
Daren duduk di pinggir lapangan, bergabung bersama Velan dan Dinar. Velan segera menyerahkan sebotol air mineral yang langsung disambut oleh Daren.
"Wah, Anda benar-benar jago main basket ya, Pak Daren," puji Dinar.
"Masih banyak yang lebih jago," kata Daren merendah.
"Daren, kau yang seperti ini saja sudah jago sekali, apa kabar pemain yang lain?" tanya Velan sambil menatap Daren dengan tatapan berbinar-binar penuh kekaguman.
Daren menyadari bahwa kemampuannya bermain basket sudah tidak seperti saat ia menjadi bintang lapangan basket di zaman sekolah dulu.
Voren berdecih, rasanya ia kesal karena lagi-lagi gagal memamerkan kemampuannya dalam bermain basket.
Padahal rencana yang telah disusun oleh Voren adalah mengalahkan Daren dengan bertanding basket.
Saat masih sekolah dulu Daren memang sangat jago bermain basket, tapi itu dua puluh tahun yang lalu. Namun rupanya, Daren masih tetap jago sehingga membuat Voren merasa kesal tingkat nasional.
"Tuan Voren, Anda juga begitu hebat, kalian pasti satu tim basket ya saat masih sekolah dulu?" tanya Dinar.
Voren yang masih mengatur napasnya tidak segera menjawab dan terkesan mengabaikan pertanyaan dari Dinar.
"Tuan Voren menjadi bintang lapangan basket saat kuliah," Doni menjawab pertanyaan Dinar.
"Wah, pantas saja! Kalian benar-benar hebat!" puji Dinar lagi.
"Ayo kita pergi, Doni," ajak Voren.
"Baik, Tuan," sahut Doni. "Kami permisi dulu," Doni berpamitan.
Pria itu segera mengekori atasannya yang nampak tak mampu menutupi rasa kesal.
Pak Daren, Nona Velan, saya duluan kembali ke cottage ya," Dinar pun berpamitan.
"Silakan, Dinar," kata Daren.
Dinar bergegas meninggalkan Pak Daren dan kekasihnya, ia tentu tak mau dianggap sebagai obat nyamuk.
Kini di lapangan hanya tinggal Velan dan Daren yang duduk berdua. Menikmati semilir angin malam yang bertiup lembut. Daren membuka tutup botol air mineral dan meneguknya hingga habis. Pria itu jelas kelelahan, namun raut wajah senang terpancar jelas di wajahnya.
"Anda pasti begitu lelah ya, Tuan Daren?" tanya Velan.
"Tidak juga, bagi saya, ini sangat menyenangkan," jawab Daren.
"'Oh begitu," kata Velan.
Daren kembali berdiri sambil menepuk bagian belakang celana jeansnya.
"Nona Velan, mari kita pergi," ajak Daren.
"Ke mana, Tuan?" tanya Velan.
__ADS_1
"Bukankah tadi sore saya sudah berjanji kepada Anda untuk mengajak ke suatu tempat?" Daren balik bertanya.
...~...
Langit malam ini terlihat jauh lebih pekat, tidak ada bintang-bintang yang tampil eksis di langit. Velan mengikuti langkah Daren. Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang gelap dengan berbekal lampu senter dari ponsel Daren.
Pencahayaan yang minim membuat Velan harus melangkah lebih hati-hati, terlebih saat mereka memasuki area hutan dengan pepohonan yang begitu rapat.
Velan tentu bertanya-tanya dalam hati, mengapa Daren mengajaknya masuk hutan malam-malam begini?
Masa iya, pria itu mau mengajaknya berbuat mesum di tengah hutan?
Ahaha, otakku rusak! Velan mengumpat dalam hati.
Yah, tapi kalau orang setampan Daren, kenapa tidak? Setan berbisik dalam benak Velan.
Hoi, hati-hati, ingat di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung! Jangan macam-macam di tengah hutan, apa mau diseret penunggu alam gaib? Malaikat memberi peringatan.
"Nona Velan, saya akan memadamkan senter di ponsel saya," kata Daren.
"Ke-kenapa dipadamkan, Tuan? Tempat ini bahkan begitu gelap," kata Velan seketika panik.
"Nona Velan, bukankah Anda tidak keberatan dengan tempat gelap?" tanya Daren.
"A-anda benar Tuan, tapi untuk apa kita memasuki hutan dan gelap-gelapan seperti ini?" Velan balik bertanya.
Velan benar-benar merasa ragu, ia jelas terlihat gelisah. Bagaimana jika Daren serius mengajaknya berbuat mesum?
Waduh, bagaimana jika nanti mereka benar-benar berbuat mesum kemudian diseret penunggu alam gaib lalu terkena karma?
Di saat sukma mereka harus mendapat hukuman, raga mereka mengalami sakaratul maut?!
Oh tidak! Apa aku lari saja? Batin Velan bergejolak.
Daren masih mengulas senyum dan mulai memadamkan senter di ponselnya.
Bersamaan dengan lenyapnya penerangan, Velan begitu takjub saat matanya menangkap cahaya yang berpendar dalam kegelapan. Bak bintang yang bertaburan di langit, cahaya kebiruan itu memenuhi tanah yang begitu gelap.
"Wah, indah sekali, Tuan! Bagaimana tanahnya bisa bersinar seperti ini?" tanya Velan.
"Jamur fosfor, tumbuhan yang menyala dalam kegelapan," jawab Daren.
"Ja-jamur?" tanya Velan keheranan.
"Benar, kawasan ini adalah tempat pembudidayaan jamur fosfor. Area ini akan menjadi spot wisata glow in the dark," jawab Daren.
"Apakah jamur fosfor ini beracun?" tanya Velan.
"Tentu saja beracun jika dimakan," jawab Daren diplomatis.
__ADS_1
"Oh, haha," Velan tertawa.
"Jamur fosfor ini hanya sebutan dari Jamur Bercahaya, cahaya tersebut berasal dari fosfor, makanya orang-orang menyebutnya sebagai jamur fosfor," Daren menjelaskan.
"Wah, saya sungguh tak menyangka, tempat yang terlihat begitu menyeramkan seperti ini menyembunyikan keindahan yang luar biasa," kata Velan.
"Begitu juga dengan kehidupan ini, Nona Velan! Saat Anda merasa ada begitu banyak masalah yang menimpa Anda, di balik itu semua pasti ada hikmah yang indah! Sama halnya seperti pelangi yang muncul setelah hujan," kata Daren.
Velan mengulas senyumnya. Apa yang dikatakan oleh pria di sampingnya ini sungguh menyejukkan hati.
"Tuan Daren, saya benar-benar berterima kasih karena Anda sudah membantu saya, bagi saya Anda adalah solusi yang diberikan oleh Tuhan untuk saya," kata Velan.
Daren tersenyum, meski dalam pencahayaan yang benar-benar minim, Velan bisa melihat dengan jelas senyum yang menghiasi wajah tampan pria itu.
"Nona Velan, apa Anda keberatan jika kita kembali ke cottage?" tanya Daren.
"Mari kita kembali, Tuan," jawab Velan.
Daren menyalakan kembali senter di ponselnya, mereka pun kembali melangkah meninggalkan area tersebut.
Entah mengapa Velan merasa berdebar-debar.
...~...
Voren sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Jam masih menunjukkan pukul sebelas malam. Voren turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar.
Voren membuka pintu cottage, mengedarkan pandangan ke cottage lain. Cottage tempatnya menginap persis berada di depan cottage tempat Daren menginap.
Dalam pencahayaan yang minim, ia bisa melihat Daren yang baru kembali ke cottage tersebut bersama Velan.
Jantung Voren bergemuruh melihat Daren yang menggendong Velan saat memasuki cottage.
Keduanya bahkan berciuman begitu mesra.
Voren terperangah, kemarahan menguasainya. Ia kembali ke kamar, mengambil ponsel pintar, sebelum akhirnya bergegas menuju ke cottage tempat Daren dan istrinya menghabiskan malam bersama.
Di depan jendela cottage, Voren terdiam. Ia terpaku, terpalu, dan terpahat dalam kebisuan, membuatnya tak bisa bergerak, menyaksikan adegan demi adegan yang membuat jantungnya meronta-ronta hingga nyaris lepas.
Kemarahan benar-benar menguasai Voren. Ia benar-benar tidak terima melihat istrinya sedang berada dalam pelukan Daren. Tak terasa air mata sampai menetes dari pelupuk mata Voren. Air mata kemarahan yang membuat Voren benar-benar mulai kehilangan akal sehatnya.
Voren menegang, dengan segenap kekuatan yang ia miliki bahkan ia sampai mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendobrak pintu cottage tersebut.
Braakk...!
Pintu terbuka dan Voren langsung berlari ke arah dua orang yang saat ini sedang berlomba mencapai kenikmatan surgawi.
"Istriku!" raung Voren penuh kemurkaan.
...~...
__ADS_1