Jodoh Instan

Jodoh Instan
Soraya


__ADS_3

Seorang wanita nampak sibuk berkutat di depan kertas-kertas yang saat ini memenuhi meja kerjanya. Peralatan gambar seperti pensil warna, krayon, cat air warna-warni, kuas, dan lainnya nampak berserakan di meja kerja berukuran besar yang biasa ia gunakan untuk rapat dengan para anggotanya.


Wanita itu menghela napasnya berkali-kali sambil menggoreskan pensil warna-warni ke setiap sketsa gaun yang sudah ia gambar. Dengan begitu teliti ia menambahkan detail-detail pada gaun-gaun yang telah ia rancang selama satu tahun terakhir.


Wanita itu segera mengangkat teleponnya saat ponselnya berdering untuk yg kesekian kali. Ia menyerah dan memilih untuk menjawab panggilan tersebut setelah puluhan kali membiarkan ponselnya berdering.


"Halo," jawab wanita itu dengan suaranya yang lembut.


"Soraya," kata penelepon itu terdengar senang lantaran panggilannya akhirnya dijawab juga.


"Hai, Mary," sapa wanita bernama Soraya itu.


"Bagaimana progres kerja untuk pagelaran tunggalmu? Tenggat waktunya tiga bulan lagi, apakah akan keburu?" tanya Mary terdengar cemas.


Soraya menghela napas berat.


"Apa kau masih terkendala dengan masalah dana?" tanya Mary.


Soraya hanya bisa terdiam, saat ini ia memang sedang terkendala masalah pendanaan lantaran kurangnya sponsor untuk mendanai pagelaran busananya.


Menjadi seorang desainer adalah impian Soraya namun kedua orang tua Soraya tidak mendukung impian besarnya itu. Idealisme Soraya begitu tinggi, ia ingin pagelarannya ini sukses berkat usahanya sendiri tanpa perlu campur tangan dari orang lain. Sehingga butuh waktu yang cukup lama agar Soraya bisa mewujudkan impiannya itu. Soraya ingin meraih impiannya dengan kemampuannya sendiri untuk membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa ia tidak main-main dalam memperjuangkan mimpi-mimpinya.


"Apa kau sudah mengajukan proposal ke semua kenalanmu?" tanya Mary.


"Sudah, namun aku ragu, Mary," jawab Soraya.


"Apa maksudmu?" tanya Mary lagi.


"Aku mendapat jawaban dari salah satu sponsor, namun aku ragu apakah akan bekerja sama atau tidak," jawab Soraya masih dengan penuh keraguan yang terdengar jelas dari nada bicaranya.


"Soraya, tolong jangan membuatku penasaran seperti itu," keluh Mary.


"Voren Lazaro bersedia memberiku sponsor, Mary," kata Soraya.

__ADS_1


"Oh," Mary ber-oh sebelum akhirnya tertawa.


"Mary, apakah ada yang lucu?" tanya Soraya.


"Ya ampun, pria itu lagi," Mary masih tetap tertawa.


Soraya memutar bola matanya. Ia sungguh tahu alasan mengapa Mary tertawa terbahak-bahak seperti itu setiap kali mendengar nama Voren Lazaro.


"Yah, sungguh bagus jika pria itu mau menjadi sponsormu, Soraya, dengan begitu pagelaran busanamu akan segera terealisasi sesuai dengan rencana yang sudah kau susun," kata Mary.


"Hanya saja, aku ragu karena Voren meminta agar aku membuat pagelaran di kota tempatnya tinggal, ia juga memintaku untuk membuka butik di sana, kesepakatan yang ia berikan seperti itu," kata Soraya.


"Apa kau takut Voren masih berharap padamu?" tanya Mary penuh selidik.


Soraya tidak langsung menjawab.


"Soraya, apa kau sudah mendengar kabar bahwa Voren Lazaro sudah menikah?" tanya Mary lagi.


"Ya, aku mendengar kabar itu," jawab Soraya.


"Soraya, bukankah membuat pagelaran tunggal ini adalah impianmu sejak lama, dan kau sudah fokus menggarapnya dalam tiga tahun terakhir? Ini kesempatan emas untukmu, Soraya!" kata Mary berusaha meyakinkan Soraya.


Soraya nampak berpikir keras sambil membuat coretan-coretan abstrak di selembar kertas kosong. Saat ini apa yang dikatakan Mary adalah benar. Kesempatan untuk mendapatkan sponsor utama demi terselenggaranya pagelaran busana tunggal Soraya sudah ada di depan mata. Soraya tentu harus bersikap profesional dengan mengesampingkan masa lalu antara ia dan Voren. Sebuah masa lalu yang tidak boleh memengaruhi impian Soraya.


...~...


Soraya berusaha untuk tidak tegang saat turun dari sebuah mobil yang mengantarnya ke sebuah restoran mewah di kawasan perbukitan. Ia segera melangkah memasuki restoran berkonsep alam terbuka yang dikelilingi rimbun pepohonan.


"Selamat siang, Soraya," sapa Doni yang langsung menyambut kedatangan Soraya.


"Doni," Soraya nampak terpana melihat kehadiran Doni.


Doni terlihat tampan dengan setelan jas berwarna abu-abu terang. Doni mengulas senyum ramahnya, ia sungguh tak menduga akan bertemu dengan Soraya lagi setelah sekian lama mereka tidak pernah berjumpa. Reuni dadakan ini pun tercipta lantaran Soraya sepakat untuk menjalin kerja sama dengan Tuan Voren dalam rangka menjadi sponsor untuk acara pagelaran busana tunggal yang rencananya akan digelar dalam dua bulan ke depan sesuai dengan proposal yang diajukan Soraya.

__ADS_1


"Aku sungguh tak menduga bahwa kau masih bekerja untuk Voren," kata Soraya saat ia berjalan menyusuri koridor restoran yang nampak sepi.


"Terima kasih atas pujianmu, Soraya," kata Doni.


Doni segera mempersilakan Soraya duduk di kursi di belakang meja bundar yang menyuguhkan pemandangan lembah hijau. Meski siang hari namun rimbunnya pepohonan membuat udara terasa begitu sejuk.


Soraya segera duduk di kursinya, matanya menatap sosok pria yang sudah tujuh tahun terakhir tak pernah ia temui lagi. Bagi Soraya, Voren sama sekali tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pria itu tetap terlihat senantiasa tampan dan mewah.


Soraya mengulas senyumnya ke arah pria yang saat ini sedang duduk dengan tangan terlipat di depan dada dan bersandar pada sandaran kursi.


"Voren, sudah lama sekali kita tidak bertemu," sapa Soraya.


"Aku rasa tahun ini adalah tahun ke tujuh," Voren menanggapi perkataan Soraya.


Soraya tetap mempertahankan senyumnya.


"Terima kasih sudah bersedia untuk menemuiku, Voren," kata Soraya.


"Ya, aku senang kau bersedia bertemu denganku meski selama ini kau selalu memilih untuk menghindar dariku," Voren mengulas senyumnya.


Soraya menegang mendengar perkataan Voren, namun ia tetap tersenyum karena pria ini sungguh pandai membuatnya merasa bersalah.


"Voren, aku sungguh berterima kasih karena kau bersedia menjadi sponsor untuk pagelaran busana tunggalku," kata Soraya.


"Ya, aku senang bisa membantu mewujudkan salah satu impianmu, Soraya," kata Voren.


Pelayan segera datang dan menghidangkan makanan di atas meja.


Sementara Voren masih tak lepas menatap ke arah wanita yang selalu membuat hatinya tertawan. Soraya masih terlihat cantik meski tidak sama seperti lima belas tahun yang lalu. 


Soraya memiliki rambut hitam yang lurus, lembut, dan tergerai indah, begitu kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Soraya memiliki bentuk wajah oval, sepasang mata yang berbinar indah, hidung mancung, dan bibirnya yang dipoles perona bibir berwarna merah muda lembut. Soraya mengenakan gaun hitam tanpa lengan, terlihat sempurna di tubuhnya yang ramping dengan tinggi 168 cm. 


Senyumnya yang menawan itu membuat Voren tak lepas memandang wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta dan membawa pergi semua cinta yang ia miliki selama lima belas tahun lamanya.

__ADS_1


Dan hingga detik ini, Voren masih tetap mencintai Soraya.


...~...


__ADS_2