
Doni Damien berusia delapan belas tahun saat lulus dari bangku sekolah menengah atas. Dalam hidupnya baru kali ini ada teman yang mengajaknya untuk pergi ke pesta.
Tidak ada pakaian yang bisa ia kenakan membuat Voren meminjamkan sebuah setelan tuksedo.
"Ini setelan tuksedo waktu aku masih SMP kelas dua. Desainernya terlambat menyelesaikan, akibatnya tuksedo itu tidak pernah kupakai karena sudah kekecilan," Voren mengenang sejarah tuksedo hitam itu.
"Aku rasa kau cocok mengenakannya, Doni," kata Voren yang sibuk membongkar isi lemari pakaiannya.
"Voren, memangnya pesta apa yang harus kita datangi sampai harus memakai tuksedo?" tanya Doni.
"Aku diundang ke pesta kelulusan Daren. Sekaligus perpisahan Daren yang akan berangkat kuliah di luar negeri," jawab Voren.
"Daren? Siapa itu?" tanya Doni.
"Daren itu anak dari sepupunya papaku dari pihak nenekku," jawab Voren.
"Oh, maksudmu, sepupu dua kalimu?" Doni menarik kesimpulan.
"Yah, mungkin seperti itu," sahut Voren.
"Wah, Daren itu hebat sekali, bisa kuliah di luar negeri," puji Doni.
"Hei, Doni, apa kau pikir aku tidak bisa kuliah di luar negeri?" tanya Voren.
"Memangnya kau bisa?" Doni balik bertanya.
Voren menghela napas berat.
"Seandainya aku dulu belajar lebih rajin, aku juga pasti bisa kuliah di luar negeri," kata Voren.
"Sudahlah, jangankan kuliah di luar negeri, sekarang saja kau bahkan belum dapat universitas!" kata Doni.
"Bah, bisanya kau bicara seperti itu padaku, kau saja belum dapat universitas!" cibir Voren.
"Voren, aku harus lulus universitas jalur ekonomis! Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa kuliah!" kata Doni.
Tok... Tok...
Pintu kamar Voren diketuk oleh ibu Voren yang bernama Vega.
"Anak-anak, kenapa kalian lama sekali?" tanya ibu Voren yang muncul di ambang pintu. "Kalian lama sekali bersiap-siapnya, mengalahkan para gadis berdandan!"
"Mama, tidak ada pakaian yang cukup untukku!" keluh Voren.
"Voren, sepertinya berat badanmu naik lagi ya?" tanya Vega.
"Iya, Mama, habis ujian beratku sepertinya naik lagi sepuluh kilo," sahut Voren.
"Ya ampun, kamu benar-benar makin menggemaskan, Voren. Mama benar-benar senang selera makanmu bertambah besar!" Vega memeluk erat Voren.
"Koki yang baru masakannya benar-benar enak, Mama," kata Voren seraya terkekeh.
"Sudah, sudah, segeralah kalian bersiap, setengah jam lagi kita berangkat," kata Vega sebelum keluar dari kamar Voren.
Voren mendengus berat lantaran kebingungan tidak ada pakaian yang cukup untuknya.
"Voren, sepertinya kau harus berpikir untuk melakukan diet," kata Doni.
"Diet? Kau mau membuatku kurus seperti cacing?" tanya Voren.
"Diet tidak akan membuatmu sekurus cacing, diet akan membuatmu lebih sehat dan tentunya lebih proporsional! Kau bisa memakai pakaian apa pun! Lagipula sekarang sedang menjadi tren pria-pria bertubuh atletis yang digilai para wanita, seperti yang biasa disaksikan ibu dan adik-adikku di rumah!" Doni menjelaskan.
__ADS_1
"Oh maksudmu, pria ukuran kertas itu ya? A4 atau F4 ya itu? Yang begitu digilai kakak-kakakku! Pria-pria gondrong yang badannya seperti cacing!" cibir Voren.
"Tapi mereka keren sekali, loh! Saat kuliah nanti, aku mau bergaya seperti mereka!" kata Doni.
"Apa sih definisi pria keren itu? Bukankah yang penting kau nyaman dengan dirimu sendiri?" tanya Voren.
...~...
Definisi keren bagi Doni saat itu adalah pria dengan rambut agak gondrong, bertubuh atletis, dan memakai pakaian yang modis.
Begitulah yang diyakini oleh Doni dan Doni pun akhirnya melihat sosok pria modis yang sesuai dengan definisi kerennya tersebut.
Doni sungguh tak percaya, sosok pemuda tampan, tinggi, dengan rambut agak gondrong itu terlihat begitu keren dalam balutan tuksedo warna putih. Doni kembali tak percaya, pemuda sekeren itu seumuran dengannya saat pertama kali ia bertemu dengan Daren Won. Doni sampai berdebar-debar saat Daren menghampiri dan menyapa mereka.
"Hai, Voren, terima kasih sudah datang ke pestaku," kata Daren sambil menjabat tangan Voren.
"Yah, aku mau melihatmu sebelum kau pergi ke luar negeri," sahut Voren.
Daren mengarahkan pandangannya pada sosok asing di samping Voren.
"Daren, perkenalkan, ini temanku Doni, teman seperjuangan di sekolah umum! Asal kau tahu, Doni ini lebih pintar darimu," kata Voren memperkenalkan Doni.
"Daren Won," Daren menjabat tangan Doni.
"Do-Doni," jawab Doni dengan gemetaran.
Tampan sekali, batin Doni. Seandainya saja sosok di depanku ini adalah bayanganku sendiri.
"Wah, kau keren sekali, Daren, potongan rambutmu seperti Tomingse," ceplos Doni yang tak kuasa untuk melontarkan segala pujian untuk Daren.
"Terima kasih," Daren mengulas senyumnya. "Tuksedomu juga terlihat bagus untukmu," lanjut Daren.
"A-aku sungguh tersanjung dengan pujianmu Daren," Doni benar-benar salah tingkah mendapat pujian dari pemuda setampan Daren.
Voren mencebik mendengar pujian Doni untuk Daren begitupun sebaliknya. Di mata Voren, kedua pemuda itu bertingkah seperti dua orang gadis yang bertemu dan saling memuji penampilan.
"Daren!"
Beberapa gadis cantik memanggil Daren, mereka langsung mendorong Voren dan Doni.
Voren dan Doni sampai nyaris terjengkang karena tubrukan dari gadis-gadis pemuja Daren.
"Oh wow, siapa ini?! Aku sampai pangling melihatmu makin buntal seperti ikan buntal, Voren!"
"Perut dan pipimu balapan ya," para gadis itu langsung menertawakan Voren.
Voren hanya diam saat menjadi bahan tertawaan para gadis itu.
"Doni, ayo kita pergi," kata Voren mengajak Doni.
Doni bisa melihat, saat itu harga diri Voren terjun bebas.
"Doni! Apa kalau aku diet, aku akan lebih keren dan lebih tampan dari Daren?" tanya Voren.
"Ya, mungkin saja," jawab Doni ragu-ragu.
"Baiklah, kalau begitu aku akan diet, dan menjadi jauh lebih tampan serta lebih keren dari Daren!" kata Voren berapi-api.
Doni mengerutkan keningnya, sepertinya tidak akan mudah bagi Voren untuk bisa glow up menjadi sosok shining, shimmering, and splendid macam Daren.
...~...
__ADS_1
Doni masih bisa mengingat dengan jelas dan tak bisa melupakan pertemuan pertamanya dengan Daren Won yang saat ini tiba-tiba muncul di hadapan Doni.
Pria itu mengenakan setelan jas berwarna biru gelap dengan kemeja putih tanpa dasi. Mengulas senyum ramah kepada Nona Velan yang langsung menyambutnya dengan senang.
"Daren sayang," kata Velan.
Jantung Doni benar-benar nyaris lepas mendengar Nona Velan memanggil pria itu dengan panggilan yang begitu mesra.
Doni meyakinkan dirinya, apakah ia tidak salah dengar?
"Maaf ya, aku terlambat," kata Daren sambil mengulas senyum ramah.
"Tidak apa-apa Daren sayang, aku juga baru saja datang," jawab Velan.
Doni benar-benar hanya bisa mematung, ia melirik Tuan Voren yang saat ini terlihat membatu bak Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu lantaran telah durhaka kepada ibunya.
Di depan mata Voren, ia melihat betapa istrinya tersenyum begitu hangat menyambut kehadiran Daren.
Voren merasakan rasa nyeri-nyeri di dadanya. Kenapa aku merasa kesal ya? Apa karena aku sedang lapar? Batin Voren.
Daren mengarahkan pandangannya kepada dua pria yang saat ini terlihat mematung.
Kenapa ada mereka di sini ya? Batin Daren bertanya-tanya.
Velan mengulas senyum penuh kemenangan. Velan sungguh tak sabar untuk melihat reaksi heboh Voren dan Doni. Kedua pria pendusta yang sedari tadi sibuk menertawakan Velan karena menganggap Velan hanya berhalusinasi saja mempunyai kekasih yang luar biasa tampan.
Yang mulia Voren? Budak sahaya bernama Doni? Masih berani mengatai kekasihku hanya seorang pria tua berkepala botak dan berperut buncit? Velan membatin penuh kebanggaan.
Pulang dari acara kencan ini kau harus segera menceraikanku Voren Lazaro! Haha! Batin Velan bersorak dalam hatinya.
"Voren, Doni," kata Daren.
Deg...
Kini giliran Velan yang mematung karena Daren mengenali dua pria yang duduk di hadapan mereka.
Daren... Mengenali kedua pria ini?
"Sungguh kebetulan bertemu dengan kalian di sini," kata Daren.
Velan tertegun, bola matanya membulat lebar dengan pupil bergetar hebat. Seketika keringat dingin mulai merembes melalui pori-pori kulitnya, membuat pori-porinya ikut menjerit.
Bagaimana bisa Daren mengenal dua pria pendusta dunia akhirat ini?
Velan tidak tahu harus memandang ke arah mana. Kejadian ini sungguh tak terduga dan berada di luar skenarionya.
Kalau Daren mengenal Voren dan Doni, itu artinya kebohongan Velan akan segera terbongkar.
Bagaimana ini?
Bagaimana ini?
Tadi saja Voren dan Doni menertawai Velan dengan begitu hebohnya. Apalagi sekarang?
Secepat inikah kebohongan Velan akan terbongkar?
Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus aku lakukan?
Velan benar-benar merasa saat ini ia sedang menggali lubang kuburnya sendiri.
Ingin rasanya ia menceburkan diri ke kolam ikan dan berharap bisa berubah menjadi ikan koi.
__ADS_1
...~...