
"Velan, kami benar-benar sangat berterima kasih karena kau sudah mengajari kami memasak," kata Renata.
"Kakak, sungguh tidak masalah," kata Velan.
"Papa bahkan begitu senang," kata Renava.
"Bagaimana jika sekarang kita pergi ke acara privat kita?" ajak Renata.
"Itu ide yang sangat bagus sekali, Nats!" sahut Renava.
"Memangnya kita mau kemana lagi, Kak?" tanya Velan.
Renata dan Renava begitu antusias saat mengajak Velan menuju ke pusat perawatan tubuh kelas premium.
"Ayo, Velan," ajak Renata dan Renava.
"Tidak Kak, kalian saja," kata Velan menolak ajakan kedua kakak iparnya.
Aku mana punya anggaran untuk perawatan, batin Velan.
"Ayolah, Velan," Renata dan Renava mengajak Velan.
Velan benar-benar kembali merasakan perawatan tubuh kelas premium seperti saat ia akan menikah dengan Voren. Perawatan spa yang membuat Velan langsung merasa cantik seketika.
Usai melakukan perawatan spa seluruh tubuh, Renata dan Renava mengajak Velan untuk melakukan perawatan rambut. Kedua kakak ipar Velan mengajak Velan ke salon langganan mereka untuk menemui penata rambut profesional ternama.
"Halo, Bidadariku sayang!" sapa pria berpenampilan nyentrik, langsung menyambut kehadiran Renata dan Renava.
"Mas Beb," Renata dan Renava langsung merangkul dan bercipika-cipiki dengan pria tersebut.
Velan mengamati pria berkulit putih mulus, bertubuh ramping, dengan rambut gondrong dicat merah muda lembut yang diikat. Pria itu mengenakan kaos ketat berwarna hitam serta celana ketat warna senada yang robek-robek di bagian lutut hingga ke pahanya yang ramping.
"Mas Beb, mohon bantuannya, bikin dia tampil beda," kata Renata.
"Iya Mas Beb, tolong ya!" kata Renava.
"Kalau mau tampil beda, operasi plastik saja sekalian, Sayang!" sahut Mas Beb.
"Ayolah Mas Beb, tunjukan tangan emasmu!" kata Renata.
Mas Beb mencebik namun ia tidak bisa menolak permintaan dari para wanita cantik yang sudah menjadi langganannya sejak ia masih di level pemula.
"Baiklah, Cantik-cantik aku!" sahut Mas Beb terlihat setengah hati.
"Thank you, Mas Beb!" seru Renata dan Renava serempak.
Renata dan Renava segera meninggalkan Velan bersama Mas Beb.
__ADS_1
"Keramas dulu ya, Jeng," kata Mas Beb kepada Velan.
Velan hanya bisa diam dan pasrah. Entah mengapa ia merasa saat ini adalah kesempatan emasnya agar ia bisa menjadi secantik kakak-kakak iparnya.
Velan segera berbaring di kursi khusus untuk mencuci rambut. Mas Beb melingkarkan handuk kecil di sekitar leher Velan sebelum memulai proses pencucian rambut.
Air mulai membasahi rambut Velan dan tangan lembut Mas Beb mulai memijat kepala Velan usai melumuri rambut Velan dengan sampo. Velan menggelinjang, geli rasanya kepala dipijat seperti itu.
"Rambut kamu rusak banget, Jeng, pakai sampo apa?" tanya Mas Beb.
"Sampo yang lagi diskon saja, Mas Beb," jawab Velan dengan matanya yang tertutup.
"Oh, gitu," sahut Mas Beb. "Oh, ya, kamu ada hubungan apa dengan Ren-Ren? Tumben mereka mengajak orang lain kemari?" tanya Mas Beb.
Velan tidak tahu harus menjawab apa. Ia terlalu takut mengungkap identitasnya. Jika ia mengatakan bahwa ia adalah adik ipar dari wanita-wanita mewah itu, pasti tidak akan ada yang percaya.
"Tidak perlu dijawab juga tidak apa-apa, tidak maksa kok!" cibir Mas Beb.
Usai keramas, Velan kembali ke kursi pesakitan, Mas Beb dengan cekatan memasang pelindung pakaian ke tubuh Velan.
"Mau di-style seperti apa ini, Jeng?" tanya Mas Beb.
"Saya ikut Mas Beb saja," jawab Velan.
"Aku style botak mau?" tanya Mas Beb seraya terkekeh.
"Ya jangan dong!" sahut Mas Beb.
"Mas Beb, menurut Anda, apakah saya cocok jika memiliki rambut panjang?" tanya Velan.
"Hmm, semua style rambut akan cocok kalau dasarnya sudah cantik!" jawab Mas Beb.
Velan merengut menatap Mas Beb yang terkekeh ke arahnya.
...~...
Renata dan Renava memasuki sebuah butik yang masih berada di lokasi yang sama dengan salon langganan mereka. Mereka segera menyusuri rak berisi pakaian-pakain model terkini.
"Nats, aku sungguh kasihan pada Velan, bagaimana dia bisa berpenampilan seadanya seperti itu? Apa Voren sungguh tak memerhatikan penampilan istrinya ya? Sebagai kakak ipar, miris sekali melihatnya seperti itu!" kata Renava.
"Voren sungguh keterlaluan! Masa ya, istrinya dibiarkan berpenampilan ala kadarnya begitu," celetuk Renata.
"Memang sih cinta itu buta, tapi ya, orang yang melihat kan tidak buta!" sahut Renava.
"Nava, menurutmu, apakah gaun ini cocok untuk Velan?" tanya Renata menunjukan sebuah gaun yang diambilnya dari rak.
"Aku rasa Velan lebih cocok mengenakan gaun yang ini!" kata Renava.
__ADS_1
"Yang hitam ini lebih bagus, Nava!" protes Renata.
"Nats, merah jambu lebih cocok untuk Velan!" sergah Renava.
"Begini saja Nava, kita lihat saja, selera fashion siapa yang lebih dipilih oleh Velan, seleraku atau seleramu?!" kata Renata dengan nada menantang.
"Hoho, baiklah! Aku yakin, Velan pasti sangat suka dengan semua pilihanku!" sahut Renava.
Renata dan Renava saling mengulas senyum sebelum mereka akhirnya berlomba memilihkan pakaian untuk adik ipar mereka.
Dua wanita cantik itu pun saling berebut pakaian yang bukan untuk mereka. Mereka harus bisa membuat Velan berada di level yang sama dengan mereka karena mereka sudah menjadi keluarga.
...~...
"Kak Renata, Kak Renava, terima kasih banyak atas hari ini," kata Velan sebelum turun dari mobil mewah yang mengantarnya pulang.
"Velan, justru kami yang harusnya berterima kasih padamu, kau sudah meluangkan waktumu untuk mengajari kami memasak," kata Renata dengan senyumnya yang terulas.
"Sungguh hari yang sangat menyenangkan sekali, kapan-kapan kita hangout lagi ya," kata Renava.
Renata dan Renava langsung merangkul Velan yang duduk di antara mereka.
"Senang sekali rasanya punya kakak perempuan yang begitu cantik dan baik seperti kalian," kata Velan dengan air mata yang menetes penuh keharuan.
"Kami yang merasa senang sekali karena punya adik perempuan yang begitu baik dan penurut," kata Renava.
Velan melepas rangkulannya dan memandangi satu persatu wajah kakak iparnya yang begitu cantik.
"Kak, kita foto bersama ya," ajak Velan.
"Oh iya, kita belum ada foto bersama!" kata Renata.
Renata segera mengeluarkan gawai cerdasnya dan mengambil swafoto. Velan mati-matian menahan air matanya yang hendak berderai jika harus mengingat hari ini mungkin adalah saat terakhirnya menjadi bagian dari keluarga Lazaro. Selepas perceraiannya dengan Voren, saat itu pula Velan mungkin akan terlupakan seiring berjalannya waktu.
Velan bahkan mungkin tidak akan pernah diingat sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
"Selamat tinggal, Kakak-kakak," kata Velan melambaikan tangannya ke arah mobil mewah yang meninggalkannya di pelataran gedung apartemen.
Velan benar-benar tak habis pikir, ia mendadak mendapatkan banyak pakaian yang menjadi hadiah dari kedua kakak iparnya. Kantong-kantong kertas memenuhi tangan Velan. Membuat Velan kesulitan untuk membawa semua kantong belanjaan tersebut.
Velan tertatih-tatih membawa banyak kantong belanjaan, ia berjalan menuju ke lift khusus dan menekan tombol lift sambil menunggu bergerak naik.
Pintu lift khusus terbuka, Velan terkesiap melihat sosok Voren dan Doni yang berada dalam lift tersebut.
Kedua pria itu nampak mengabaikan kehadiran Velan, sehingga Velan pun jelas harus mengabaikan mereka.
...~...
__ADS_1