
"Sungguh kebetulan kita bertemu di sini, Nona Velan," Daren menyapa Velan.
"Ya, sungguh kebetulan, apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya Velan.
"Saya sedang meninjau kawasan ini terkait dengan proyek yang akan saya tangani," jawab Daren.
"Nona Velan, apa kabar?" Dinar ikut menyapa Velan.
"Saya baik-baik saja, Dinar," jawab Velan.
Dinar mengulas senyumnya, dalam hati ia menyayangkan mengapa Nona Velan sampai putus dari Pak Daren, apa karena pria berambut ungu yang saat ini terlihat memalingkan wajahnya?
Dinar sungguh terkejut karena melihat Velan yang tertangkap basah sedang berciuman dengan seorang pria asing. Sungguh berani sekali bermesraan di tempat terbuka seperti ini.
"Anda ke sini bersama kekasih Anda, ya?" tanya Dinar lagi.
Pria berambut ungu itu nampak asing di mata Dinar.
Pria itu berbalik lalu melemparkan tatapan skeptis ke arah Daren yang datang bersama rombongannya.
"Aku bukan kekasihnya, aku suaminya," jawab pria itu dengan cepat.
"Ya ampun, Tuan Voren!" seru Dinar langsung menutup mulutnya dengan cepat.
Dinar benar-benar pangling melihat penampilan Tuan Voren yang berubah drastis. Pria yang kerap menggunakan setelan jas mahal dengan rambut hitam yang tertata rapi itu sekarang terlihat kasual dengan kaus hitam dan celana jeans. Terlebih rambut berwarna ungu lembut itu jelas sangat menyita perhatian.
Daren terperangah namun ia segera mengulas senyumnya. Ia sungguh tidak menduga akan bertemu dengan Voren lagi, padahal pria itu seakan menghilangkan jejaknya begitu mengundurkan diri dari Emperor Grup.
"Kalian pergilah lebih dulu, saya ingin bicara dengan Voren," kata Daren kepada rombongannya.
"Baik, Pak," sahut beberapa pria yang datang bersama Daren.
"Dinar," tukas Daren pada Dinar yang enggan beranjak.
"Aduh maaf, Pak, saya sungguh merindukan Nona Velan, rasanya ingin ngobrol-ngobrol sebentar," kata Dinar.
"Oh begitu, baiklah, tidak masalah," kata Velan.
"Istriku," Voren menahan kepergian Velan.
"Voren, aku hanya ngobrol sebentar dengan Dinar," Velan melepas tangan Voren.
Velan segera pergi bersama Dinar, meninggalkan Voren dan Daren.
...~...
Daren segera duduk di tikar, menatap Voren yang terlihat malas menghadapinya.
"Apa yang mau kau bicarakan denganku, Daren? Apa kau berniat merebut istriku?" tanya Voren.
"Voren, tolong jangan berpikir seperti itu," jawab Daren diplomatis.
"Bagaimana aku tidak berpikir seperti itu, sedangkan kau terang-terangan membantu istriku melakukan perselingkuhan!" celetuk Voren.
Daren hanya mencebik lantaran Voren masih tetap saja mengungkit kesalahpahaman tersebut.
"Hmm, Voren, kembalilah ke Emperor Grup," kata Daren.
Voren mengulas senyum sinis mendengar perkataan Daren.
"Daren, kau memintaku kembali ke Emperor Grup agar kau bisa pamer padaku karena sudah menjadi Presiden Direktur?" pertanyaan Voren terdengar bernada mencemooh.
"Voren, aku belum menjadi Presiden Direktur, dan jujur, aku tidak tertarik dengan jabatan dari hasil giveaway seperti yang kau katakan!" tukas Daren.
"Haha," Voren tertawa.
"Daren, aku rasa aku tidak tertarik jika harus kembali ke Emperor Grup. Aku lebih memilih untuk menjalani hidupku seperti ini, menghabiskan waktu yang berkualitas bersama orang yang sangat kucintai, melakukan apapun yang aku inginkan, dan menikmati semuanya dengan sebaik-baiknya," Voren menjelaskan.
"Aku tidak mau waktuku terbuang percuma hanya demi berusaha memuaskan ego Papaku yang sedikit pun tidak menghargai kerja kerasku," kata Voren.
"Lebih baik aku memuaskan istriku, karena aku pun sungguh merasa puas melihatnya lemas! Haha," Voren tertawa.
__ADS_1
Daren memutar bola matanya mendengar penuturan Voren yang sungguh tipikal pria itu.
"Voren, hingga kini posisimu masih kosong. Sudah banyak kandidat yang mendaftar, namun tidak ada orang yang memiliki dedikasi dan integritas sepertimu, jadi kuharap kau bisa memikirkan ulang kompetisi kita. Aku lebih suka kita bersaing secara sehat daripada kau mengalah seperti ini," kata Daren.
...~...
"Nona Velan, sejujurnya saya sangat terkejut saat mendengar isu perselingkuhan yang menimpa Pak Daren beberapa waktu yang lalu. Setahu saya kekasih Pak Daren adalah Anda, dan Anda ternyata adalah istri dari Tuan Voren. Sungguh isu yang begitu panas hingga akhirnya Tuan Voren memilih mundur dari Emperor Grup."
"Namun seiring berjalannya waktu, isu tersebut menguap begitu saja. Lalu saya kebetulan melihat Anda bersama seorang pria berpenampilan nyentrik yang saya pikir kekasih baru Anda setelah putus dari Pak Daren," Dinar mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Ahaha, yah, begitulah, saya dan Voren saat itu memang memiliki hubungan yang sangat rumit. Namun kerumitan itu justru membuat kami pada akhirnya menyadari posisi masing-masing," Velan menanggapi perkataan Dinar.
"Wah, sayang sekali, padahal sejujurnya saya lebih mendukung Anda bersama Pak Daren. Anda dan Pak Daren sungguh terlihat serasi saat bersama," tukas Dinar.
"Haha, begitukah? Tapi Ibu Tuan Daren sungguh mengerikan! Tipe ibu mertua yang pasti doyan menyiksa menantu perempuannya!" kata Velan.
"Anda benar sekali, Nona Velan! Apalagi Pak Daren orang yang sangat menyayangi ibunya, Pak Daren pasti akan memilih ibunya daripada wanita yang menjadi istrinya! Sungguh kasihan sekali Pak Daren punya ibu seperti Nyonya Darla," lanjut Dinar.
"Ehm, maaf ya, Ibuku memang seperti itu."
Suara Daren menghentikan sesi ghibah antara Velan dan Dinar. Sontak kedua wanita itu menoleh dan terkejut karena Daren tepat berada di belakang mereka.
"Pak Daren!" seru Dinar kelimpungan.
Velan cepat-cepat menutup mulutnya sementara itu Voren tertawa terbahak-bahak lalu merangkul pundak Velan dengan gemas.
"Voren!" Velan melotot ke arah Voren. "Kenapa kau menguping begitu sih?!" gerutu Velan sambil mencubit perut Voren.
"Haha, aku hanya ingin tahu apa yang kalian bicarakan, sungguh aku pikir kalian sedang membicarakan ketampananku, tapi ternyata kalian malah menjadikan Tante Darla sebagai topik pembicaraan! Haha," Voren kembali tertawa.
"Voren," Velan melotot lagi ke arah Voren.
"Maaf, Pak Daren, maaf," kata Dinar. Jangan pecat saya, ya!
"Yah, Ibuku memang seperti itu, tapi aku sungguh menghormatinya," pungkas Daren.
"Baiklah, kalau begitu, silakan kalian lanjutkan piknik kalian berdua, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan," Daren berpamitan. "Voren, pertimbangkan lagi pembicaraan kita."
"Tuan Voren, Nona Velan, selamat bersenang-senang, sampai jumpa lagi," Dinar berpamitan.
"Ya, sampai nanti, Dinar," sahut Velan.
Velan membalas lambaian tangan Dinar hingga wanita itu pergi mengikuti langkah Daren. Punggung tegap Daren terlihat makin menjauh seiring dengan langkah kakinya yang mantap.
Ctik.. Ctik..
"'Istriku!" Voren menjentikkan jarinya di depan mata Velan.
"Voren," Velan tersentak kaget.
"Mau melihat Daren sampai kapan?" tanya Voren. "Kau ini, jelas-jelas aku berada di sampingmu, bisanya kau masih memandangi pria lain tepat di depan mataku! Ini perselingkuhan terang-terangan!" rutuk Voren.
"Voren, aku punya mata yang digunakan untuk melihat!" keluh Velan.
"Ya, tapi kau melihat Daren seperti itu, apa aku masih kurang tampan, apa aku masih belum cukup untukmu?" tanya Voren.
Velan segera mengalungkan tangannya ke leher Voren dan memberi pria itu sebuah ciuman.
"Selama kau mencintaiku, aku sungguh tidak butuh pria lain dalam hidupku," kata Velan begitu melepas ciumannya.
"Selama aku mencintaimu?" Alis Voren terangkat sebelah.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" Velan balik bertanya.
"Istriku, aku mencintaimu selama-lamanya," tukas Voren sambil menatap Velan lekat-lekat lalu mendaratkan kembali satu ciuman yang lembut ke kening Velan.
Velan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Voren. Ia terlalu bahagia dan berharap ini bukan hanya dalam khayalannya saja.
...~...
Velan menggeliat pelan ketika terbangun dari tidurnya. Ia tertidur pulas usai menghabiskan siang di salah satu kamar hotel yang lokasinya tak jauh dari pantai yang mereka kunjungi.
__ADS_1
Ia menarik senyumnya saat memandangi wajah Voren yang masih terlelap sambil memeluknya erat. Velan masih tak menyangka bahwa kini bermesraan dengan Voren sudah menjadi hal yang utama setiap kali mereka hanya berduaan saja. Padahal dulu mereka selalu bertengkar.
Velan memainkan jarinya di dada bidang Voren seraya terkekeh geli.
"Apa yang membuatmu sampai cekikikan begitu, Istriku?" tanya Voren dengan suaranya yang parau.
Ia terbangun dari tidurnya karena mendapat sentuhan halus di sekitar dadanya.
"Aku hanya teringat hal yang sangat menyebalkan," sahut Velan.
"Hal yang menyebalkan?" tanya Voren.
"Ya, aku masih tidak menyangka bisa memelukmu, menciummu dengan leluasa seperti ini. Padahal dulu kau sampai berlari seperti dikejar hantu," Velan terkekeh.
"Hmm, ya, aku rasa aku benar-benar sangat bodoh, kalau saja kutahu bercinta denganmu sangat menyenangkan seperti ini, pasti sudah kulakukan dari dulu!" sahut Voren.
"Ya, kau memang sangat bodoh!" sungut Velan.
"Hmm, ya, aku bodoh, tapi kau mencintaiku kan?" goda Voren sambil memburu bibir Velan lagi.
"Oh ya, ngomong-ngomong, apa yang kau dan Tuan Daren bicarakan?" tanya Velan.
"Apa kau sungguh ingin tahu?" tanya Voren.
"Apa kalian juga menggosipkan betapa mengerikannya Nyonya Darla?" tanya Velan lagi.
"Tentu saja tidak, Istriku," Voren mencubit cuping hidung Velan dengan gemas.
"Jadi apa?" tanya Velan ingin tahu.
"Daren memintaku untuk kembali bekerja di Emperor Grup," jawab Voren.
"Oh, wah, Tuan Daren begitu berbaik hati," kata Velan.
"Berbaik hati dari mana? Dia hanya mau pamer karena sudah menjadi satu-satunya kandidat terkuat untuk mendapatkan posisi Presiden Direktur!"
"Voren, apa kau mundur dari pekerjaanmu karena terkait dengan isu perselingkuhan yang kulakukan dengan Tuan Daren?" tanya Velan.
Voren menatap Velan yang masih memandanginya.
"Tidak, aku hanya lelah karena merasa bahwa kerja kerasku selama ini sama sekali tidak ada harganya di mata semua orang. Semua orang seakan memandangku hanya karena aku adalah anak dari Alren Lazaro yang begitu mereka hormati. Seakan aku hanya mendompleng nama besar Papaku saja," jawab Voren.
"Aku ingin hidup seperti yang kuinginkan, bukan seperti yang diinginkan oleh orang lain," lanjut Voren.
"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya Velan.
"Aku ingin mewujudkan keinginanmu, Istriku, karena saat ini bagiku yang terpenting adalah membahagiakanmu," jawab Voren.
Velan kembali mengembangkan senyumnya lalu memeluk erat Voren.
"Jadi, katakanlah padaku, apa yang kau inginkan? Aku akan memberikan semuanya, selama kau tidak meminta pria lain, hmm, terlebih meminta Daren untuk mencintaimu," lanjut Voren.
"Mulutmu!" Velan mencubit mulut Voren dengan gemas.
"Aduh Istriku, jangan cubit mulutku, cium saja ya," pinta Voren.
"Hihh, dasar tukang gombal!" Velan mencibir.
"Kok gombal sih! Kemari, biarkan aku menciummu!" Voren kembali menyasar leher Velan.
"Ahaha! Voren hentikan!" Velan tertawa.
"Tidak bisa, sudah terlanjur tegak nih," Voren menyeringai.
"Ihh, dasar mesum!" sungut Velan.
"Ya, aku memang mesum tapi hanya denganmu!" sahut Voren.
"Dasar laki-laki murahan! Haha!" Velan mencubit kedua pipi Voren dengan gemas.
"Ya, aku memang murahan, tapi hanya denganmu!" sahut Voren yang kemudian kembali memulai pergumulan mereka.
__ADS_1
...~...