
"Suamiku," Velan menyambut kedatangan Voren dan Doni.
"Istriku, kau sudah makan malam?" tanya Voren ke arah Velan.
"Belum, Suamiku, aku menunggumu untuk makan bersama," kata Velan dengan senyumnya yang ceria.
"Aku sudah makan, Istriku," kata Voren.
Velan berusaha menutupi rasa kecewanya.
"Nona Velan, akan saya panggilkan petugas room service," kata Doni.
"Terima kasih, Pak Doni," kata Velan.
"Doni, pesankan aku jus jeruk, ya," kata Voren.
"Baik, Tuan," sahut Doni.
"Kalau begitu aku mandi dulu," kata Voren berpamitan.
"Suamiku, aku temani kau mandi ya," kata Velan.
"Maaf Istriku, lebih baik kau tunggu makanan saja, kau pasti sangat lapar kan?" tanya Voren.
Velan mengangguk untuk memberikan jawabannya.
"Jadi, Nona Velan, Anda mau makan apa?" tanya Doni.
"Aku mau memakan suamiku, Pak Doni," jawab Velan seraya tertawa.
"Aku ingin sekali menyantap suamiku, aku rasa mulai dari jari-jari tangannya yang indah itu," lanjut Velan.
"Haha," Doni tertawa, namun entah mengapa ia jadi merinding karena melihat Velan yang terkekeh sendiri.
Petugas room service segera datang mengantarkan makanan lalu menata meja makan dengan semua hidangan yang dipesan oleh Doni.
"Nona, silakan dinikmati hidangannya, saya tidak tahu Anda mau makan yang mana, sehingga saya memesan menu paling laris di hotel ini saja," kata Doni.
"Terima kasih, Pak Doni," kata Velan.
Velan segera duduk di meja makan. Secara diam-diam ia mengeluarkan sebuah botol kecil berbahan kaca yang besarnya hanya seperti ruas jari kelingking Velan. Dalam botol kaca berukuran kecil dan ramping itu terdapat cairan bening yang akan membuat pria tetaplah menjadi seorang pria meski tidak tertarik pada wanita.
__ADS_1
Velan sungguh merasa tegang, dengan tangan gemetaran ia membuka tutup botol, lalu menuangkan isinya. Cukup setetes saja maka pria manapun tak akan berkutik, itulah kalimat propaganda yang membuat Velan berdebar tak karuan.
Cairan tersebut rupanya lebih pekat daripada yang Velan lihat dengan mata telanjang. Velan menggoyang-goyangkan cairan tersebut agar isinya keluar dan segera masuk ke dalam gelas jus jeruk yang akan diminum oleh suaminya.
"Nona Velan," kata Doni.
Velan terlonjak kaget, botol kecil itu pun meluncur mulus ke dalam gelas berisi jus jeruk. Velan berusaha menjaga sikapnya, jangan sampai ia memperlihatkan gerak-gerik yang mencurigakan.
Aduh, malah masuk semua, batin Velan.
"Nona, kenapa belum dimakan juga?" tanya Doni.
"Aku menunggu suamiku," jawab Velan nampak gugup.
Bagaimana ini? Apakah akan aman saja? batin Velan bertanya-tanya.
"Nona Velan, Anda pasti tahu, Tuan Voren kalau mandi kan makan waktu," Doni segera duduk di meja makan.
Doni mengambil jus jeruk yang akan diminum oleh Tuan Voren, ia mengambil sendok kecil dan mencicipinya. Sudah menjadi protokol bagi Doni untuk mencicipi semua makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh atasannya itu.
Velan terbelalak, ia sungguh tak menduga bahwa Doni akan mencicipi minuman tersebut.
Tak berapa lama Voren keluar dari kamar mandi dan segera bergabung ke meja makan.
"Doni, kau kenapa?" tanya Voren ke arah Doni.
Wajah Doni nampak memerah dengan deru napas yang memburu.
"Tuan! Tuan!" kata Doni.
Doni langsung terjatuh dari kursi, pria itu nampak blingsatan seperti cacing kepanasan sambil meringkuk memeluk tubuhnya. Doni bahkan nampak mulai membuka kemeja yang dipakainya.
"Doni, kau kenapa?!" seru Voren.
"Panas! Panas, Tuan!" kata Doni.
Velan menegang, ia sungguh tak menduga bahwa efek samping obat perangsang itu begitu dahsyat.
"Istriku, tolong hubungi pihak hotel, minta datangkan tim medis sekarang juga!" perintah Voren.
...~...
__ADS_1
H-2 sebelum Velan pergi berbulan madu, Vega kembali mendatangi Velan yang saat itu sedang sibuk berbenah di apartemen. Velan sedang menjemur semua pakaian Voren di balkon apartemen saat Vega menerobos masuk ke unit tersebut.
"Velan, ada sesuatu yang akan Ibu berikan padamu," kata Vega segera menarik Velan dari balkon.
Mereka berdua segera duduk berhadapan di sofa.
Vega menyerahkan sebuah botol kaca bening yang ramping dan besarnya seukuran jari kelingking Velan.
"A-apa ini, Bu?" tanya Velan.
"Ini adalah obat yang membuat seorang pria akan lebih liar dari kuda liar," jawab Vega sambil tersenyum.
Mata Velan terbelalak.
"A-apakah ini obat perangsang, Bu?" tanya Velan.
Vega mengangguk sambil mengulas senyum penuh arti. Vega bisa membaca situasi yang terjadi antara Voren dan Velan. Mendengar bahwa Velan dan Voren bahkan belum berani saling bersentuhan meski sudah menikah dan selalu tidur di satu tempat tidur yang sama tentu saja membuat Vega merasa harus turun tangan. Vega jelas teringat perkataan Madam Yue bahwa Voren masih belum bisa melupakan wanita yang pernah menggugah hatinya. Bisa jadi wanita itu adalah cinta pertama yang tidak bisa dimiliki oleh Voren. Vega tentu tak bisa membiarkan hal tersebut, sehingga ia harus bertindak untuk membantu menantunya yang jelas sekali terlihat tak berani mengambil langkah duluan.
"Cukup satu tetes saja, dan lihatlah efeknya, pastikan kau memiliki stamina yang prima," kata Vega sambil tersenyum sumringah.
"I-ibu, apakah ini boleh?" tanya Velan.
"Velan, apa salahnya kau menggunakan obat ini untuk Voren yang jelas suamimu sendiri, lain halnya jika kau menggunakan obat ini untuk pria lain, jelas sekali itu kurang tepat kan?!" sahut Vega.
Velan tersenyum malu-malu, apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya ini tentu saja sangat benar.
"Velan, Ibu ini setiap hari bukannya semakin muda, Ibu sungguh berharap bisa segera menimang cucu, lagipula Voren jelas sudah harus memiliki generasi penerus keluarga Lazaro yang saat ini tengah mengalami krisis generasi penerus," kata Vega dengan tatapan mata yang menerawang.
Velan bisa merasakan betapa Vega berharap sangat padanya. Wajar saja keluarga Lazaro mengalami krisis generasi penerus, lantaran Voren tidak tertarik pada wanita, keluh Velan dalam hati.
"Oleh karena itu, Ibu akan membantumu semampu Ibu, untuk sisanya sungguh Ibu serahkan padamu, Velan," lanjut Vega.
"Baik, Bu," jawab Velan yang entah mengapa merasa sangat terbebani.
Namun lagi-lagi ia tak boleh berpatah arang demi mewujudkan keinginannya untuk mendapatkan cinta suaminya, sehingga apapun akan dilakukan oleh Velan.
Utang pun harus segera dibayar oleh Velan, jika tidak, rumahnya benar-benar akan disita oleh pihak bank. Belum lagi, Velan juga harus mengembalikan pinjaman modal dari Desi yang saat ini membutuhkan dana untuk membiayai pesta pernikahannya. Jangan sampai pernikahan Desi terkendala gara-gara Velan belum juga mengembalikan modal sekaligus dana keuntungan penjualan yang raib digondol oleh Kak Taki dan Kak Toro.
Sungguh saat ini, mendapatkan cinta suaminya adalah prioritas utama Velan. Velan sungguh yakin, jika ia hamil anak suaminya, maka semua masalah keuangannya pasti akan selesai semudah membalikkan telapak tangan.
...~...
__ADS_1