
Daren Won, pria berusia tiga puluh lima tahun. Tampan, lajang, dan cemerlang adalah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan sosok seorang Daren. Daren memiliki perawakan tubuh tinggi dan atletis. Raut wajahnya tegas dan pembawaannya tenang serta ramah. Ia bekerja di Emperor Grup dan memegang posisi sebagai direktur operasional. Keluarga Won menjadi pemegang saham nomor dua di Emperor Grup. Ibu Daren bernama Darla, memegang posisi sebagai anggota dewan komisaris Emperor Grup, beliau sangat berambisi untuk menjadikan Daren sebagai presiden direktur sehingga Daren pun harus bersaing ketat dengan Voren.
Daren baru saja selesai mandi saat ibunya menelepon. Ia segera duduk di tepi kasur untuk menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Bu," jawab Daren.
"Daren, Ibu sudah menyiapkan pasangan kencan buta untukmu yang harus kau temui sekarang," kata Darla.
Daren mendelik gusar, lagi-lagi sang ibu menyuruhnya untuk menghadiri kencan buta.
"Ibu, bukankah kita sudah sepakat bahwa aku tidak akan menikah sampai aku mendapatkan posisi presiden direktur?" tanya Daren.
"Daren, apa salahnya kau mencari pasanganmu dari sekarang, sehingga begitu kau mendapatkan posisi presiden direktur, kau akan langsung menikah," sahut Darla.
"Ibu," kata Daren.
"Daren, mumpung kau ada di kota B, pasangan kencan butamu juga sedang berada di kota B, Ibu akan mengirimkan profil wanita itu, menurut Ibu wanita itu sungguh sempurna untukmu, Daren," kata Darla terdengar tak ingin Daren membantahnya.
"Baiklah, Bu," kata Daren.
"Ibu akan menghubungimu lagi, bersiaplah dan jangan mengecewakan Ibu lagi," kata Darla.
"Baik Bu, aku mengerti," kata Daren.
Terdengar Darla menutup teleponnya, Daren menghela napas lalu segera menghubungi Dinar.
"Dinar, saya tidak jadi pulang hari ini, tolong aturkan penerbangan besok saja, kau bisa kembali lebih dulu," kata Daren.
"Baik Pak Daren, saya mengerti," kata Dinar.
Daren segera menutup teleponnya, ia melemparkan ponselnya ke atas kasur. Tak berapa lama sebuah pesan masuk di layar ponselnya. Pesan tersebut berasal dari rekan kencan butanya. Sejujurnya Daren tak tertarik mengikuti kencan buta yang diaturkan oleh ibunya. Karena kandidat kencan butanya serupa dan seragam. Wanita-wanita cantik, berasal dari kalangan atas, berpendidikan tinggi, dan tentu saja menurut ibunya sangat sempurna untuk mendampingi Daren.
Daren sendiri memilih untuk tetap melajang lantaran tujuh tahun silam ibunya menolak wanita pilihannya, padahal wanita itu sudah menjadi kekasih Daren sejak mereka kuliah. Cinta terhalang restu membuat Daren akhirnya harus berpisah dari wanita itu. Oleh karena itu, Daren jadi malas untuk berkencan secara serius lantaran tak ingin menyakiti siapa pun lagi.
Daren segera membuka kopernya untuk mencari pakaian formal yang bisa ia kenakan. Berhubung kencan buta ini begitu mendadak dan di luar agenda kerjanya, otomatis Daren tidak menyiapkan pakaian formal. Ia juga tak mungkin pergi ke mall karena sudah mepet dengan jam pertemuannya. Akhirnya Daren memutuskan untuk berpenampilan seadanya saja. Daren mengenakan kaos hitam yang membungkus sempurna tubuh atletisnya, serta celana chino hitam.
Toh ini hanya kencan buta seperti kencan buta lain yang sudah sering diikutinya namun sama sekali tidak membuahkan hasil.
...~...
Daren segera menuju ke restoran yang berada di area outdoor hotel. Daren sengaja memilih restoran di hotel ini agar ia tak perlu repot ke mana-mana. Begitu pertemuannya selesai, ia bisa langsung kembali ke kamar untuk beristirahat daripada harus terjebak kemacetan saat akhir pekan.
__ADS_1
Daren menunggu di meja dengan pencahayaan temaram. Debur ombak, hembusan angin, serta lantunan musik dari band akustik sungguh menciptakan suasana yang nyaman.
Daren melihat jam tangannya, pasangan kencan butanya ini rupanya datang terlambat. Bagi Daren yang sangat menghargai waktu, tentu rasanya pasangan kencannya ini sedikit lancang karena tidak datang tepat waktu.
Tiba-tiba seorang wanita berpakaian serba hitam langsung menghampiri meja Daren. Wanita itu nampak tergesa-gesa dan langsung duduk tepat di hadapan Daren. Daren tentu saja bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita ini?
Apa wanita ini pasangan kencan butanya?
Kenapa berbeda sekali dengan yang ada di foto? Apa efek kamera jahat? Apakah aplikasi menyunting foto yang digunakan wanita ini terlalu berlebihan hingga tak bisa di kenali?
"Selamat malam," sapa wanita itu.
"Maaf saya datang terlambat," katanya meminta maaf pada Daren.
Daren mengamati wanita yang nampak menunduk dan menoleh ke kiri serta ke kanan.
"Maaf, bisakah kita berbincang di tempat lain yang lebih tenang?" tanya wanita itu dengan wajah memelasnya yang nampak sembab.
"Tolong, saya mohon," kata wanita itu memelas.
"Ada masalah apa dengan tempat ini?" tanya Daren keheranan.
"Saya mohon, ikutlah dengan saya, saya janji ini hanya konsultasi saja, tidak lebih," kata wanita itu.
Wanita itu segera beranjak dari kursinya dan nampak akan berlutut di hadapan Daren.
"Nona," kata Daren menahan wanita asing yang hendak berlutut di hadapannya.
"Baiklah, saya akan ikut dengan Anda," kata Daren akhirnya menyerah.
...~...
Daren mengikuti wanita yang saat ini membawanya ke sebuah kamar yang masih satu lokasi dengan hotel tempatnya menginap. Wanita itu mempersilakan Daren untuk duduk di sofa. Daren mengamati wanita berwajah sembab yang nampak begitu lelah. Wanita itu segera duduk di sisi sofa yang lain, mengamati Daren, kemudian menunduk.
"Bisakah kita sepakati untuk tidak mengaktifkan ponsel?" tanya wanita itu sambil mengeluarkan ponselnya.
Ia mematikan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja.
"Saya harap, pembicaraan kita tidak direkam guna menghindari hal-hal yang kiranya akan merugikan kita berdua," kata wanita itu menatap lurus ke arah Daren.
Melihat sikap wanita itu nampak begitu sportif, Daren mengeluarkan dua buah ponsel yang ia kantongi, mematikannya dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
"Terima kasih atas kerja sama Anda," kata wanita itu lagi.
Daren masih diam dan mengamati wanita di hadapannya ini dengan saksama.
"Apa anda mau saya buatkan teh?" tanya wanita itu.
"Terima kasih, saya rasa tidak perlu," jawab Daren.
Daren tentunya harus tetap waspada terhadap wanita asing yang tiba-tiba datang dan memohon padanya. Daren jelas tak ingin wanita ini berlutut di hadapannya dan mengundang perhatian pengunjung restoran.
"Saya sungguh berterima kasih atas sikap kooperatif Anda," kata wanita itu lagi.
"Untuk saling menjaga rahasia, saya harap Anda tidak keberatan jika kita tidak perlu saling memperkenalkan diri," kata wanita itu lagi.
Daren semakin heran dengan wanita ini, wanita ini jelas sepertinya bukan pasangan kencan butanya. Namun entah mengapa ia merasa ini menarik.
"Tidak masalah," jawab Daren.
"Saya tak tahu harus bicara pada siapa, saya tak mungkin mengajak rumput yang bergoyang untuk bicara empat mata," kata wanita itu dengan sorot mata penuh kesedihan yang membuat Daren bersimpati.
"Hmm, Tuan, menurut pandangan Anda secara pribadi, seperti apakah saya di mata Anda?" tanya wanita itu.
"Kita bahkan tidak saling mengenal, bagaimana saya bisa menilai Anda?" Daren balik bertanya.
"Maksud saya, dari sudut pandang pria macam Anda, apakah saya menarik atau tidak?" tanya wanita itu berusaha menjelaskan.
Pria macam aku? Pikir Daren.
"Tolong, berikan penilaian secara objektif," kata wanita itu lagi.
Daren mengamati wanita di hadapannya dengan saksama.
"Mengapa Anda butuh penilaian seperti itu?" tanya Daren.
Wanita itu menghela napas berat.
"Saya akan menceritakan secara garis besar, namun tolong jangan menghakimi saya," kata wanita itu kembali memohon pada Daren.
"Baiklah, silakan," kata Daren.
...~...
__ADS_1