
Velan mematut diri di depan cermin yang memantulkan bayangannya. Ia sudah mengenakan baju terusan berwarna biru gelap dan kardigan berwarna putih yang membuat penampilannya terlihat cukup mewah. Velan menyisir rambut, rambut sambungan berkualitas bagus yang terlihat begitu natural. Efek gelombangnya sudah hilang dan kini menyisakan rambut lurus.
"Apa rambutku seaneh itu ya?" Velan bermonolog lantaran kepikiran dengan omongan Voren.
"Huh, kenapa aku harus kepikiran omongan pria itu?! Terserah jika dia tidak suka, itu sungguh bukan urusanku!" gerutu Velan.
Jam di ponsel Velan masih menunjukkan hampir pukul sebelas siang, janji kencan makan siang itu pukul dua belas. Velan jadi bertanya-tanya, bagaimana penampilan Soraya ya?
Apa yang akan dikenakan wanita itu?
Semua mata pasti tertuju pada wanita itu, batin Velan seketika resah dan gelisah. Ia membuka kopernya dan mengambil bedak serta lipstik yang sudah dijampi-jampi oleh Mbah Bucin.
Velan merasa konyol sekali lantaran memercayai hal-hal klenik seperti itu. Bedak dan lipstik yang sudah diberi jampi-jampi oleh Mbah Bucin sama sekali tidak bisa menyelamatkan pernikahannya.
Velan hendak membuang bedak dan lipstik tersebut, namun ia terlalu sayang karena sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk sekadar mengambil paket ekonomis dengan menjual perhiasan yang menjadi investasinya selama ini.
"Lebih baik kupakai saja, mubazir jika tidak dipakai, dibuang juga sayang," kata Velan sambil mengusap bedak itu ke wajahnya.
Ia juga memulaskan perona bibir warna merah dengan rona jingga yang membuat wajahnya terlihat lebih segar.
Usai mematut sekali lagi penampilannya, Velan pun keluar dari ruang penatu.
Ia berpapasan dengan Doni yang menunggu di ruang tamu. Doni terlihat mengenakan kemeja denim serta celana jeans yang membuat penampilan pria itu jauh lebih santai.
"Nona Velan, Anda sudah mau pergi?" tanya Doni.
"Ya, sampai ketemu di tempat tujuan," sahut Velan sebelum pergi.
Doni mengulas senyumnya.
Kasihan sekali Nona Velan, sudah berpenampilan rapi seperti itu, tapi ternyata hanya akan jadi bahan tertawaan Tuan Voren, Doni membatin.
...~...
Voren keluar dari kamarnya, ia hanya mengenakan kaus warna putih serta kardigan berwarna biru gelap yang dipadu dengan celana jeans. Sungguh penampilan yang jauh lebih santai, tapi lebih baik, daripada pria itu mengenakan piyama untuk pergi kencan.
Voren menggulung lengan kardigannya hingga sebatas siku. Matanya teralih pada pintu ruang penatu yang tertutup.
"Apa istriku sudah pergi, Doni?" tanya Voren.
"Nona Velan sudah pergi empat puluh lima menit yang lalu," jawab Doni.
"Wah, dia begitu antusias untuk pergi berkencan denganku! Cih, aku jadi tidak sabar untuk menertawakan betapa halunya dia! Haha," Voren tertawa.
__ADS_1
Doni mengangguk.
"Mari kita pergi, Tuan," kata Doni.
...~...
Restoran B merupakan restoran eksklusif yang ada di pusat kota. Restoran tersebut berkonsep outdoor dengan gazebo-gazebo serta kolam-kolam ikan koi sebagai pemandangan utamanya. Di tambah suasana yang teduh dengan banyaknya pepohonan rimbun membuat restoran tersebut menjadi restoran favorit bagi kalangan manusia-manusia dengan strata sosial kelas atas. Restoran tersebut dipilih oleh Voren karena merupakan restoran favorit pria itu.
Doni segera memarkirkan mobil yang dikemudikannya, Voren merapikan penampilan sebelum turun dari mobil. Ketika memasuki restoran yang begitu ramai, penampilan Voren jelas langsung membuat semua mata tertuju padanya.
"Gila, tampan sekali, apa dia aktor?"
"Wah, sumpah, tampan sekali!"
Doni mencari-cari keberadaan Nona Velan yang sudah pasti menunggu lebih dulu. Terlihat hampir semua meja sudah penuh. Yah wajar sih, sekarang sedang jam makan siang.
Voren dan Doni bergegas menghampiri sebuah gazebo. Velan sudah duduk sambil berkutat di depan layar ponselnya.
Kedua pria itu segera duduk di hadapan Velan.
"Wah, kalian akhirnya datang juga, kenapa kalian datang berdua? Di mana Soraya?" tanya Velan sambil melayangkan senyum sinis.
"Kenapa kau datang sendiri? Di mana pria idaman lainmu itu?" tanya Voren.
"Pria idaman lainku akan menyusul, katanya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Velan.
Mana bisa kau membandingkan dirimu dengan Daren! Batin Velan.
Pelayan datang mengantarkan buku menu.
"Istriku, pesan saja apa pun yang kau inginkan! Makanlah selagi kau masih bisa makan!" kata Voren.
"Aku akan makan saat kekasihku datang," kata Velan.
"Oh, ahaha," Voren tertawa sambil melirik ke arah Doni.
Doni benar-benar merasa merana karena hanya bisa menahan tawa. Ia tentu jauh lebih santun untuk tidak menertawakan orang yang sedang depresi.
"Akan saya pesankan makanan," kata Doni segera memilih menu.
"Untuk sup ikan kakap, tim ikan, tolong tanpa gula dan garam, kemudian untuk saladnya jangan diberi garam, lada," kata Doni pada pelayan.
Velan melemparkan pandangannya ke arah kolam ikan yang berisi ratusan ekor ikan koi berukuran besar. Para pengunjung terlihat melemparkan pakan ikan yang bisa dibeli di meja kasir.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak datang bersama Soraya? Bukankah sekarang ini adalah kencan ganda, kenapa kau justru datang bersama Doni?" tanya Velan.
"Istriku, apa kau pikir Soraya adalah wanita yang punya banyak waktu sepertimu?" Voren balik bertanya.
"Apa?! Apa kau pikir aku adalah wanita yang tidak punya pekerjaan?!" sergah Velan.
"Ya, kau memang sibuk, sibuk berhalusinasi, begitu kan?" tanya Voren seraya tertawa.
"Apa?! Aku sibuk berhalusinasi?! Apa maksudmu mengataiku seperti itu?!" tanya Velan.
Doni menghela napas berat. Lagi-lagi pasangan suami istri ini berdebat. Bisakah mereka berdebat di rumah saja?
"Ya, kau berhalusinasi saja kan, Istriku? Sebegitu inginnya kau berkencan denganku sampai mengusulkan kencan ganda! Padahal kau tidak punya kekasih!" kata Voren.
"Apa kau bilang?! Voren Lazaro! Aku benar-benar punya kekasih! Sebentar lagi kekasihku datang!" kata Velan.
"Ya, kau punya kekasih, kekasih khayalan! Haha," Voren kembali tertawa.
"Aku benar-benar punya kekasih! Kekasihku yang luar biasa tampan! Kau itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekasihku!" sergah Velan.
"Oh, maksudmu, kekasihmu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang beriman dan beramal sholeh?" tanya Voren dengan nada mengejek.
"Apa?!" Velan meradang mendengar ejekan Voren.
"Oh, pantas saja aku merasa melihat ada pria tampan yang duduk di sampingmu! Ini toh, kekasihmu!" Voren mengulurkan tangannya ke sisi kosong di samping Velan.
"Siapa namamu? Wah, kau tampan sekali ya," ejek Voren dengan gerakan tangan orang yang bersalaman.
"Tuan Voren, Anda benar-benar orang yang beriman dan beramal sholeh, makanya bisa melihat kekasih Nona Velan," sahut Doni.
"Tentu saja, Doni, kekasih Istriku ini hanya bisa dilihat dengan mata batin! Haha," Voren tertawa.
"Haha," Doni ikut tertawa namun cepat-cepat ia menutup mulutnya.
Velan benar-benar meradang melihat kelakuan dua pria ini yang terang-terangan mengejeknya.
"Ya, tertawa saja selagi kalian masih bisa tertawa," cibir Velan.
Daren, kumohon segeralah datang, batin Velan.
Velan tersenyum sumringah begitu melihat sosok pria yang melangkah menuju ke arahnya.
"Itu kekasihku datang," kata Velan.
__ADS_1
Tawa Voren dan Doni terhenti tatkala melihat pria yang menghampiri meja mereka.
...~...