
Doni berkutat di depan cermin yang ada di depan lemari pakaiannya. Mengamati dirinya secara saksama seakan ia sedang bermain peran sebagai seorang polisi berpakaian preman. Doni mengenakan kemeja flanel biru, celana jeans, serta sepatu kets berwarna putih. Doni menyeringai, ia merasa penampilannya terlihat sepuluh, tidak, dua puluh tahun lebih muda. Namun begitu melihat kerutan di area sekitar matanya membuat Doni tersadar bahwa ia sudah tidak semuda itu.
Doni memakai topi dan bersiap menjalankan misi rahasia untuk menyelidiki Nona Velan yang mengaku telah memiliki pria idaman lain. Meski telah menyewa detektif swasta namun tetap saja belum membuahkan hasil yang diinginkan.
"Pria idaman lain istriku harus ditemukan! Kita harus membungkamnya, kalau perlu melenyapkannya! Kenapa? Karena pria itu sungguh berbahaya jika sampai mengetahui bahwa wanita yang dikencaninya adalah istri dari Voren Lazaro! Lebih berbahaya lagi jika pihak lawan sampai mengetahui skandal istriku dan hal itu digunakan untuk menjatuhkanku!" Voren menjelaskan alasan mengapa ia bersikeras harus menemukan pria idaman lain istrinya lebih dulu.
Doni jelas harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah pria idaman lain Nona Velan. Padahal Doni sudah mewanti-wanti agar Nona Velan tidak terlibat dalam skandal percintaan dengan pria lain. Namun mau dikatakan apa lagi, Nona Velan dengan gamblang mengatakan pada Doni bahwa wanita itu menginginkan kebahagiaan yang tidak didapatnya selama menikah dengan Tuan Voren.
Meski wanita itu mengaku bahwa ia tidak sebodoh itu untuk sembarangan mengumbar identitas Tuan Voren selaku suami sah beliau, tetap saja Doni harus melakukan mitigasi resiko. Dengan kata lain meminimalisir kemungkinan terburuk yang suatu saat akan terjadi, baik kejadian yang sudah diprediksi maupun tidak terprediksi.
Doni segera mengemudikan mobil sewaannya menuju ke apartemen Tuan Voren. Doni menunggu Nona Velan yang menurut laporan dari Detektif Shareloc selalu meninggalkan apartemen pukul sembilan pagi.
Doni menunggu di dalam mobil. Matanya tak lepas menatap lift khusus, menunggu Nona Velan keluar dari lift itu.
Sesungguhnya Doni malas jika harus mengintai seperti ini. Pekerjaannya di kantor jelas lebih banyak daripada hanya sekadar menjadi cctv berjalan. Namun, perintah adalah perintah, tugas adalah tugas, sehingga Doni harus bersikap profesional dalam bekerja.
Mata Doni menangkap sosok Nona Velan yang keluar dari lift. Wanita itu terlihat berbincang dengan petugas keamanan yang berjaga di sekitar area lift. Terlihat petugas keamanan itu menatap Nona Velan dengan penuh minat begitu juga dengan beberapa pria yang berpapasan dengan Nona Velan.
Yah, menurut Doni, Nona Velan memang pada dasarnya memiliki wajah yang manis, terlebih saat tersenyum ceria. Belum lagi kepribadiannya yang unik dan tak terduga. Membuat Doni merasa selalu penasaran. Sejujurnya wanita seperti itulah yang menarik perhatian Doni.
"Apa sebaiknya kau kencani saja Nona Velan jika beliau sudah resmi bercerai dari Tuan Voren?" setan berbisik di telinga Doni.
"Nyonya Vega saja begitu tertarik pada Nona Velan, pasti karena kepribadian Nona Velan!" lanjut setan memprovokasi Doni.
"Dasar setan!" Doni menepis setan-setan yang berbisik di telinganya.
Tak terbayangkan oleh Doni jika ia benar-benar mengencani mantan istri atasannya.
Judul sinetronnya pastilah begini, istriku adalah mantan istri atasanku yang tersia-sia.
Bisa-bisa Doni digorok oleh Tuan Voren karena menghadirkan plot twist seperti itu.
Ternyata selama ini Doni adalah pria idaman lain dari istriku! Biar kata menyewa seribu detektif, pantas saja tidak bisa menemukan pria idaman lain istriku!
Yah, kira-kira seperti itu cecaran Tuan Voren yang sudah menodongkan sebilah samurai ke leher Doni.
Doni bergidik dengan kengerian yang tak terlukiskan. Membayangkannya saja sudah begitu mengerikan!
Doni segera mengemudikan mobil, mengikuti Nona Velan yang mengendarai sebuah sepeda motor.
Entah mengapa Doni merasa miris, wanita itu adalah istri Tuan Voren. Pria kaya raya yang berasal dari keluarga jutawan dengan uangnya yang seakan tidak ada nomor serinya. Namun pria itu sungguh tidak peduli sang istri yang harus panas-panasan mengendarai sepeda motor.
Harusnya pria itu memberi fasilitas lengkap dan mewah untuk istrinya!
__ADS_1
Namun selama menikah dengan Tuan Voren, wanita itu bahkan tidak pernah meminta uang suaminya. Segala kebutuhan di rumah Tuan Voren memang sudah menjadi tanggung jawab Doni untuk mengaturnya.
Sungguh wanita yang sama sekali tidak ada tuntutan. Dana kompensasi yang ditawarkan pun sesungguhnya hanya bertujuan layaknya uang pesangon bagi pekerja yang di-PHK.
Doni jadi semakin mendukung Nona Velan yang pada akhirnya menemukan pria idaman lain yang sudah jelas pasti dapat membahagiakan Nona Velan.
Doni menghentikan mobil yang ia kemudikan di depan mini market yang lokasinya hanya berseberangan dengan petak-petak kios. Wanita itu membuka pintu sebuah kios yang kecil dan sempit.
Doni turun dari mobil dan menuju ke kios yang merupakan konter pulsa.
"Mas, mau beli pulsa apa kuota internet?" tanya penjaga kios.
"Ah ya, sebentar," Doni mengambil ponselnya lalu menelepon salah satu keponakannya.
"Halo, Abang Dio, butuh pulsa apa kuota internet? Ini mumpung Abah lagi di konter pulsa," kata Doni.
"Kuota internet dong, Abah!" keponakan Doni menyahut.
"Kuota internetnya jangan cuma untuk main game! Banyak-banyak belajar, tahun depan Abang sudah masuk kuliah!" kata Doni.
"Abah, jangan bawel ih! Sudah ya teleponnya, lagi mabar nih!" Dio menutup teleponnya.
"Dasar keponakan durjana!" gerutu Doni.
"Oh yang ini saja, 20 giga," tunjuk Doni.
"Loh, Pak Doni?"
Doni menoleh ke arah sumber suara. Doni terkesiap karena melihat kehadiran Nona Velan yang muncul tepat di sampingnya.
"No-Nona... Ve-Velan...," Doni tergagap.
"Apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya Velan sambil memerhatikan penampilan Doni yang terlihat jauh lebih santai dari biasanya.
Doni tidak segera menjawab, kepergok seperti ini sungguh tidak ada dalam rencananya. Padahal tadinya Doni bermaksud mengintai dari jarak dekat dengan memanfaatkan kios pulsa ini.
"Anda tidak bekerja?" tanya Velan lagi.
Saya ini sedang bekerja, Nona, jawab Doni dalam hati.
"Loh, Velan, kau mengenal Mas ini?" tanya penjaga kios.
"Yah, kebetulan kami saling mengenal, Mbak," jawab Velan.
__ADS_1
"Oh begitu," sahut si penjaga kios.
"Nona Velan, sedang apa Anda di sini?" tanya Doni mengalihkan pertanyaan Velan.
Doni jelas sudah tahu dari hasil penyelidikan detektif yang disewanya, namun tentu saja ia harus berpura-pura karena saat ini ia sedang berperan sebagai detektif gadungan.
Saking gadungannya, ia bahkan sudah terciduk secepat ini. Pekerjaan detektif ternyata tidak cocok untuknya.
"Yang harusnya bertanya itu saya, Pak Doni," sahut Velan.
"Mas, jadi beli kuotanya?" tanya penjaga kios.
"Iya, iya jadi," sahut Doni tergagap.
...~...
Doni mengedarkan pandangannya berkeliling kios sempit Nona Velan. Kios itu begitu sempit, Doni bahkan tidak bisa duduk selonjoran.
"Saya baru tahu Anda mengelola kios, Nona Velan," kata Doni.
"Kalau saya tidak mengelola kios ini, saya dapat uang dari mana?" tanya Velan.
"Mengapa Anda tidak pernah meminta uang dari Tuan Voren?" tanya Doni.
"Pak Doni, orang tua saya mengajarkan saya untuk pantang meminta hak sebelum menunaikan kewajiban!" jawab Velan diplomatis.
"Istri kan hanya status saya saja! Saya toh tidak menunaikan kewajiban sebagai seorang istri, sehingga saya merasa tidak layak untuk menuntut hak saya," lanjut Velan.
Doni tertegun mendengar perkataan Nona Velan.
"Jadi itu sebabnya Anda mencari pria idaman lain?" tanya Doni.
"Pak Doni, saya jelas harus mencari pria lain yang bisa membahagiakan saya daripada harus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta! Oleh sebab itu, saya mohon dengan sangat, segerakan perceraian saya dengan Tuan Voren!" jawab Velan.
Masalahnya saat ini kalian belum bisa segera bercerai Nona, karena Tuan Voren masih berada dalam kompetisi pemilihan Presiden Direktur. Tidak boleh ada sedikit pun kabar miring yang bisa merusak reputasi Tuan Voren termasuk skandal percintaan Anda dengan pria idaman lain, Doni membatin.
"Baik, Nona, saya sungguh paham situasi Anda, saya harap Anda bisa sedikit lebih bersabar dan tolong jangan sampai skandal percintaan Anda ini diketahui oleh siapa pun," kata Doni.
Velan mengulas senyumnya.
"Anda tenang saja, Pak Doni!" sahut Velan.
Pria idaman lain itu bahkan masih dalam bentuk kehaluanku saja, Velan membatin miris.
__ADS_1
...~...