Jodoh Instan

Jodoh Instan
Gaun


__ADS_3

Velan sudah berada di kiosnya. Ia mulai mengeksekusi pesanan kue yang masuk. Di dalam sepetak kiosnya itu ia mulai bekerja. Menyiapkan semua bahan-bahan untuk membuat kue, mulai dari tepung hingga cokelat. Untuk membuat kue brownis berukuran mini tidak membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengerjaannya.


"Velan, tumben hari Minggu juga buka pesanan," sapa Bu Tiwi.


Bu Tiwi adalah wanita paruh baya bertubuh gempal, terkenal sebagai juragan kios yang memiliki banyak petakan kios. Setiap bulan wanita itu datang untuk menarik uang sewa kios. Wanita itu selalu datang dengan tas pinggang dan buku kwarto panjang berukuran setengah folio yang menjadi andalannya.


"Iya Bu Tiwi, lagi banyak pesanan," sahut Velan sambil mengulas senyum kikuk.


Mampus, uang sewa harus dibayar, pakai uang apa ya? Batin Velan.


"Velan, kamu loh sudah jadi istri orang kaya, kenapa kok masih kejar setoran begitu?" tanya Bu Tiwi.


"Yah, namanya saya mencari kesibukan Bu, habisnya bosan juga, di rumah hanya sendirian sementara suami saya sibuk bekerja," jawab Velan yang tentu saja tidak sepenuhnya berdusta.


"Oh, kamu pasti bosan sekali ya, hanya pergi ke salon dan melayani suami di ranjang!" Bu Tiwi tertawa.


"Yah, jadi istri orang kaya kan tugasnya memang seperti itu, hanya mempercantik diri dan berkutat di kasur! Tidak perlu mengurusi sumur dan dapur!" Bu Tiwi masih tetap tertawa.


Velan hanya mengulas senyumnya. Istilah kasur, sumur, dan dapur sendiri memang begitu familiar untuk merujuk kepada tugas seorang istri. Sumur diistilahkan sebagai kegiatan bersih-bersih, seperti mencuci pakaian, mencuci piring dan sebagainya. Dapur sendiri memiliki artian untuk mengurusi makan keluarga. Sementara kasur dianggap sebagai istilah yang merujuk pada kegiatan nafkah batin.


"Jadi Velan, hari ini bisa dong, bayar sewa?" tanya Bu Tiwi membuyarkan lamunan Velan.


"I-iya, Bu Tiwi," Velan tergagap.


Segera ia mengambil dompetnya dan menyerahkan uang sewa kios pada Bu Tiwi.


"Oh ya, Velan, saya punya rencana bahwa mulai bulan depan, uang sewa kios akan saya naikkan lima puluh persen, mengingat sekarang kan semua harga pada naik," kata Bu Tiwi sambil menghitung lembaran uang sewa yang ia terima dari Velan.


"Apa? Sewanya naik?" tanya Velan terperanjat.


"Ya harus itu, Velan, saya loh sudah dua tahun tidak pernah naikkan uang sewa," sahut Bu Tiwi segera menyimpan uangnya ke dalam tas pinggang lalu membuka buku catatan berukuran satu perempat folio.


Wanita paruh baya itu segera mencatat nama Velan yang sudah membayar uang sewa kios bulan ini. Bu Tiwi tentu saja harus rutin menagih uang sewa setiap bulannya agar jangan sampai ada penyewa kiosnya yang menunggak.


Hati Velan mencelos mendengar bahwa uang sewa kiosnya akan dinaikkan sebesar lima puluh persen. Untuk sepetak kios berukuran luas tiga setengah meter persegi tentulah menjadi mahal sekali jika sewanya dinaikkan lima puluh persen.


"Bu Tiwi, banyak sekali naiknya," keluh Velan.


"Tidak banyak kok itu, Velan, apalagi untuk istri orang kaya sepertimu! Kau berjualan saja untuk sekadar cari kesibukan toh, bukan mata pencaharian utama," kata Bu Tiwi seraya tertawa.


Velan hanya tersenyum kecut, mana mungkin ia bisa mengatakan bahwa berjualan kue benar-benar menjadi mata pencaharian utamanya. Velan sadar bahwa menjadi istri orang kaya saat ini hanyalah predikat baru yang ia sandang. Ia bahkan tidak berani meminta uang dari suaminya lantaran merasa ia belum menjadi seorang istri seutuhnya.


"Velan, kalau kamu memang merasa keberatan uang sewanya naik, kamu bisa cari tempat lain! Masih banyak kok yang mau menyewa kios saya ini," sahut Bu Tiwi seraya tertawa.


Bu Tiwi segera meninggalkan kios Velan, wanita itu menuju ke kiosnya yang lain untuk menagih pembayaran sewa.


Velan kembali termenung, lagi-lagi otaknya harus dipakai untuk berpikir sekeras mungkin. Apa sebaiknya ia pindah saja dari kios ini ya?


Masalahnya kios tempat Velan mengadu nasibnya ini berlokasi di daerah yang strategis. Berada dalam kawasan perumahan, dekat dengan pasar yang menjual bahan baku, bahkan dekat dengan kios penjual telur.


Kalau Velan memindahkan usahanya ini ke apartemen suaminya, apakah memungkinkan?


Velan cepat-cepat menepis semua hal itu. Saat ini yang terpenting adalah menyelesaikan pesanan kue dari pelanggannya.

__ADS_1


...~...


Lita menunggu di mobilnya sambil mendengarkan musik. Matanya mengawasi Velan dan Desi yang nampak terburu-buru menutup kios. Velan dan Desi segera masuk ke mobil milik Lita, yang nampak sudah menunjukkan sikap tidak sabar.


"Rasanya lama betul," keluh Lita sambil mengawasi Velan yang langsung memasang sabuk pengaman.


"Maaf, pesanan kue baru saja diambil pembeli," kata Velan.


"Luar biasa ya, Velan, istri orang kaya tapi masih mengejar dollar," Desi terkekeh.


"Kurang ya uang yang diberikan suamimu, Velan?"  sahut Lita seraya tertawa.


"Haha," Velan hanya menjawab pertanyaan Lita dengan tawanya saja.


Lita segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.


"Oh ya, ngomong-ngomong, kita mau ke mana?" tanya Velan.


"Ada butik yang baru buka di pusat kota, masih soft opening sih, tapi menurut informasi yang beredar, banyak promo menarik yang ditawarkan!" sahut Desi antusias.


"Wah, benarkah?" tanya Velan.


"Makanya itu, kita tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini!" sahut Lita antusias.


Velan kembali termenung, uang apalagi yang bisa ia pakai untuk membeli pakaian ya?


...~...


Pasti harga pakaian di sini mahal sekali, Velan membatin sambil melihat-lihat deretan koleksi gaun yang tersusun di etalase.


Gaun-gaun indah itu benar-benar membuat Velan terpesona. Velan sepertinya harus memiliki salah satu koleksi gaun yang dipajang. Terlebih saat ini ia adalah istri seorang pria dari kalangan atas. Tidak menutup kemungkinan bahwa Velan akan menghadiri acara-acara formal untuk mendampingi suaminya.


"Selamat datang di Sky's,"


Seorang wanita cantik dan bertubuh tinggi menghampiri Velan dan teman-temannya. Wanita cantik itu memakai gaun terusan berwarna putih tanpa lengan. Rambut hitamnya yang panjang, lurus, dan berkilau tergerai indah, begitu kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Wajahnya begitu cantik dengan sapuan riasan minimalis. 


"Ih, cantiknya, aku kira patung manekin," ceplos Velan seraya terkekeh.


"Manusia itu, manusia," Desi menyikut rusuk Velan.


Wanita cantik itu mengulas senyum ramah.


"Mbak, ada promo apa saja?" tanya Lita begitu antusias.


"Berhubung sekarang sedang soft opening, banyak promo, salah satunya beli dua gaun gratis satu gaun," jawab wanita cantik itu.


"Ih, pasti mahal sekali ya, apa sudah yang harus kujual untuk beli gaun-gaun indah itu?" tanya Velan.


Wanita cantik itu kembali tersenyum mendengar pertanyaan Velan.


"Velan, jangan kayak orang susah begitu dong!" cibir Lita. "Kamu loh istrinya orang kaya!" lanjut Lita seraya terkekeh.


Velan tersenyum kecut. Andai kalian semua tahu bahwa istri orang kaya hanya judul untukku saja.

__ADS_1


"Kami lihat-lihat dulu ya, Mbak Cantik," kata Desi dan Lita yang mulai berpetualang.


"A-anu, Mbak," kata Velan ke arah wanita cantik itu. "Bisa minta tolong gaun yang cocok untuk saya itu yang seperti apa ya?" 


Wanita cantik itu kembali mengulas senyum, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Soraya sangat senang jika ada pelanggan yang bertanya dan meminta pendapatnya. Di mata Soraya wanita berperawakan mungil ini pasti cocok dengan gaun berpotongan pendek sehingga membuat tubuh terlihat lebih tinggi.


Velan mengikuti wanita cantik itu, menuju ke deretan gaun berpotongan pendek.


"Menurut saya, Anda sangat cocok memakai gaun-gaun berpotongan pendek, sehingga membuat Anda terlihat lebih tinggi dan proporsional," kata Soraya.


Gaun hitam dengan kerah V, memiliki panjang selutut itu terlihat begitu seksi di mata Velan. 


"Hindari pakaian berkerah tinggi yang menutupi leher karena bisa membuat tubuh Anda terlihat makin mungil," lanjut Soraya.


"Oh begitu, terima kasih atas saran Anda," kata Velan.


"Bu Soraya," terdengar seorang pegawai butik memanggil Soraya.


"Baiklah, kalau begitu, permisi," kata Soraya meninggalkan Velan.


Velan menatap gaun yang dipilihkan oleh wanita cantik itu. Velan sungguh takut untuk melihat label harganya. 


"Bagaimana Velan, sudah dapat gaunnya?" tanya Lita yang datang dengan membawa setengah lusin gaun.


"Sungguh gaun-gaun yang sangat bagus dan cantik sekali, aku sampai bingung mau pilih yang mana," sahut Desi yang juga membawa setengah lusin gaun.


"Cepat putuskan, beli dua gratis satu loh!" kata Lita.


"Aku akan mencoba gaunnya dulu," kata Desi.


...~...


"Teman-teman, terima kasih ya, sudah memberiku gaun gratis," kata Velan dengan hati yang berbunga-bunga.


"Yah, lagipula gaunmu juga yang harganya lebih murah daripada gaun-gaun kami," sahut Lita.


"Yah, namanya juga gratis, tapi lumayan ya, gaunnya bagus-bagus dan bahannya juga bagus-bagus," kata Desi.


Velan, Desi, dan Lita segera memasuki mobil Lita begitu meninggalkan butik. Mata Velan tertuju pada sebuah mobil mewah yang terhenti di samping mobil Lita.


Velan terperangah karena melihat sosok suaminya turun dari mobil itu begitu Doni membukakan pintu. 


Velan tentu saja bertanya-tanya, untuk apa suaminya datang ke butik ini?


Terlintas dalam benak Velan bahwa mungkin saja suaminya sedang menyiapkan kejutan untuknya. Kalung dan anting berlian, lalu gaun yang indah untuknya.


Ya, ampun, betapa romantisnya suamiku! Batin Velan.


Sepertinya aku harus bersandiwara jika suamiku datang dan memberiku kejutan, Velan kembali mengulas senyumnya dengan perasaan berbunga-bunga.


...~...

__ADS_1


__ADS_2