Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E41


__ADS_3

Voren beranjak dari sofa, ia segera mengambil posisi di depan semua orang. Semua mata jelas langsung tertuju padanya terlebih ketika pria itu mulai menyanyikan lagu yang dipilihnya.


"Ingin kubunuh pacarmu, saat dia cium bibir merahmu. Di depan kedua mataku. Hatiku terbakar jadinya cantik. Aku cemburu!"


Velan tercengang melihat Voren yang menyanyi seakan ia sedang melakukan konser tunggal.


Daren mengulas senyumnya sambil bertepuk tangan mengapresiasi penampilan Voren.


Dinar bersorak heboh, ia sungguh tidak menduga bahwa Tuan Voren ternyata sangat totalitas dalam menyanyi.


"Ingin kubunuh pacarmu. Saat dia peluk tubuh indahmu. Di depan teman-temanku. Makan hati jadinya cantik. Aku cemburu!"


Voren menunjuk ke arah Doni, kemudian Dinar, lalu Velan dan juga Daren.


Voren bahkan duduk di samping Daren, lalu merangkul leher Daren seakan hendak mencekik Daren dengan sikunya.


"Mungkin kukatakan padanya saja. Bahwa aku juga milikmu. Bahwa aku juga... Bahwa aku juga kekasih hatimu," Voren melepas sikunya dari leher Daren sambil mengulas senyum penuh kemenangan.


Velan jelas merasa bahwa saat ini Voren sedang mengibarkan bendera perang ke arahnya.


Apa maksud pria itu menyanyikan lagu yang seakan menyindir Velan habis-habisan?


Doni hanya bisa menggoyang-goyangkan kecrekannya namun dalam hati ia benar-benar tak habis pikir. Mengapa Tuan Voren sampai bertindak gila seperti itu?


Menyanyi dengan suaranya yang fals dan terdengar sumbang. Namun kepercayaan diri jelas membuat suaranya yang fals tidak akan dipedulikan oleh siapa pun.


Voren merentangkan kedua tangannya begitu lagu yang ia nyanyikan telah berakhir.


"Bravo! Bravo!" Doni berseru heboh.


"Waaww! Tuan Voren! Penampilan penuh totalitas!" seru Dinar bersorak heboh.


Voren menyugar rambutnya, mengulas senyum penuh kemenangan. Seakan ia baru saja selesai bernyanyi di atas panggung kompetisi menyanyi dan seluruh dewan juri berdiri sambil bertepuk tangan mengaguminya.


"Siapa selanjutnya?" tanya Dinar.


"Saya," jawab Velan penuh percaya diri.


Velan segera memilih lagu melalui tablet pintar tersebut.


"...Katanya ke kantor alasannya lembur tapi kau hepi. Bicaramu banyak suka pura-pura aku tertipu. Itu sudah biasa, selingkuh kau anggap biasa. Wanita mana tak kecewa arjunanya buaya!" Velan menyanyikan lirik lagu dangdut.


Voren yang meneguk air minumnya langsung menyemburkan air ke arah Doni. Doni sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi.


Entah mengapa lagu yang dinyanyikan Nona Velan jelas sekali menyindir keras Tuan Voren. Doni jadi teringat saat ia berbohong kepada wanita itu. Ia mengaku Tuan Voren mabuk dan menginap di tempatnya. Ia juga berbohong bahwa Tuan Voren sedang lembur bekerja padahal saat itu beliau sedang bersama Soraya.

__ADS_1


Sebenarnya Doni adalah orang yang pantang untuk berbohong. Namun saat itu ia berbohong lantaran terdesak pada keadaan yang memaksa. Doni benar-benar tidak menyangka, kebohongan tersebut membuahkan hasil yang mengerikan.


Daren mengulas senyumnya, lelaki itu benar-benar hanya mengarahkan pandangannya kepada Velan. Daren bisa melihat bahwa wanita itu menyanyi untuk mengungkapkan apa yang selama ini dipendamnya. Daren jelas menaruh simpati pada wanita itu bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.


Masih segar dalam ingatan Daren, bagaimana wanita itu menangis tersedu-sedu sambil menceritakan kisah hidupnya yang begitu miris. Kemudian wanita itu datang kembali dengan mata yang berkaca-kaca memohon bantuan Daren agar segera bercerai dari sang suami.


Velan sudah selesai menyanyi, Dinar dan Daren bertepuk tangan gegap gempita.


"Wah, Nona Velan, Anda luar biasa! Nyanyian Anda benar-benar sangat emosional!" puji Dinar.


"Ahaha," Velan tertawa.


"Pengalaman pribadi sepertinya ya, Nona?" tanya Dinar.


"Begitulah, maaf ya, saya jadi terbawa perasaan," jawab Velan sambil menyeringai dan melirik dua pria pendusta yang mematung.


"Nona Velan, Anda tenang saja, Pak Daren orangnya tidak seperti itu! Beliau kalau lembur, ya benar-benar lembur!" kata Dinar.


"Iya, saya percaya pada Daren, karena Daren memang pria terbaik dalam hidup saya, saya benar-benar bersyukur karena Tuhan mengirimkan Daren untuk saya," kata Velan sambil menatap Daren lekat-lekat.


"Oh My... oh my! Nona Velan, jiwa saya bergetar, bergejolak mendengarnya!" kata Dinar dengan kehebohannya.


Daren mengulas senyumnya ke arah Velan.


Radiasi panas yang dipancarkan oleh Tuan Voren seakan hendak ikut membakar Doni. Ya, pria itu benar-benar terlihat luar biasa kesal namun berusaha untuk tetap tersenyum ramah.


"Daren!" Voren langsung meringkus Daren.


Daren terhuyung karena Voren langsung bergelayut di bahunya.


"Bosan sekali karaoke! Ayo kita melakukan hal yang lebih menantang adrenalin!" ajak Voren.


Voren mengulas senyum misteriusnya.


...~...


Voren memutar-mutar bola basket di tangannya begitu ia memasuki lapangan basket.


"Ayo kita bertanding basket, Daren," tantang Voren.


Daren mengulas senyumnya.


"Daren, aku mengajakmu bertanding basket, bukan kompetisi senyum ala iklan pasta gigi!" kata Voren sambil memantulkan bola basket ke lantai.


"Voren, kenapa kau tiba-tiba mengajakku bertanding basket?" tanya Daren.

__ADS_1


"Kenapa? Kemampuanmu bermain basket sudah menurun drastis ya?" Voren balik bertanya.


Daren hanya mengulas senyumnya. Velan dan Dinar yang duduk di pinggir lapangan mengamati dua pria yang saat ini berdiri di tengah lapangan.


"Daren ini dulu jago sekali loh bermain basket! Dia bintang sekolah! Setiap hari semua gadis-gadis bodoh menjerit histeris! Dan gadis-gadis bodoh itu rela saling berkelahi, saling klaim sebagai kekasihmu" kata Voren.


Voren jelas harus membuat istrinya mendengar dengan jelas masa lalu Daren sebagai pemuda yang kerap berganti kekasih.


Bagaimana, Istriku?! Pria yang kau kencani adalah playboy kelas kakap! Batin Voren.


"Haha, aku rasa kau tidak perlu membahas itu Voren, itu hanya masa lalu," tukas Daren.


"Ahaha, kau takut kekasihmu cemburu dengan masa lalumu, Daren?" tanya Voren.


Daren tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum.


"Ayo, Daren! Kita bertanding! Apa kau tidak mau bertanding karena kemampuanmu sudah sangat menurun?" tanya Voren.


"Aku hanya sudah lama sekali tidak bermain basket, Voren," kata Daren.


"Ahaha, aku pikir karena kau sudah terlalu tua dan semua otot-otot di tubuhmu sudah kaku semua!" ejek Voren.


Daren kembali mengulas senyumnya namun ia langsung merebut bola basket di tangan Voren. Daren melakukan dribble, mengambil langkah lay up, lalu memasukkan bola ke dalam keranjang.


"Woah! Pak Daren keren sekali!" Dinar bersorak dan bertepuk tangan heboh.


Daren kembali mengambil bola yang memantul dengan cepat, lalu melakukan dribble hingga ke tengah lapangan.


Voren jelas menangkap sinyal bahwa saat ini Daren sudah bersiap untuk bermain basket.


Aku benar-benar akan mempermalukanmu di depan istriku, Daren! Batin Voren.


Voren segera merebut bola dari tangan Daren, Daren mencoba merampas bola yang dibawa kabur oleh Voren.


Voren melemparkan bola basket ke arah keranjang, namun dengan cepat Daren menepis bola tersebut.


Voren mendelik gusar karena ia kehilangan kesempatan untuk melakukan tembakan ke keranjang karena tepisan dari Daren.


Voren menatap kesal kepada Velan yang terlihat ikut bersorak bersama Dinar di pinggir lapangan karena Daren berhasil memasukkan bola basket ke dalam keranjang.


Kesal! Kesal! Kesal!


Voren mengumpat dalam hatinya karena ia merasa gagal keren.


...~...

__ADS_1


__ADS_2