
Newton's Cradle, hiasan meja berupa lima buah bola besi dengan senar yang berayun dan membentur teman-temannya yang lain menciptakan harmoni bunyi tik-tok-tik-tok memenuhi ruang kerja Voren yang begitu senyap. Sudah setengah hari Voren berkutat di depan Newton's Cradle yang berada di salah satu sudut meja kerjanya membuat pria itu nampak terhipnotis efek bola pendulum yang berayun.
Pertengkaran yang dialaminya dengan Velan jelas berdampak pada psikologis Voren. Pengakuan mengejutkan bahwa wanita itu bahkan kini sudah mendapatkan pria idaman lain benar-benar sangat mengganggunya.
"Doni, bagaimana bisa istriku mengatakan bahwa dia mendapatkan kebahagiaan setelah mencoreng wajahku?!" keluh Voren setelah sekian lama terdiam lantaran tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Wanita itu sungguh tidak berakhlak! Bisa-bisanya dia berbahagia di atas penderitaanku! Menyebalkan sekali!" Voren mengacak rambutnya dengan perasaan kesal lalu bersandar sambil memandangi langit-langit ruang kerjanya.
"Sebelumnya saya minta maaf Tuan, saya tidak bermaksud membela Nona Velan, namun Nona Velan memang menginginkan kebahagiaan bersama pria idaman lain lantaran tidak merasakan kebahagiaan dalam pernikahan kalian," Doni menanggapi keluhan Voren.
Voren melonggarkan ikatan dasi, memasang ekspresi kesal yang tak mampu lagi disembunyikannya.
"Doni, apa kau pikir hanya dia saja yang merasa tidak bahagia dalam pernikahan kami?!" Voren melotot ke arah Doni.
"Tapi ya, dia seperti tidak ada etikanya, bagaimana bisa dia terang-terangan mengatakan sudah memiliki pria idaman lain sementara proses perceraian masih berlangsung?!" geram Voren.
Kalau saja Soraya tidak meninggalkan Anda, Anda juga pasti akan menjadi pria tanpa etika, Tuan, Doni membatin.
"Tuan, Nona Velan memutuskan mencari dan akhirnya mendapatkan pria idaman lain, karena beliau berpikir bahwa Anda pun sudah mendapatkan kebahagiaan bersama Soraya! Sehingga menurut pengakuan Nona Velan, kalian berdua impas karena sudah mendapatkan kebahagiaan masin-masing!" kata Doni mencoba menjelaskan masalah Nona Velan kepada Tuan Voren.
"Haha! Impas dari mananya?! Aku bahkan harus kehilangan Soraya gara-gara dia! Kalau mau disebut impas, itu artinya dia pun harus kehilangan pria idaman lainnya itu!" Voren tertawa dengan nada kesal yang terdengar semakin jelas.
Voren membuka laci yang berada di bawah meja kerjanya dan mengambil sebuah cermin rias berbentuk lingkaran yang memiliki dua sisi. Sisi pertama dengan pembesaran yang mampu memantulkan bayangan hingga ke pori-pori wajah sedangkan sisi lain berupa cermin biasa. Voren menatap pantulan wajahnya di depan cermin biasa.
"Aku sebenarnya tidak peduli dengan pria idaman lain istriku! Paling dia hanya mendapatkan pria-pria kelas kecap yang sama sekali tidak bisa dibandingkan denganku!" kata Voren sambil merapikan kembali rambutnya.
"Wanita seperti istriku itu ya, dia harusnya patut bersyukur kepada Tuhan, karena pria istimewa sepertiku pernah menjadi suaminya! Pria idaman lain istriku itu jelas hanya pria-pria yang levelnya pastilah jauh dariku! Wajah dan isi dompetnya sama-sama memprihatinkan! Haha!" kata Voren sambil tetap menatap cermin.
__ADS_1
"Wahai cermin di depanku, siapa pria yang paling tampan? Aku atau pria idaman lain istriku itu?" tanya Voren ke arah cermin.
Voren mengulas senyum, menampakkan dua lesung pipi yang membuat wanita manapun jika melihatnya pasti sangat tergoda karena begitu menggemaskan.
"Maaf Tuan, kita bahkan tidak tahu, seperti apa penampakan pria idaman lain Nona Velan, sehingga masih belum bisa dipastikan siapa pria yang lebih tampan," jawab Doni diplomatis.
Brak...!
Voren menggebrak meja kerjanya, Doni terkesiap karena pria itu menatapnya tajam.
"Doni, aku adalah pria dengan ketampanan di atas rata-rata pria di negara ini! Aku ini pria yang sangat dipuja oleh semua wanita! Semua wanita bahkan menjadikanku sebagai objek fantasi erotis mereka! Sehingga kau pasti bisa menarik kesimpulan sendiri dengan semua fakta-fakta yang sudah ada!" cecar Voren ke arah Doni.
Doni mengulas senyum, lalu menunjukkan ponselnya ke arah Voren. Di layar datar itu menampilkan foto dua tangan yang saling menggenggam. Voren menatap tanpa ekspresi foto tersebut.
"Menghabiskan waktu berharga bersama, itulah status pada aplikasi pesan Nona Velan, Tuan," kata Doni.
"Ini adalah foto tangan Nona Velan bersama pria idaman lainnya, Tuan!" lanjut Doni.
"Dari mana kau tahu itu adalah foto istriku bersama pria idaman lainnya?! Itu hanya gambar tangan saja, Doni! Di internet foto begitu banyak beredar!" kata Voren.
"Saya yakin bahwa ini adalah foto Nona Velan dari cincin yang tersemat di jari manis kanan! Ini adalah cincin kawin Nona Velan," sahut Doni.
"Masa bodoh!" cibir Voren yang kembali beralih ke cermin di hadapannya.
"Tuan Voren, menurut saya, Anda tidak bisa masa bodoh dalam hal ini," kata Doni.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh masa bodoh? Aku bahkan tidak peduli meski wanita itu jungkir balik dengan pria idaman lainnya! Itu hidupnya, bukan hidupku!" sahut Voren dengan sengitnya.
__ADS_1
"Tuan, sungguh membiarkan Nona Velan seperti ini jelas akan menimbulkan masalah besar, Tuan!" kata Doni.
Voren kembali mematut dirinya di depan cermin sambil menata rambutnya.
"Toh, jika dia sampai mencoreng nama baikku serta keluargaku, dia harus terima konsekuensinya! Dia juga tidak akan mendapatkan kompensasi seperti yang sudah disepakati," sahut Voren.
"Anda benar Tuan, namun masalahnya jika hal itu sampai terjadi, masalah ini bak pisau bermata dua! Orang-orang jelas akan mengasihani sekaligus menghujat kalian berdua! Nona Velan jelas akan menjadikan kebahagiaan sebagai motif mengapa beliau mencari pria idaman lain! Pertanyaan pun pasti akan berlanjut, mengapa Nona Velan mencari kebahagiaan dari pria idaman lain sedangkan beliau sudah memiliki suami yang begitu sempurna?!" Doni menjelaskan analisisnya.
"Nona Velan tentu akan membela dirinya dengan mengatakan bahwa beliau sama sekali tidak merasa bahagia dengan pernikahannya karena suaminya yang begitu sempurna sama sekali tidak membahagiakannya! Bisa ditebak bagaimana semua orang pasti akan menyorot Anda, bahwa Anda adalah pria pecundang yang begitu payah hingga istri Anda mencari pria idaman lain!" lanjut Doni dengan begitu antusias.
"Apa?!" sergah Voren sambil melayangkan tatapan sinis dan skeptis ke arah Doni.
"Aku pria pecundang dan payah?!" seru Voren sambil melempar dokumen yang ada di mejanya ke arah Doni.
Doni hanya diam saat tumpukan kertas itu menghujaninya.
"Kurang ajar kau, Doni! Bisa-bisanya kau mengataiku seperti itu!" teriak Voren penuh kemurkaan.
"Bukan saya yang mengatakan hal itu, Tuan! Tapi itu akan jadi asumsi dari semua orang!" Doni membela diri.
"Tetap saja kalimat aku adalah pria pecundang dan payah keluar dari mulutmu!" teriak Voren yang kemudian membuka sepatunya lalu melemparnya ke arah Doni.
Doni dengan sigap menghindar, jangan sampai sepatu mengilap itu menghantamnya begitu saja.
"Jangan menghindar kau, Doni!" seru Voren sambil melempar lagi sisa sepatunya ke arah Doni.
"Tuan, saya hanya menyampaikan pendapat saya! Sungguh, saya hanya tidak ingin kejadian yang tidak seharusnya terjadi pada akhirnya harus terjadi!" sahut Doni sambil kembali menghindar.
__ADS_1
Voren menarik napasnya, rasa kesal benar-benar membakarnya dengan sempurna. Pria idaman lain istrinya benar-benar menjadi sebuah ancaman untuknya.
...~...