Jodoh Instan

Jodoh Instan
Kepergok


__ADS_3

Velan melangkah keluar dari gedung Emperor Grup dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi. Ia segera melangkah menuju ke taman yang letaknya tak jauh dari gedung Emperor Grup. Taman itu nampak dipenuhi pepohonan rindang dan bunga-bunga. Velan menuju ke sepetak area taman yang nampak ditanami bunga marigold, bunga berwarna jingga dengan aroma busuk yang bahkan kumbang pun tak mau hinggap sehingga bunga tersebut lebih dikenal sebagai bunga tahi ayam.


Saat masih kecil, keempat kakak Velan kerap menjadikan bunga tahi ayam sebagai bahan untuk menghukum siapa pun yang kalah saat mereka bermain. Mereka meremas kelopak bunga beraroma busuk itu lalu membekapnya ke hidung setiap anak yang menjadi tumbal setiap kali kalah. Betapa busuknya aroma bunga tahi ayam itu sampai Tomi pernah benar-benar pingsan saat menerima hukuman bunga tahi ayam.


Harusnya bunga tahi ayam itu beraroma busuk yang menusuk hidung. Namun bagi Velan, saat ini hatinya terlalu senang dan berbunga-bunga hingga aroma busuk itu tidak digubrisnya.


"Mana mungkin suamiku pulang ke rumahmu! Tanpa kau suguhkan, tanpa kau hidangkan, gula, gula, gula, gula!" Velan melantunkan syair lagu dangdut klasik sebelum akhirnya berlari mengelilingi taman dengan perasaan suka cita.


Velan berlari-lari meluapkan rasa bahagianya karena berhasil melakukan ciuman pertama dalam hidupnya. Terlebih dengan suaminya sendiri yang kerap menolak saat Velan ingin menciumnya. Jika memang tidak ada jejak cinta yang ditinggalkan oleh Doni, itu artinya Doni ingin bermain cantik.


"Baiklah Pak Doni, kalau kau bisa merasa menang karena sudah tidur dengan suamiku, maka aku juga harus bisa melakukannya," kata Velan bermonolog.


Velan tertawa terbahak-bahak, membuat semua orang yang berada di sekelilingnya memandanginya keheranan.


...~...


"Huekk... huekk..."


Doni dengan sigap mengusap tengkuk belakang Tuan Voren. Jika ada yang melihat mereka saat itu mereka sungguh nampak seperti suami yang begitu sigap mengurus istrinya yang tengah hamil trisemester pertama.


Voren mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel lantaran merasa mual saat begitu bersemangat menggosok gigi dan menyikat lidahnya. Ia sungguh tidak terima mendapat ciuman dari istrinya yang benar-benar persis seperti wanita murahan.


Wajah Voren memerah seperti kepiting saos padang. Voren segera meneguk sebotol obat kumur beraroma mint guna menghilangkan aroma tidak segar yang memenuhi rongga mulutnya.


"Argh, Doni! Wanita itu, berani-beraninya dia," Voren terlihat begitu kesal.


Terlihat genangan air mata dan juga sisa ingus yang menunjukkan seolah ia baru saja menangis tersedu-sedu usai mendapatkan ciuman paksa dari istrinya.


Voren mencuci wajah, kemudian memakai handuk yang diserahkan oleh Doni.


"Ugh, aku ternoda, Doni! Aku ternoda!" geram Voren.


Doni hanya menyembunyikan senyumnya.


Anda hanya berciuman dengan istri Anda, Tuan! Anda bukan korban pencabulan, batin Doni.


"Argh, kesal sekali, aku dan Soraya saja belum pernah berciuman, tapi dia...," Voren menghentikan umpatannya.


Ia tersadar tidak seharusnya keceplosan masalah tersebut karena Doni nampak menarik senyum misterius ke arahnya.


"Wanita itu keterlaluan! Habis sudah sabarku ini, Doni! Bagaimana dia bisa bersikap seenaknya seperti ini, Doni?!" Voren melempar handuk di tangannya ke arah Doni.


Yang bersikap seenaknya bukannya justru Anda sendiri, Tuan?


"Tuan, menurut saya pribadi, mungkin Nona Velan hanya merasa butuh perhatian dan kasih sayang, Tuan," kata Doni menanggapi.


"Haha," Voren tertawa namun tawanya penuh dengan nada nyinyir.


"Jangan bicara omong kosong begitu, Doni!" sergah Voren sambil memegangi bibirnya.


Ia benar-benar kesal, bagaimana bisa ia kecolongan seperti itu. Seenaknya saja wanita itu menciumnya dengan begitu liar.

__ADS_1


"Doni, buat klarifikasi kepada pegawai yang bermasalah dengan istriku!" kata Voren.


"Klarifikasi apa, Tuan?" tanya Doni.


"Wanita itu bukan istriku, tapi hanya kurir yang datang mengantarkan makan siang untukku!" sahut Voren.


Pria itu kembali duduk di kursi kerjanya, menumpukan dagunya dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas meja.


Doni terperangah mendengar perkataan atasannya itu.


"Tuan, Anda serius dengan apa yang Anda ucapkan?" tanya Doni keheranan.


"Doni, wanita yang kuinginkan untuk menjadi istriku adalah Soraya! Bukan wanita aneh, gila, dan liar macam wanita itu!" sungut Voren.


...~...


Hari sudah mulai gelap saat Velan selesai mengemas pesanan kue brownis mini yang rencananya akan ia antar langsung ke pembeli malam ini.


Velan sungguh merasakan bunga-bunga bermekaran di sekelilingnya. Sepanjang siang ia terus mengingat kejadian romantis dengan suaminya. Ciuman pertama yang berani sekaligus mendebarkan, hìngga makan siang bersama sambil suap-suapan sungguh menjadi hal paling istimewa dalam hidup Velan. Di tambah lagi siang ini ia menerima pesanan kue yang cukup banyak sehingga pada akhirnya ia menghabiskan sisa harinya untuk mengolah pesanan.


Sepertinya hari ini berjalan begitu sempurna untuk Velan. Begitulah, meski semalam badai datang menghantamnya lantaran suami yang tidak pulang ke rumah, namun hari ini kekesalannya itu terbayarkan.


Velan segera menutup kios untuk mengantarkan pesanan pelanggan yang memesan cukup banyak kue. Alamat pengantarannya pun ada beberapa tempat. Sehingga ia akan mengantar ke tempat dengan rute terdekat dulu.


Velan segera memakai masker dan helmnya sebelum mengendarai sepeda motor menembus malam yang mulai nampak pekat.


Setibanya di alamat tujuan pengantaran terakhir, Velan terpana karena alamat tersebut adalah butik bernama Sky's yang beberapa waktu lalu Velan kunjungi bersama Desi dan Lita untuk membeli gaun saat butik itu mengadakan soft opening.


Velan tidak membuka helm dan maskernya karena begitu mengantar pesanan dan menerima pembayaran, ia akan langsung pergi.


Seorang pegawai butik bernama Liyah langsung menyambut Velan.


"Dari Vels, ya?" tanya Liyah.


"Benar, pesanan dari Mbak Manda, dua belas stoples brownis mini," jawab Velan sambil menyerahkan nota.


Liyah mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Manda. Liyah tentu tidak bisa sembarangan berteriak-teriak karena saat ini tim sedang sibuk bekerja di lantai atas.


Manda menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Ia segera menemui Velan yang sudah menunggu.


"Berapa semuanya?" tanya Manda.


"Ini notanya," jawab Velan sambil menyodorkan selembar nota pada Manda.


"Sebentar ya, tas saya di atas," kata Manda.


"Baik, saya tunggu di sini," kata Velan.


Velan menunggu sambil melihat-lihat sekeliling butik. 


Pintu masuk terbuka, Liyah segera menyambut kedatangan bosnya yang baru saja tiba bersama dua pria tampan. Pria tinggi dan berkilauan itu bernama Voren dan yang satunya lagi dipanggil Doni.

__ADS_1


"Voren, terima kasih atas makan malamnya, dan terima kasih sudah mengantar," kata Soraya.


"Soraya, apa malam ini kau akan lembur seperti semalam?" tanya Voren ke arah Soraya.


"Voren, sungguh kau tak perlu mencemaskanku," jawab Soraya.


"Aku akan menginap di sini lagi," kata Voren.


"Voren," Soraya menatap lurus ke arah Voren.


Voren segera meraih kedua tangan Soraya.


"Soraya, jangan bekerja terlalu keras, bagaimana jika kau sampai jatuh sakit di hari yang begitu penting?" kata Voren sambil menatap Soraya dengan tatapan penuh arti.


"Voren, terima kasih sudah begitu mencemaskanku," kata Soraya.


"Soraya, aku sungguh mencemaskanmu," kata Voren yang langsung mengecup kedua punggung tangan Soraya.


Soraya tersentak kaget, ia menarik tangannya namun Voren menahan tangan Soraya seakan tak mau melepaskan tangan Soraya yang sudah digenggamnya.


Ponsel Doni bergetar di dalam saku jas. Doni menatap nama yang tertera di layar gawai cerdasnya.


Doni tak langsung menjawab, ia membiarkan ponselnya bergetar tanpa suara. 


Tak berapa lama, pesan pun muncul di layar ponsel Doni.


Pak Doni, kapan Suamiku pulang? 


Begitulah pertanyaan yang diajukan si pengirim pesan yang tak lain adalah Nona Velan.


"Tuan, istri Anda bertanya kapan Anda pulang," kata Doni setengah berbisik.


"Doni, malam ini aku tidak akan pulang, aku akan menginap di sini lagi," kata Voren.


...~...


"Mbak, ini uangnya," kata Manda kepada Velan.


"Terima kasih," kata Velan langsung mengambil uang itu dan menyimpan dalam kantong jaketnya.


"Tidak dihitung dulu?" tanya Manda.


"Aku percaya, Mbak," jawab Velan.


Velan segera berpamitan dan melewati dua pria yang sangat dikenalnya itu namun keduanya tidak mengenali Velan.


Velan keluar dari pintu butik dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata dan membuat pandangannya kabur. Dadanya bergemuruh dan ia merasakan rasa sesak yang menghantam-hantam dirinya.


Ponsel Velan bergetar dan menampilkan sebuah pesan masuk dari asisten pribadi suaminya.


Tuan Voren masih lembur, Nona.

__ADS_1


...~...


__ADS_2