Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E46


__ADS_3

Doni segera membuka pintu ruang kerja Tuan Voren, mempersilakan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dalam balutan busana formal berwarna merah marun, senada dengan tas kulit dan sepatu dari rumah mode Eropa ternama.


"Selamat pagi, Nyonya Vega," Doni menunduk memberi salam.


Vega hanya mengulas senyum simpul dan langsung melewati Doni begitu saja. Ia segera duduk di sofa menunggu Voren yang masih menerima telepon.


Voren meletakkan ponselnya ke atas meja dan terkejut melihat kedatangan sang ibu.


"Mama," kata Voren segera menghampiri ibunya.


Voren memberi pelukan singkat pada Vega lalu duduk di samping Vega.


"Mama, ada apa pagi-pagi datang kemari?" tanya Voren.


"Voren, jadi kapan kau dan Soraya akan menikah?" Vega balik bertanya.


"Mama, kenapa pagi-pagi Mama sudah bertanya seperti itu?" tanya Voren.


"Voren, apa kau sudah menceraikan istrimu?" tanya Vega lagi.


"Mama, kenapa Mama mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?" Voren balik bertanya.


"Voren, Mama bertanya karena membutuhkan jawaban!" kata Vega.


"Apa kau sudah menceraikan Velan?" tanya Vega sambil menatap Voren lekat-lekat.


Voren menghela napas berat, lalu menggenggam jemari ibunya.


"Mama, perceraianku dengan istriku masih dalam tahap proses, lagipula aku sungguh tidak ingin menuai berita miring yang kiranya bisa merusak reputasiku," kata jawab Voren.


"Begitu ya, tapi masalahnya, mama melihat Velan dan Daren bersama!" kata Vega.


Voren menyugar rambutnya sambil kembali menghela napas berat.


"Voren, apa kau mengetahui hal tersebut?" tanya Vega.


"'Mama, mereka berkencan," jawab Voren sambil mengusap wajahnya dengan gusar.


"Apa?! Mereka berkencan?! Bagaimana bisa, Voren?! Bukankah Daren akan bertunangan dengan putri dari Wier Trade?!" Vega kembali mencecar Voren dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Voren meradang.


"Ya, aku tidak tahu, Mama! Aku hanya tahu mereka berkencan!" sergah Voren yang begitu frustrasi.


"Voren! Kalau memang Velan dan Daren berkencan, itu artinya kalian harus segera bercerai! Jangan sampai menimbulkan skandal!" kata Vega.


"Mama, jika aku menceraikan istriku, itu artinya istriku akan dimiliki Daren! Istriku bahkan tidak peduli meski aku sudah mengatakan bahwa Daren akan menikah dengan wanita lain!" kata Voren sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Voren, mungkin Velan pada akhirnya sudah mendapatkan kebahagiaannya! Oleh karena itu, kau pun pada akhirnya bisa segera menikah dengan Soraya," kata Vega.

__ADS_1


"Mama, aku tidak akan menikah dengan Soraya!" kata Voren.


Voren merasa ia sudah tak dapat menutupi masalah penolakan Soraya terhadapnya agar sang ibu berhenti membuat luka hati Voren makin berdarah.


"Voren, apa maksudmu kau tidak akan menikah dengan Soraya?! Bukankah kau sangat mencintai Soraya?!" tanya Vega.


"Benar, Mama, aku memang mencintai Soraya, tapi Soraya tidak mencintaiku!" jawab Voren dengan tegas.


Vega melihat mata Voren yang mulai berkaca-kaca.


"Soraya benar-benar pergi meninggalkanku, Mama," kata Voren.


"Voren," kata Vega menatap lekat-lekat anak semata wayangnya itu.


"Bagaimana bisa, Voren?! Bagaimana bisa kau dicampakkan oleh wanita itu?!" kata Vega sambil memegang erat tangan Voren.


"Soraya tidak mencintaiku dan tidak akan pernah mencintaiku, Mama," kata Voren sambil mengulas senyum, namun lagi-lagi harus merasakan rasa sakit di hatinya.


"Voren, Mama sungguh tak tahu harus berkata apa! Kau melepas istrimu demi Soraya yang akhirnya malah pergi meninggalkanmu! Dan sekarang Velan sudah berbahagia bersama Daren, ini benar-benar sangat ironis, Voren! Ironis!" kata Vega.


"Mama! Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang! Belum kuceraikan saja, istriku sudah bersama Daren, bagaimana jika aku menceraikannya?!" Voren memijat kepalanya yang sekarang benar-benar terasa sakit.


"Voren, bagaimana jika kau dan Velan kembali rujuk? Mama rasa hubungan kalian masih bisa diperbaiki, bukankah Velan begitu mencintaimu?" tanya Vega.


"Mama, tapi itu tidak mungkin! Istriku bahkan begitu mencintai Daren," kata Voren.


"Voren, kalau begitu, yang harus kau lakukan adalah merebut kembali cinta Velan! Toh kalian belum resmi bercerai dan masih bisa kembali rujuk melalui tahap mediasi!" Vega memberi saran.


"Voren, Mama tahu, masalah ini pasti berat bagimu, karena jujur saja, menurut Mama, masalah ini timbul karena kesalahanmu yang telah salah dalam membuat keputusan! Seandainya saja kau tidak memilih menceraikan Velan demi Soraya, masalah ini benar-benar tidak akan timbul, Voren!" kata Vega.


"Saat ini, menurut Mama, solusi yang tepat adalah kau harus rujuk dengan Velan! Kau harus mendapatkan kembali Velan, bagaimana pun caranya! Kau pasti mengerti apa maksud Mama kan?!" 


Voren hanya bisa diam. Saat ini harga dirinya jelas sedang dipertaruhkan.


"Voren, apa Mama perlu bicara dengan Velan?" tanya Vega.


"Nyonya Vega, mohon maaf saya menyela," kata Doni.


"Menurut saya, lebih baik masalah ini diselesaikan oleh Tuan Voren sendiri, karena seperti kata Nyonya Vega bahwa masalah ini timbul karena kesalahan Tuan Voren," lanjut Doni.


Vega menatap ke arah Doni yang terlihat bersungguh-sungguh.


"Baiklah, Mama tidak akan ikut campur. Kau sudah dewasa dan bisa membuat keputusan terbaik. Sebagai orang tua, Mama hanya bisa mendukungmu," kata Vega.


Vega memberi pelukan kepada Voren yang masih mematung.


"Kalau begitu, Mama pergi dulu," kata Vega berpamitan.

__ADS_1


Voren mengangguk.


"Kau tidak perlu mengantar Mama, kembalilah bekerja, Voren," kata Vega.


"Baik, Mama," sahut Voren.


Vega segera keluar dari ruang kerja Voren. Ia sungguh tidak percaya bahwa masalah yang timbul benar-benar akan serumit ini. Vega masih tidak menyangka bahwa Velan pada akhirnya justru berkencan dengan Daren.


Bagaimana bisa Velan berkencan dengan Daren?


Apakah Darla sudah mengetahui hal ini?


Jika Darla sampai tahu, tentunya sudah pasti akan sangat menghebohkan keluarga mereka.


Itulah yang ada dalam benak Vega yang saat ini juga ikut merasakan kebimbangan sebagai akibat dari ulah Voren.


Saat ini Vega hanya bisa bergantung pada usaha Voren untuk menyelesaikan masalah. Namun Vega merasa tidak tenang, sepertinya ia memang harus turun tangan agar masalah ini tidak berlarut-larut.


...~...


"Doni, apa yang harus kulakukan agar istriku tetap berada di sisiku?" tanya Voren sambil membuang pandangannya ke luar jendela ruang kerja.


"Aku tentu tidak bisa membiarkan istriku terlalu lama jatuh dalam pelukan Daren! Jika aku menceraikannya, jelas mereka akan bersatu! Sungguh, aku tidak bisa membayangkan jika harus menjadi saksi pada acara pernikahan Daren dan istriku!" lanjut Voren sambil menopang dagunya.


Doni mengetik di kolom pencarian pada mesin pencari di tablet pintarnya.


"Tuan, menurut informasi yang beredar di internet, ada lima, delapan, sembilan, hingga dua belas cara untuk mempertahankan wanita," kata Doni.


"Menurut informasi yang beredar di internet? Kenapa tidak menurut pandanganmu, Doni? Aku lebih percaya kau yang bicara daripada berita di internet!" Voren menyela.


"Tuan, maaf saya tidak bisa memberi pendapat dari pandangan saya dikarenakan saya bahkan belum pernah menjalin hubungan asmara dengan wanita, sehingga saya tidak tahu realitanya," jawab Doni.


"Ah ya, benar juga," kata Voren dengan nada mengejek.


"Anda juga begitu karena tidak pernah mengencani wanita manapun kan?" Doni balas mengejek.


"Ya, karena menurutku wanita yang pantas untukku hanya Soraya! Sementara kau, bahkan tidak ada wanita yang kau dambakan!" sahut Voren merasa tak terima Doni mengejeknya.


"Saya hanya belum menemukan wanita itu, Tuan," kata Doni.


Voren dan Doni kembali saling melemparkan pandangan setelah saling mengejek satu sama lain. Dua orang pria yang sama-sama amatiran dalam menghadapi wanita karena mereka memang sama-sama tidak berpengalaman akibat kesibukan mereka.


"Ehem, ya, jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Voren kembali berfokus pada topik pembicaraan mereka.


"Jadi, intinya Anda harus menunjukkan kesungguhan bahwa Anda ingin agar Nona Velan tetap berada di sisi Anda," jawab Doni.


"Kesungguhan?! Istriku bahkan begitu bersungguh-sungguh lebih memilih Daren!" sergah Voren sambil menyugar rambutnya.

__ADS_1


"Maka dari itu, Tuan, Anda tentu saja harus menunjukkan bahwa Anda sungguh lebih unggul segalanya dari Tuan Daren! Berikan apapun yang tidak diberikan oleh Tuan Daren kepada Nona Velan! Itulah cara paling efektif menurut saya pribadi!" kata Doni dengan mantap.


...~...


__ADS_2