Jodoh Instan

Jodoh Instan
Kebahagiaan vs Kesedihan


__ADS_3

Mobil mewah yang dikendarai oleh Doni memasuki kawasan berbukit dengan pemandangan hamparan pepohonan hijau yang memanjakan mata. Kabut terlihat perlahan turun membuat Doni harus ekstra hati-hati dalam mengemudikan mobil tersebut. Tuan Voren nampak melayangkan pandangan keluar jendela, menikmati pemandangan yang tersaji. Sementara Soraya tak henti-hentinya memberi komando via telepon kepada tim yang sedang bekerja di butiknya.


...~...


"Voren, sekarang bukan waktu yang tepat untuk pergi piknik!" keluh Soraya kepada Voren yang mengajaknya untuk pergi piknik.


"Soraya, anggap saja piknik kali ini sebagai perwujudan permintaan maafku padamu lantaran kelakuan istriku," kata Voren.


"Aku sungguh minta maaf, istriku bersikap begitu lancang terhadapmu," lanjut Voren.


Soraya menghela napas berat, dengan tangan terlipat di depan dada memasang sikap defensif. Ia sungguh masih kesal karena ucapan istri Voren yang menuduhnya sebagai perebut suami orang.


"Soraya, kau jangan terlalu banyak bekerja! Sekali-sekali kau harus pergi piknik," kata Voren.


"Pergi ke tempat yang nyaman dan suasana yang bagus akan membuatmu menemukan banyak inspirasi, Soraya," Voren membujuk Soraya.


Begitulah pada akhirnya Soraya pergi bersama Voren dan Doni untuk piknik tipis-tipis melepas rasa penat dan tekanan pekerjaan.


Soraya berhenti berbicara di telepon begitu melihat pemandangan hamparan taman bunga mawar, terbentang luas sepanjang mata memandang.  Mobil pun terhenti di pelataran sebuah vila mewah yang berada di puncak perbukitan.


Di halaman vila yang begitu luas itulah hamparan taman bunga mawar merah terbentang membuat Soraya benar-benar terpesona. Suhu udara yang dingin reflek membuat Soraya merapatkan jaketnya.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan inspirasi?" tanya Voren ke arah Soraya.


"Aku rasa saat ini aku mendapatkan perasaan nyaman dan menyenangkan karena bisa melihat taman bunga mawar yang benar-benar luar biasa indah," jawab Soraya.


"Begitu ya," kata Voren menanggapi jawaban Soraya.


"Soraya, kalau kau merasa lelah, kau bisa beristirahat di kamar yang sudah disiapkan. Pelayan akan mengantarmu," kata Voren.


"Baiklah," sahut Soraya.


"Kita bertemu lagi nanti saat makan malam," kata Voren.


...~...


Doni hanya memasang ekspresi cemberut yang harus pandai-pandai ia sembunyikan saat melihat Tuan Voren yang nampak bersolek di depan cermin besar.


"Doni, bagaimana penampilanku?" tanya Voren sambil merapikan kerah kemejanya.


"Apa aku perlu memakai dasi?" tanya Voren.


"Tuan, saya rasa itu tidak perlu, lebih baik Anda mengenakan baju hangat karena suhu udara benar-benar sangat dingin," sahut Doni.


"Doni, aku tentu harus terlihat luar biasa keren dibanding biasanya!" kata Voren sambil menyugar rambut dan menatanya dengan gel.


Terserah anda, Tuan! Terserah! Keluh Doni dalam hati.


...~...


Voren, Doni, dan Soraya berkumpul di depan vila untuk menikmati makan malam bersama. Para pelayan sibuk menyajikan semua hidangan di atas meja makan yang menghadap langsung ke hamparan taman bunga mawar merah.


"Makan malam bersama, dan menginap  seperti ini membuatku teringat ketika kita masih kuliah," kata Soraya.


"Aku malah lebih mengingat kegiatan ospek yang mengerikan," kata Voren. 

__ADS_1


"Anda benar, Tuan," sahut Doni.


"Soraya, sepertinya kau tidak mengikuti kegiatan ospek kampus angkatan kita ya?" tanya Doni.


Soraya mengulas senyumnya.


"Kalau kau ikut, aku pasti mengingatmu," sahut Doni.


"Kau benar, Doni, aku tidak mengikuti kegiatan ospek angkatan kita," kata Soraya. "Kudengar kegiatan ospek angkatan itu benar-benar sangat menghebohkan," lanjut Soraya.


"Kau benar, Soraya, waktu itu Tuan Voren benar-benar menjadi bintang ospek lantaran sikapnya yang menentang para senior," kata Doni terkenang kejadian itu.


"Benarkah? Seperti apa ceritanya? Aku sungguh tidak tahu," sahut Soraya.


"Soraya, menurutku itu sungguh tidak layak untuk diceritakan! Sungguh tidak pantas untuk diingat kembali," keluh Voren.


"Tuan Voren bahkan tidak menyikat giginya selama tiga hari tiga malam lantaran tidak mau mengikuti peraturan dari panitia ospek," sahut Doni antusias.


"Benarkah? Bagaimana bisa?" tanya Soraya keheranan.


"Doni," Voren melotot ke arah Doni.


"Ceritakan, Doni, aku sungguh penasaran," kata Soraya.


Doni menyeringai, mungkin ia perlu menceritakan kegiatan yang menjadi aib bagi atasannya itu. Voren melotot ke arah Doni, berharap Doni tidak perlu menceritakan hal memalukan seperti itu.


"Jadi, setiap pagi dan malam hari, saat kami bangun tidur dan akan pergi tidur, senior memberi perintah agar kami menggunakan satu gelas air mineral secara bergantian untuk berkumur! Satu gelas air mineral harus dibagi sepuluh orang dalam kelompok kami!" Doni terkekeh.


"Wah, serius? Apa tujuannya?" tanya Soraya keheranan.


"Itu jelas hanya akal-akalan senior saja untuk melakukan perpeloncoan yang tidak berguna!" komentar Voren.


"Ya, anda sampai berpura-pura pingsan supaya tidak pernah mendapat giliran!" Doni kembali terkekeh.


"Doni!" Voren melotot ke arah Doni yang berani membuka rahasianya.


Soraya tertawa melihat kedua pria itu yang sedari dulu selalu kompak. Entah mengapa Soraya merasa senang bisa melakukan reuni dadakan seperti saat ini.


Voren pun tersenyum melihat Soraya yang tertawa lepas. Itulah kebahagiaan Voren.


...~...


Velan memasuki unit apartemen mewah yang selalu dan senantiasa kosong. Ia masih mengingat dengan jelas saat pertama kali menginjakkan kakinya ke unit apartemen mewah dengan pemandangan yang menghadap langsung ke arah laut. Pemandangan senja berwarna jingga keemasan menjadi pemandangan kesukaan Velan saat ia berdiri di balkon untuk mengambil semua pakaian yang ia jemur di balkon tersebut.


Pemandangan senja di balkon itu pasti akan selalu menjadi kenangan yang paling ia suka dari semua tempat yang ada di unit apartemen mewah ini. Rasanya seperti mimpi, Velan yang biasa hidup di perumahan padat penduduk mendadak tinggal di kawasan elit yang sunyi, senyap, dan penuh dengan ketenangan.


Tak lama lagi posisinya sebagai penghuni unit apartemen mewah ini akan digantikan oleh Soraya yang akan menjadi istri Voren.


Velan bisa melihat dengan jelas gambaran yang muncul dalam benaknya. Di depan pintu masuk akan ada sosok Soraya yang menyambut kedatangan Voren dan langsung memberinya pelukan hangat dan mesra.


Velan mengarahkan pandangannya ke dapur, mengikuti bayangan Soraya. Di dapur itu akan ada Soraya yang memasak, kemudian Soraya dan Voren akan makan bersama, saling menatap penuh cinta.


"Terima kasih, Istriku, masakanmu enak sekali, aku sampai melupakan diet gula dan garamku," kata Voren memberi pujian pada Soraya.


"Terima kasih, Suamiku, aku hanya memasak air bening saja," kata Soraya malu-malu.

__ADS_1


"Tidak masalah, Istriku, melihatmu sudah membuatku kenyang," goda Voren.


Keduanya saling tertawa dan menggoda, membuat hati Velan teriris-iris dan berdarah.


Velan beranjak mengikuti bayangan Voren dan Soraya menuju ke kamar tidur, melihat Voren yang menggendong Soraya ke dalam kamar dan bercumbu mesra di atas kasur tanpa ada drama penolakan seperti yang dilakukan Voren terhadap Velan.


Keduanya nampak begitu bahagia saat saling mengekspresikan rasa cinta mereka. Soraya tidak perlu memohon untuk ditiduri seperti yang dilakukan oleh Velan. Soraya tidak perlu mengemis cinta Voren seperti yang dilakukan oleh Velan karena wanita itu mendapatkan semua cinta dari Voren tanpa perlu memintanya.


Velan membuka semua lemari pakaian milik Voren, mengamati satu per satu pakaian yang tersusun rapi serta dikelompokkan berdasarkan warna dan jenisnya agar mudah saat diambil.


Kembali Velan menyaksikan saat Soraya memilihkan kemeja untuk Voren dan Voren akan memakainya dengan senang hati. Memasangkan dasi untuk Voren, membantu Voren memakai jas. Keduanya saling menatap dengan tatapan penuh cinta yang tidak dilakukan Voren saat sedang bersama Velan.


"Kesaal!" raung Velan menghambur halusinasinya.


Velan menggila dengan mengeluarkan semua pakaian yang ada di dalam lemari Voren. Dengan perasaan yang luar biasa terluka, Velan menangis histeris.


"Semua pakaian ini aku yang mencucinya, aku menyetrika dan menyusunnya di dalam lemari hingga rapi! Mengapa tak sekali pun kau melihatku, Suamiku?!" jerit Velan sambil memeluk semua pakaian itu dan meringkuk di lantai.


"Aku benar-benar sangat mencintaimu, Suamiku! Kenapa kau setega ini padaku?!" teriak Velan dengan tubuhnya yang gemetaran meluapkan semua rasa kesal dan kecewanya.


Velan benar-benar merasa bahwa semua yang sudah dilakukan untuk mendapatkan cinta suaminya benar-benar berakhir dengan sia-sia karena pada akhirnya Velan tetap harus bercerai dengan suami yang begitu ia cintai. Sedangkan suaminya justru menceraikannya karena memilih wanita lain.


Velan memasuki ruang penatu, di ruangan itu tersimpan foto Velan dan Voren yang bersanding di pelaminan. Voren melarang Velan yang saat itu hendak memasang foto berukuran 30R di tembok.


"Tidak boleh memajang foto itu di tembok, nanti meninggalkan lubang-lubang yang tidak estetik, Istriku," kata Voren.


Velan tidak jadi memajang foto tersebut dan hanya bisa menyimpannya di dalam ruang penatu bersama gaun pengantinnya.


Gaun pengantin yang begitu megah yang ia kenakan di hari pernikahannya. Velan masih mengingat dengan jelas, bagaimana ibu mertuanya menyuruh untuk memilih gaun pengantinnya sendiri. Terserah Velan mau gaun yang seperti apa. Dalam benak Velan terbayang lagi, ibu mertuanya membawa Soraya untuk mencoba gaun pengantin yang akan dikenakan di hari pernikahannya dengan Voren. Akan ada Voren yang mendampingi Soraya saat wanita itu mencoba gaun pengantinnya.


Air mata kembali menetes, saat Velan harus mengenang acara resepsi pernikahannya. Saat itu Velan merasa menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini. Ia menjadi wanita paling beruntung yang bisa mendapatkan pria tampan, kaya raya, dan baik hati untuk menjadi suaminya.


Namun sekarang Velan harus menerima kenyataan bahwa pria tampan, kaya raya, dan baik hati itu tidak mencintainya.


Velan menangis histeris sambil memeluk pigura akrilik berukuran besar tersebut. Foto pernikahannya dengan Voren yang sebentar lagi harus ia buang sebelum Voren membuangnya dan menggantinya dengan foto pernikahan pria itu dengan Soraya.


Velan membawa gaun pengantin itu ke balkon, dengan sebilah pisau yang ia ambil di dapur, ia menangis histeris sambil menghujamkan pisau untuk merobek-robek gaun pengantin tersebut, meluapkan rasa kesal dan kemarahannya yang tak terbendung. Velan begitu marah dan kecewa karena rumah tangganya yang gagal dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


"Arghhhh!!" teriak Velan dengan derai air matanya yang mengalir deras untuk kesekian kalinya.


Ini salahnya yang sudah jatuh cinta kepada pria yang tidak mencintainya.


Ini salahnya karena meminta perjodohan secara instan tanpa mengenal dengan baik siapa pria yang akan menikahinya.


Tak seharusnya Velan menjadikan pernikahan sebagai solusi untuk masalah yang akhirnya justru menambah masalah baru dalam hidupnya.


Velan benar-benar merasakan penyesalan yang teramat dalam.


Dengan hati yang hancur dan terluka, Velan membakar gaun pengantin yang sudah hancur itu bersama dengan cahaya keemasan senja yang berkilau begitu indah, menjadi saksi kesedihan Velan.


Velan juga menghancurkan foto pernikahannya dan membakarnya dengan api yang menyala-nyala. Ia harus melenyapkan foto itu beserta semua perasaan cintanya pada Voren yang tak berbalas.


Cintanya pada Voren benar-benar begitu menyakitkan. Ya, benar kata orang lebih baik dicintai daripada mencintai. Terlebih mencintai orang seperti Voren. Sungguh cinta yang sia-sia.


...~...

__ADS_1


__ADS_2