
Manda dan Liyah yang sedari tadi asyik menyusun gaun-gaun di rak langsung menghentikan aktivitas mereka tatkala melihat wanita berpenampilan bak ibu pejabat dengan pengawalan yang begitu ketat memasuki butik.
"Selamat datang," Manda dan Liyah menyambut, sosok wanita paruh baya yang begitu cantik dan anggun itu tersenyum ramah kepada keduanya.
"Selamat siang, apa Soraya ada?" tanya si wanita paruh baya sambil mengulas senyum ramah.
"Bu Soraya ada di atas," jawab Manda yang terpana.
"Saya ingin bicara dengan Soraya," kata Vega.
Tanpa banyak basa-basi Liyah langsung berlari menaiki tangga dan memberitahukan kepada bos mereka bahwa mereka kedatangan tamu kehormatan.
Siapa yang mencariku ya? Pikir Soraya sambil melangkah menuruni tangga.
Mata Soraya menangkap sosok wanita paruh baya dengan rambut hitam yang tertata rapi. Wanita paruh baya berwajah ramah yang langsung mengulas senyum lebar begitu Soraya menghampirinya. Soraya melihat penampilan khas wanita kelas atas dari tamunya ini. Terlihat beberapa pengawal berbaju hitam turut berjaga di sekitar mereka.
"Perkenalkan, nama saya Vega, saya ibunya Voren," Vega mengulurkan tangannya.
Soraya terperangah sambil menyambut uluran tangan Vega dan mereka saling bersalaman.
"Soraya," kata Soraya memperkenalkan namanya.
"Soraya, bisakah kita berbincang?" tanya Vega.
...~...
Soraya membawa tamunya ke sebuah kafe terdekat yang lokasinya hanya berjarak dua ratus meter dari butiknya. Kafe mewah tersebut nampak sepi saat keduanya duduk di salah satu kursi. Pelayan kafe segera mencatat pesanan mereka. Soraya sengaja tidak membawa tamunya ke ruang kerja lantaran ruang kerjanya saat ini benar-benar sangat berantakan mengingat pagelaran busana yang akan digelar kurang dari dua minggu lagi.
Vega menyesap tehnya kemudian meletakkan cangkir teh, lalu menatap lurus Soraya.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berbincang dengan saya, Soraya," kata Vega.
Soraya hanya membalas dengan senyum yang terulas tipis.
"Kau pasti bertanya-tanya mengapa saya datang menemuimu," kata Vega.
"Anda benar sekali, Bu Vega," kata Soraya.
"Soraya, sudah berapa lama kau mengenal Voren?" tanya Vega.
"Kami sudah mengenal sejak masih kuliah, Bu," jawab Soraya.
Vega mengulas senyumnya, dalam hati ia tentu memuji wanita cantik yang pantas saja begitu dicintai oleh Voren.
"Soraya, apa saat ini kau dan Voren tengah berkencan?" tanya Vega.
Soraya terkesiap mendengar pertanyaan Vega.
"Tidak Bu, kami tidak berkencan," jawab Soraya. "Lagipula Voren sudah menikah," lanjutnya lagi.
"Maksudmu, jika Voren sudah bercerai, maka kalian akan berkencan?" tanya Vega lagi.
"Mohon maaf Bu, sebenarnya mengapa Anda menanyakan hal tersebut?" Soraya balik bertanya.
"Saya hanya datang untuk memastikan bahwa kalian berdua benar-benar serius dalam menjalani hubungan kalian. Voren bahkan sudah mengorbankan pernikahannya demi memilihmu," jawab Vega.
__ADS_1
Soraya kembali terperangah mendengar ucapan Vega.
"Sebagai orang tua, saya tentu ingin agar Voren benar-benar bahagia dengan wanita yang ia pilih dan tentu saya harus mendukung apa pun keputusan Voren," lanjut Vega.
"Bu Vega, apa maksud Anda?" tanya Soraya keheranan.
"Maksud saya, kalian harus segera menikah begitu perceraian Voren selesai. Saat ini Voren sudah dituntut untuk memberikan generasi penerus keluarga Lazaro, sehingga kalian tidak perlu menunda untuk segera memiliki momongan," jawab Vega.
Ya, bagi Vega saat ini mendapatkan cucu adalah prioritas utamanya. Terlebih Soraya adalah wanita yang begitu dicintai oleh Voren. Sehingga keinginannya itu pasti akan segera terpenuhi.
"Soraya, apa jangan-jangan kau sudah hamil ya?" tanya Vega.
"Maaf Bu, saya dan Voren tidak memiliki hubungan yang seperti itu, hubungan kami hanya sebatas rekan bisnis," jawab Soraya.
"Oh begitu, maaf ya, saya hanya terlalu antusias! Keinginan saya untuk segera menimang cucu benar-benar sangat besar, karena itu saya sungguh bergantung padamu, Soraya," kata Vega.
Vega meraih tangan Soraya dan menggenggamnya erat. Calon menantu baru yang akan menggantikan posisi Velan sebagai istri Voren karena wanita inilah yang sangat dicintai oleh Voren.
...~...
"Tuan, ini adalah dokumen yang diberikan oleh tim kuasa hukum yang mengurus perceraian Anda dengan Nona Velan," kata Doni sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat besar ke atas meja kerja Voren.
"Tuan, menurut saya, Anda tidak seharusnya menggugat cerai istri Anda dalam waktu dekat ini," kata Doni.
"Doni, apa maksudmu? Bukankah semakin cepat aku bercerai dari istriku, maka semakin cepat juga aku memiliki Soraya?! Aku tentu tidak bisa membiarkan Soraya pergi dari sisiku lagi, Doni!" kata Voren.
"Tuan, maksud saya adalah, perceraian dari pernikahan singkat Anda tentu akan menyorot perhatian publik! Terlebih jika setelah Anda bercerai dan kemudian langsung menikahi Soraya, tentu akan menggiring opini publik yang pastinya akan menimbulkan skandal!" Doni menjelaskan.
Voren memegangi dagunya, saat ini prioritas utamanya adalah bagaimana agar Soraya tidak akan kabur lagi darinya. Sehingga ia perlu bergerak cepat untuk mengikat wanita itu di sisinya.
"Aduh, Doni! Kau tidak usah pedulikan istriku! Meski menunggu hingga lebaran monyet, dia juga tetap tidak akan bersedia dicerai! Oleh karena itu, segera bawa dokumen ini padanya dan suruh dia segera menandatanganinya, Doni!" kata Voren sambil melotot ke arah Doni.
"Kemudian negosiasikan juga padanya, untuk memberikan kompensasi terbaik!" lanjut Voren.
"Baik Tuan, nanti akan saya aturkan semuanya," sahut Doni.
...~...
Velan memasuki sebuah kafe tempat ia akan bertemu dengan Doni. Selama beberapa waktu setelah Voren mengatakan akan menceraikannya, Velan merasa sesak saat harus tinggal di rumah itu. Meski setiap hari ia mengiba dan memohon agar Voren tidak menceraikannya, namun tetap saja keputusan Voren sungguh tidak bisa diganggu gugat.
Doni segera menghampiri meja tempat Velan menunggunya.
"Nona Velan, bagaimana kabar Anda?" tanya Doni pada Velan.
"Apa aku terlihat baik-baik saja, Pak Doni?" Velan balas bertanya.
"Saya hanya mencemaskan Anda, karena sudah beberapa waktu ini Anda tidak pulang ke rumah," jawab Doni.
"Sementara ini aku tinggal di kiosku, Pak Doni," sahut Velan.
"Nona, menurut saya, sebaiknya Anda tetap tinggal di rumah guna menghindari kemungkinan terciptanya skandal," kata Doni.
"Pak Doni, apa maksud Anda? Mengapa aku harus tinggal di tempat yang sama dengan suami yang akan menceraikanku demi wanita lain? Rasanya aku tidak sanggup untuk menghirup udara yang sama dengannya, Pak Doni!" sergah Velan dengan nadanya yang mulai mengandung emosi.
"Nona, menurut saya selama kalian berdua belum bercerai secara hukum yang berlaku, kalian tetaplah masih berstatus sebagai suami dan istri! Daripada Anda tinggal di luar sana dan tidak menutup kemungkinan akan menciptakan skandal, lebih baik Anda tetap tinggal di rumah Tuan Voren," Doni menjelaskan.
__ADS_1
"Pak Doni, apa kau mencurigai bahwa aku melakukan perselingkuhan di belakang Voren?" tanya Velan penuh selidik.
"Maksud saya bukan begitu, Nona," jawab Doni.
"Kalau bukan seperti itu, lantas seperti apa? Sekarang aku tanya, siapa yang berselingkuh dan siapa yang menjadi korban perselingkuhan? Voren yang jelas-jelas berselingkuh dengan Soraya, mengapa aku yang harus diwanti-wanti untuk tidak menimbulkan skandal?! Hah!" Velan menggebrak meja di hadapannya.
Doni terlonjak kaget.
Mampus, mampus! Batin Doni.
"Nona, maksud saya adalah jika Tuan Voren ketahuan membuat skandal, saya jelas akan turun tangan untuk melindungi beliau dengan segala cara! Sementara jika Anda yang membuat skandal, siapa yang akan pasang badan untuk Anda?" tanya Doni.
"Begitu ya, jadi maksudmu jika Voren yang berselingkuh, itu dianggap wajar, sedangkan jika aku yang berselingkuh maka disebut kurang ajar! Pak Doni, aku bahkan begitu setia pada Voren! Tak pernah terpikirkan olehku untuk menduakan pria itu!" cecar Velan.
"Tentu saja Nona, Tuan Voren sudah begitu sempurna! Mana bisa Anda mendapatkan pria yang lebih dari Tuan Voren dengan keadaan Anda yang seperti ini? Anda patut bersyukur karena sudah pernah menjadi istri Tuan Voren meski pun itu hanya sesaat," kata Doni.
Velan melayangkan tatapan skeptis ke arah Doni. Doni mengatupkan bibirnya, sepertinya ia sudah terlalu berterus terang.
Ya, wanita ini harus tahu siapa dia dan di mana posisinya, batin Doni.
"Nona, ini adalah dokumen dari tim kuasa hukum Tuan Voren untuk mengurus perceraian kalian," Doni menyodorkan sebuah amplop cokelat pada Velan.
Velan tertegun melihat amplop cokelat itu.
"Saya juga sudah mengaturkan besaran dana kompensasi yang akan Anda terima setelah bercerai dari Tuan Voren, tentu saja ada syarat dan ketentuan yang berlaku agar dana kompensasi itu bisa dicairkan. Oleh sebab itu saya harap Anda bisa bersikap kooperatif," Doni melanjutkan.
Velan membuka isi amplop berisi dokumen-dokumen yang harus ia tandatangani. Terdapat pula surat perjanjian untuk mendapatkan dana kompensasi setelah perceraian. Velan rasanya ingin menangis lagi, namun ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
"Anda tidak harus menandatanganinya sekarang, Anda bisa membaca semuanya baik-baik, dengan kepala dingin dan pikiran yang terbuka," kata Doni lagi.
Velan hanya diam sambil memasukkan semua dokumen itu ke dalam amplop.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, saya harus kembali ke kantor," kata Doni.
"Telepon saya lagi, jika Anda sudah selesai menandatangani semuanya, Nona," kata Doni sebelum pergi.
Velan benar-benar hanya bisa termenung menatap kepergian Doni.
Tak berapa lama Doni pergi, terlihat rombongan pria berbaju hitam yang mengawal sosok-sosok wanita yang dikenal oleh Velan.
Wanita paruh baya yang merupakan ibu mertuanya dan Soraya!
Apa yang sedang mereka berdua lakukan? Batin Velan.
Velan berpindah posisi tempat duduk untuk mencuri dengar pembicaraan dua wanita itu.
"Soraya, sungguh, sebagai orang tua saya tentu harus mendukung apapun keputusan Voren. Karena bagi saya, kebahagiaan Voren adalah segala-galanya bagi saya. Termasuk hubunganmu dengan Voren," kata Vega.
Velan merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Airmatanya kembali mengalir, cepat-cepat Velan bergegas meninggalkan kafe tersebut dengan perasaan hancur porak-poranda. Ibu mertuanya yang begitu baik bahkan mendukung Soraya.
Sebegitu mudahnya semua orang berpihak pada Voren dan tidak ada yang berpihak padaku.
Sungguh menyedihkan!
...~...
__ADS_1