Jodoh Instan

Jodoh Instan
Kondisi Doni


__ADS_3

Para perawat nampak tak henti-hentinya memperbincangkan sosok pria tampan yang langsung mencuri perhatian mereka sejak kedatangan si pria yang kini menunggui seorang pasien yang terbaring di ruangan VIP.


"Overdosis" obat perangsang, itulah berita yang beredar di kalangan perawat saat membicarakan seorang pasien dari kelas VIP yang mendapat perawatan secara intensif.


"Sungguh lucu sekali, overdosis obat perangsang," kata salah seorang perawat.


"Untuk apa pria muda butuh obat perangsang, ya?" tanya yang lain.


"Mungkin kurang percaya diri," sahut para perawat sambil terkekeh.


"Tapi apa kalian lihat, pria tampan yang menunggui pasien yang overdosis obat perangsang itu?" tanya salah seorang perawat.


"Oh, pria tampan yang berkulit seputih salju itu, ya?" tanya yang lain.


"Asli, tampan sekali, sudah dua malam berjaga sendiri begitu, siapanya pasien ya?" tanya salah satu perawat yang penasaran.


"Masa iya, pria tampan itu pasangannya?" sahut yang lain bertanya-tanya.


"Hush, kok bisa ngomong begitu, jangan berprasangka buruk seperti itu,".


"Loh, sekarang kan zaman di mana pria tampan lebih menyukai pria tampan juga!"


"Sudah, sudah, jangan bicara ngawur begitu, saya mau cek kondisi pasien yang overdosis itu," perawat tersebut berpamitan dengan rekan-rekannya.


...~...


Voren terbangun dari tidurnya saat mendengar dua orang perawat memasuki ruang VIP tempat Doni dirawat. Voren yang tadinya berbaring di sofa segera duduk lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan lantaran rasa kantuk yang masih menyerangnya. Sudah dua malam Doni menjalani opname, sehingga selama itu pula Voren berjaga untuk Doni.


"Tuan Doni, cek suhu tubuh dan tekanan darah dulu ya," kata salah seorang perawat ke arah Doni.


Doni yang nampak masih lemah hanya bisa mengangguk pelan. Dua perawat itu mencuri pandang ke arah pria tampan yang menghampiri mereka.


"Doni, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Voren.


Doni kembali mengangguk pelan.


"Anda jangan terlalu cemas, Tuan, kondisi pasien sudah jauh lebih baik," kata salah seorang perawat mencoba menjelaskan.


"Begitu ya, saya sungguh cemas, Suster, karena saya tak bisa hidup tanpa Doni," kata Voren.


Dua orang perawat itu pun seketika terkesiap mendengar perkataan dari pria tampan bervisual serbuk berlian itu. Mereka saling berpandangan dan langsung sepakat memikirkan hal yang sama.


"Suhu tubuh normal, tekanan darah normal," kata seorang perawat sambil menuliskan hasil pemeriksaannya di kartu pemeriksaan pasien.

__ADS_1


Orientasi seksual, tidak normal, batin perawat itu.


Dua orang perawat itu pun segera meninggalkan pasien tersebut dengan perasaan yang shock dan terguncang.


"Ini zaman sudah edan, pria tampan sukanya pria tampan juga!" rutuk perawat itu.


"Huh! Pantas saja sampai overdosis obat perangsang," sahut temannya.


...~...


"Tuan, saya minta maaf jadi merepotkan Anda," kata Doni sambil menyantap makan siangnya.


Makanan di rumah sakit rasanya sungguh tidak enak, keluh Doni dalam hati.


"Doni, justru aku yang harusnya minta maaf padamu, gara-gara ulah istriku, kau harus mengalami kejadian buruk seperti ini," kata Voren.


"Tuan, menjaga keselamatan Anda sudah menjadi salah satu tugas saya," kata Doni.


Doni sungguh sadar bahwa di masa perang perebutan posisi presiden direktur Emperor Grup akan banyak sekali strategi-strategi yang dilancarkan oleh masing-masing pihak untuk salingĀ  menjatuhkan. Tak ayal Doni harus selalu dan senantiasa siaga satu.


"Kali ini wanita itu nekat memberi obat perangsang, entah apalagi yang akan diberikannya padaku untuk selanjutnya! Semakin besar rasa curigaku padanya bahwa kemungkinan ia adalah utusan dari seseorang yang mengincar nyawaku, Doni!" kata Voren.


"Tuan, apakah Anda yakin?" tanya Doni.


"Tuan, tidakkah sebaiknya kita melakukan penyelidikan tentang istri Anda?" tanya Doni lagi.


"Ck, sebenarnya pekerjaan kita sudah banyak, masih harus direpotkan lagi dengan wanita itu!" Voren berdecak kesal.


"Tidak masalah, Tuan, dengan begitu kita bisa memastikan sendiri, siapa sosok yang berada di belakang istri Anda," kata Doni.


"Doni, sungguh, aku jadi semakin was-was untuk meneruskan pernikahan ini! Aku rasa lebih baik pernikahan ini diakhiri saja," kata Voren.


"Apa Anda yakin bahwa Anda akan menceraikan istri Anda?" tanya Doni begitu tercengang.


"Tentu saja, Doni! Mana bisa aku menghabiskan sisa hidupku dengan wanita yang tidak kuinginkan dan tak menutup kemungkinan akan membunuhku! Hidupku jadi tidak tenang jika terus membiarkan ada musuh dalam selimutku!" jawab Voren.


"Tapi Tuan, Anda baru menikah! Menurut saya akan sangat terburu-buru jika Anda langsung menceraikan istri Anda, tentu saja berita perceraian Anda pasti akan memengaruhi reputasi Anda," Doni mencoba menjelaskan.


"Doni, istriku itu sangat menakutkan! Penampilannya jelas sekali menipu! Citra yang ia tampilkan di depan semua orang dengan yang ia tunjukkan di hadapanku jelas sekali berbeda! Di depan semua orang dia nampak begitu lugu!" Voren kembali mengeluh.


Doni mengerutkan keningnya, yah, Nona Velan memang sangat agresif, berbeda dengan penampilannya.


"Jadi, Doni, menurutmu kapan waktu yang tepat agar aku bisa menceraikan istriku itu?" tanya Voren.

__ADS_1


"Menurut saya, setidaknya Anda jangan terburu-buru, sambil mencari siapa dalang yang berada di belakang istri Anda. Mencari bukti-bukti kuat yang bisa membuat Anda dan istri Anda berpisah baik-baik demi menjaga reputasi Anda," jawab Doni.


"Oh, apa maksudmu aku harus mati dulu, baru bisa menceraikannya?" tanya Voren sambil melayangkan tatapan skeptis ke arah Doni.


"Tentu maksud saya tidak seperti itu, Tuan," sahut Doni.


"Intinya Anda jangan langsung menceraikan istri Anda, Anda jangan gegabah, pikirkan juga bagaimana pendapat ibu Anda, bukankah Anda sendiri yang mengatakan bahwa ibu Anda berpihak pada istri Anda?" tanya Doni.


"Itu berarti ibuku harus tahu bahwa istriku hendak mencelakaiku," kata Voren.


"Tapi Tuan, menurut saya, jika Anda mengadukan bahwa Anda diberi obat perangsang oleh istri Anda kepada ibu Anda, tidakkah itu nantinya akan mengundang pertanyaan lain yang harus Anda jelaskan lebih detail? Yang pada akhirnya akan membuat masalah rumah tangga Anda terumbar dengan sempurna!" Doni menjelaskan.


"Aduh, lantas apa yang harus kulakukan, Doni? Aku memang sudah mengatakan pada istriku bahwa sebaiknya kami meninjau ulang saja pernikahan ini," kata Voren.


"Lantas bagaimana tanggapan istri Anda?" tanya Doni.


"Dia memohon padaku agar aku memaafkannya," jawab Voren.


"Lalu?" tanya Doni lagi.


"Aku meninggalkannya, memberinya waktu untuk berpikir, merenungi kesalahannya," jawab Voren.


"Tuan, menurut saya itu sungguh berbahaya, bagaimana jika Nona Velan melakukan hal buruk yang akan merugikan Anda?" tanya Doni terlihat panik.


"Doni, apa maksudmu?" tanya Voren keheranan.


"Saat ini istri Anda pasti didera rasa bersalah, bagaimana jika beliau nekat melakukan percobaan bunuh diri?" tanya Doni.


"Doni, kau jangan menakutiku begitu!" sergah Voren.


"Tuan, bukankah istri Anda begitu nekat?" tanya Doni.


Voren menghela napasnya, entah mengapa ia merasa bahwa apa yang dikatakan Doni ada benarnya.


"Doni, mana ponselku?" tanya Voren.


"Tuan, bukankah ponsel Anda ada di tas kerja Anda?" Doni balik bertanya.


Voren menghela napas berat, itu berarti ponselnya masih ada di kamar hotel!


"Astaga, itu artinya aku harus kembali menemui wanita menakutkan itu! Astaga, Doni!" keluh Voren lagi.


...~...

__ADS_1


__ADS_2