
Velan menutup kiosnya lebih awal mengingat hari ini ia sudah ada janji dengan Mbah Bucin, seorang paranormal kondang nan tersohor akan kemampuannya dalam hal pikat-memikat. Sesuai dengan janji yang sudah dibuat sebelumnya, Velan harus melakukan ritual paket ekonomis yang ditawarkan oleh Mbah Bucin. Velan sadar bahwa ia tidak mungkin bisa menang dengan cara manusiawi jika harus berhadapan dengan Soraya yang begitu jelita.
Kecantikan dan tubuh indah yang dimiliki oleh Soraya, jelas menjadi modal utama wanita itu untuk memikat Voren. Begitu berhadapan dengan Soraya saat berpura-pura mencari gaun, sudah cukup membuat nyali Velan seketika menciut.
Oleh karena itulah, Velan langsung mencari paranormal yang dapat membantunya. Meski Velan sudah memberi peringatan kepada Soraya untuk menjaga jarak dari Voren, namun Velan tetaplah harus waspada. Pelakor tentu selalu merasa lebih unggul dari istri sah. Seperti itulah yang biasa muncul di sinetron-sinetron televisi.
Velan sudah tiba di rumah Mbah Bucin, hari ini ia tidak perlu lama menunggu seperti pada pertemuan sebelumnya.
Cici langsung menyambut kedatangan Velan.
"Silakan masuk, Mbak Velan," kata Cici mengajak Velan masuk ke rumah Mbah Bucin.
Velan kembali mengedarkan pandangannya ke rumah bernuansa ungu tersebut begitu memasuki ruang kerja Mbah Bucin. Mbah Bucin duduk bersimpuh di atas karpet bulu tebal berwarna ungu dengan motif bunga mawar yang juga berwarna ungu. Beliau mengenakan kebaya ungu panjang berbahan brokat bergaya kelelawar beserta kain jarik motif batik berwarna ungu.
"Mbah, ini Mbak Velan, yang mau mandi," kata Cici.
Mbah Bucin mengamati Velan kemudian mengulas senyum ramah. Tangan Mbah Bucin dengan gesit mengambil satu buntalan yang ada di lantai. Wanita tua berdandan tebal itu pun beranjak dari tempat duduknya.
"Mari ikuti saya," kata Mbah Bucin.
Velan mengikuti Mbah Bucin ke sebuah dapur yang gelap.
"Silakan ganti baju dengan kain ini," kata Mbah Bucin mengeluarkan kain berwarna ungu dari buntalan yang ia bawa.
Selagi Velan mengganti pakaiannya dengan kain panjang berwarna ungu, Mbah Bucin pun menyiapkan air dan menaburkan kembang tujuh rupa yang sudah ia ritualkan sebelumnya.
"Kemari, tidak usah takut," kata Mbah Bucin yang bisa menangkap rasa takut Velan.
Velan segera duduk bersimpuh.
"Nama lengkap?" tanya Mbah Bucin sekali lagi.
"Velandara, Mbah," jawab Velan.
Mbah Bucin menciduk segayung air berisi kembang tujuh rupa dan berkomat-kamit sambil berkali-kali meniupkan air kembang tujuh rupa itu.
"Posisikan tangan di wajah kemudian begitu diguyur air, langsung usapkan ke seluruh tubuh ya, jangan lupa pusat kesenangan mas-mas harus diutamakan," kata Mbah Bucin.
Velan mengikuti perkataan Mbah Bucin, Mbah Bucin kembali berkomat-kamit sebelum mengguyurkan air kembang tujuh rupa ke kepala Velan. Dengan segera Velan melakukan perintah Mbah Bucin.
Tubuh Velan bergetar hebat karena air yang mengguyur tubuhnya benar-benar sedingin air es. Velan hanya bisa menutup matanya saat tangan Mbah Bucin menepuk-nepuk kepala dan bahunya.
__ADS_1
Mbah Bucin terus mengguyurkan air kembang tujuh rupa hingga air tersebut habis. Mbah Bucin kembali berkomat-kamit sambil meniup ubun-ubun Velan.
"Sudah, Mbak Velan," kata Mbah Bucin mengakhiri sesi mandi kembang tujuh rupa tersebut.
"Baik, Mbah," kata Velan dengan suaranya yang gemetaran hebat sehebat tubuhnya.
Velan mengambil handuk yang sebelumnya sudah ia siapkan. Ia segera mengeringkan dirinya dan memakai kembali pakaiannya.
"Mbak Velan, ke kamar Mbah Bucin lagi ya habis ini," kata Cici.
"Baik, Mbak Cici," sahut Velan.
Velan kembali memasuki kamar ungu itu, Mbah Bucin sudah duduk bersimpuh di tempat duduknya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Mbah Bucin.
"Dingin, Mbah," jawab Velan kikuk.
Mbah Bucin mengulas senyumnya.
"Velan, ya," kata Mbah Bucin mengambil sebuah keranjang berbentuk kotak yang terbuat dari rotan.
Velan mengenali isi keranjang rotan itu sebagai kosmetik yang ia beli dan ia serahkan untuk diberi jampi-jampi sehari sebelum Velan melakukan ritual mandi kembang tujuh rupa ini.
"Memang kenapa kalau sampai dipakai orang lain, Mbah?" tanya Velan.
"Jampi-jampinya tentu saja akan hilang dan semua hanya akan jadi kosmetik biasa," jawab Mbah Bucin diplomatis.
Velan mengangguk sambil menatap Mbah Bucin yang tersenyum lebar.
"Itulah yang membedakan antara kosmetik biasa dengan kosmetik yang sudah saya beri mantra-mantra kuno," kata Mbah Bucin lagi.
"Ma-mantra kuno?" Velan kembali melemparkan pertanyaan skeptis yang harus disembunyikannya dengan baik agar Mbah Bucin tidak tersinggung.
"Anda tahu kisah Roro Jonggrang yang begitu cantik jelita yang bisa membuat Bandung Bondowoso menjadi budak cinta dengan membangun seribu candi? Mantra kuno yang ada sejak zaman Roro Jonggrang itulah yang saya gunakan! Bayangkan saja, apa jadinya jika Anda memakai mantra kuno itu untuk memikat pria? Kalau pada zaman dahulu seribu candi bisa dibangun dalam semalam, apalagi zaman serba canggih seperti sekarang?" Mbah Bucin begitu antusias memberi penjelasan kepada Velan.
"Oh, begitu ya Mbah, bagus sekali ya," kata Velan.
"Hoho, tentu saja! Mau pasang susuk sekalian? Susuk berlian mempunyai daya pikat yang lebih besar daripada hanya sekadar mandi kembang dan bedak jampi-jampi," Mbah Bucin memberikan penawaran.
"Pasang susuk berlian jelas memberi daya pikat luar biasa yang bahkan mengalahkan perawatan kulit zaman sekarang! Kalau pasang susuk, tidak perlu lagi operasi plastik, tanam benang, sulam bibir, sulam bedak, hingga suntik-suntik di klinik kecantikan!" Mbah Bucin kembali memberi penjelasan panjang lebar.
__ADS_1
"Berapa biayanya, Mbah?" tanya Velan.
"Murah saja, hanya segini," kata Mbah Bucin sambil memberi kode dengan kedua tangannya yang gempal.
Velan melongo, mana punya ia uang sebanyak itu. Ini saja Velan mengambil paket termurah yang ditawarkan oleh Mbah Bucin dengan menggunakan semua uang yang ia miliki saat ini.
"Mahal sekali, Mbah," ceplos Velan.
"Hoho, semuanya murah kalau ada uangnya," Mbah Bucin tertawa.
"Iya Mbah, maaf belum ada modalnya," Velan terkekeh.
"Ya, untuk pemula memang begitu, lihat saja, laris manis nanti kamu ini, Mbak," kata Mbah Bucin lagi.
"Pasien saya itu banyak yang seperti Mbak ini! Awalnya paket mandi buka aura dan bedak jampi-jampi dulu, habis itu baru bertahap sesuai level," kata Mbah Bucin terdengar bangga.
Velan sepertinya menjadi tertarik dengan gaya bicara Mbah Bucin yang begitu persuasif, sungguh sangat pandai meyakinkan orang.
"Saya juga menyediakan jamu super! Membuat pusat kesenangan mas-mas kamu benar-benar menggigit dan mencengkeram tanpa ampun! Membuat laki-laki tidak bisa lupa rasanya dan akan terus mencari kamu! Bagaimana? Mau coba? Saya punya paket tester kalau mau," kata Mbah Bucin.
"Be-berapa harganya?" tanya Velan.
Mbah Bucin lagi-lagi mengulas senyumnya, banyak pasiennya yang masih pemula dan belum punya banyak modal untuk berwiraswasta tubuh pasti selalu mempertimbangkan harga. Untuk pasien level mahir, berapa pun harga yang diberikan Mbah Bucin pasti akan mereka bayar.
"Kamu punya uang berapa?" tanya Mbah Bucin.
"Maaf Mbah, saya bahkan belum punya modal lebih," jawab Velan sambil menunduk.
"Ya sudah, ini saya kasih kamu tester gratis," kata Mbah Bucin.
"Serius, Mbah?" tanya Velan.
Mbah Bucin mengangguk, strategi pemasaran produknya tentu saja harus memberikan tester gratis, selanjutnya jika sudah ketagihan, berapa pun harganya pasti akan dibayar.
Mbah Bucin menyerahkan satu bungkus kecil plastik klip berisi tiga butir berbentuk manik yang di mata Velan nampak seperti biji pepaya.
"Ini diminum dua jam sebelum berhubungan dan rasakan sensasinya!" Mbah Bucin menyeringai lebar.
"Ini yang minum saya, Mbah?" tanya Velan.
Velan tentu harus bertanya detail, mengingat ia sudah pernah tersandung kasus obat perangsang dan membuat Voren marah.
__ADS_1
"Tentu saja untuk Anda, kalau laki-laki yang minum, bisa tidak bangun itu barangnya!" Mbah Bucin terkekeh geli.
...~...