Jodoh Instan

Jodoh Instan
Malam Panjang


__ADS_3

Doni memasuki unit apartemen bertipe studio yang menjadi tempat tinggalnya. Ia membuka sepatu sebelum mengganti alas kaki dengan sandal bulu tebal berkepala boneka kodok hijau dengan matanya yang besar melotot lebar. Sandal kodok hijau itu merupakan hadiah ulang tahun dari para keponakannya.


Doni memasukkan kunci mobilnya ke dalam akuarium kosong yang berada di atas lemari es di area dapur yang berada dekat dengan pintu masuk. Hidup sendiri tentu membuatnya tidak memerlukan  hunian yang luas.


Pria itu segera melepas pakaiannya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi dan mengganti pakaian, Doni segera mendidihkan air dari teko listrik untuk menyeduh kopi instan yang akan menemani melanjutkan pekerjaannya.


Doni segera duduk di meja kerja, membuka laptop dan memeriksa semua surat elektronik yang masuk ke akunnya dan juga akun Tuan Voren.


Yah, menjadi asisten pribadi Voren Lazaro berarti memberikan hampir dua puluh empat jam waktunya untuk pria itu. Saat siang mengurus pekerjaan di kantor dan saat malam harus menggarap laporan.


Doni memijat pelipisnya, menjadi asisten pribadi direktur keuangan sudah membuatnya menjadi direktur keuangan itu sendiri. Apalagi jika nanti Tuan Voren menjadi presiden direktur, itu artinya Doni-lah yang akan menjadi presiden direktur di balik layar. Pekerjaan Doni pasti akan menjadi lebih banyak lagi. Namun Doni sungguh menikmati semua itu.


Ponsel Doni berdering dan nama Nona Velan muncul di layar datar itu. Seketika Doni merasa berdebar-debar, namun ini bukan debaran jatuh cinta. Ia ragu apakah harus menjawabnya atau tidak.


Akhirnya ia menjawab telepon dari Nona Velan dengan perasaan was-was.


Jawaban apa yang harus kuberikan pada Nona Velan agar Nona Velan berhenti bertanya?


Pertanyaan wanita itu benar-benar membuat Doni merasa seperti sedang diaudit oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.


Alasan apa yang harus diberikan oleh Doni agar kedamaian dan ketenteraman rumah tangga Tuan Voren tetap terjaga?


...~...


"Doni, sudah kuputuskan bahwa malam ini aku akan menginap di sini untuk menemani Soraya," kata Voren pada Doni.


"Tuan, mana bisa begitu," kata Doni.


"Doni, Soraya begitu sibuk mengurus pagelarannya, tentu saja aku harus turut andil! Aku tentu harus mengawal progres pengerjaan kegiatan yang kubiayai," kata Voren.


"Ya, tapi Tuan jangan sampai ikut menginap segala! Anda punya istri yang menunggu di rumah," kata Doni.


Voren merengut ke arah Doni.


"Doni, sekarang aku tanya padamu! Siapa wanita yang selama ini kucintai?" tanya Voren.


"Soraya," jawab Doni dengan cepat.


"Siapa wanita yang lebih berhak ada di sisiku? Wanita yang kucintai atau wanita yang tidak kuinginkan?" tanya Voren.


Doni tidak segera menjawabnya, ia yakin Tuan Voren jelas sudah mengarahkan jawaban atas pertanyaan tersebut kepada Soraya.


"Doni, aku tidak akan membiarkan Soraya pergi dariku lagi, aku rasa sekarang sudah saatnya bagiku untuk menangkapnya," kata Voren.


Doni menghela napas berat. Pria ini sedang dibutakan oleh rasa cinta hingga tidak memedulikan apa pun.


"Tuan, lantas bagaimana dengan Nona Velan? Anda tentu tidak lupa bahwa beliau adalah istri Anda!" kata Doni.

__ADS_1


Voren memutar bola matanya. Ia menyugar rambutnya yang selalu dan senantiasa rapi.


"Jika Anda tidak pulang malam ini, istri Anda pasti akan mencari keberadaan Anda," kata Doni.


"Doni, apa peduliku?!" kata Voren sambil mengulas senyum sinis.


"Tuan, tolong jangan sampai menimbulkan skandal yang tidak perlu ditimbulkan," kata Doni dengan nada memelas.


"Doni, aku tidak peduli! Lebih baik kau segera pulang!" kata Voren dengan nada memerintah.


"Tapi Tuan...," kata Doni tertahan.


"Doni, jangan membuatku mengulang perintah yang sama!" tandas Voren.


Doni terdiam, Tuan Voren sungguh mengeluarkan sosok keras kepala yang membuat Doni merasa sakit kepala.


"Tuan, sungguh berbahaya jika sampai timbul skandal!" kata Doni menatap lurus ke arah pria yang saat ini lebih mementingkan egonya.


"Doni, jika apa yang akan terjadi memang harus terjadi, maka terjadilah!" kata Voren sambil tersenyum misterius.


"Tuan...," kata Doni.


"Pulang dan beristirahatlah, Doni!" kata Voren.


"Tuan, bagaimana jika istri Anda mencari Anda?" tanya Doni.


Doni mencebik, Tuan Voren benar-benar sudah gila dan sudah dibutakan oleh cinta.


...~...


Begitulah, akhirnya Doni tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Nona Velan. Entah mengapa Doni merasa saat ini ia sedang mendukung perselingkuhan yang dilakukan oleh Tuan Voren.


Doni segera menutup telepon dari Nona Velan dengan berpura-pura bahwa sinyal buruk tengah menimpanya. Doni juga segera membunuh ponselnya dengan begitu ia tidak perlu mendapat teror dari Nona Velan.


Namun Doni kembali mempertimbangkan hal tersebut, bagaimana jika Tuan Voren menghubunginya?


Pria itu bahkan selalu meminta agar ponsel Doni aktif selama dua puluh empat jam.


"Sebaiknya ponsel kuaktifkan saja, tapi dibuat mode hening bergetar," Doni bermonolog di depan gawai cerdas berlayar datar itu.


...~...


Voren hanya duduk di sofa dan menjadikan Soraya serta timnya yang bekerja tanpa henti hingga larut malam sebagai tontonan. Soraya dan tim benar-benar bekerja keras karena tenggat waktu pagelaran sudah tinggal menghitung minggu. 


Voren tersenyum sambil melipat tangannya di depan dada. Itulah sosok Soraya yang dikenalnya. Wanita yang cerdas dan berkemauan keras yang membuatnya tergila-gila. Sosok wanita yang berani berjuang untuk meraih impian.


Voren jadi terkenang saat mereka begitu sibuk menggarap pagelaran busana yang menjadi tugas akhir kuliah Soraya. Voren menjadi model yang akan mengenakan busana utama rancangan Soraya.

__ADS_1


Setiap hari, ada atau tidak kelas perkuliahannya, Voren pasti mengunjungi Soraya untuk melihat sendiri progres proyek kerja Soraya. Tentu saja Voren harus meninjau langsung busana seperti apa yang tengah dibuat Soraya untuknya.


Jangan sampai Voren harus mengenakan busana karnaval yang nantinya justru akan membuatnya menjadi bahan tertawaan semua orang.


"Soraya, kenapa kau begitu ingin menjadi perancang busana?" tanya Voren saat menemani Soraya sibuk menjahit.


"Dengan kecantikan yang kau miliki, harusnya kau menjadi model atau selebriti! Terlebih kau berasal dari keluarga berada!" kata Voren.


Soraya menghentikan aktivitasnya saat menggunakan mesin jahit. Gadis cantik itu mengulas senyumnya dan menatap lurus ke arah Voren.


"Menjadi perancang busana merupakan cita-citaku dari kecil! Saat masih kecil dulu, aku selalu mengenakan busana yang indah yang membuatku bertanya, bagaimana busana indah tersebut dapat tercipta?".


"Kemudian aku pun berpikir, bagaimana jika aku bisa membuat busana-busana indah itu sendiri? Pasti aku bisa membuat busana yang lebih indah dan tentunya sesuai dengan keinginanku sendiri," jawab Soraya atas pertanyaan Voren.


"Bagaimana denganmu Voren, apa cita-citamu?" tanya Soraya.


"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Voren.


"Lantas saat kau masih TK dan gurumu bertanya apa cita-citamu, kau menjawab apa?" tanya Soraya keheranan.


"Aku rasa dulu aku ingin menjadi Power Rangers Merah!" jawab Voren.


"Kau pasti tahu kan, Power Rangers Merah selalu memiliki senjata yang lebih baik dari rekan-rekannya," lanjut Voren.


"Lalu aku sadar, tidak ada monster yang bisa kulawan, sehingga rasanya sia-sia saja jika menjadi Power Rangers Merah," kata Voren lagi.


"Haha," Soraya tertawa.


"Maaf, aku rasa tipikal cita-cita anak laki-laki kebanyakan memang ingin menjadi pahlawan super!" kata Soraya.


"Ya, begitulah, aku rasa saat itu menjadi pahlawan super itu keren sekali," sahut Voren.


"Apa setelah gagal menjadi Power Rangers Merah membuatmu pada akhirnya tidak memiliki cita-cita?" tanya Soraya.


"Hmm, aku memiliki keinginan hidup seperti ini, muda foya-foya, tua kaya raya, lalu mati masuk surga," jawab Voren diplomatis.


"Haha," Soraya tertawa lagi.


Senyum Soraya sungguh terlihat indah di mata Voren yang saat itu memang jelas menunjukkan rasa tertariknya pada Soraya. Namun saat itu Voren berusaha untuk menutupinya dengan baik.


"Voren, apa kau tahu, memiliki cita-cita akan membuat hidup lebih terasa? Kau jadi termotivasi lebih untuk berusaha agar cita-cita dan impianmu itu bisa terwujud!" kata Soraya.


Voren tersenyum mengingat perkataan Soraya saat itu. Batin Voren pun tergelitik lantaran ia merasa sudah menemukan apa yang paling ia inginkan dalam hidupnya.


Terima kasih Soraya, berkatmu aku jadi menemukan impianku, yaitu menjadikanmu sebagai milikku.


...~...

__ADS_1


__ADS_2