
Velan terkesiap saat sosok pria tampan berkemeja hitam itu bersitatap dengannya. Dalam pencahayaan yang temaram, ketampanan pria itu tentu saja sama sekali tidak berkurang. Velan tidak tahu, apa yang harus ia lakukan, apa sebaiknya ia pergi saja untuk menghindari pria itu?
Kembali ke strategi pertama yakni diam dan berpura-pura tidak saling mengenal.
Daren menatap wanita yang nampaknya ia kenali sebagai wanita yang tiba-tiba mengajaknya pergi hingga membatalkan acara kencan buta yang sudah diaturkan oleh ibunya.
Daren sungguh tak menyangka akan bertemu dengan wanita ini lagi, bahkan di acara keluarga seperti ini. Apa dia tamu Nenek Alena? Batin Daren bertanya-tanya.
"Permisi, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya," kata Daren.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Velan berpura-pura lupa.
Mampus, kenapa dia mengajakku bicara? Apa aku pergi saja ya?
Velan menoleh ke kiri dan ke kanan, berharap tidak ada yang melihatnya bersama pria yang pernah dipanggilnya itu.
Daren mengulas senyumnya. Memang banyak wanita yang ia temui, namun wanita ini sungguh meninggalkan kesan yang unik bagi Daren. Wanita itu benar-benar menganggap Daren sebagai pria panggilan. Dan anehnya saat itu Daren ikut terhanyut akan kesedihan wanita itu.
"Bagaimana, apa suami Anda yang tidak tertarik pada wanita itu, akhirnya tertarik pada Anda?" tanya Daren.
Skakmat!
Velan tidak bisa berpura-pura lagi karena pria penjaja cinta satu malam itu masih mengenalinya.
"Oh, Anda, Tuan...," kata-kata Velan tertahan.
"Tuan Tampan yang begitu bijaksana," Velan menepuk kedua tangannya.
"Maaf, saya hampir tidak mengenali, karena Anda terlihat berbeda," lanjut Velan sambil menyeringai.
"Terima kasih atas pujian Anda," kata Daren.
"Tu-Tuan, bisakah Anda merahasiakan pertemuan kita waktu itu? Sebagai bentuk profesionalisme atas pelayanan Anda?" tanya Velan.
"Tolong berpura-puralah tidak mengenali saya, Tuan! Dan saya juga akan berpura-pura tidak mengenali Anda, demi kebaikan kita semua," lanjut Velan.
"Hmm, kenapa begitu?" tanya Daren sambil memegangi dagunya.
"Sebagai bentuk profesionalisme kerja! Penyedia jasa harus merahasiakan identitas pelanggannya," jawab Velan diplomatis.
"Jika Anda bermaksud untuk memeras saya, saya mohon maaf, tidak ada yang bisa anda peras dari saya! Rugi Anda kalau mau memeras saya, yang ada hanya buang-buang waktu!" Velan melanjutkan.
Daren kembali menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Baiklah, saya mengerti," sahut Daren.
Velan merasa lega.
"Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana Anda bisa berada di sini? Anda tamu undangan?" tanya Daren.
Velan terkesiap, ia tidak boleh mengaku sebagai anggota keluarga Lazaro. Pria ini bahkan sudah mengetahui aib suaminya.
"Menurut Anda bagaimana?" Velan balik bertanya.
__ADS_1
"Ya, Anda terlihat rapi dan menarik, Anda sudah pasti tamu," jawab Daren.
"Belum tentu, bisa saja saya pekerja paruh waktu untuk mencuci piring-piring kotor di dapur," sahut Velan.
"Hmm, ya, bisa jadi," sahut Daren sambil tersenyum.
"Lalu, Anda sendiri, sudah dapat berapa klien yang deal untuk mendapatkan pelayanan Anda?" tanya Velan.
Daren mengerutkan alisnya.
"Apa strata sosial klien memengaruhi tarif Anda?" tanya Velan.
"Haha," Daren tertawa.
Apa ia benar-benar terlihat seperti pria panggilan?
Ponsel Daren berdering, ia segera menjawabnya.
"Ya," jawab Daren singkat. "Baik-baik, aku mengerti," Daren menutup teleponnya.
"Baiklah Nona, saya pamit dulu," kata Daren.
"Iya Tuan, senang bisa berbincang dengan Anda," kata Velan.
Semoga kita tidak perlu bertemu lagi, sungguh memalukan rasanya jika ada yang tahu bahwa Velan pernah menemui pria panggilan untuk meluapkan semua unek-uneknya.
...~...
Daren bergegas menuju ke tempat acara. Ia benar-benar terkejut mendapati ibunya yang nampak terlibat pertengkaran dengan Daisy dan Deby. Ketiga wanita itu terlihat saling mendorong satu sama lain hingga menjadi tontonan semua orang.
"Ibu, ayo kita pergi," ajak Daren.
Darla terlihat membuang pandangannya dan bergegas pergi.
"Darla dari dulu selalu begitu!" keluh Deby.
"Diberitahu yang baik, malah tidak terima!" dengus Daisy.
"Tante Daisy, Tante Deby, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini," kata Daren.
Daren menghampiri keluarga Lazaro yang nampak memasang ekspresi datar menyaksikan kejadian tersebut.
"Nenek, saya mewakili ibu saya mohon pamit undur diri, terima kasih," kata Daren.
"Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang, Daren," kata Alena.
"Terima kasih, Daren," kata Rendarto.
"Tante Vega, kenapa saya tidak melihat Voren ya?" tanya Daren ke arah Vega.
"Voren tidak bisa hadir karena urusan pekerjaannya," jawab Vega.
"Oh begitu," kata Daren.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit undur diri, selamat malam," Daren membungkuk dalam, sebelum pergi menyusul ibunya.
...~...
Soraya masih begitu sibuk berkutat dengan semua lembaran kertas rancangan yang memenuhi ruang kerjanya. Bersama beberapa asisten, ia sibuk berdiskusi rancangan mana yang menjadi busana utama pada pagelaran busana nanti. Soraya terlihat begitu sibuk berdiskusi dengan Mary.
"Aku rasa rancangan yang ini lebih bagus, Soraya," kata Mary mengutarakan pendapatnya.
"Ya, aku rasa juga begitu, namun menurutku masih kurang masuk di konsepku, Mary," kata Soraya melemparkan penolakannya terhadap ide Mary.
"Soraya, semua rancanganmu sempurna," kata Mary menegaskan.
"Mary, tapi aku masih belum yakin," kata Soraya meluapkan keraguannya.
"Soraya, jika kau kembali merancang busana baru, apa menurutmu akan sempat? Belum lagi mencari kain dan bahan lainnya, proses menjahit, hingga tahap penyelesaian pasti membutuhkan waktu yang tidak sedikit," kata Mary.
"Bagaimana jika kita merombak beberapa busana yang sudah ada dan menambahkan beberapa elemen? Agar semua gaun yang sudah ada bisa langsung dieksekusi," usul Mary.
Soraya nampak berpikir, usulan dari Mary membuatnya seketika bimbang dan meragu.
"Ya, aku setuju dengan usulan Mary," sahut Voren sambil meletakkan cangkir teh beraroma citrus mint ke atas tatakan cangkir porselen.
"Cukup memodifikasi busana yang sudah ada untuk terlihat lebih istimewa akan jauh lebih efisien daripada harus merancang dari nol lagi," lanjut Voren.
Voren sudah dua jam menunggu Soraya dan Mary beserta beberapa asisten Soraya terlibat diskusi. Voren bahkan sudah sengaja pulang kantor lebih awal dan langsung menuju ke butik Soraya untuk mengajak wanita itu makan malam bersama.
"Bagaimana? Masalah selesai, dan kita semua bisa pergi makan malam bersama," kata Voren lagi.
"Voren, kalau kau mau makan malam, silakan saja, masih banyak yang harus kami diskusikan di sini," kata Soraya.
"Baiklah, kalau begitu kita makan di sini saja, kalian mau makan apa? Pesan apa pun yang kalian inginkan pada Doni," kata Voren.
Terlihat para pegawai Soraya tersenyum dan saling melemparkan pandangan. Terutama Manda dan Liyah yang sibuk menggunjingkan bos mereka itu. Manda dan Liyah segera turun kembali ke lantai dasar tempat mereka beristirahat.
"Sumpah ya, kekasih Bu Soraya itu, perhatiannya luar biasa," kata Manda sambil mengunyah kudapan ringan pengganjal perutnya.
"Iya, sudah begitu tampan dan mewah, orangnya juga ramah dan perhatian," Liyah menimpali.
"Andai aku juga punya kekasih seperti itu," Manda terkekeh sambil mencomot potongan kedua kue brownis berukuran mini.
"Manda, kau dari tadi nyemil terus, makan apa sih?" tanya Liyah.
"Ini loh, brownis mini, enak sekali loh," sahut Manda.
"Coba kucicipi," kata Liyah.
"Bagaimana?" tanya Manda ke arah Liyah yang nampak sibuk mencicipi kue brownis tersebut.
"Kau beli di mana? Kalau pesan lagi aku mau titip dua stoples," sahut Liyah.
"Haha, mana cukup kau hanya dua stoples," Manda tertawa.
"Baiklah, kalau begitu pesankan aku empat stoples ya," ujar Liyah sambil mencomot kembali kue brownis berukuran mini itu.
__ADS_1