Jodoh Instan

Jodoh Instan
Empat Belas


__ADS_3

Pelayan menyajikan hidangan penutup berupa bola coklat berukuran bola kristal yang biasa muncul bersama peramal. Cara makannya dengan diketuk agar bulatan bola coklat itu retak dan menampilkan isi yang tersimpan di dalamnya.


Saat Soraya mengetuk bola coklat tersebut, sebuah cincin berlian muncul bersama asap yang berasal dari es kering yang mengitarinya.


Voren mengulas senyumnya sambil menatap Soraya dengan penuh arti.


"Soraya, menikahlah denganku," kata Voren.


Soraya tertegun mendengar perkataan Voren.


"Voren," kata Soraya sambil menatap skeptis ke arah Voren.


"Soraya, selama lima belas tahun ini, aku terus mencintaimu. Perasaanku padamu dari dulu, kini, dan nanti tidak akan pernah berubah, Soraya," kata Voren.


Entahlah, sudah berapa kali Soraya selalu menolak saat Voren mengutarakan perasaannya. Yang pasti selama lima belas tahun, Voren tetap konsisten dalam mencintai Soraya. Voren bahkan tidak bersedia mengencani wanita mana pun agar ia tetap fokus dalam mencintai Soraya.


"Jangan lari atau pun menghindar lagi, Soraya!" kata Voren.


Soraya menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Mengapa Voren begitu gigih?


"Voren, berapa kali harus kukatakan padamu, bahwa jawabanku tetap sama! Baik itu dulu, kini, mau pun nanti," kata Soraya.


Doni mencoba mengingat-ingat dengan pasti berapa banyak penolakan yang sudah dilakukan oleh Soraya dalam kurun waktu lima belas tahun ini.


Tujuh tahun yang lalu adalah yang ketiga belas kali, itu berarti sekarang adalah yang keempat belas, batin Doni.


"Voren, sungguh tak pantas pria yang sudah menikah sepertimu menyatakan cinta padaku! Pantas saja istrimu jadi begitu marah padaku!" tandas Soraya.


"Soraya! Aku sudah akan bercerai dari istriku! Doni sudah mengurus perceraianku!" kata Voren.


"Aku sungguh ingin hidup bersamamu, Soraya! Selama ini aku selalu dan terus menunggumu! Masih belum cukupkah bagimu penantianku selama ini?" tanya Voren.


Soraya kembali menghela napas berat dan menatap lurus ke arah Voren.


"Voren, kutegaskan padamu, aku tidak pernah memintamu untuk menungguku! Berapa kali harus kukatakan padamu, Voren?! Aku tidak bisa menerima cintamu, baik itu dulu, kini, dan nanti!" kata Soraya.


Ekspresi Voren menegang, lagi-lagi pernyataan cintanya harus ditolak seperti ini.


"Soraya, apa alasanmu menolakku? Dari dulu kau tidak pernah mengemukakan alasanmu!" kata Voren.


"Voren, lantas mengapa kau mencintaiku?" tanya Soraya.


"Soraya, apa perlu alasan untuk mencintai seseorang?!" Voren balik bertanya.


"Voren, apa perlu alasan untuk tidak mencintai seseorang?" Soraya balas bertanya.

__ADS_1


Voren dan Soraya saling melemparkan tatapan skeptis. Atmosfer penuh ketegangan benar-benar tercipta dengan sempurna. Doni merasa perutnya melilit karena menyaksikan ketegangan ini.


"Soraya, kumohon! Aku benar-benar sangat mencintaimu! Aku ingin hidup bersamamu dan membahagiakanmu! Itulah yang menjadi impianku selama ini, Soraya!" kata Voren dengan tegas.


Soraya merasa jantungnya seakan berhenti berdetak lantaran mendengar perkataan Voren. Kata-kata tersebut membuat memori yang selama ini dikuburnya dalam-dalam seakan ditarik untuk dibangkitkan kembali.


"Soraya, kumohon jangan pergi dan menghindar lagi! Jika kau memang belum siap menerima cintaku, berapa lama lagi aku harus menunggumu? Haruskah sepuluh atau dua puluh tahun lagi? Jika itu memang maumu, aku siap menunggumu! Bahkan jika harus menunggumu seumur hidupku akan kulakukan!" kata Voren.


Tuan Voren, Anda benar-benar sungguh menyedihkan saat menjadi budak cinta, Doni membatin.


Bagi Doni, Tuan Voren tentulah menyia-nyiakan ketampanan dan waktu yang terus bergulir hanya untuk mencintai wanita yang tidak mencintainya.


"Voren, aku benar-benar akan pergi jika kau terus bersikap seperti ini!" kata Soraya.


"Kau tidak akan bisa pergi ke mana-mana, Soraya! Tempat ini sedikit jauh dan terisolasi dari dunia luar, aksesnya pun terbatas!" kata Voren sambil mengulas senyumnya.


Jadi itu alasan Anda mengadakan piknik dadakan ini, Tuan, Doni kembali membatin.


"Voren, apa kau sungguh ingin tahu alasan mengapa aku tidak bisa menerima cintamu?" tanya  Soraya.


"Soraya, aku bukan orang yang bisa menerima penolakan!" jawab Voren.


"Aku tidak menerima cintamu karena aku tidak mencintaimu, Voren," kata Soraya.


"Kenapa kau tidak mencintaiku? Memangnya apa kurangku? Apa yang harus kupenuhi agar kau bisa mencintaiku, Soraya?!" kata Voren.


"Soraya, aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu! Membesarkan anak-anak kita dan hidup berbahagia selamanya!"


"Singkirkan semua keraguan dan kebimbangan yang ada di hatimu! Kau tidak perlu ragu pada tekadku ini, Soraya!" kata Voren lagi.


Voren masih menatap Soraya, terlihat jelas Voren berusaha mengendalikan emosinya. Penolakan Soraya jelas bukan hal yang diinginkan oleh Voren.


"Maaf, Voren, aku sungguh tidak bisa memenuhi keinginanmu itu!" kata Soraya.


"Kenapa, Soraya?! Kenapa?!" seru Voren yang merasa telah kehilangan kesabaran.


Voren menarik napasnya, berusaha menahan amarah yang meluap-luap, berkecamuk dalam dadanya. Bertahun-tahun sudah lamanya ia menunggu jawaban yang berbeda setiap kali ia menyatakan cintanya pada Soraya, berharap suatu hari nanti jawaban tersebut akan berubah seiring berjalannya waktu.


"Soraya, tolong jangan kecewakan aku lagi," kata Voren berusaha menjaga emosinya.


"Voren, sungguh aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu! Tapi inilah jawabanku yang tak akan pernah berubah!" kata Soraya.


"Baiklah, aku pun akan begitu, Soraya! Aku akan tetap mencintaimu dan menunggumu hingga akhirnya kau mencintaiku!" kata Voren.


Soraya mengulas senyumnya, dalam benaknya saat ini semua ingatannya saling tumpang tindih.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Soraya," suara-suara itu membuat luka lama yang disimpan Soraya kembali menganga dan berdarah.


"Aku mencintaimu, percayalah, hanya kau satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini," suara-suara dari masa lalu Soraya datang menghantui Soraya.


Tidak! Aku tidak akan pernah percaya dengan cinta lagi! Cinta hanyalah omong kosong! Batin Soraya bergelut dan bergulat, membuatnya tertekan.


Soraya mengambil vas bunga yang berada di tengah meja makan dan memecahkan ujungnya.


"Voren! Aku lebih memilih kematianku daripada harus percaya dengan cinta!" Soraya mengacungkan ujung vas bunga runcing itu ke arahnya.


"Soraya!" sergah Voren dan Doni bersamaan.


Doni bergegas menghalangi perbuatan nekat Soraya, Doni harus bisa merebut pecahan vas itu dari tangan Soraya.


"Maaf, Voren, biarkan aku pergi, Voren!" kata Soraya.


"Tidak, Soraya! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku lagi! Aku mencintaimu, Soraya!" seru Voren.


Soraya tersenyum kembali sebelum menghujamkan pecahan vas bunga itu ke perutnya.


"Soraya!" seru Voren.


Voren langsung berlari dari kursinya, menahan tubuh Soraya yang ambruk dan bersimbah darah. Doni merasa lututnya lemas, hal yang tak terduga benar-benar terjadi.


Ia berusaha untuk tetap tenang dan memanggil bantuan.


"Soraya! Tidak! Soraya!" teriak Voren sambil memeluk tubuh Soraya yang terkulai.


"Voren, maafkan aku," kata Soraya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


"Aku- tidak bisa mencintaimu," kata Soraya terbata-bata karena menahan rasa sakit akibat luka di perutnya.


"Tidak, Soraya, kumohon! Soraya!" Voren gemetaran  dengan air mata yang mulai mengalir.


...~...


Voren masih tak henti-henti mondar-mandir di depan ruang IGD. Rasa frustrasi benar-benar menderanya. Tubuhnya masih gemetaran lantaran harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, wanita yang ia cintai harus terkulai bersimbah darah dalam pelukannya.


"Doni, bagaimana ini, Doni?" Voren langsung memeluk Doni.


Doni mengusap lembut punggung Tuan Voren yang kembali menangis dalam pelukannya. Doni harus kembali bekerja keras agar masalah ini jangan sampai diketahui oleh orang lain selain mereka.


Doni pun rasanya benar-benar lemas melihat Soraya senekat itu untuk mengakhiri nyawanya lantaran menolak cinta Tuan Voren.


Saat ini mereka hanya bisa menunggu tim dokter yang tengah menangani Soraya. Keduanya hanya bisa bungkam dan saling menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


...~...


__ADS_2