
Velan memicingkan mata saat Voren meminta untuk menyuapinya.
"Minta saja Soraya yang melakukannya!" Velan mengulas senyum dingin.
"Soraya tidak ada di sini, Istriku," kata Voren.
"Voren Lazaro! Kau bahkan punya dua tangan utuh yang bisa kau gunakan!" cibir Velan.
Voren menggeleng. "Aku terlalu lemah, Istriku," keluh Voren.
"Apa kau tahu, semalaman aku muntah, aku bahkan merasa bahwa usus halus, usus dua belas jari, hingga usus besarku hendak keluar melalui mulutku!" lanjut Voren.
"Jangan menggunakan majas hiperbola!" celetuk Velan.
"Aku mengatakan yang sejujurnya, Istriku!" kata Voren. "Kau tidak tahu rasanya karena kau tidak mengalami sakit maag," kata Voren.
"Haha, ya, karena aku bukan orang yang pemilih makan! Aku tidak sepertimu yang melakukan diet konyol!" Velan tertawa mengejek Voren.
"Aku benar-benar sangat lapar, Istriku," kata Voren memelas.
"Makan sendiri!" Velan menyerahkan sendok ke tangan Voren.
"Oh, apa kau tidak mau menyuapiku karena takut merasa bersalah dengan pria idaman lainmu itu?" tanya Voren.
"Kau tidak mau pria idaman lainmu itu sampai tahu bahwa kau menyuapi suamimu makan?" Voren kembali melemparkan pertanyaan.
Velan mengulas senyum sinis kepada calon mantan suaminya ini.
"Apa kau takut, pria idaman lainmu itu meninggalkanmu gara-gara cemburu padaku? Ah, ya, dia pasti cemburu padaku! Dan dia...," kalimat Voren terputus lantaran Velan menyuapkan satu sendok sup daging ke mulut Voren.
Voren memejamkan mata. Makanan yang dimasak oleh Velan sungguh membuatnya merasa pening karena sup daging ini tidak hambar.
Velan tersenyum sinis, ia tentu saja tidak akan membiarkan sup buatannya terasa hambar.
"Kau bisa berhenti memakannya jika tidak mau makan!" Velan mempertahankan senyum sinisnya.
"Hmm, ini enak, Istriku," Voren mengulas senyumnya ke arah Velan.
__ADS_1
"Simpan senyum menyebalkanmu itu, membuatku sakit mata!" kata Velan sambil tersenyum sinis.
"Apa sekarang kau lebih tertarik melihat senyum pria idaman lainmu?" tanya Voren.
Velan mengulas senyumnya. Mengapa pria ini ingin tahu?
"Asal kau tahu ya, pria idaman lainku itu lebih segalanya darimu!" jawab Velan sambil kembali menyuapkan satu sendok sup daging ke mulut Voren.
"Pria idaman lainku itu, jauuuh lebih tampan dan memesona darimu! Dia adalah pria yang jauh lebih baik darimu!" Velan memuji pria idaman lainnya yang masih berwujud halusinasinya saja.
"Apa dia tidak masalah dengan statusmu yang masih istri orang?" tanya Voren.
"Apakah Soraya mempermasalahkan statusmu yang masih suami orang?" Velan balik bertanya sambil menjejalkan potongan daging ke mulut Voren.
Voren sampai tidak bisa berbicara karena mulutnya penuh dengan potongan daging yang harus dikunyahnya.
"Sungguh aku tidak akan mengusikmu dengan Soraya, sehingga aku pun berharap kau juga jangan mengusikku dengan pria idaman lainku! Kita sama-sama mencari kebahagiaan kita masing-masing!" kata Velan sambil lagi-lagi menjejalkan potongan daging ke mulut Voren.
Velan mengulas senyum karena melihat Voren yang begitu sibuk mengunyah potongan daging yang memenuhi mulutnya.
"Kau sudah mendapatkan cintamu, dan aku sudah menemukan pria idaman lainku! Aku sudah mendapatkan kebahagiaan yang tidak kudapatkan saat bersamamu!" lanjut Velan.
"Uhuk..uhuk...,".
Velan mengambilkan segelas air dan menyerahkan pada Voren yang tersedak. Voren segera meminum air itu sambil mengawasi Velan yang menatapnya dingin.
"Terima kasih, Istriku," kata Voren sambil menatap Velan.
Velan tidak menjawab, ia segera membawa nampan itu keluar dari kamar Voren.
Bertanya-tanya mengapa pria itu sedikit-sedikit menyinggung masalah pria idaman lainnya? Apakah pria itu sengaja menyindir Velan karena sudah mengetahui bahwa Velan hanya berbohong mengenai pria idaman lain tersebut?
...~...
Voren masih berbaring di tempat tidur, menatap kosong langit-langit kamarnya. Dalam benaknya saat ini dipenuhi pertanyaan tentang bagaimana ia harus menyelesaikan satu per satu masalahnya. Masalah terbesar yang harus dihadapi adalah pria idaman lain istrinya.
Bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui sosok Mister X itu?
__ADS_1
Sedangkan istrinya benar-benar begitu pandai menyimpan keberadaan lelaki itu. Benar-benar percuma menyewa detektif untuk menyelidiki lelaki itu dan Doni pun juga belum bisa menemukannya.
Velan kembali memasuki kamar Voren dan menyiapkan obat yang harus diminum Voren satu jam setelah makan. Ada empat jenis obat yang harus dihancurkan oleh Velan agar menjadi serbuk.
Voren memandangi Velan yang sibuk meremukkan obat dengan menggunakan dua buah sendok. Voren menatap Velan lekat-lekat sambil membatin dalam hatinya.
Wanita ini tidak cantik dan tidak menarik, bagaimana bisa ibunya menjodohkan wanita macam ini untuknya? Apa istimewanya wanita ini? Dan apa yang dilihat Mister X itu dari wanita biasa-biasa ini ya?
Rambutnya pun terlihat begitu aneh! Kenapa tiba-tiba rambutnya jadi panjang? Apa yang dia lakukan pada rambutnya?
Apa memang ini selera Mister X itu? Rambut yang seperti gulungan mie instan!
"Lepaskan tanganmu dari rambutku, Voren Lazaro!" Velan menepis tangan Voren yang menarik-narik rambutnya.
"Aduh!" Voren mengaduh, menarik tangannya dari rambut Velan.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk menyentuh rambutku?!" tanya Velan.
"A-apa?!" Voren terperangah.
"Jangan sentuh-sentuh rambutku!" Velan melotot ke arah Voren.
"Astaga, Istriku! Kau jangan pura-pura lupa, kau bahkan selalu ingin menyentuh tubuhku!" kata Voren.
"Bukankah kau juga tidak mau saat aku menyentuhmu?! Jadi jangan coba-coba menyentuhku!" kata Velan dengan nada mengancam.
"Haha...," Voren tertawa. "Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Apa kau takut nanti pria idaman lainmu marah?" tanya Voren.
"Haruskah aku bertanya begitu juga pada Soraya? Apa yang akan dilakukannya? Apa dia akan menamparku karena menganggapku menggoda calon suaminya?" Velan balik bertanya.
Voren tersenyum kecut, ia benar-benar harus pandai menyembunyikan rasa kesal karena wanita ini selalu membawa-bawa nama Soraya saat mereka sedang berbincang.
Apa dia sengaja menyindirku seperti ini karena sudah tahu bahwa Soraya telah pergi meninggalkanku? Batin Voren yang harus menahan rasa kesalnya.
Velan segera menyuapkan satu per satu obat yang sudah berbentuk bubuk ke mulut Voren.
Meski rasanya kesal, namun Velan terpaksa melakukannya. Mungkin ini akan menjadi momen pertama dan terakhir kalinya Velan merawat Voren yang sedang sakit.
__ADS_1
Pria itu kembali menatap Velan lekat-lekat. Entah apa yang dipikirkannya, yang pasti Velan tidak mau lagi peduli pada pria pendusta yang sudah menyakitinya.
...~...