Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E01


__ADS_3

Velan dan keempat kakak laki-lakinya duduk membentuk lingkaran. Lima orang bersaudara itu saling melemparkan tatapan skeptis pada sebuah amplop yang tergeletak di lantai tepat di tengah-tengah mereka. Selembar surat cinta tanda perhatian dari bank yang lagi-lagi memberi peringatan kepada Velan perihal utang yang menunggak berbulan-bulan.


Pinjaman pokok ditambah bunga yang telah berbunga membuat Velan hanya bisa memijat kepalanya. Jika saja bunga dari bank berwujud bunga sungguhan, mungkin Velan sudah mempunyai sepetak taman bunga yang bisa dinikmati keindahannya.


Surat yang datang kali ini merupakan surat peringatan terakhir sebelum pihak bank akan datang dan langsung memasang spanduk besar agar semua orang tahu bahwa rumah tersebut disita oleh bank sebagai bentuk konsekuensi lantaran terjadinya kredit macet.


Tak bisa dibayangkan oleh Velan dan saudara-saudaranya bahwa para tetangga akan begitu heboh menjadikan kejadian yang menimpa keluarga Velan sebagai trending topic alias bahan gunjingan paling segar di komplek perumahan. Jika hal tersebut sampai diketahui oleh kedua orang tua mereka, mungkin ibu Velan akan ikut terkena serangan stroke menyusul bapak mereka.


Lima anak Pak Totok dan Bu Veny benar-benar hanya bisa terdiam, terpaku, terpalu, dan terpahat sebelum akhirnya Taki mulai membuka suara.


"Vels! Kenapa kau masih belum juga membayar utangmu? Lihat, sekarang rumah kita sudah akan disita! Kau sih enak, sudah tinggal di tempat mewah bersama suamimu! Lalu nasib kami di sini bagaimana? Kau mau melihat kami menggembel di jalan?" tanya Taki dengan nada ngegasnya yang sudah tidak bisa dikondisikan.


"Haha!" Velan tertawa keras-keras membuat semua kakaknya terlonjak kaget.


"Velan, kenapa kau tertawa? Apa kau pikir ini lelucon?" tanya Toro terlihat menahan rasa kesalnya.


"Velan, sungguh ini bukan waktu yang tepat untuk tertawa," sambung Yoyok.


"Iya Velan, aku tidak melihat di mana lucunya," sahut Tomi.


"Aduh Kakak! Kalian sungguh tidak tahu di mana lucunya? Apa kalian tidak sadar, akibat ulah siapa rumah kita pada akhirnya harus disita?" tanya Velan.


"Kalau saja Kak Taki dan Kak Toro tidak membawa lari uangku dan memberikan uang itu secara cuma-cuma kepada perusahaan label musik gadungan, rumah kita tidak akan disita oleh pihak bank!" Velan melanjutkan.


"Ya, tahu, tapi kan kita sudah menemukan solusi untuk masalah ini! Kau sudah menikah dengan pria kaya raya yang bisa dengan mudah membayar semua hutangmu, Vels!" kata Taki.


"Benar, aku rasa uang segitu hanya uang receh saja untuk suamimu!" Toro menimpali.


"Kenapa kau masih belum juga melunasi utangmu? Apa suamimu tidak mau membayarnya?" tanya Yoyok.


"Kakak, setelah aku pikir baik-baik, sepertinya utang ini bukanlah tanggung jawab suamiku! Utang ini terjadi sebelum aku menikah dengannya, sehingga utang ini sepenuhnya menjadi tanggung jawabku dan juga kalian!" jawab Velan dengan sengitnya.


"Tidak bisa, Vels! Kita sudah sepakati di awal bahwa solusi masalah ini adalah uang dari suamimu! Makanya kami merestui kau menikah!" sergah Taki.


"Velan, apa jangan-jangan kau yang tidak mau membayar utangmu ya? Karena merasa itu bukan kesalahanmu?" tanya Toro penuh selidik.


Velan melemparkan tatapan skeptis ke arah Toro.


"Ya, bukannya memang seperti itu?! Semua ini terjadi karena ulah Kak Taki dan Kak Toro! Lihat, akibat memperjuangkan impian kosong kalian, sebentar lagi rumah ini akan disita dan kita, maksudku kalian, akan benar-benar menggembel di jalan! Haha!" Velan kembali tertawa sambil bertepuk tangan heboh.


"Velan, bagaimana kau bisa sekejam ini pada kami?!" tanya Yoyok.

__ADS_1


"Velan, tolong jangan biarkan itu terjadi!" kata Tomi memohon.


"Aku benar-benar akan datang ke suamimu! Kalau kau sebegitu gengsinya untuk meminta uang suamimu!" kata Taki.


"Silakan lakukan jika kalian memang tidak punya harga diri dan tidak menganggapku sebagai saudara kalian lagi!" tandas Velan.


"Velan, kau kenapa begini sih? Apa kau sungguh tidak menganggap kami sebagai saudara-saudaramu?" tanya Tomi.


"Velan, tolong kami, tolong jangan egois seperti ini," Yoyok memelas.


"Velan, apa perlu masalah ini kita bicarakan pada ibu?" tanya Toro.


"Ibu pasti benar-benar akan sangat terkejut jika sampai mengetahui bahwa Vels menggadaikan rumah ini, dan membuat rumah ini disita pihak bank!" Taki menimpali dengan nada mengancam.


"Ah, ya, anak yang sangat dipercaya oleh ibu, anak yang paling disayang, dan paling dibanggakan ibu, menjerumuskan keluarganya sendiri!" lanjut Taki.


"Kak Taki! Bagaimana bisa kakak berkata seperti itu?!" sergah Velan.


"Vels! Apa kau pikir kami tidak punya perasaan saat ibu dan bapak lebih mengandalkanmu daripada kami?! Kami menjadi kakak-kakak yang tidak  berguna! Kami hanya bisa membuat masalah! Berbeda denganmu yang begitu istimewa di mata orang tua kita!" cecar Taki meluapkan semua emosinya.


"Tapi lihat, anak yang paling dibanggakan dan diandalkan membuat keluarganya menderita karena keegoisanmu!" lanjut Taki.


"Kak Taki, siapa yang egois?! Bukannya justru Kak Taki yang benar-benar sangat egois karena mementingkan ego sendiri?!" teriak Velan.


Toro, Tomi, dan Yoyok saling melemparkan pandangan. Toro menarik napas banyak-banyak sebelum berteriak.


"Taki! Velan!" seru Toro dengan suaranya yang menggelegar.


Velan dan Taki langsung terdiam.


"Sudah, jangan bertengkar!" sergah Toro.


"Benar, lebih baik sekarang kita mencari solusi! Bukannya meributkan hal yang itu-itu saja!" kata Yoyok.


"Velan, kalau kau memang tidak mau meminta bantuan suamimu untuk melunasi utangmu, baiklah, tidak masalah! Tapi kau tentu harus punya jalan keluar yang lain!" kata Tomi.


Velan hanya bisa terdiam. Saat ini ia bahkan terlalu takut untuk mengatakan hal yang sejujurnya tentang pernikahannya yang sudah akan berakhir. Ia tentu tidak bisa sembarangan berkoar-koar mengatakan bahwa ia akan berpisah dari suaminya yang meminta perceraian.


"Kakak, menurutku lebih baik sekarang kita sama-sama berusaha tanpa harus bergantung pada kemurahan hati orang lain," kata Velan.


"Aku akan mulai mencari dan mendapatkan pekerjaan lagi, aku harap kalian turut melakukan hal  yang sama," Velan melanjutkan.

__ADS_1


"Velan, kenapa harus direpotkan dengan mencari kerja? Apa susahnya tinggal minta kepada suamimu yang katamu uangnya tidak ada nomor serinya?!" celetuk Toro.


"Kak Toro! Bukankah tadi Kak Tomi sudah jelas mengatakan bahwa kita harus mencari solusi selain meminta pada suamiku! Inilah alternatif lain yang jelas menjadi solusi untuk permasalahan ini, Kak! Mencari dan mendapatkan pekerjaan!" sergah Velan.


"Vels, kamu jangan mengada-ada! Memangnya kau pikir zaman sekarang mudah untuk mendapatkan pekerjaan?! Terlebih orang tanpa ijazah sepertiku ini!" keluh Taki.


"Benar Velan, usia juga menjadi kendala!" sahut Yoyok.


Velan kembali merengut memandang satu persatu kakak-kakaknya. Para pria pengangguran yang kerjanya hanya rebahan dan menggantungkan hidup pada impian mereka.


"Padahal pernikahanmu dengan orang kaya jelas merupakan cara paling instan untuk menyelesaikan masalah ini, Velan," kata Tomi.


"Kalau saja bandku ini debut, selesai sudah masalah ini!" cibir Taki.


"Haha!" Velan tertawa lagi. 


"Kak Taki, aku rasa ada cara yang jauh lebih instan lagi untuk mendapatkan banyak uang! Bagaimana jika kita melakukan ritual pesugihan babi ngepet?"


"Kalian berempat menjadi babi ngepet dan aku yang akan menjaga lilin!" kata Velan seraya tertawa.


"Astaga Velan, istighfar! Dosa itu!" sergah Toro.


"Haha, bukankah pesugihan babi ngepet sangat cocok untuk kalian yang mau mendapatkan banyak uang tanpa banyak berusaha?" tanya Velan.


"Vels, aku bukannya tidak berusaha! Aku sedang berjuang dengan jalanku sendiri! Bandku akan sukses saat debut nanti!" sahut Taki.


"Nantinya kapan, Kak? Nanti sampai waktu yang belum ditentukan begitu?" tanya Velan.


"Vels! Aku ini sedang menggarap pro... humph," ucapan Taki terputus karena Toro langsung membekap mulut Taki.


"Taki, jangan bicara hal bodoh," Toro menyeringai.


"Humphh..humpphh," Taki meronta, membuat Toro melepaskan bekapannya.


"Toro, apa kau mau mematahkan leherku!" hardik Taki dengan gusar.


Toro mengerjapkan matanya berharap Taki mengerti agar Taki tidak membocorkan misi rahasia mereka.


"Yang pasti, ada dua cara instan yang bisa menjadi solusi untuk masalah kita semua, pertama pesugihan babi ngepet, dan kedua ternak tuyul!" kata Velan sambil tertawa.


"Astaga Velan, dosa itu, dosa!" sahut Tomi dan Yoyok bersamaan.

__ADS_1


Haha, apa itu dosa?


...~...


__ADS_2