Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E38


__ADS_3

Voren memakai kacamata hitamnya, ia juga memasang earphone untuk mendengarkan musik. Suasana dalam mobil yang dikemudikan Doni benar-benar hening. Voren mengawasi bak kamera pengawas untuk mengintai dua pasangan sejoli yang membuatnya ragu. Apakah keduanya benar-benar sepasang sejoli yang tengah memadu kasih?


Daren terlihat langsung tertidur pulas padahal perjalanan baru berlangsung selama lima belas menit. Sementara Velan nampak terus mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Wanita itu nampak terpana melihat pemandangan yang sepertinya jelas memanjakan matanya.


Voren merasa kesal karena wanita itu nampak begitu bahagia. Sesekali wanita itu menoleh ke arah Daren dan tersenyum sambil mengamati Daren yang tertidur pulas.


Keheningan pun akhirnya membuat Velan ikut terlelap. Saat kepala wanita itu hendak menyentuh bahu Daren, Voren langsung menjulurkan tangannya, lalu menggeser kepala Velan ke sisi lain menjauh dari Daren.


Jangan cari kesempatan dalam kesempitan! Batin Voren.


Voren melipat kedua tangannya di depan dada, masih mengawasi dengan ketat dua penumpang yang terlelap.


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Tepat di depan mata Voren, tubuh Velan limbung dan nyaris menghantam kursi Dinar.


"Istriku!" seru Voren langsung meraih dan menangkap Velan.


Tubuh Velan tersentak keras, kembali ke kursinya. Velan terbangun dari tidur, merasa ada tangan yang mencengkeram dadanya.


Velan terkesiap, menjerit dalam diam, lalu menepis tangan Voren.


"Aduduh!" Voren meringis kesakitan.


"Apa yang kau lakukan, dasar mesum!" Velan menjerit tanpa kata-kata, ia melotot tajam ke arah Voren.


Voren terkesiap karena melihat Daren yang mengaduh, pria itu terbangun dari tidur karena terpelanting kembali ke kursinya.


Dinar yang terbangun dari tidurnya turut mengaduh di kursi depan, ia memijat pelipisnya sambil menatap ke arah Doni yang mematung. Doni begitu terkejut karena mendengar Tuan Voren yang menyerukan panggilan sayang untuk Nona Velan. Bagaimana jika Tuan Daren sampai mendengar hal tersebut?


"Doni! Kamu ini bisa mengemudi tidak sih?! Kau pikir sedang mengemudi truk pengangkut ayam potong?!" tegur Voren untuk mengalihkan perhatian.


"Maaf Tuan, maaf, saya tidak sengaja," jawab Doni.


"Apa kau mengantuk jadinya tidak konsentrasi?" tanya Voren lagi.


"Maaf Tuan, maaf," kata Doni.


"Voren, sudah," Daren memotong perdebatan yang mulai terjadi. "Kalau kau merasa lebih berkonsentrasi, kau saja yang mengemudi," kata Daren.


"Haha," Voren tertawa.


"Tuan, saya akan mengemudi dengan lebih berhati-hati lagi," sahut Doni dengan cepat.


"Voren, apa kau tidak bisa mengemudi?" tanya Daren.


"Haha, maaf ya, lintasan seperti ini bukan sirkuitku!" sahut Voren menjawab pertanyaan Daren.


"Tuan, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, perjalanan akan kita lanjutkan lagi," kata Doni.


Doni tentu tidak bisa membiarkan Tuan Voren untuk mengemudi. Pria itu adalah pembalap ugal-ugalan yang bisa membuat penumpangnya mati mendadak lantaran terkena serangan jantung.

__ADS_1


Perjalanan pun kembali dilanjutkan, Velan masih memasang ekspresi kesal ke arah Voren yang memasang wajah tanpa ekspresi.


Dasar kurang ajar, awas kau! Batin Velan.


...~...


Mobil yang dikemudikan oleh Doni terhenti di area parkir sebuah kawasan eksklusif yang berada di tengah hutan taman wisata. Hutan yang dijadikan objek wisata tersebut menjadi salah satu proyek yang kini sedang berada di bawah naungan Emperor Grup.


Voren jelas harus meninjau langsung progres pengelolaan tempat tersebut mengingat dana yang dikucurkan untuk mengelola area hutan agar menjadi tempat wisata tentulah tidak sedikit.


Dinar turun dari mobil dengan kondisi yang terlihat memprihatinkan karena mabuk perjalanan. Velan segera menopang Dinar bersama Doni. Mereka segera membawa Dinar menuju ke balai terdekat.


"Maaf ya, aku sedikit mabuk kalau perjalanan jauh," kata Dinar begitu duduk di kursi.


Velan mengusapkan minyak angin dan memijat tengkuk Dinar dengan lembut.


"Maaf ya, Dinar, sepertinya aku menyetir kurang baik," kata Doni.


"Nona Velan, tolong bantu jaga Dinar dulu, saya harus mengikuti Tuan Voren dan Tuan Daren," Doni berpamitan.


Velan mencuri pandang ke arah Voren dan Daren yang sudah menjauh darinya. 


Velan jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa pekerjaan Daren ya?


Apa benar Daren adalah seorang pria panggilan?


Velan benar-benar merasa sungkan jika harus bertanya.


"Tidak masalah, Dinar," kata Velan.


"Wah, Nona Velan, Anda benar-benar baik sekali. Benar-benar cocok dengan Pak Daren," kata Dinar.


Velan hanya mengulas senyumnya.


"Aku ke sini jauh-jauh bukannya menemani Pak Daren bekerja, malah harus mabuk perjalanan seperti ini," keluh Dinar.


"Pekerjaan? Pekerjaan apa yang bisa dilakukan di sini?" tanya Velan keheranan.


"Loh, Nona Velan tidak tahu ya, tujuan diajak ke sini?" Dinar balik bertanya.


"Untuk jalan-jalan," jawab Velan.


"Yah, jalan-jalan sambil bekerja, Pak Daren biasa begitu," sahut Dinar.


"Sungguh tempat ini bagus sekali, apalagi udaranya sangat sejuk," kata Velan.


"Benar, tempat ini benar-benar sangat potensial untuk menjadi tempat wisata. Pak Daren yang mengelola proyek tempat ini. Beliau menggarapnya mulai dari membuat konsep hingga kini menangani langsung progres pekerjaan di tempat ini!" Dinar menjelaskan.


Velan melongo, apa ia tidak salah dengar?

__ADS_1


Untuk seorang pria panggilan, hebat sekali pria itu sampai turut mengurus proyek pengembangan objek wisata.


Velan jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya pria itu?


Lalu, apa hubungan antara Voren dan Daren?


Velan bisa melihat dengan jelas betapa Voren sampai bersikap aneh kepada Velan hanya karena Velan mengaku menjalin hubungan dengan Daren.


Ya, pria itu bersikap aneh begitu pasti karena masih belum juga percaya bahwa Velan dan Daren adalah sepasang kekasih.


Apa yang harus kutunjukan agar pria itu percaya dan yakin bahwa aku dan Daren benar-benar pacaran ya? Batin Velan bertanya-tanya.


...~...


Voren dan Daren berkeliling tempat wisata tersebut, Doni dengan segera mengekori dua pria itu.


Hutan taman wisata itu terbagi menjadi beberapa area. Area utama merupakan area master point yang menjadi sentra bisnis. Terdapat balai-balai pertemuan, pusat perbelanjaan souvenir, restoran, toserba, tempat karaoke keluarga, hingga tempat ibadah. Area selanjutnya adalah tempat penginapan yang terdiri dari cottage-cottage. Ada juga lapangan olahraga seperti basket, tenis, badminton, hingga lapangan futsal. Kemudian ada area outbond dan area perkemahan juga telah disiapkan. 


Sementara untuk wisata utama yakni wisata penjelajahan alam juga telah dirampungkan.


"Sepertinya tempat ini harus difasilitasi dengan landasan pesawat terbang, sehingga untuk pengunjung yang tidak terbiasa berkendara terlalu lama melalui jalur darat, akan lebih terbantu dengan landasan pesawat terbang," kata Voren.


"Voren, tempat ini kurang tepat jika diberi landasan pesawat terbang karena jelas akan merusak sebagian dari ekosistem hutan. Sedangkan ekosistem yang ada di hutan ini adalah komoditas utama tempat ini," Daren menanggapi perkataan Voren.


"Yah, minimal ada landasan helikopter! Untuk keadaan gawat darurat kan jalur udara jauh lebih cepat!" kata Voren lagi.


"Ya, itu sudah direncanakan, hanya saja terkendala masalah area mana yang aman, sehingga perlu pengkajian ulang lagi," Daren menjelaskan.


Voren menatap berkeliling area penginapan.


"Oh ya, bagaimana kalau kita menginap saja di tempat ini? tanya Voren.


"Menginap?" tanya Daren.


"Ya, kita harus meninjau langsung bagaimana kondisi cottage-cottage yang tersedia, bagaimana dengan pelayanannya, dan lain sebagainya!" jawab Voren.


"Voren, sepertinya tidak ada agenda untuk menginap di tempat ini," kata Daren.


"Ada dan aku baru saja menambahkannya, Daren," sahut Voren.


Daren merasa tidak enak pada Velan, ia tentu harus mendiskusikan masalah ini pada wanita itu. Biar bagaimana pun, Velan masih istri orang. Daren tentu tak mau dianggap sebagai pria yang membawa lari istri orang.


"Ada apa, Daren? Kau keberatan?" tanya Voren.


"Aku tidak keberatan, tapi aku belum bertanya pada kekasihku, apa dia setuju untuk menginap," kata Daren.


"Ya kau tinggal tanyakan saja, Daren, apa susahnya," sahut Voren.


Voren mengulas senyumnya, Daren benar-benar telah terjebak pada perangkapnya.

__ADS_1


Bagaimana, Daren? Panik nggak bawa kabur istri orang?


...~...


__ADS_2