Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E31


__ADS_3

Maaf, bolehkah saya menelepon Anda?


Dengan segenap keberaniannya, Velan mengirimkan pesan tersebut melalui aplikasi pesan berlogo hijau. Velan menatap lama foto profil pria panggilan yang kini bekerja sama dengan Velan untuk menjadi kekasih pura-puranya. Pria itu berfoto membelakangi pemotretnya dengan latar belakang Menara Eiffel.


Wah, tampak belakangnya saja sudah setampan ini,  tampak depan jangan ditanya, kalau tampak dari atas bagaimana ya? Batin Velan sambil membayangkan saat posisi pria itu berada di atasnya.


Mengagumi lubang hidung yang begitu estetik, lalu menjelajahi rahang tegasnya kemudian membuka kancing kemeja pria itu satu per satu.


"Adududuh! Otakku rusak!" Velan membentur-benturkan kepalanya ke bantal emoji tertawa.


"Tawamu bahkan terlihat lebih mesum!" Velan mengejek bantal emojinya.


Pesona pria panggilan memang meresahkan ya, Bund!


Velan menunggu balasan pria itu. Berharap pria itu segera membalas pesannya. Bertanya-tanya, seperti apa suara pria itu saat berbincang di telepon.


Velan kemudian menyadari bahwa mereka bahkan baru bertemu tiga kali. Di pertemuan ketiga mereka langsung sepakat menjalin kerja sama.


Bagi Velan, kencan ganda yang diusulkannya ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir mereka jika semua berjalan lancar sesuai dengan rencana Velan.


Velan datang bersama Daren, memamerkan Daren pada Voren. Yah, sedikit improvisasi dengan memamerkan kemesraannya dengan Daren di hadapan Voren serta Soraya mungkin akan dilakukan oleh Velan agar lebih meyakinkan bahwa Velan dan Daren benar-benar sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Tentu Velan harus mendiskusikan dulu kepada Daren mengenai improvisasi tersebut karena sesuai permintaan Velan bahwa kontak fisik ditiadakan. Mungkin lebih bijaksana jika kontak fisik mereka diminimalkan saja ya, misalnya seperti berpegangan tangan.


Dengan demikian, Voren pasti akan langsung menceraikan Velan. Velan mendapatkan uang pesangon, melunasi semua utang-utangnya, lalu membayar Daren. Mungkin Velan akan mengajak Daren untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Voren dan Soraya jika mereka mengundang Velan.


Lalu, Velan akan menjalani kehidupannya, hidup untuk mencari kebahagiaan. Bertaubat atas semua kesalahan dan khilaf yang telah dilakukannya.


Sungguh terdengar seperti rencana hidup yang sempurna bagi Velan.


Yah, harusnya memang seperti itu. Hidup untuk mencari dan mendapatkan kebahagiaan. Bukannya hidup penuh kepahitan seperti ini.


Pernikahan tanpa cinta yang diwarnai dengan kebohongan Voren, hingga perselingkuhan pria itu dengan cinta pertamanya.


Velan terbangun dari tidur saat mendengar ponselnya berdering. Rupanya Velan ketiduran karena menunggu balasan dari Daren.

__ADS_1


Velan mengerjapkan mata, menatap ponselnya yang baru menunjukkan pukul lima pagi. Sebuah pesan masuk dari Daren muncul di layar ponselnya.


Boleh.


Velan mencebik, pria itu bahkan baru membalas pesan Velan pagi ini. Velan memaklumi, namanya juga pria sibuk yang bekerja semalam suntuk, menghibur para wanita yang tengah berduka lara.


Tak bisa Velan bayangkan, jika ia benar-benar memiliki kekasih yang berprofesi sebagai pria panggilan. Bukannya terhibur, yang ada macam menggali kubur. Harus rela membagi keindahan yang ada pada pria itu kepada para wanita kesepian yang haus akan belaian pria tampan.


Entah mengapa Velan jadi mendambakan pria yang selevel dengannya saja. Tidak perlu pria tampan dan hartawan kalau tidak bisa memberi kebahagiaan,  bisanya hanya menyengsarakan. Pria sederhana yang mau sama-sama berjuang untuk saling membahagiakan.


Sepertinya Velan memang harus mencari dan mendapatkan pria seperti itu.


Bisakah Anda meluangkan waktu akhir pekan ini? Waktu dan tempat akan saya informasikan di hari H, balas Velan.


Baiklah, saya akan lihat jadwal saya dulu, balas Daren.


Tuh, benar kan, pasti mengatur jadwal dengan klien lain agar tidak bentrok, batin Velan sambil menatap nanar layar ponselnya.


...~...


Voren berkutat di depan pintu lemari pakaiannya yang terbuka. Mengamati semua pakaian bermerek yang tertata rapi sesuai dengan jenis dan warnanya.


"Doni!" seru Voren.


Doni segera memasuki kamar pribadi atasannya itu.


"Ada apa, Tuan?" tanya Doni.


"Menurutmu, apa yang harus kukenakan untuk pergi kencan ganda hari ini? Apakah sebaiknya aku pakai piyama saja ya, agar istriku terbangun dari mimpinya?" tanya Voren.


"Tuan, Anda cocok memakai pakaian apa pun! Anda sudah dianugerahi penampilan mewah! Anda menenteng kantong plastik hitam saja akan disangka Hermes meluncurkan tas terbaru!" sahut Doni.


Voren mengulas senyum, memandangi koleksi pakaian di depan seluruh lemari pakaiannya yang terbuka.

__ADS_1


"Yah, kau benar sekali, Doni! Aku benar-benar suka dengan pemikiranmu itu! Segala sesuatu akan terlihat mewah atau tidak, tergantung siapa yang memakainya!" Voren menyeringai.


"Sungguh aku mengasihani istriku, bisa-bisanya dia berdelusi tingkat nasional seperti itu! Mengaku ada pria idaman lain yang lebih segalanya dariku, sampai mengajak kencan ganda! Entah mengapa, aku jadi berpikir, jangan-jangan sebenarnya istriku ingin berkencan denganku, Doni!" Voren melanjutkan.


"Bisa jadi, Tuan, selama Anda dan Nona Velan menikah, kalian bahkan tidak pernah pergi berkencan seperti pasangan yang menikah pada umumnya!" sahut Doni.


"Yah, siapa juga yang mau berkencan dengannya! Haha!" Voren tertawa.


"Yah, tapi tidak apa-apa, anggap saja kencan kali ini sebagai bentuk kemurahan hatiku kepada calon penghuni rumah sakit jiwa! Dia sampai gila seperti itu karena begitu tergila-gila padaku, Doni! Sungguh miris sekali nasib istriku!"


Doni mengangguk mengamini, yah, kasihan sekali Nona Velan, wanita itu harus gila karena ulah Tuan Voren.


Voren mengambil beberapa pakaian dari lemarinya dan mematutnya di depan cermin.


"Yang ini terlalu formal, aku kan tidak sedang ke kantor!" Voren melempar setelan jas dan kemejanya ke tempat tidur.


"'Yang ini terlalu mewah, aku kan tidak sedang pergi ke pesta!" Voren kembali melempar setelan jas berbahan beludrunya ke tempat tidur.


Doni menghela napas berat, melihat gunungan pakaian yang sudah memenuhi tempat tidur. Entah mengapa Tuan Voren terlihat seperti pria yang hendak pergi kencan untuk pertama kali.


Jika mengingat hal yang lalu, Tuan Voren sebenarnya memang tidak pernah pergi berkencan seperti orang-orang pada umumnya. Merasakan membuat janji kencan dari jauh-jauh hari, karena selama ini pria itu hanya mengajak Soraya. Namun bisa ditebak, Soraya selalu menolak ajakan kencan Tuan Voren. Entah mengapa Doni justru melihat betapa antusiasnya pria itu saat Nona Velan mengajak Tuan Voren pergi berkencan.


...~...


"Doni, kroscek kembali jadwalku, atur ulang semuanya! Aturkan waktu satu hari di akhir pekan, kalau bisa akhir pekan ini, istriku mengajakku pergi berkencan ganda dengan pria idaman lainnya!"


Doni mengerutkan kening karena pria itu meneleponnya larut malam.


"Tuan, jadwal Anda bahkan begitu padat hingga bulan depan," keluh Doni.


"Doni, ini saat yang tepat untuk menertawakan kehaluan hakiki istriku itu! Ah ya, sepertinya Restoran B bagus untuk makan siang bersama! Biar semua ikan-ikan yang ada di sana ikut menertawakan kehaluan istriku! Haha," Voren tertawa sebelum menutup teleponnya.


...~...

__ADS_1


__ADS_2