Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E28


__ADS_3

Velan memasuki kafe yang lokasinya berada di lantai teratas Hotel J, salah satu hotel berbintang lima yang berada di pusat kota. Kafe mewah dan elit tersebut biasa menjadi tempat nongkrong para sosialita, eksekutif muda, hingga para selebgram.


Kafe mewah itu jelas tidak bisa dibandingkan dengan kafe-kafe yang menjamur di pusat kota. Kafe dengan pencahayaan temaram, musik yang mengalun lembut, hingga pengunjung yang sepi membuat kafe tersebut benar-benar terasa keeksklusifannya.


Velan mengikuti pria itu yang memilih meja di dekat  dinding kaca, menyuguhkan pemandangan kota. Derasnya hujan membuat jalan-jalan di bawah sana mulai kembali terendam banjir. Saat ini yang menjadi fokus Velan adalah sosok pria tampan dalam balutan jas berwarna merah gelap berpadu dengan kemeja hitam. Pria itu memancarkan aura yang kuat, bersama pesona maskulin yang kentara.


Yah, namanya juga pria panggilan, jelas penampilan adalah segala-galanya, Velan membatin.


Velan masih mengamati pria tampan itu dengan saksama karena dalam benaknya mendadak terlintas sebuah gagasan cemerlang yang bisa jadi solusi permasalahan Velan saat ini.


Namun Velan menimbang-nimbang kembali gagasan tersebut. Hingga pelayan datang membawa buku menu dan membuyarkan lamunan Velan.


"Silakan, mau pesan apa?" tanya pelayan itu ramah.


Velan membuka buku menu itu, di dalamnya tidak tertera harga yang membuat Velan sungguh merasa tidak enak. Hanya memberi tumpangan lalu mendapat traktiran harga selangit rasanya sungguh tidak sesuai.


"Nona, silakan pesan apa pun yang Anda inginkan," kata pria tampan itu.


"Ahaha, apa ya, saya bingung," Velan terkekeh.


Pria itu mengulas senyumnya.


"Chamomile tea panas," kata pria itu ke arah pelayan.


"I-iya, saya juga itu," kata Velan.


"Dua chamomile tea panas, ada tambahan lain?" tanya pelayan membacakan ulang pesanan.


"Itu saja dulu," sahut Velan dengan cepat.


"Baik, mohon ditunggu," kata pelayan, meninggalkan mereka.


Velan kembali menatap pria itu dengan saksama. Pria tampan yang masih tersenyum ramah ke arahnya.


Pria ini benar-benar potensial untuk jadi kekasih bayaran, Velan membatin.


Pria dengan ketampanan di atas rata-rata dan berpenampilan mewah ini jelas mampu bersaing dengan Voren, hanya saja, berapa dana yang harus Velan siapkan agar pria ini bersedia menjadi kekasih pura-pura?


"Tuan, sungguh sebuah kebetulan kita bisa bertemu lagi," kata Velan.


"Anda benar," jawab pria itu dengan singkat. "Saya hampir tidak mengenali Anda, karena Anda terlihat berbeda," kata pria itu.


"Ah ya, ini berkat saran Anda," kata Velan. "Saya benar-benar merasa terbantu dengan saran-saran yang Anda berikan," lanjut Velan.


Pria itu kembali tersenyum ramah, memamerkan deretan gigi yang putih dan rapi.

__ADS_1


"Tuan, mumpung kita bertemu lagi, saya sungguh tidak tahu harus ke mana dan minta tolong pada siapa, namun saat ini saya pikir, hanya Anda yang dapat menolong saya," kata Velan dengan nada memelas.


Velan beranjak dari kursinya, ia langsung berlutut di hadapan pria itu.


"Nona," kata pria itu langsung menahan Velan.


"Tuan, saya mohon tolong saya," kata Velan.


"Nona," pria itu menghela napas berat, menoleh ke segala arah.


"Baiklah, apa yang bisa saya bantu?" tanya pria itu sambil membantu Velan untuk kembali duduk di kursinya.


Velan masih menatap dengan tatapan memelas.


"Tuan, apa Anda serius bisa membantu saya?" tanya Velan.


"Tergantung apa yang bisa saya bantu," jawab pria itu.


Velan menarik napas, mengumpulkan seluruh keberaniannya.


"Tuan, apakah Anda bisa berpura-pura menjadi kekasih saya?" tanya Velan.


...~...


"Saya akan membayar Anda!" kata wanita itu.


"Apa?!" tanya Daren.


"Saya butuh Anda untuk menjadi kekasih pura-pura saja!" jawab wanita itu.


"Nona, bukankah Anda sudah punya suami? Kenapa saya harus menjadi kekasih pura-pura Anda?" tanya Daren.


Wanita itu menunduk.


"Tuan, Anda tentu masih ingat dengan kejadian yang menimpa saya hingga saya meminta saran-saran dari Anda," kata wanita itu.


Daren tentu masih ingat bagaimana wanita ini menangis tersedu-sedu menceritakan kisah hidupnya yang membuat Daren menaruh simpati.


"Tuan, saya mohon tolong jadilah kekasih pura-pura saya!"


"Nona, sebelumnya saya minta maaf, saya bukannya tidak mau membantu Anda, hanya saja, saya tidak mungkin ikut campur dalam masalah rumah tangga Anda," jawab Daren dengan tegas.


"Tuan, saya mohon kepada Anda, saat ini saya hanya bisa bergantung pada Anda! Karena saya tidak tahu harus minta tolong pada siapa, karena menurut saya hanya Anda yang dapat membantu saya! Hanya Anda solusi yang bisa saya temukan!" wanita itu kembali memelas.


Air mata segera menggenang di pelupuk mata wanita itu. Daren menghela napas berat.

__ADS_1


"Tuan, saya akan menceritakan semuanya, saya harap Anda bisa mempertimbangkan hal tersebut," kata wanita itu sambil menyeka air matanya.


Pelayan datang menghidangkan teh dalam wadah french press.


Daren menuangkan teh ke dalam cangkir dan menyerahkan teh berwarna kekuningan beraroma lembut ke arah wanita yang saat ini sedang berusaha menguasai diri lantaran air mata yang mulai menganak sungai.


"Nona, silakan diminum," kata Daren.


Wanita itu mengambil cangkir lalu menghirup aroma yang langsung menenangkannya kemudian menyeruput sedikit.


"Terima kasih, Tuan, maaf saya jadi emosional seperti ini," kata wanita itu.


Wanita itu kembali menyeruput tehnya sebelum meletakkan kembali cangkir teh ke atas meja.


"Tuan, Anda pasti ingat, bahwa saya menceritakan kehidupan pernikahan saya yang begitu miris! Suami saya mengaku tidak tertarik pada wanita, namun ternyata hal tersebut hanyalah alasan suami saya untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya!" wanita itu bercerita dengan air mata yang berlinangan.


"Suami saya berbohong mengenai orientasi seksualnya untuk menutupi perselingkuhan yang dilakukan di belakang saya! Suami saya memilih untuk menceraikan saya, agar dia bisa hidup bersama wanita idaman lainnya!" lanjut wanita  itu.


Daren masih mendengarkan dengan saksama kisah klise tersebut.


"Meski berat, saya pun akhirnya bersedia menerima  keputusan suami saya. Hanya saja, hingga kini suami saya belum kunjung menceraikan saya," kata wanita itu.


"Apa alasan suami Anda belum kunjung menceraikan Anda?" tanya Daren.


"Suami saya sangat menjaga reputasinya!" jawab wanita itu dengan cepat.


"Reputasi?" tanya Daren keheranan.


"Ya, suami saya sangat menjaga nama baiknya! Baginya, nama baiknya adalah harga mati yang harus dijaga dan menjadi prioritas utama!" jawab wanita itu.


"Jadi, Anda bermaksud menjadikan saya sebagai kekasih pura-pura Anda untuk membalas perselingkuhan yang dilakukan suami Anda?" tanya Daren.


Wanita itu menggeleng cepat.


"Saya justru meminta Anda berpura-pura sebagai kekasih saya agar suami saya tidak perlu menunda-nunda lagi perceraian kami!" jawab wanita itu diplomatis.


"Saya menginginkan perceraian agar saya bisa mendapatkan kebahagiaan saya sendiri! Sehingga saya benar-benar bisa memulai kembali kehidupan saya! Saya ingin mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah saya dapatkan selama menjalani pernikahan!" lanjut wanita itu.


"Oleh karena itu, saya harap Anda bisa membantu saya untuk mendapatkan kebebasan saya," wanita itu membuka cincin kawin yang tersemat di jari manis kirinya.


"Ini uang muka yang bisa saya berikan untuk saat ini, sebagai bentuk keseriusan saya."


"Saya mohon Tuan, bantu saya," wanita itu kembali memelas pada Daren.


...~...

__ADS_1


__ADS_2