Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E51


__ADS_3

Mata Velan tertuju ke arah wanita paruh baya berwajah angkuh beserta sepasang mata kucing yang selalu menatap dengan tatapan sinis. Wanita paruh baya itu adalah Darla Won, ibu dari Daren Won. Meski sudah berusia lebih dari lima puluh tahun, namun beliau tampak bugar. Darla selalu berpenampilan dengan rambut disanggul tinggi, wanita paruh baya itu juga kerap berpenampilan formal. Blazer abu-abu dengan bahu yang tinggi, kemeja berkerah tinggi berwarna krem, serta celana panjang berwarna senada dengan blazernya.


"Silakan duduk," perintah Darla pada Velan.


Velan tentu saja merasa gentar mendapat tatapan penuh intimidasi dari Darla. Velan segera duduk di kursi yang menghadap tepatĀ  di hadapan Darla.


Velan sangat terkejut karena tiba-tiba saja, empat orang pria berpakaian serba hitam melakukan penggerebekan di kios Velan.


Empat orang pria yang merupakan suruhan dari Darla datang untuk menjemput Velan. Tentu mudah bagi Darla untuk menemukan istri Voren berkat kepiawaian orang-orang suruhannya. Empat pria itu segera membawa Velan ke sebuah kafe yang berada di salah satu hotel berbintang lima.


Kafe tersebut sudah disewa Darla agar ia dan istri Voren, bisa berbincang dengan leluasa tanpa ada gangguan yang berarti.


Darla menyeruput tehnya sebelum mulai berbicara. Mata kucingnya menelaah penampilan wanita yang terlihat begitu tegang bahkan sebelum Darla memulai persidangannya.


Darla meletakkan cangkir teh, tak ada senyum ramah di wajah angkuhnya. Yang ada hanya tatapan mata berkilat-kilat penuh kemarahan yang harus mampu ditahannya.


"Namaku Darla dan aku adalah ibu dari Daren," Darla memperkenalkan dirinya secara singkat.


Velan berusaha untuk menyembunyikan rasa gentarnya. Mata kucing Darla seakan menyedotnya hingga Velan tak bisa berkata-kata. Wanita yang disangka Velan sebagai "Tante" dari Daren, rupanya adalah ibu dari Daren.


"Sudah berapa lama, kau berhubungan dengan Daren?" tanya Darla.


Velan seakan kehilangan kemampuannya untuk berbicara, tatapan mata Darla benar-benar menakutkan. Sungguh berbeda dengan ibu mertuanya yang selalu tersenyum ramah dan bersikap lembut pada Velan.


"Aku benar-benar tidak mengerti, bagaimana seorang wanita yang sudah bersuami sepertimu, masih mengincar pria lajang! Entahlah, apakah ini yang namanya bentuk keserakahan?!" kata Darla.


Darla benar-benar geram karena wanita di hadapannya ini bungkam seribu bahasa.


Brak...! Darla menggebrak meja, Velan terlonjak saking kagetnya.


"Kau! Gara-gara kau, Daren harus menerima akibat dari perselingkuhan yang kalian lakukan!" teriak Darla.


"A-apa?!" Velan tertegun.


"Entahlah, aku benar-benar tidak tahu, bagaimana caramu memperdaya Daren, hingga bersedia melakukan perselingkuhan yang jelas sangat merugikan Daren!" ujar Darla masih berapi-api.


"Nyonya, maaf, saya tidak mengerti apa maksud Anda," sergah Velan.


"Tidak tahu apa-apa?!" Darla kembali menggebrak meja.


Velan terlonjak kaget, nyalinya benar-benar menciut.


"Oh, rasanya aku bisa mengerti sekarang!" kata Darla tiba-tiba.


"Apa kau dan suamimu berkomplot untuk menjatuhkan Daren dengan isu perselingkuhan ini?" tanya Darla.


"Ya, aku rasa ini lebih masuk akal, pasti begitu kan?! Kau menggoda Daren, memanfaatkan kebaikan Daren yang pada akhirnya justru malah menjebak Daren! Jebakan yang begitu spektakuler yang pada akhirnya benar-benar berhasil membuat Daren harus kehilangan nama baiknya!" lanjut Darla.

__ADS_1


"Nyonya, maaf, saya sungguh tidak mengerti maksud Anda!" sergah Velan.


Senyum sinis tersungging di sudut bibir Darla. Darla jadi semakin yakin bahwa wanita ini jelas sudah berkomplot dengan Voren untuk menjatuhkan Daren demi merebut posisi Presiden Direktur.


"Jujurlah padaku, pasti Voren kan yang menyuruhmu untuk menggoda Daren! Voren benar-benar luar biasa, sebegitu inginnya mendapatkan kursi Presiden Direktur hingga menggunakan istrinya!" Darla menyeringai penuh kengerian.


Velan tertegun mendengar perkataan Darla. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksud dari setiap tudingan yang dilontarkan oleh Darla. Bagaimana bisa wanita itu menuduhnya telah berkomplot dengan Voren untuk menggoda Daren demi mendapatkan kursi Presiden Direktur? Omong kosong macam apa ini?!


"Nyonya, mohon maaf sebelumnya, saya sungguh tidak mengerti semua yang telah Anda katakan! Karena bagi saya, semua itu terdengar seperti sebuah omong kosong! Saya rasa ini hanya sebuah kesalahpahaman yang harus diluruskan!" kata Velan berusaha menepis semua tudingan Darla.


Byur...


Velan terperanjat saat Darla menyiramkan isi cangkir tehnya ke wajah Velan. Velan terperangah hingga tak mampu berkata apa-apa. Teh hangat yang mengguyur wajahnya sungguh tidak terasa bagi Velan.


Jantung Velan berdentam-dentam, jika teh yang disiramkan ke wajahnya adalah teh panas, Velan pasti sudah mengalami luka bakar.


Prang...!


Darla melempar cangkir tehnya ke lantai, cangkir itu pun hancur berantakan. Lagi-lagi Velan berpikir, jika cangkir itu melayang ke wajahnya, saat ini mungkin wajahnya sudah bercucuran darah.


Betapa mengerikannya ibunya Daren!


"'Aku tidak butuh penjelasanmu! Yang jelas, saat ini aku benar-benar marah padamu dan harus membuat perhitungan denganmu! Gara-gara kau, Daren harus kehilangan hal yang begitu penting dalam hidupnya saat ini!" cecar Darla dengan mata kucingnya yang berkilat penuh kemarahan.


"Tante Darla!"


Voren melangkah menghampiri meja tempat Darla dan Velan berbincang dengan panasnya. Darla menyambut dingin kehadiran Voren yang terlihat mengulas senyum ramah ke arah Darla.


Darla merasa geram, padahal ia sudah menyuruh empat orang pengawal berjaga di depan kafe agar tak seorang pun datang untuk melakukan interupsi yang tidak penting.


Di luar kafe, Doni tentu harus bersikap bijaksana terhadap empat pengawal yang tidak bisa diajak berbincang dengan baik saat Doni meminta mereka untuk mengizinkan Tuan Voren masuk dan bergabung bersama Darla dan istrinya.


...~...


Kemunculan Voren di hadapan Darla jelas bukan sebuah kebetulan. Sesaat sebelum Velan dijemput paksa oleh orang-orang suruhan Darla, Voren dan Doni hendak menghampiri kios Velan.


Begitu melihat Velan memasuki sebuah mobil bersama empat orang pria, Voren terpaksa harus membuntuti ke mana wanita itu pergi.


"Lihat, Doni! Istriku harusnya pergi makan siang bersamaku! Bukannya malah pergi makan siang bersama para pria itu!" gerutu Voren.


"Cih, istriku selalu menolak saat kau menjemputnya untuk sekadar makan bersamaku, tapi dia malah pergi bersama para pria suruhan Daren! Ugh, Doni! Istriku sungguh istri durhaka!" lanjut Voren sambil berdecih.


"Tuan, sepertinya Anda memang harus berusaha lebih keras agar Nona Velan bisa berpaling dari Tuan Daren!" ujar Doni.


Voren menyugar rambutnya, rasa kesal jelas terpancar dari wajah tampannya. Saat ini Voren memang sedang terjebak dalam situasi yang menurutnya sangatlah menyebalkan.


Ia tidak tahu harus berbuat apa pada wanita yang saat ini benar-benar membuat hidupnya seakan jungkir balik. Istrinya begitu menginginkan Daren, menginginkan pria yang saat ini menjadi saingan terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


Posisi presiden direktur jelas harus dapat diraih oleh Voren dengan gemilang untuk menunjukkan kepada sang ayah betapa Voren sudah berusaha begitu keras dengan mengerahkan semua kemampuannya semaksimal mungkin melalui orang-orang terbaik yang dimilikinya.


Namun, siapa yang bisa menduga bahwa istrinya justru memiliki hubungan spesial dengan Daren? Rencana yang telah disusun oleh Voren jelas harus berubah arah dan tujuan.


"Tuan, Anda tidak diperkenankan memasuki kafe ini!" salah seorang pria menghadang langkah Voren dan Doni.


"Tapi kalian harus memperkenankan aku masuk! Istriku ada di dalam!" kata Voren dengan tegas.


"Maaf Tuan, tapi Nyonya Darla tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk!" kata yang lain.


Voren melirik ke arah Doni, Doni segera mengerti maksud pria itu.


"Bapak-bapak sekalian, saya harap Anda bisa bersikap kooperatif," tukas Doni.


"Maaf, Tuan, tapi ini perintah."


"Ya, saya juga mendapat perintah seperti kalian," kata Doni.


"Aku harap kita dapat bekerja sama dengan baik melalui kata-kata yang tertata daripada tinju saya yang harus bicara," Doni mengepalkan kedua tangannya.


Doni bahkan sudah membekali dirinya dengan kemampuan bela diri, saat mendapat pelatihan untuk menjadi asisten pribadi Tuan Voren.


Dengan satu gerakan kilat, Doni berhasil merobohkan salah satu penjaga. Leher pria malang itu berada dalam kuncian Doni yang membuat ketiga rekan mereka terperanjat.


"Biarkan Tuan saya lewat, atau kupatahkan leher anggota kalian," ancam Doni.


Ketiga pria itu mau tidak mau mempersilakan Voren untuk masuk ke dalam kafe.


...~...


"Wah, wah, Voren," Darla bertepuk tangan kesal melihat Voren yang muncul di hadapannya.


"Apa yang Tante lakukan pada istriku?" tanya Voren.


Velan menunduk dengan wajah basah kuyub.


"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, Voren!" sahut Darla.


"Voren, aku bisa membaca semuanya! Aku benar-benar akan melaporkan hal ini kepada Alren! Agar Alren tahu betapa rendahnya anak dan menantunya yang sudah berkomplot untuk menghancurkan Daren!" Darla menunjuk bergantian ke arah Voren dan Velan.


Darla beranjak pergi dengan mata yang berkilat-kilat penuh kemarahan.


"Istriku, kau basah kuyub begini," kata Voren mengeluarkan sapu tangan dari jasnya lalu menyerahkan kepada Velan.


"Voren Lazaro! Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?! Apa yang sudah kau lakukan sampai aku harus menerima semua tuduhan yang tidak jelas seperti ini?!" Velan menepis tangan Voren.


Memangnya apa yang sudah kulakukan sampai dianggap menghancurkan Daren?

__ADS_1


...~...


__ADS_2