
Renata dan Renava, dua wanita cantik berpakaian modis yang langsung mencuri perhatian begitu sopir membukakan pintu mobil untuk keduanya. Renata mengenakan dress hitam berpotongan lurus sebatas lutut dengan kardigan putih berkancing mutiara. Tas tangan dari rumah mode Eropa menyempurnakan penampilannya. Renava, wanita cantik itu mengenakan blouse merah jambu hangat dengan celana panjang berwarna putih. Ia memakai sepatu hak tinggi berwarna merah jambu yang senada dengan tas tangan keluaran rumah mode Eropa.
"Nats, kenapa kau mengenakan tas tangan itu? Aku benar-benar tidak suka melihat kau mengenakan tas itu!" keluh Renava.
Renata mengulas senyumnya bersiap menanggapi keluhan Renava.
"Nava, kau kesal melihatku mengenakan tas ini karena kau tidak bisa mendapatkannya, begitu kan?!" tukas Renata sambil mengangkat tas tangan mewahnya ke udara.
"Huh, aku kesal sekali, kita hanya selisih lima menit saat memesannya tapi justru kau yang mendapatkannya!" sungut Renava.
"Nava, kau jangan julid begitu! Tas ini sudah rezekiku! Hoho," Renata tertawa.
Renava melotot, matanya yang besar makin bertambah besar karena Renata jelas memprovokasinya. Begitulah, dua kakak beradik ini selalu bersaing untuk mendapatkan barang-barang edisi terbatas dari rumah mode Eropa. Mereka kerap saling mengungguli satu sama lain dan memamerkan apapun yang berhasil mereka dapatkan.
"Nats, apa kau sudah menghubungi Velan?" tanya Renava.
"Sudah, katanya dia sudah menuju ke sini," sahut Renata.
Velan segera menghampiri dua kakak iparnya yang menjemput di lobi apartemen. Velan benar-benar kaget karena kedua kakak iparnya mendadak mengajak untuk hangout bersama. Ia terpaksa menghentikan aktivitasnya dalam memproses pesanan kue. Padahal tadi pagi Velan sudah begitu senang dan bersemangat saat membaca pesanan yang masuk di aplikasi pesannya.
"Kak Renata, Kak Renava," sapa Velan dengan napas yang terengah-engah.
Lelah rasanya Velan harus kebut-kebutan mengendarai sepeda motornya, lalu berlari dari parkiran bawah tanah ke lobi apartemen.
"Velan," Renata dan Renava langsung memeluk Velan secara bergantian.
Renata dan Renava melihat penampilan Velan yang begitu santai. Velan hanya mengenakan celana jeans dan kaus longgar berwarna hitam.
"Maaf ya Kak, saya sungguh tidak sempat berdandan yang lebih rapi karena baru saja selesai mengolah pesanan kue," kata Velan yang bisa menangkap ekspresi Renata dan Renava yang jelas melotot lebar seakan bola mata mereka nyaris lepas.
"Oh, maaf ya Velan, sudah mengganggu waktumu," kata Renata.
"Iya Velan, mungkin lain kali saja," tambah Renava.
"Kakak, tidak masalah, karena pesanan kerap datang secara mendadak, sehingga sulit untuk memprediksinya, tapi sudah beres kok," kata Velan.
"Oh begitu," sahut Renata dan Renava serempak.
__ADS_1
"Oh ya Kak, ini produk yang saya pasarkan," Velan menyerahkan dua stoples kertas untuk Renata dan Renava.
"Oh ini produkmu ya?" tanya Renata.
"Coba aku cicipi ya," sahut Renava.
Renava dan Renava segera mencicipi kue brownis berukuran mini dengan topping irisan kacang almond dan butiran cokelat.
"Hmm, enak sekali, Velan!" seru Renava.
"Enak, manisnya sungguh pas, tidak bikin eneg," komentar Renata.
"Terima kasih Kak, saya sungguh senang mendengarnya," sahut Velan.
"Pantas saja kau membuka bisnis ini! Wah, kau sungguh kreatif sekali, Velan," puji Renava.
"Ayo kita pergi sekarang," ajak Renata.
Velan segera memasuki mobil mewah bersama Renata dan Renava. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Renata dan Renava begitu antusias saat membahas kue brownis buatan Velan.
Mobil yang dikemudikan sopir berhenti di depan rumah mewah bak istana modern yang membuat Velan tak henti-hentinya mengagumi keindahan kediaman utama keluarga Lazaro. Velan sudah pernah sekali mengunjungi rumah tersebut saat acara pesta ulang tahun Nenek Alena. Hanya saja karena malam hari, Velan tidak bisa menyaksikan keindahan pemandangan rumah tersebut. Kawasan yang dipenuhi pepohonan rimbun di wilayah perbukitan, terdapat danau hingga lapangan golf. Belum lagi terdapat petak-petak taman bunga yang membuat Velan rasanya ingin berlari dan berguling-guling di taman bunga seperti adegan-adegan dalam film India.
Terlintas dalam benak Velan bahwa mungkin Soraya juga diundang ke rumah utama untuk bertemu dengan keluarga Lazaro. Pertemuan antara calon mantan menantu dan calon menantu baru tentulah harus dihindari oleh Velan.
"Kak, bukankah kita mau pergi hangout?" tanya Velan pada Renata.
"Benar," jawab Renata.
"Bukankah hangout itu identik dengan jalan-jalan, window shopping ke mall, nongkrong di kafe, makan-makan di restoran?" tanya Velan.
"Velan, bagi kami yang kau sebutkan itu adalah rutinitas harian kami! Kami sungguh bosan dengan kegiatan itu!" sahut Renava.
Velan terkesiap, ia benar-benar lupa bahwa kedua kakak iparnya tentu memiliki kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupan Velan. Di saat Velan harus mati-matian mengumpulkan uang, kedua kakak iparnya mati-matian menghambur-hamburkan uang.
"Benar, Velan, bukankah kau mau membantu kami belajar memasak?" tanya Renata.
"Oh, begitu," sahut Velan.
__ADS_1
Velan kembali terkesiap, hidangan apa yang akan disajikan Velan sebagai materi pembelajaran ya?
Kedua kakak iparnya pastilah sudah sangat familiar dengan makanan-makanan mewah. Velan bahkan belajar memasak secara otodidak dari video-video pada kanal Utub.
"Selamat datang, Nona Renata, Nona Renava, dan...," Pak Jun menghentikan ucapannya karena tidak mengenali tamu yang dibawa dua nona muda Lazaro.
"Velan," kata Renata menyebut nama Velan.
"Nona Velan," sapa Pak Jun membungkuk bersama para pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
"Pak Jun, tolong siapkan dapur ya, kami mau memulai kelas memasak," kata Renava.
"Baik, Nona Renava," jawab Pak Jun.
Sepanjang perjalanan menuju ke dapur, Velan berpikir cepat, mencari hidangan yang kira-kira tidak diketahui oleh kedua kakak iparnya. Hidangan yang bisa diolah secara tim dan tentunya mudah dan cepat.
Begitu memasuki dapur, para pekerja yang berada di dapur, baik koki bersertifikasi hingga pelayan berduyun-duyun keluar dari dapur mewah, membuat Velan teringat pada acara kompetisi memasak di televisi.
Dapur dengan peralatan masak lengkap, canggih, dan tentunya sangat mewah.
"Kau mau memasak apa, Velan?" tanya Renava.
"Katakan apapun yang kau butuhkan, para pelayan akan menyediakannya dengan segera," sahut Renata.
"Kak Renata, Kak Renava, apa kalian suka ikan?" tanya Velan.
"Oh tentu saja, kami suka sekali makan ikan," jawab keduanya serempak.
"Kalian suka makan sayur-sayuran?" tanya Velan lagi.
"'Oh tentu saja, sayuran adalah makanan paling penting bagi kami!" sahut Renata.
"Kalian suka hidangan yang direbus?" tanya Velan.
"Tentu saja, terlebih di usia sekarang, kami harus mengurangi makanan yang digoreng," jawab Renava.
"Baiklah, mari kita buat hidangan itu," sahut Velan antusias.
__ADS_1
Ya, Velan akan memasak hidangan istimewa yang jelas akan menjadi hidangan pertama dan terakhir yang bisa ia sajikan untuk kedua kakak iparnya. Karena sebentar lagi, ketika Velan dan Voren resmi bercerai, mereka hanya akan menjadi orang yang pernah saling mengenal.
...~...