanjat lantaran tiba-tiba saja wanita itu memeluk dan menggerayangi tubuhnya. Voren mematung saat wanita itu memberi hadiah-hadiah manja nan basah di sekitar tengkuk belakang lehernya.
Rasa geli-geli sedap itu membuat bulu kuduknya meremang. Ia mencoba menahan rasa geli saat merasakan daun telinganya mendapat serangan-serangan lembut dari otot tak bertulang yang begitu memburu. Belum lagi saat aksi teror yang membakar gairah itu beralih posisi dengan menjadikan leher Voren yang jenjang sebagai sasaran penyerbuan. Voren benar-benar harus menahan diri agar sisi maskulinnya tidak terprovokasi. Sungguh berbahaya jika benteng pertahanannya berhasil direbut oleh musuh dalam selimut seperti ini.
Apa-apaan wanita ini?! Batin Voren saat wanita itu langsung menaiki tubuhnya dan menungganginya.
"Suamiku, tolong jadikan aku istrimu seutuhnya, Suamiku," bisik wanita itu saat memburu leher Voren.
"L-A-N-C-A-N-G kau, ya!" bentak Voren sambil mendorong keras wanita itu dari atas tubuhnya.
"Berani-beraninya kau menyentuhku! Punya nyali berapa kau?! Apa kau pikir aku ini kucing garong yang bisa sembarangan diberi ikan?!" bentak Voren.
Namun semua bentakan itu hanya ada dalam benak Voren saja. Voren segera menahan tangan dan wajah wanita itu yang begitu memburunya.
__ADS_1
"Istriku! Jangan, Istriku!" sergah Voren.
"Suamiku?!" Velan tersentak kaget karena suaminya menahan wajah dan tangannya.
"Aku sangat menginginkanmu, Suamiku! Tolong perawani aku, Suamiku!" Velan meronta.
Apa-apaan wanita gila ini?! keluh Voren dalam hati.
"Suamiku! Kumohon tiduri aku!" Velan memohon.
Lepaskan aku dasar wanita murahan! Kau pikir aku pria murahan! Hah! Lagi-lagi Voren hanya bisa menjerit dalam hatinya.
Mereka saling bergulat seakan mereka adalah pegulat profesional yang sedang berkompetisi di atas arena.
"Istriku!" Voren membalik posisi mereka.
Kini Voren berada di atas dan menahan kedua tangan Velan di atas kepala Velan.
"Suamiku! Kumohon!" Velan memohon dengan nafasnya yang terengah-engah.
Dalam pencahayaan yang temaram, Velan bisa melihat ekspresi kengerian yang terpancar dari wajah suaminya.
"Istriku, aku sungguh minta maaf, aku tidak bisa melakukannya," kata Voren.
Aku bukan keong racun! Aku bukan kucing garong! Aku bukan laki-laki murahan!
Ingin rasanya Voren meneriakkan semua itu, namun ia tentu harus menjaga imejnya sebagai seorang pria yang santun dan berakhlak mulia.
Voren melepas tangannya yang menahan tangan Velan.
"Istriku, lebih baik kita tidur sekarang, kau pasti lelah dan akupun juga merasa sangat lelah," Voren kembali merebahkan dirinya di atas kasur.
Velan tertegun dengan perasaan hampa yang begitu besar lantaran suaminya menolaknya begitu saja. Rasanya hatinya hancur berkeping-keping akibat menelan kenyataan yang pahitnya lebih pahit dari daun sambiloto. Suaminya yang sempurna itu ternyata benar-benar tidak tertarik pada wanita.
Padahal ia sudah tampil nyaris tanpa busana dan berusaha menyerang suaminya itu secara brutal.
Bukankah pria normal suka mendapat serangan yang brutal?
Namun ternyata agresi militer yang dilakukannya tidak membuahkan hasil yang diharapkan oleh Velan.
Entah mengapa Velan merasa menyesal. Harusnya Madam Yue juga mempertimbangkan orientasi seksual pria yang ia kirimkan untuk Velan. Pria lajang, tampan, baik, dari keluarga baik-baik dan kaya raya itu harusnya juga tertarik pada wanita.
__ADS_1
...~...