
Berkali-kali Velan menguap menahan rasa kantuk yang menyerangnya. Ia berbaring di lantai dengan kedua kaki yang berada di atas sofa. Seharian hanya rebahan di unit apartemen mewah sungguh membuatnya merasakan kebosanan yang sangat. Ia menatap jam dinding yang nampak menertawakannya lantaran kini ia benar-benar telah menjadi salah satu anggota dari kaum rebahan macam kakak-kakaknya. Sungguh membosankan, karena di unit apartemen ini sama sekali tidak ada televisi. Sehingga Velan hanya menjadikan tujuh ekor ikan cup*ng yang berenang dalam akuarium mini itu sebagai tontonannya.
Velan sudah mengambil istirahat selama satu minggu dalam rangka melangsungkan pernikahan. Sesungguhnya ia sudah berandai-andai akan melewatkan masa bulan madu yang indah bersama suaminya. Terserah mau dibawa ke mana yang penting bisa menghabiskan waktu berduaan hanya untuk bermesraan seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.
Pasti menyenangkan sekali rasanya, pergi bulan madu ke daerah pegunungan yang dingin. Setiap saat berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama dengan suaminya yang begitu berkilauan. Mereka saling menatap mesra satu sama lain, tersenyum dengan senyuman penuh arti tanpa harus banyak mengucapkan kata-kata. Namun tiba-tiba dari dalam selimut muncul sosok Doni yang menyeringai jahat.
"Arggh!" pekik Velan yang terlonjak dari sesi rebahannya di lantai.
"Cih, dasar pria menyebalkan itu! Tidak di dunia nyata, bahkan dalam khayalanku saja masih tetap mengganggu!" gerutu Velan.
Velan bangkit dan mendekat ke arah tujuh buah akuarium berisi tujuh ekor ikan cup*ng peliharaan Voren.
"Kalian bahkan diakui sebagai anak angkat suamiku! Lantas, apa ibu angkat kalian adalah Doni?!" tanya Velan ke arah tujuh ekor ikan cup*ng yang nampak berenang dengan santai.
"Kalian harus tahu, akulah istri sah dari ayah angkat kalian! Aku yang akan melahirkan saudara angkat kalian yang berwujud manusia! Doni mana bisa mengandung anak suamiku! Jadi kalian harus mendukungku secara penuh! Akulah yang menjadi ibu angkat kalian! Aku akan merawat kalian dengan baik dan benar!" Velan kembali melanjutkan orasinya.
Tujuh ekor ikan cup*ng itu nampak tidak menanggapi perkataan Velan. Mereka tetap asyik berenang dan tak peduli meski Velan melakukan kampanye kepada mereka.
"Lihat saja jika kalian tidak mendukungku, jangan salahkan kalau kalian akan kujadikan Sambal Gami Cup*ng buatanku!" kata Velan dengan nada mengancam.
...~...
Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh petang dan Velan masih tetap sendiri. Mendadak Velan merasakan kehampaan yang nyata lantaran biasanya di rumahnya selalu ramai empat kakak laki-laki yang selalu membuat keramaian yang tidak penting. Seperti saat Tomi dan Yoyok terbawa emosi ketika menyaksikan sinetron, Taki dan Toro yang sibuk menyanyi sambil bermain gitar, dan Velan yang akan sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka.
Velan pikir dengan menikah semua masalah yang sedang menimpanya akan selesai. Velan akan hidup berbahagia dengan suaminya, melepaskan tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga, lalu semua utangnya bisa lunas dengan bantuan dari suaminya yang kaya raya itu.
Namun, siapa yang akan menduga bahwa kini Velan harus menghadapi masalah yang baru lagi? Suaminya yang sempurna itu tidak tertarik pada wanita sehingga ia punya misi untuk membuat pria itu tertarik padanya. Lalu Velan juga harus menghadapi Doni, sang asisten pribadi, yang kehadirannya jelas sekali menjadi orang ketiga di antara Velan dan suaminya.
Velan segera menuju ke dapur, ia mulai menyiapkan makan malam. Saat ini yang bisa dilakukan oleh Velan adalah fokus untuk melayani suaminya saja. Sambil mencari cara agar suaminya bisa kembali ke fitrahnya sebagai seorang pria yang tertarik pada wanita.
Terdengar pintu unit apartemen itu terbuka, Velan segera menuju ke depan pintu untuk menyambut kedatangan suaminya. Asisten pribadi suaminya nampak menempel ketat di belakang sang suami.
__ADS_1
Aduh, Pak Doni, apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menempeli suamiku macam kerbau dan burung jalak? Velan membatin.
"Selamat datang, Suamiku," sapa Velan dengan mengembangkan senyum cerianya.
Voren hanya mengulas senyumnya saat berjalan melalui Velan.
"Pak Doni," sapa Velan.
"Terima kasih sudah menyambut kami, Nona," kata Doni dengan senyum yang terulas.
"Suamiku, aku sudah menyiapkan air mandi untukmu," kata Velan segera mengikuti Voren yang segera duduk di sofa.
Velan segera meletakkan sandal bulu berwarna hitam saat Voren mulai melepas sepatunya. Voren segera memandangi ikan-ikan peliharaannya.
"Suamiku, aku sudah memberi makan anak-anak kita, aku juga sudah membersihkan dan mengganti air dalam akuarium mereka, hanya saja tetap banyak muncul buih-buih kecil itu," kata Velan.
Anak-anak kita? Batin Voren. Sejak kapan mereka jadi anakmu?
"Apa airnya perlu kuganti lagi?" tanya Velan.
"Oh begitu, lantas, bagaimana dengan kita suamiku?" tanya Velan tersenyum penuh arti ke arah Voren.
Doni menyembunyikan senyumnya.
Nona Velan sungguh wanita yang berani dan frontal. Di ranjang pasti sangat mendominasi, batin Doni.
"Aku sudah sangat siap untuk memulai fase perkawinan bersamamu, Suamiku," bisik Velan tepat di telinga Voren.
Voren tersenyum untuk menyembunyikan ekspresi ngerinya. Voren bukannya merasa bergairah, yang ada ia malah jijik dengan wanita murahan.
"Suamiku, aku siapkan makan malam, kita makan sama-sama, ya," kata Velan lagi.
__ADS_1
"Maaf, Nona Velan, batas makan malam untuk Tuan Voren adalah pukul enam sore," kata Doni.
"Oh, kenapa kau tidak mengatakan padaku lebih awal, Pak Doni? Lihat, aku bahkan sudah memasak yang banyak," kata Velan.
"Maaf Nona, saya pikir Anda sudah tahu," kata Doni.
"Pak Doni, bagaimana saya bisa tahu? Apa Anda pikir saya seorang manusia yang punya kekuatan super untuk membaca pikiran ataupun melihat ke masa depan?" tanya Velan.
Ini salahmu, Pak Doni, karena kau tidak mau membagi informasi apapun tentang suamiku! Rutuk Velan dalam hati, namun senyumnya tetap terkembang.
Entah mengapa perdebatan yang berlangsung antara Velan dan Doni nampak seperti perdebatan antara istri muda dengan istri tua.
"Sebaiknya aku mandi dulu," kata Voren beranjak dari sofa.
"Suamiku, aku temani, ya? Akan kugosok punggungmu," kata Velan.
"Istriku, alangkah lebih baik jika kau menyiapkan makan malam, lalu kita makan malam bersama," kata Voren.
"Baik, Suamiku," jawab Velan.
Voren bergegas menuju ke kamarnya meninggalkan dua orang yang saling bersitatap dengan senyum yang sama-sama terulas.
"Pak Doni, Anda tidak pulang? Menurutku lebih baik Anda pulang sekarang, biarkan aku yang mengurus semua kebutuhan suamiku," kata Velan.
"Maaf, Nona Velan, saya tidak akan pulang sebelum Tuan Voren meminta saya untuk pulang," jawab Doni secara diplomatis.
Velan kembali mengulas senyumnya namun dalam hati ia mengumpat kesal.
"Wah, loyalitas Anda sungguh tanpa batas, Anda seperti tidak punya kehidupan pribadi saja," kata Velan.
Jangan katakan bahwa kehidupan pribadi suamiku adalah kehidupan pribadimu, Pak Doni!
__ADS_1
"Nona Velan, sepertinya Anda belum memahami Tuan Voren, ya," kata Doni. "Sebaiknya Anda lebih mengakrabkan diri dengan Tuan Voren, namun tentu harus tetap menjaga sikap Anda, jangan membuat Tuan Voren menilai buruk tentang Anda," kata Doni memberi nasehat pada Velan.
...~...